Menu

Kamis, 05 Februari 2026

Arkeologi Bukan Sekadar Benda Mati: Menemukan Jiwa Nusantara di Balik Reruntuhan

Bagi sebagian besar orang, arkeologi sering kali dibayangkan sebagai tumpukan batu kusam, debu yang menyesakkan napas, atau sekadar artefak yang terkurung di balik etalase kaca museum yang sunyi. Sebagai seorang pendidik Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), saya sering mendapati pertanyaan retoris dari siswa: "Bu, untuk apa kita mempelajari sisa-sisa bangunan dari ratusan tahun lalu?"

Seorang guru sedang mengamati detail relief candi purbakala di Jawa Timur sebagai media pembelajaran.

Pertanyaan ini sebenarnya adalah kegelisahan yang wajar. Di era digital yang menuntut kecepatan, menoleh ke belakang sering dianggap sebagai pemborosan waktu. Namun, melalui blog Wawasan Nusantara ini, saya ingin mengajak kita semua melihat arkeologi dengan cara yang berbeda. Arkeologi bukanlah tentang kematian; ia adalah tentang kehidupan yang pernah berdenyut, tentang cara manusia masa lalu memecahkan masalah yang mungkin masih kita hadapi hari ini.

Arkeologi adalah "Sosiologi yang Tertidur"

Jika sosiologi mempelajari perilaku manusia saat ini, maka arkeologi adalah sosiologi dari masa lalu. Setiap serpihan gerabah atau susunan batu candi yang kita temukan adalah sebuah pesan yang tertunda. Di dalamnya ada teknologi, ada stratifikasi sosial, ada keyakinan spiritual, dan yang terpenting: ada identitas.

Ketika kita mengunjungi situs seperti Patirtan Ngawonggo atau melihat Watu Lumpang di Malang, kita tidak hanya melihat batu. Kita sedang melihat bagaimana nenek moyang kita mengelola air, bagaimana mereka menghargai harmoni dengan alam, dan bagaimana mereka membangun sistem kemasyarakatan yang rapi. Bagi saya, ini adalah materi pembelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar menghafal tahun-tahun peperangan.

Pentingnya Arkeologi dalam Pendidikan Karakter

Mengapa arkeologi berbobot untuk pendidikan? Karena ia mengajarkan kerendahan hati. Dengan melihat reruntuhan sebuah kerajaan besar yang kini bersatu dengan tanah, kita diingatkan bahwa tidak ada yang abadi. Namun, di sisi lain, arkeologi memberikan kebanggaan yang sehat. Kita menjadi tahu bahwa bangsa ini bukanlah bangsa kemarin sore yang tidak memiliki akar. Kita berdiri di atas fondasi peradaban yang sangat maju.

Dalam kelas-kelas IPS saya, saya selalu menekankan bahwa mempelajari objek arkeologi adalah upaya untuk "rekonstruksi diri". Dengan memahami dari mana kita berasal, kita akan lebih mantap dalam melangkah ke masa depan. Arkeologi memberikan konteks bagi sejarah yang kita baca, sehingga ia tidak lagi menjadi narasi yang kering.

Menghidupkan Kembali Masa Lalu

Melalui blog ini, saya berkomitmen untuk membagikan catatan perjalanan, analisis singkat, hingga refleksi budaya dari berbagai situs yang saya kunjungi. Saya ingin "menurunkan" arkeologi dari menara gading akademis ke ruang-ruang diskusi yang lebih hangat dan populer tanpa kehilangan esensi bobot ilmiahnya.

Mari kita mulai penelusuran ini. Karena di setiap batu yang kita sentuh, ada doa dan harapan dari masa lalu yang menunggu untuk kita maknai kembali.

Minggu, 31 Juli 2022

MELIHAT MODEL PENDIDIKAN INDONESIA DI MASA DEPAN

                                   


Revolusi Industri 4.0 bukanlah suatu hal yang baru bagi dunia internasional. Pada tahun 2011 berlokasi di Jerman telah diadakan Hannover fair yang menunjukkan revolusi industri yang pernah dialami oleh manusia sepanjang perkembangannya. Indonesia sendiri telah memulai era 4.0 pada sekitar tahun 2018, saat Presiden Joko Widodo mengeluarkan Making Indonesia 4.0. Isinya adalah road map dan strategi yang akan dijalankan oleh Indonesia dalam menghadapi era digital dunia. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan perkembangan teknologi yang meliputi perkembangan Artificial Intelegence (AI), e-commerce, hingga penggunaan robot. Indonesia sendiri memfokuskan diri dalam menghadapi revolusi industry 4.0 ini dengan berfokus pada 5 teknologi utama, yaitu (1) internet of things, (2) artificial intelligence, (3) human-machine interface, (4) teknologi robotik dan sensor, dan (5) teknologi 3D printing.

Tantangan yang dihadapi oleh revolusi industri 4.0 sangat besar. Perubahan – perubahan dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi masyarakat terjadi sangat cepat. Pergeseran dari tenaga kerja manusia menjadi tenaga kerja mesin atau robot hingga aktivitas sehari – hari berubah dari manual menjadi digital. Perubahan ini menggeser hal – hal lama sekaligus memunculkan hal – hal yang baru. Potensi ekonomi baru yang muncul dari perubahan ini, seperti ditinggalkannya tukang ojek pangkalan menjadi tukang ojek online, mengharuskan manusia abad 21 harus bisa beradaptasi secara tepat. Peserta  didik sebagai generasi masa depan juga harus menghadapi  perubahan sekaligus tantangan dari perubahan dari era revolusi  industri 4.0 ini. Tantangan untuk beradaptasi terhadap perubahan artinya peserta didik harus mampu  mengikuti perkembangan dunia internasional tetapi di sisi lain harus mampu mempertahankan identitas ke-Indonesia-annya.

Dunia yang dihadapi pada abad ke 21 tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Artificial Intelligence dan Autonomous robotic. Kehadiran kecerdasan buatan dan robot – robot yang mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa perlu panduan manusia akan menjadi hal – hal yang umum dijumpai di masa depan. Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan para peserta didik untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 ini dengan mencanangkan literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia. Peserta didik tidak boleh tertinggal atas informasi yang terjadi di dunia internasional.  Literasi digital dan teknologi ini didukung dengan maraknya penggunaan media sosial di kalangan remaja. Informasi mengenai perkembangan dunia teknologi yang terbarukan dapat diikuti secara cepat dan akurat melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Path, Twitter, Telegram, Whatsapp, Youtube dan lain sebagainya.

Perubahan yang terjadi secara cepat ini juga membawa serta segala pengaruh positif dan negatif yang mungkin ditimbulkannya. Dalam dunia pendidikan, kemudahan akses informasi utamanya saat dilaksanakannya literasi teknologi dan literasi digital pada kalangan peserta didik, memperbesar kemungkinan untuk tergerusnya identitas diri  pribadi peserta didik sebagai bangsa Indonesia, atau lebih khususnya sebagai masyarakat tradisional yang memiliki nilai  - nilai budaya lokal. Dalam studi poskolonialisme ditemukan bahwa negara – negara yang berasal dari negara dunia ketiga, termasuk di dalamnya adalah Indonesia, memiliki kecenderungan untuk meniru bangsa – bangsa yang dulu menjajahnya. Hal ini memunculkan kecenderungan dalam diri masyarakat Indonesia untuk lebih suka meniru atau berusaha untuk sama dengan bangsa – bangsa dari Eropa. Kebiasaan inilah yang secara tidak langsung banyak menggerus tradisi dan kearifan lokal banyak suku bangsa di Indonesia.

Tantangan yang dihadapi oleh pendidikan Indonesia era 4.0 sangat beragam. Penanaman nilai – nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari  peserta didik menjadi hal yang sangat urgent untuk dilakukan. Perkembangan teknologi yang memudahkan akses informasi tidak berbanding lurus dengan karakter dan moral yang dimiliki penggunanya. Pendidikan seharusnya memperbaiki moral bangsa melalui penanaman nilai. Tetapi yang terjadi adalah pendidikan di era globalisasi menuju revolusi industri 4.0 mengalami ketertinggalan dalam melakukan fungsinya. Degradasi moral justru dialami oleh peserta didik di era 4.0 akibat terlalu cepatnya teknologi berkembang yang mana pendidikan gagal mengikuti kecepatan dari perkembangan ini.

Degradasi moral diakibatkan oleh tergerusnya nilai religius, nilai yuridis formal, dan nilai kultural dalam kehidupan sehari-sehari peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik memiliki kewajiban untuk menanamkan nilai – nilai ini dalam pembelajaran di dalam kelas. Diera 4.0 ini pembelajaran mengalami banyak kegagalan dalam mengintegrasikan nilai – nilai yang dibutuhkan dengan materi yang disampaikan di dalam kelas. Hal ini  terjadi karena kurang adaptif dan inovatifnya tenaga pendidik di Indonesia. Materi yang disampaikan di dalam kelas seringkali tidak sesuai dengan yang dibutuhkan  peserta didik dalam menghadapi perubahan jaman. Tenaga pendidik masih terjebak dalam paradigma pendidikan yang lama. Oleh karena itu, Kemenristek pada tahun 2018 merilis hal – hal yang harus dipersiapkan dalam menghadapi era 4.0. Beberapa diantaranya adalah inovatif, adaptif, dan responsif. 

Pendidikan Indonesia harus merespon masalah – masalah seperti tergerusnya nilai – nilai religius, yuridis formal, dan kultural dengan menciptakan pembelajaran yang mampu mengintegrasikan nilai – nilai yang dibutuhkan ke dalam pembelajaran. Khususnya nilai kultural, kecenderungan peserta didik yang lebih mengenal budaya – budaya dari negeri dibandingkan dengan budaya dalam negeri harus menjadi pokok perhatian. Ketidaktahuan peserta terhadap budaya bangsanya sendiri dapat mengakibatkan hal – hal seperti kehilangan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, atau justru mengalami gegar budaya (cultural shock), dimana mereka mengenal budaya asing dan memasukkan nilai – nilai budaya asing tersebut ke dalam kehidupan sehari – hari tetapi di tempat yang salah.

Salah satu upaya yang telah dilakukan dalam merespon tergerusnya nilai – nilai karakter dan moral dalam diri generasi muda bangsa Indonesia adalah dengan mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal atau local wisdom yang juga seringkali disebut dengan local genius, local knowledge adalah sebuah pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman konkret yang wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengetahuan ini bersifat dinamis dan fleksibel, serta dihasilkan melalui proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Kearifan lokal setiap daerah akan berbeda menyesuaikan dengan lingkungan dan kondisi yang ada di setiap daerahnya.

Peserta didik juga memiliki karakter yang beraneka ragam. Di era 4.0, karakter peserta didik bukan hanya dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, dan masyarakat saja, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi mereka dengan teknologi. Interaksi antara peserta didik dengan teknologi ini menghasilkan generasi yang berfikiran terbuka karena kemudahan yang didapatkan untuk mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Dengan karakter yang berbeda – beda inilah sebabnya pendidikan mengintegrasikan nilai – nilai budaya lokal diperlukan. Karena yang dapat mengimbangi perubahan dan perkembangan jaman adalah respon dari  masyarakat itu sendiri yang terekam dalam nilai – nilai kearifan lokal dari generasi terdahulu. Pengaplikasiannya disesuaikan dengan  kebutuhan pada masa sekarang, karena kearifan lokal bersifat dinamis dan fleksibel.

Keberadaan nilai – nilai yang disarikan dari kearifan lokal dalam pembelajaran di era 4.0 ini sangat penting. Nilai – nilai dari kearifan lokal memiliki peranan penting dalam membangun identitas diri peserta didik sebagai masyarakat di daerah asalnya. Karena melalui kearifan lokal inilah kepribadian suatu masyarakat dilestarikan dari generasi terdahuluu ke generasi berikutnya. Tergerusnya kearifan lokal menjadi indikasi tergerusnya kepribadian masyarakat. Setiap masyarakat tradisional, dalam kasus Indonesia, setiap suku bangsa, mempunyai kekhasannya dalam cara-cara pewarisan nilai-nilai
budayanya.
Hal inilah yang nantinya perlu diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah.

Minggu, 25 April 2021

Download Media Pembelajaran IPS Kelas 8: Perubahan Ruang dan Interaksi Antarruang Akibat Faktor Alam dan Manusia.

 Media Pembelajaran IPS Kelas 8 semester 1

KD 3.1 : Memahami perubahan keruangan dan interaksi antarruang di Indonesia dan negara - negara ASEAN yang diakibatkan oleh faktor alam dan manusia (teknologi, ekonomi, pemanfaatan lahan, politik) dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik.

KD 4.1 : Menyajikan hasil telaah tentang perubahan keruangan dan interaksi antarruang di Indonesia dan negara - negara ASEAN yang diakibatkan oleh faktor alam dan manusia (teknologi, ekonomi, pemanfaatan lahan, politik) dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik.

Peta Asia Tenggara. Pelengkap Media.

Materi : Perubahan ruang dan interaksi antarruang akibat faktor alam dan manusia. PPT materi bisa di download disini.

Jumat, 09 April 2021

Download File Kidung Ronggolawe C.C Berg


Kidung Ranggalawe / Kidung Ronggolawe adalah salah satu sumber sekunder dalam penulisan sejarah lokal Kabupaten Tuban. 

Sesuai dengan namanya, Kidung ini menceritakan tentang kehidupan Adipati Tuban yang terkenal, yaitu Ranggalawe. Salah satu dari prajurit setia Raden Wijaya, yang menemaninya dalam perjalanan panjang pulang - pergi Madura - Jawa, tetapi pada akhirnya harus terbunuh juga. Entah demi apa.


Mungkin legitimasi kekuasaan. Mungkin ujian kesetiaan. Atau mungkin juga, hanya sebuah takdir yang tak terhindarkan. 


Siapkan hati, siapkan pikiran

Beliau yang kita sebut sebagai pendiri kerajaan Majapahit, memiliki sebuah dosa yang tak terampunkan. 

"Mengkhianati" prajuritnya yang gagah berani dan setia ketika beliau sudah naik tahta. 


File Kidung Ranggalawe bisa kalian download di sini








Minggu, 04 April 2021

Download File Kidung Harsawijaya by C.C Berg

File Kidung Harsawijaya karya C.C Berg dapat didownload di sini.

Kidung Harsawijaya adalah salah satu sumber sekunder dalam penulisan sejarah kerajaan Majapahit. Berisi tentang sejarah masa akhir Singhasari hingga awal Majapahit.

Sumber sekunder. Jika hendak dijadikan sumber dalam penulisan, hendaknya dilakukan pembandingan dengan sumber lain yang sejaman.

Minggu, 14 Februari 2021

Mengenal CESG Lebih Dekat, Investasi yang Lebih Bertanggung Jawab



CESG atau Corporate Environmental Social Governance merupakan suatu penyebutan yang merujuk pada pengukuran – pengukuran yang dilakukan oleh investor terhadap tiga faktor pokok sebelum memutuskan untuk melanjutkan investasi pada suatu bisnis atau perusahaan tertentu. CESG juga dikenal dengan beberapa nama lain diantaranya Environmental, Social, and Corporate Governance (ESCG); Responsible Business Conduct (RBC); Co-Shared Value (CSV). CESG ini menjadi sangat populer ketika semakin banyak masalah – masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang muncul setelah perusahaan – perusahaan menyebar ke wilayah – wilayah yang sebelumnya belum tersentuh industrialisasi. Tiga faktor pokok yang harus diukur sebagai bahan pertimbangan dalam memilih investasi adalah Lingkungan, Sosial, dan Governasi atau Tata Kelola. 

Jumat, 12 Februari 2021

Seni Lukis Hindia Belanda : Sebuah Cuplikan Dari Nusa Jawa Silang Budaya


Het Kasteel van Batavia karya Andries Beeckman

 Menarik untuk diamati betap cepat gairah (tentang seni lukis) itu beralih ke Hindia. Pada tahun 1602, Belanda menghadiahkan kepada raja Kandi (di Srilanka) sebuah lukisan besar yang menggambarkan pertempuran Niieuwpoort, dengan latar depan sosok Pangeran Maurits yang sedang menunggang kuda dalam ukuran sama dengan yang sebenarnya. Pada tahun 1629, pemandangan pelabuhan Amsterdam dihadiahkan pula kepada Sultan Palembang. VOC ternyata tidak hanya memberikan hadiah. Ada kalanya perusahaan ini berusaha menjual juga. C.R. Boxer yang menulis anekdot – anekdot ini menceritakan bagaimana Syah Persia enggan membeli lukisan perang laut karya Heemskerk. Lukisan – lukisan berukuran kecil, di samping cermin dan senjata api, termasuk di antara produk ekspor yang pertama. Dalam daftar warisan bangsawan Prancis Isaac de Saint-Martin, asal Pau, yang meninggal pada tahun 1696 di Batavia, disebutkan 85 buah lukisan besar dan kecil, serta sebuah potret dirinya.

Minggu, 07 Februari 2021

Karakter Moral Masyarakat Jawa : Sebuah Catatan Dalam History of Java

 


Masyarakat Jawa banyak dituliskan dalam berbagai catatan asing, mulai dari Suma Oriental  hingga History of Java. Sebagai seorang Jawa setengah Madura tetapi lebih condong ke bagian Jawa, saya pribadi sangat tertarik dengan tulisan – tulisan tersebut. Seperti kata pepatah, seseorang tidak akan bisa melihat dahinya sendiri. Seperti apa diri kita, orang lain yang bisa melihat dan menilai. Tentu saja, sebelum cermin ditemukan. Dalam coretan singkat ini, saya akan mengajak kalian semua untuk melihat bagaimana karakter Masyarakat Jawa dilihat oleh orang luar, dalam hal ini dilihat oleh seorang Thomas Stamford Raffles.

***