Menu

Tuesday, 24 May 2016

Unsur Kesenian Indonesia



Kesenian

Kesenian adalah salah bentuk ekspresi budaya yang lebih menitik beratkan pada keindahan dan sarat dengan makna. Kesenian dapat dikatakan melingkupi segala aspek dalam kehidupan bermasyarakat, baik itu secara individual maupun kelompok. Bangsa yang berbudaya menghasilkan banyak karya seni dalam berbagai bentuk. Demikian pula dengan Indonesia. Seni rupa, seni sastra, seni pertunjukkan mengalami begitu banyak perkembangan dari jaman ke jaman. Perkembangan inilah yang akan kita bahas lebih lanjut.

1.      Seni rupa
Seni rupa meliputi seni lukis dan seni patung. Sejak Negara yang kita kenal dengan nama Indonesia ini masih menggunakan nama-nama kunonya seperti Jawadwipa, Swarnadwipa, atau bahkan masih belum dikenal dunia, keberadaan seni lukis dan seni patung sudah ada. 

a.       Seni Lukis
Dimulai dari jaman yang biasa disebut dengan jaman pra sejarah atau jaman manusia belum mengenal tulisan, masyarakat Indonesia pada jaman itu sudah mampu membuat lukisan-lukisan sederhana di dinding-dinding gua seperti yang terdapat di Gua Leang-Leang Sulawesi. Kebiasaan melukis dinding ini berlanjut pada masyarakat di daerah Toraja, Sumatera. Penduduk setempat akan melukis atap rumahnya dengan lukisan tangan sebagai penolak bala. Pada masa masuknya perngaruh Hindu-Buddha, perkembangan seni lukis Indonesia lebih banyak dipengaruhi India dengan munculnya gambar-gambar bunga teratai ataupun gambar-gambar binatang dengan hiasan yang melekat ditubuhnya. Pada masa Hindu Buddha, Masyarakat Indonesia sudah mulai melukis diatas daun lontar yang berfungsi sebagai penghias ataupun pelengkap sebuah kisah cerita tulis. Seni lukis di Indonesia mengalami perkembangan lagi pada masa Islam. Di masa ini, seni lukis banyak sekali menerima pengaruh dari arap dan Persia. Banyak sekali muncul lukisan-lukisan kaligrafi yang terlukis di masjid-masjid ataupun di kitab suci Al- Quran bahkan di batu nisan milik para ulama pada masa tersebut. Memasuki jaman kolonial hingga hingga jaman revolusi, seni lukis Indonesia sudah lebih mengarah kepada foto-foto para penguasan dan kejadian penting pada jaman tersebut. Sedangkan di era modern seperti sekarang, perkembangan seni lukis banyak dipengaruhi oleh kreaticitas dan ide-ide baru dari para pelukisnya sendiri. Salah satu seni lukis yang baru adalah doodle, graffiti, dll. 
 
b.      Seni patung
Keberadaan seni patung di Indonesia dimulai dari pembuatan arca nenek moyang yang masih sangat sederhana. Arca nenek moyang ini lebih berwujud kepada wajah yang menyeramkan dengan beberapa bagian tubuh yang dilebih-lebihkan. Pembuatan arca ini lebih bertujuan kepada penolak bala. Pada masa Hindu Buddha, seni patung banyak sekali mengalami perubahan dan mendapat pengaruh dari India. Masyarakat Indonesia membuat patung dengan sangat memperhatikan aspek keindahan, keseimbangan ukuran antar bagian tubuh, hingga hiasan yang sangat mendetail. Pada masa ini, patung yang dibuat kebanyakan adalah patung para raja, ratu, dan penguasa daerah. Fungsi patung lebih kepada perwujudan sosok agar dapat dikenang pada masa selanjutnya, kecuali patung para dewa dan dewi.  Sedangkan di masa Islam masuk ke Indonesia, seni patung tidak terlalu berkembang karena dalam ajaran Islam membuat patung tidaklah diperbolehkan. Seni patung pada masa sekarang ini, tidak terlalu mengalami perkembangan yang signifikan tetapi mengalami pergeseran fungsi menjadi patung sebagai suatu symbol atau ikon, apapun itu. Baik kemenangan, kejadian, ataupun seorang pahlawan.
 
2.       Seni sastra
Seni sastra di Indonesiayang paling tua adalah peninggalan tertulis dari abad ke IV di Kutai. Awal mulanya, sastra yang dihasilkan merupakan hasil perintah dari raja atau penguasa. Baik itu kisah ataupun perintah. Karya sastra yang dihasilkan pada masa Hindu-Buddha kebanyakan merupakan saduran dari kisah kepahlawanan dari India. Contohnya adalah Mahabarata, Ramayana, Kresnayana, dll. Sedangkan karya sastra masa Hindu-Buddha yang dipercaya merupakan kisah asli dari Indonesia salah satunya adalah kisah Panji dan Candra Kirana. Kakawin-Kakawin juga banyak dihasilkan oleh pujangga pada masa kerajaan Hindu Buddha, seperti kakawin Negarakrtagama, Arjuna wiwaha, Sutasoma, dll. Pada masa Islam, karya sastranya berubah menjadi kisah-kisah yang penuh pesan Islami dan menjadi salah satu media dakwah oleh para ulama pada saat itu. Sedangkan pada masa penjajahan hingga revolusi, karya sastra menjadi media penyampaian pendapat terhadap pemerintah, baik itu berupa kritik, saran, ataupun pujian. Perkembangan karya sastra Indonesia dari jaman ke jaman sangat terlihat dari aspek bahasa, tata tulis, serta isinya. Pada masa Hindu Buddha, karya sastranya menggunakan bahasa Jawa kuno dan berisi tentang segala kebaikan seorang raja. Sedangkan pada masa Islam menggunakan bahasa Jawa baru dan berisi dakwah para ulama. Dan pada masa kolonial, revolusi, hingga reformasi sekarang, karya sastra menggunakan bahasa Indonesia dan banyak berisi tentang kritik, saran, pujian, serta sindiran terhadap para penguasa.
 
3.      Seni pertunjukan
Seni pertunjukan meliputi seni Tari, seni drama, dan seni musik. 
 
a.       Seni tari
Tari adalah gerak dari seluruh anggota tubuh manusia yang disusun selaras dengan irama musik serta mempunyai maksud tertentu (Suryadiningrat). Perkembangan seni tari dimulai dari masa pra sejarah. Pada masa pra sejarah, seni tari terdapat dalam ritual-ritual kuno.  Contohnya adalah tari berutuk, tari Sanghyan Jaran, Barongan, Gordan Sembilan. Seni tari pada masa ini dilengkapi dengan penggunaan benda-benda arkeologis yang telah ditemukan seperti sejumlah tempayan, altar pemujaan dll. Masa Hindu Buddha juga memberikan pengaruh terhadap seni tari di Indonesia. Munculnya kosmologi angka 9 dalam tari Bedoyo adalah salah satunya. Pengaruh Islam pada seni tari tidak terlalu besar. Beberapa tari yang mengandung unsure islam adalah tari saman dan rodat. Pada masa Kolonial, seni tari mulai mendapat pengaruh dari bangsa barat terutama setelah masuknya Dansa ke Indonesia. Pengaruh ini terus berlanjut hingga masa modern seperti sekarang. Banyak sekali tari-tari modern yang muncul di Indonesia sebagai wujud pengaruh tari asing. Tari modern di Indonesia dapat dikategorikan menjadi beberapa macam, antara lain adalah hip-hop dance, concert dance, break dance, R&B dance, freestyle dance, dan yang terakhir baalroom dance (Sedyawati dan Damono, 1991. P.5).
 
b.      Seni drama
Seni drama di Indonesia yang dapat dikategorikan hasil dari pemikiran masyarakatnya sendiri antara lain Wayang dan Ludruk. Sedangkan seni drama yang mendapat pengaruh dari luar diantaranya teater, drama musikal, dll. Perkembangan seni drama Indonesia lebih tampak kepada maknanya. Seni drama Indonesia (kita ambil contoh Wayang) telah mengalami pergeseran makna dari suatu ritual suci menjadi hiburan rakyat semata.

c.       Seni musik
Gamelan adalah salah satu dari sekian banyak alat musik yang dipercaya asli milik Indonesia. Seni music Indonesia mendapatkan banyak sekali pengaruh asing dari jaman ke jaman. Pada masa Islam, masuklah rebana ke dalam unsur musik Indonesia. Pengaruh barat masuk dalam wujud Gitar, Biola, Piano, dll. Aliran-aliran music di Indonesia menjadi semakin beragam dari waktu ke waktu. Beberapa dari jenis musik di Indonesia antara lain Pop, Rock, Dangdut, Melayu, dll.
 
4.      Seni Kriya
Salah satu jenis dari seni kriya adalah Batik. Batik adalah Seni menggambar dan mewarnai pada media kain dengan teknik pencelupan.  Di  Nusantara kain (tenun dan batik) bukan saja berfungsi sebagai penutup tubuh untuk melindungi diri dari panas dan hujan, tetapi mempunyai fungsi sosial, dan religi.   Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

No comments:

Post a Comment