Menu

Minggu, 22 Februari 2026

Menyusuri JLS Lumajang ke TPI Paseban: Perjalanan Reflektif di Pesisir Selatan

 Kemarin adalah hari terakhir libur puasa sebelum hari Senin tiba dan aktivitas kembali normal. Di sisa waktu libur ini, aku memilih pulang sejenak ke Lumajang. Salah satu agendanya adalah menjajal hasil servis total mobil tua kesayangan. Syukurlah, perbaikan selesai di hari Sabtu, sehingga pada hari Minggu aku bisa membawa "si tua" menyusuri eksotisme Jalur Lintas Selatan (JLS) Lumajang.

Aku jarang sekali melintasi jalur pesisir ini. Ingatanku tentangnya hanya sebatas memori samar mengenai gumuk pasir dan rawa-rawa teratai yang menyendiri di ujung selatan. Jalur ini memang tidak searah dengan jalan pulang ke rumah. Ia merentang sunyi, menyajikan pemandangan gelombang Laut Selatan dengan hamparan pasir hitamnya yang khas.

Perjalanan kali ini cukup ramai. Mengendarai mobil tua yang baru pulih, kami membawa rombongan keluarga; 7 orang dewasa dan 5 anak kecil. Dari rumah di Grati, perjalanan bermula ke arah Mojosari untuk menjemput saudara dan keponakan, berlanjut ke Tempeh menjemput Ibu, adik, serta seorang tetangga yang kebetulan sedang berkunjung.

Melintasi Ragam Wajah JLS Lumajang

Rute yang kami lewati mengarah ke timur menuju Tempeh Kidul, lalu berbelok ke selatan arah Pandanwangi, membelah kawasan pemukiman TNI, hingga akhirnya roda mobil menyentuh JLS.

Kondisi jalanannya sangat heterogeny, sebuah representasi perjalanan yang sesungguhnya. Dari aspal yang mulus, jalanan bergelombang, berlubang, jalan makadam, hingga JLS yang full cor berhasil kami lalui. Mobil terus melaju lurus ke timur. Awalnya, kukira kami akan tiba di padang sabana Lumajang, namun jalanan membawa kami lebih jauh lagi.

Pemandangan kebun tebu dan pemukiman warga perlahan tergantikan oleh barisan gumuk pasir. Terasa kering dan terasing, apalagi di bawah terik matahari siang. Di antara gumuk-gumuk itu, tersembunyi rawa-rawa tempat orang-orang memancing. Hamparan teratai merah muda mekar dengan latar belakang pasir yang kesepian. Pemandangan ini terasa kontras dan seolah tersesat di antah berantah, namun anehnya, menyisakan perasaan damai yang sulit dijelaskan.

Melaju lurus dengan kaca jendela yang terbuka setengah, angin sepoi-sepoi membawa aroma khas pesisir. Deretan warung ikan bakar tampak tutup, menghormati bulan puasa siang itu. Melewati jembatan, tampak tambak udang modern bertembok putih yang terasa asing di tengah bentang alam sekitarnya.

Tiba di TPI Paseban: Menemukan Sentimentalitas Pesisir

Tak jauh dari sana, kami berbelok memasuki jalan makadam yang bergeronjal di samping sebuah warung. Kanan-kirinya terhampar kebun semangka yang baru ditanam. Jalan ini membawa kami menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paseban.

TPI Pantai Paseban/Dokumentasi Pribadi

TPI Paseban bukanlah tempat megah seperti yang sering seliweran di video YouTube. Tempat ini berdiri dengan bangunan yang sudah cukup berumur, rimbunan pandan laut, deretan perahu nelayan, dan hamparan pasir hitam yang halus. Namun, justru di sanalah letak daya tariknya. Ada perasaan akrab dan sentimental yang tiba-tiba menyergap.

Ombak sedang naik. Perahu-perahu nelayan berjejer di bibir pantai, serupa ibu yang merengkuh kembali anak-anaknya setelah lelah berkelana. Aku menghirup aroma lautnya; perpaduan asin dan amis ikan segar. Ini adalah aroma keringat dan kehidupan, bukti nyata dari sebuah hidup yang layak untuk diperjuangkan.

Perahu Nelayan/Dokumentasi Pribadi

Aku menyentuh pasir hitam legam di TPI Paseban. Kering dan tak tersentuh ombak. Pasir pesisir ini sering diperebutkan sebagai material bangunan berkualitas tinggi. Padahal, sejatinya ia adalah pelindung abadi yang menghadang hantaman angin dan gelombang Laut Selatan. Jika dipindahkan, ancaman abrasi hingga infiltrasi air laut akan menghantui, sebuah kenyataan yang di beberapa titik telah terjadi.

Falsafah Hidup dari Flora Pantai Selatan

Di balik kesunyian gumuk pasir dan terpaan angin laut, pesisir Paseban menyimpan kekayaan flora yang mengajarkan banyak hal tentang ketahanan hidup.

Deretan Pandan Laut/ Dokumentasi Pribadi

Deretan pohon Pandanus tectorius (Pandan Laut) memenuhi sebidang besar pesisir pantai. Buahnya menjuntai, dan ada aroma wangi bunganya yang cukup jarang dijumpai. Harumnya segar sekali. Dipadukan dengan aroma asin angin laut. Ini adalah aroma yang selalu membuatku rindu pada pantai Selatan. Bunga pandan laut, dikatakan orang-orang, sulit untuk ditemui. Dan memang betul. Berkali-kali aku mengunjungi banyak pantai di Selatan Jawa, berkali pula aku bertemu dengan pandan laut, tapi bisa dihitung jari aku berjumpa dengan bunganya. Sehingga, bisa menghirup aromanya saja, sudah membuatku lega.

Tanaman Katang-Katang / Dokumentasi Pribadi

Di atas hamparan pasir yang mulai memanas, ada yang merayap rendah, memberikan contoh nyata bahwa hidup tidak harus selalu menantang angin laut, tetapi merendah dan bersahabat dengannya bisa menjadi pilihan kedua. Daunnya hijau tebal, terbelah seperti tapak kuda kecil yang tertinggal di pasir. Di antara sulur-sulur yang menjalar, bunga-bunga ungu muda itu mekar seperti senyum yang tak perlu diumumkan. Ini adalah katang—katang (lpomoea pes-caprae). Katang-katang atau tapak kuda pantai adalah tanaman merambat yang akarnya memeluk bumi, menahan butir-butir pasir agar tidak mudah hanyut terbawa ombak.

Spinifex / Dokumentasi Pribadi

Selain pandan laut dan katang-katang, ada pula tanaman yang bergerombol dan terlihat begitu semarak. Bukan dengan warnanya yang mencolok, tetapi dengan ujung durinya yang tajam. Di atas gumuk pasir yang tampak sunyi, tumbuh rumpun-rumpun Spinifex- rumput pantai. Daunnya panjang, tipis dan runcing, menyebar seperti serat angin yang tertinggal di bumi. Ia merunduk mengikuti arah hembusan angin laut. Contoh nyata tentang berdamai dengan badai sejak awal kelahirannya. Bunganya membentuk bulatan-bulatan ringgan seperti bola serabut kecil berwarna kecoklatan saat matang. Ketika angin bertiup, bulatan itu bergerak menyebarkan bijinya ke segala arah. Spinifex adalah salah satu unsur penting untuk membangun pantai. Akar-akar halusnya mengikat butiran pasir dan mencegah abrasi.

Diamnya Perahu dan Cerita yang Menunggu

Perahu dan Kayu. Dokumentasi Pribadi

Di tepi pantai, deretan perahu kayu bercadik tampak beristirahat setelah percakapan panjang dengan lautan. Cat yang terkelupas, tali yang tergulung, jaring yang dilipat, serta tiang kayu kering yang menjulang tanpa mesin menyala—semuanya diam dalam posisi menunggu.

Laut di kejauhan berwarna kelabu. Tidak sebiru foto-foto estetis di media sosial, namun warnanya jauh lebih jujur dengan garis cakrawala yang tipis. Memang, batas antara langit dan air tak pernah benar-benar terlihat sama.

Bangunan TPI beratap genteng kecoklatan berdiri menghadap laut, menyimpan jejak cuaca pada lumut dan warna pudar di dindingnya. Di sini, kehidupan tampak keras namun teratur. Laut adalah sumber penghidupan, pasir adalah halaman rumah, dan perahu adalah harapan yang selalu siap didorong kembali menantang ombak.

Si Tua di halaman parkiran TPI/ Dokumentasi Pribadi

Tak lama kami meresapi itu semua, aku mengajak rombongan kembali. Laut kembali sepi. Dan roda mobil tua kami kembali bergulir, membawa pulang cerita dari Selatan.

Senin, 09 Februari 2026

Membaca Candi: Menemukan Repertoar Gunung Suci di Tengah Dunia yang Kian Datar

Setiap kali saya berdiri di kaki sebuah candi—entah itu Candi Singosari yang kokoh di dekat rumah atau Candi Jago yang eksotis—hal pertama yang saya lakukan bukan mengeluarkan ponsel untuk memotret. Saya memilih untuk menengadah. Melihat bagaimana susunan batu itu mengerucut ke atas, menantang langit, seolah-olah sedang berusaha membisikkan sesuatu yang rahasia kepada awan.

Dalam pelajaran sejarah, kita sering disuruh menghafal bagian-bagian candi: Bhurloka (kaki), Bhuvarloka (tubuh), dan Svarloka (atap). Tapi, bagi saya sebagai seorang pendidik dan pejalan sunyi, candi bukan sekadar tumpukan batu andesit yang dibagi-bagi secara teknis. Candi adalah manifesto spiritual nenek moyang kita tentang sebuah "Gunung Suci" atau Mahameru.

Bagi peradaban klasik Nusantara, gunung bukan hanya gundukan tanah dan lava. Gunung adalah poros dunia (Axis Mundi), tempat bersemayamnya para dewata atau leluhur yang telah suci. Ketika mereka membangun candi, mereka sebenarnya sedang membangun "replika" gunung itu di tengah-tengah pemukiman manusia.

Struktur candi yang meninggi adalah sebuah undangan. Ia mengundang kita untuk bergerak secara vertikal. Kaki candi yang penuh dengan relief tentang kehidupan duniawi mengingatkan kita akan akar kita pada bumi. Tubuh candi adalah proses pendewasaan diri. Dan puncaknya? Itulah simbol pembebasan, tempat di mana urusan duniawi sudah harus luruh.

Masalah besar manusia modern saat ini adalah kita hidup di zaman yang terlalu "datar". Hidup kita dihabiskan dengan gerakan horizontal: mengejar karir, menumpuk materi, memuaskan nafsu konsumsi, dan berputar-putar di media sosial. Kita begitu sibuk bergerak ke samping, sampai lupa bergerak ke atas.

Bahkan saat mengunjungi candi pun, banyak dari kita yang hanya menikmatinya secara horizontal. Kita datang, berpose, lalu pulang tanpa merasakan getaran spiritual dari arsitekturnya. Candi akhirnya hanya menjadi latar belakang foto yang estetik, kehilangan jiwanya sebagai pengingat akan eksistensi Sang Pencipta. Kita memperlakukan "Gunung Suci" ini layaknya benda mati, padahal setiap pahatannya adalah doa yang membatu.

Mengajarkan struktur candi kepada siswa bukan hanya soal menghafal istilah Sanskerta. Saya ingin siswa saya paham bahwa hidup itu punya "tahapan". Bahwa tidak mungkin kita mencapai puncak kesadaran tanpa melewati proses di "kaki" dan "tubuh". Ada nilai sabar, ketelitian, dan pengabdian di balik setiap bongkah batu yang saling mengunci (interlock) tanpa semen.

Humanisme dalam arsitektur candi mengajarkan kita bahwa manusia adalah makhluk transenden. Kita punya potensi untuk mencapai hal-hal mulia jika kita berani "mendaki" kualitas diri kita. Candi adalah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia yang materialistik ini, kita tetap butuh ruang sunyi untuk menoleh ke atas, mencari keseimbangan antara urusan bumi dan langit.

Saat saya mengakhiri kunjungan di sebuah situs, saya sering kali merasa lebih kecil, namun sekaligus lebih utuh. Candi telah melaksanakan tugasnya: mengingatkan saya bahwa di atas segala kekuasaan manusia, ada Puncak Abadi yang tak terjangkau, namun bisa dirasakan kehadirannya melalui keheningan.

Minggu, 08 Februari 2026

Jalur Rempah: Bukan Sekadar Aroma Cengkeh, Tapi Jejak Luka dan Kejayaan yang Kita Lupakan


Beberapa waktu yang lalu, di salah satu jam pelajaran IPS, saya membawa segenggam buah pala kering ke dalam kelas. Saya mengangkatnya tinggi-tinggi di depan papan tulis, lalu bertanya, "Ada yang tahu, buah apa ini?"

Hening. Beberapa anak di barisan belakang berbisik ragu. Ada yang menebak itu kemiri, ada juga yang menggeleng polos. Hati saya mencelos. Sebuah ironi yang pahit sedang terjadi di depan mata saya. Generasi muda kita, anak-anak yang lahir di tanah yang dijuluki "Ibu Rempah", justru asing dengan harta karun yang pernah membuat bangsa-bangsa Eropa rela mati-matian mengarungi samudra ganas hanya untuk menemukannya.

Mereka lebih akrab dengan aroma bumbu instan di mie kemasan atau pedasnya kuah seblak, tanpa menyadari bahwa ratusan tahun lalu, aroma yang saya pegang inilah yang mengubah takdir dunia.

Kita sering lupa—atau mungkin sejarah di buku teks terlalu kaku menyampaikannya—bahwa Nusantara pernah menjadi poros dunia. Sebelum ada istilah "Globalisasi", nenek moyang kita sudah menjadi warga dunia yang kosmopolitan.

Jalur Rempah (Spice Route) bukan sekadar jalur dagang. Ia adalah jalur diplomasi, jalur pertukaran budaya, dan jalur pertemuan agama. Di pelabuhan-pelabuhan seperti Banten, Makassar, hingga Ternate, pedagang dari Arab, Tiongkok, India, dan Eropa duduk bersila, bernegosiasi dalam bahasa Melayu pasar.

Ada kebanggaan yang hilang di sini. Dulu, kita adalah "magnet". Columbus tersesat ke Amerika karena mencari kita. Magellan mati di Filipina dalam upaya menemukan kita. Nusantara adalah gadis cantik yang diperebutkan dunia. Namun hari ini, narasi itu tenggelam. Kita sering kali hanya menempatkan diri sebagai "korban penjajahan" yang pasrah, melupakan fakta bahwa sebelum kapal-kapal asing itu datang dengan meriam, kita adalah tuan rumah yang berdaulat atas lautan.

Masalah yang paling menyedihkan saat ini adalah mentalitas kita yang kian "kontinental" (berorientasi daratan). Kita seolah memunggungi laut.

Lihatlah sekeliling kita. Laut hanya kita anggap sebagai kolam pemisah antarpulau, atau sekadar tempat membuang sampah sungai. Kita lupa bahwa Jalur Rempah tercipta karena nenek moyang kita adalah pelaut ulung yang membaca bintang, bukan bangsa yang takut ombak.

Ketidaktahuan siswa saya terhadap buah pala tadi adalah simtom dari penyakit lupa kolektif ini. Kita kehilangan mentalitas bahari—mentalitas yang terbuka, berani mengambil risiko, dan siap berlayar jauh. Akibatnya? Kita menjadi bangsa konsumen. Kita memiliki tanah yang subur, tapi kedelai kita impor. Kita punya garis pantai terpanjang kedua di dunia, tapi garam pun kita datangkan dari luar. Ini adalah pengkhianatan terhadap takdir geografis kita sendiri.

Mengajarkan Jalur Rempah di kelas IPS bagi saya bukan ajang romantisme masa lalu. Saya tidak ingin siswa saya hanya hafal tahun berapa VOC datang atau apa isi Perjanjian Saragosa.

Saya ingin menanamkan kembali kesadaran bahwa DNA mereka adalah DNA penjelajah. Jalur Rempah harus dimaknai ulang sebagai semangat konektivitas. Di era digital ini, "rempah" kita bisa berupa gagasan, kreativitas, dan karya teknologi.

Ketika saya meletakkan kembali buah pala itu di meja guru, saya berkata pada mereka: "Biji kecil ini pernah lebih mahal dari emas. Dulu, orang mati demi ini. Sekarang, tugas kalian bukan lagi berperang berebut cengkeh, tapi memastikan bahwa bangsa ini tidak lagi hanya jadi penonton di jalur perdagangan dunia modern."

Sejarah bukan untuk diratapi lukanya, tapi untuk diambil apinya.

Sabtu, 07 Februari 2026

Patirtan Ngawonggo: Menemukan Keheningan dan Tangisan Ibu Pertiwi di Balik Rimbun Bambu

Baru beberapa minggu setelah kepindahan saya ke Gondanglegi, rasa bosan mulai menyelinap. Sebagai seseorang yang terbiasa bergerak dan berpikir, diam di rumah bukanlah pilihan yang nyaman. Naluri saya sebagai penikmat sejarah menuntun jari untuk membuka peta digital, mencari jejak masa lalu terdekat. Pilihan itu jatuh pada Patirtan Ngawonggo, sebuah situs yang berjarak hanya sekitar 10 kilometer dari tempat saya berdiri.

Google Maps dengan cerdas, atau mungkin nakal, memilihkan rute "jalan tikus". Saya tidak dibawa melewati jalan raya yang bising, melainkan menyusuri jalanan desa yang sunyi. Kanan kiri saya adalah hamparan sawah dan ladang yang tenang, diselingi pemukiman khas Malang Selatan: rumah-rumah sederhana dengan halaman yang terbentang luas, seolah menyiratkan hati penghuninya yang terbuka.

Sesampainya di lokasi yang terletak di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan ini, kesan pertama yang menyapa bukanlah kemegahan gerbang wisata, melainkan kesederhanaan. Patirtan ini bersembunyi malu-malu di belakang pemukiman penduduk. Area parkir dikelola warga dengan sistem kejujuran: bayar seikhlasnya, masukkan ke dalam kotak terkunci.

Sebelum kaki menapak ke situs utama, jiwa saya "dibasuh" terlebih dahulu oleh suasana Tomboan Ngawonggo. Ini bukan kafe biasa. Di bawah naungan rimbun bambu (barongan) yang meneduhkan, berjajar gazebo-gazebo bambu dengan jalan setapak bebatuan yang ditata rapi.

Di sini, konsep "jual-beli" terasa asing. Tomboan menyajikan makanan vegetarian tanpa pengawet dan penyedap rasa buatan. Tidak ada kasir yang menatap tajam. Kita mengambil makanan, lalu membayar seikhlasnya ke dalam sebuah wadah bernama "Kotak Asih". Rasanya seperti sebuah utopia kecil; tempat istirahat yang pas untuk menenangkan pikiran dari hiruk pikuk dunia yang serba transaksional.

Setelah menyeberangi jembatan bambu dan menyusuri jalan setapak, sampailah saya di jantung situs: Patirtan Ngawonggo.


Situs ini istimewa. Berbeda dengan candi-candi yang disusun dari balok batu andesit (seperti Borobudur atau Singhasari), Patirtan Ngawonggo dipahatkan langsung pada dinding tebing batu cadas di tepi sungai. Ini adalah teknik yang jarang ditemukan di Jawa, menjadikannya permata langka dalam arkeologi kita.



Berdasarkan catatan sejarah, situs ini baru ditemukan kembali sekitar tahun 2017 oleh warga lokal (Pak Yasin) setelah tertimbun akar bambu dan tanah selama berabad-abad. Kompleks ini terbagi menjadi beberapa kolam atau bilik. Di sana, saya menemukan sisa-sisa pahatan arca yang mulai aus dimakan zaman, sebuah Yoni, kepala arca, dan tumpukan bebatuan kuno yang diam membisu. Sistem tata airnya (hidrologi) menunjukkan betapa jeniusnya nenek moyang kita dalam mengelola sumber daya alam.

 

Namun, momen paling magis terjadi ketika saya berdiri di hadapan relief Tapak Dara.

Relief berbentuk tanda tambah (+) atau palang ini sering dimaknai sebagai Puser Bumi atau simbol keseimbangan dan awal penciptaan manusia di era klasik. Ia ada di sana, sendirian di dinding tebing, hening, dan misterius.

Untuk sesaat, saya merasa trance. Waktu seolah berhenti. Suara gemercik air sungai dan gesekan daun bambu memudar, menyisakan saya dan simbol purba itu. Saya terjebak dalam perenungan mendalam tentang keseimbangan. Bagaimana manusia masa lalu memahami alam bukan sebagai objek untuk dikuasai, melainkan sebagai manifestasi kekuasaan Dzat Yang Maha Pencipta. Segala pemanfaatannya selalu dihubungkan dengan rasa syukur dan ketundukan.

Lamunan itu membawa saya pada realitas hari ini. Kontras yang menyakitkan.

Jika leluhur kita memahat tebing dengan doa untuk memuliakan air, kita hari ini justru mengeksploitasi alam dengan serakah. Hutan digunduli, sungai dicemari, dan keseimbangan itu kita hancurkan demi keuntungan sesaat. Kita adalah manusia-manusia yang tidak memegang amanah. Kita telah mengkhianati kepercayaan semesta.

Saya membayangkan Ibu Pertiwi sedang menangis pilu melihat ulah putra-putrinya sendiri. Kerusakan lingkungan yang kita rasakan hari ini—banjir, longsor, panas ekstrem—adalah air mata itu.

Namun, di Ngawonggo, di tengah keheningan itu, saya juga menyadari satu hal: Ibu Pertiwi tetaplah seorang ibu. Meski tersakiti, penerimaannya tetap luas. Upayanya untuk menyeimbangkan dunia kembali (melalui bencana atau pemulihan alami) adalah cara Dia mendidik anak-anaknya agar kembali sadar. Agar kembali pada ketentraman yang sejati.

Perjalanan 10 kilometer dari Gondanglegi ini ternyata bukan sekadar wisata sejarah. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang merenungi peran kita sebagai manusia: apakah kita penjaga bumi, atau justru penghancurnya?

Jumat, 06 Februari 2026

Ruang Kelas yang Bernapas: Menemukan Kembali Humanisme di Tengah Tekanan Kurikulum


Setiap pagi, sebelum bel masuk berbunyi, saya sering terdiam sejenak di depan pintu kelas. Di tangan kanan saya ada tumpukan perangkat ajar yang harus diselesaikan, dan di tangan kiri ada tuntutan target kurikulum yang harus dicapai. Namun, di dalam kelas, ada tiga puluh lebih pasang mata yang masing-masing membawa beban hidup yang berbeda. Ada yang belum sarapan, ada yang baru saja dimarahi orang tuanya, dan ada yang merasa dirinya "bodoh" hanya karena tidak bisa mengerjakan soal matematika kemarin.

Di sinilah sering terjadi benturan. Pendidikan kita belakangan ini terasa sangat mekanistik. Kita terlalu sibuk mengejar Deep Learning, literasi, dan numerasi dalam bentuk angka-angka di atas kertas, hingga sering kali lupa bahwa yang kita hadapi adalah manusia, bukan botol kosong yang siap diisi air sampai tumpah.

Masalah Kontekstual: Skor Tinggi di Atas Kejujuran yang Rapuh 

Mari kita bicara jujur. Seringkali kita melihat fenomena di mana sekolah atau guru merasa "berhasil" jika nilai rata-rata ujian siswanya tinggi. Namun, jika nilai itu didapat dengan cara-cara yang manipulatif—seperti memberikan "bocoran" halus atau mengabaikan ketidakjujuran akademik demi nama baik instansi—maka kita sebenarnya sedang mendidik calon koruptor masa depan. Ini adalah masalah kontekstual yang nyata. Kita memaksakan standar kecerdasan intelektual yang tinggi, tapi membiarkan nurani siswa tetap kerdil.

Humanisme dalam pendidikan bukan berarti kita menjadi guru yang lembek atau memanjakan siswa. Humanisme adalah tentang keberanian untuk melihat siswa sebagai subjek yang utuh.

Pendidikan adalah Proses "Ngopeni" Jiwa 

Dalam filosofi Jawa, ada istilah ngopeni, merawat dengan penuh ketelatenan. Seorang guru IPS, bagi saya, bukan sekadar penyampai data tentang letak geografis atau sejarah kemerdekaan. Tugas kita adalah membantu siswa menemukan relevansi antara sejarah masa lalu dengan perilaku sosial mereka hari ini.

Misalnya, saat kita membahas tentang kemiskinan dalam pelajaran ekonomi-sosial. Alih-alih hanya menyajikan grafik angka kemiskinan, mengapa kita tidak mengajak siswa keluar kelas? Melihat bagaimana tukang sapu di depan sekolah bekerja, atau berdialog dengan pedagang kecil di pasar terdekat. Di sana, empati akan tumbuh. Humanisme lahir ketika siswa mulai merasakan bahwa "orang lain" adalah bagian dari dirinya.

Menolak Menjadi Robot Pengajar 

Saya sering merenung, jangan-jangan kita sendiri sebagai pendidik sudah terperangkap menjadi "robot kurikulum". Kita mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban administratif. Padahal, satu senyuman tulus atau satu kalimat pendukung seperti, "Ibu bangga dengan usahamu hari ini, bukan hanya nilaimu," bisa merubah jalan hidup seorang anak selamanya.

Mari kita kembalikan ruang kelas kita agar bisa "bernapas" lagi. Ruang di mana kesalahan dihargai sebagai proses belajar, dan di mana kejujuran lebih dijunjung tinggi daripada sekadar angka-angka di buku rapor. Karena pada akhirnya, peradaban bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang pintar yang kehilangan hati nurani, melainkan oleh manusia-manusia yang tahu cara memanusiakan sesamanya.

Kamis, 05 Februari 2026

Arkeologi Bukan Sekadar Benda Mati: Menemukan Jiwa Nusantara di Balik Reruntuhan

Bagi sebagian besar orang, arkeologi sering kali dibayangkan sebagai tumpukan batu kusam, debu yang menyesakkan napas, atau sekadar artefak yang terkurung di balik etalase kaca museum yang sunyi. Sebagai seorang pendidik Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), saya sering mendapati pertanyaan retoris dari siswa: "Bu, untuk apa kita mempelajari sisa-sisa bangunan dari ratusan tahun lalu?"

Seorang guru sedang mengamati detail relief candi purbakala di Jawa Timur sebagai media pembelajaran.

Pertanyaan ini sebenarnya adalah kegelisahan yang wajar. Di era digital yang menuntut kecepatan, menoleh ke belakang sering dianggap sebagai pemborosan waktu. Namun, melalui blog Wawasan Nusantara ini, saya ingin mengajak kita semua melihat arkeologi dengan cara yang berbeda. Arkeologi bukanlah tentang kematian; ia adalah tentang kehidupan yang pernah berdenyut, tentang cara manusia masa lalu memecahkan masalah yang mungkin masih kita hadapi hari ini.

Arkeologi adalah "Sosiologi yang Tertidur"

Jika sosiologi mempelajari perilaku manusia saat ini, maka arkeologi adalah sosiologi dari masa lalu. Setiap serpihan gerabah atau susunan batu candi yang kita temukan adalah sebuah pesan yang tertunda. Di dalamnya ada teknologi, ada stratifikasi sosial, ada keyakinan spiritual, dan yang terpenting: ada identitas.

Ketika kita mengunjungi situs seperti Patirtan Ngawonggo atau melihat Watu Lumpang di Malang, kita tidak hanya melihat batu. Kita sedang melihat bagaimana nenek moyang kita mengelola air, bagaimana mereka menghargai harmoni dengan alam, dan bagaimana mereka membangun sistem kemasyarakatan yang rapi. Bagi saya, ini adalah materi pembelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar menghafal tahun-tahun peperangan.

Pentingnya Arkeologi dalam Pendidikan Karakter

Mengapa arkeologi berbobot untuk pendidikan? Karena ia mengajarkan kerendahan hati. Dengan melihat reruntuhan sebuah kerajaan besar yang kini bersatu dengan tanah, kita diingatkan bahwa tidak ada yang abadi. Namun, di sisi lain, arkeologi memberikan kebanggaan yang sehat. Kita menjadi tahu bahwa bangsa ini bukanlah bangsa kemarin sore yang tidak memiliki akar. Kita berdiri di atas fondasi peradaban yang sangat maju.

Dalam kelas-kelas IPS saya, saya selalu menekankan bahwa mempelajari objek arkeologi adalah upaya untuk "rekonstruksi diri". Dengan memahami dari mana kita berasal, kita akan lebih mantap dalam melangkah ke masa depan. Arkeologi memberikan konteks bagi sejarah yang kita baca, sehingga ia tidak lagi menjadi narasi yang kering.

Menghidupkan Kembali Masa Lalu

Melalui blog ini, saya berkomitmen untuk membagikan catatan perjalanan, analisis singkat, hingga refleksi budaya dari berbagai situs yang saya kunjungi. Saya ingin "menurunkan" arkeologi dari menara gading akademis ke ruang-ruang diskusi yang lebih hangat dan populer tanpa kehilangan esensi bobot ilmiahnya.

Mari kita mulai penelusuran ini. Karena di setiap batu yang kita sentuh, ada doa dan harapan dari masa lalu yang menunggu untuk kita maknai kembali.

Minggu, 31 Juli 2022

MELIHAT MODEL PENDIDIKAN INDONESIA DI MASA DEPAN

                                   


Revolusi Industri 4.0 bukanlah suatu hal yang baru bagi dunia internasional. Pada tahun 2011 berlokasi di Jerman telah diadakan Hannover fair yang menunjukkan revolusi industri yang pernah dialami oleh manusia sepanjang perkembangannya. Indonesia sendiri telah memulai era 4.0 pada sekitar tahun 2018, saat Presiden Joko Widodo mengeluarkan Making Indonesia 4.0. Isinya adalah road map dan strategi yang akan dijalankan oleh Indonesia dalam menghadapi era digital dunia. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan perkembangan teknologi yang meliputi perkembangan Artificial Intelegence (AI), e-commerce, hingga penggunaan robot. Indonesia sendiri memfokuskan diri dalam menghadapi revolusi industry 4.0 ini dengan berfokus pada 5 teknologi utama, yaitu (1) internet of things, (2) artificial intelligence, (3) human-machine interface, (4) teknologi robotik dan sensor, dan (5) teknologi 3D printing.

Tantangan yang dihadapi oleh revolusi industri 4.0 sangat besar. Perubahan – perubahan dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi masyarakat terjadi sangat cepat. Pergeseran dari tenaga kerja manusia menjadi tenaga kerja mesin atau robot hingga aktivitas sehari – hari berubah dari manual menjadi digital. Perubahan ini menggeser hal – hal lama sekaligus memunculkan hal – hal yang baru. Potensi ekonomi baru yang muncul dari perubahan ini, seperti ditinggalkannya tukang ojek pangkalan menjadi tukang ojek online, mengharuskan manusia abad 21 harus bisa beradaptasi secara tepat. Peserta  didik sebagai generasi masa depan juga harus menghadapi  perubahan sekaligus tantangan dari perubahan dari era revolusi  industri 4.0 ini. Tantangan untuk beradaptasi terhadap perubahan artinya peserta didik harus mampu  mengikuti perkembangan dunia internasional tetapi di sisi lain harus mampu mempertahankan identitas ke-Indonesia-annya.

Dunia yang dihadapi pada abad ke 21 tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Artificial Intelligence dan Autonomous robotic. Kehadiran kecerdasan buatan dan robot – robot yang mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa perlu panduan manusia akan menjadi hal – hal yang umum dijumpai di masa depan. Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan para peserta didik untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 ini dengan mencanangkan literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia. Peserta didik tidak boleh tertinggal atas informasi yang terjadi di dunia internasional.  Literasi digital dan teknologi ini didukung dengan maraknya penggunaan media sosial di kalangan remaja. Informasi mengenai perkembangan dunia teknologi yang terbarukan dapat diikuti secara cepat dan akurat melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Path, Twitter, Telegram, Whatsapp, Youtube dan lain sebagainya.

Perubahan yang terjadi secara cepat ini juga membawa serta segala pengaruh positif dan negatif yang mungkin ditimbulkannya. Dalam dunia pendidikan, kemudahan akses informasi utamanya saat dilaksanakannya literasi teknologi dan literasi digital pada kalangan peserta didik, memperbesar kemungkinan untuk tergerusnya identitas diri  pribadi peserta didik sebagai bangsa Indonesia, atau lebih khususnya sebagai masyarakat tradisional yang memiliki nilai  - nilai budaya lokal. Dalam studi poskolonialisme ditemukan bahwa negara – negara yang berasal dari negara dunia ketiga, termasuk di dalamnya adalah Indonesia, memiliki kecenderungan untuk meniru bangsa – bangsa yang dulu menjajahnya. Hal ini memunculkan kecenderungan dalam diri masyarakat Indonesia untuk lebih suka meniru atau berusaha untuk sama dengan bangsa – bangsa dari Eropa. Kebiasaan inilah yang secara tidak langsung banyak menggerus tradisi dan kearifan lokal banyak suku bangsa di Indonesia.

Tantangan yang dihadapi oleh pendidikan Indonesia era 4.0 sangat beragam. Penanaman nilai – nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari  peserta didik menjadi hal yang sangat urgent untuk dilakukan. Perkembangan teknologi yang memudahkan akses informasi tidak berbanding lurus dengan karakter dan moral yang dimiliki penggunanya. Pendidikan seharusnya memperbaiki moral bangsa melalui penanaman nilai. Tetapi yang terjadi adalah pendidikan di era globalisasi menuju revolusi industri 4.0 mengalami ketertinggalan dalam melakukan fungsinya. Degradasi moral justru dialami oleh peserta didik di era 4.0 akibat terlalu cepatnya teknologi berkembang yang mana pendidikan gagal mengikuti kecepatan dari perkembangan ini.

Degradasi moral diakibatkan oleh tergerusnya nilai religius, nilai yuridis formal, dan nilai kultural dalam kehidupan sehari-sehari peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik memiliki kewajiban untuk menanamkan nilai – nilai ini dalam pembelajaran di dalam kelas. Diera 4.0 ini pembelajaran mengalami banyak kegagalan dalam mengintegrasikan nilai – nilai yang dibutuhkan dengan materi yang disampaikan di dalam kelas. Hal ini  terjadi karena kurang adaptif dan inovatifnya tenaga pendidik di Indonesia. Materi yang disampaikan di dalam kelas seringkali tidak sesuai dengan yang dibutuhkan  peserta didik dalam menghadapi perubahan jaman. Tenaga pendidik masih terjebak dalam paradigma pendidikan yang lama. Oleh karena itu, Kemenristek pada tahun 2018 merilis hal – hal yang harus dipersiapkan dalam menghadapi era 4.0. Beberapa diantaranya adalah inovatif, adaptif, dan responsif. 

Pendidikan Indonesia harus merespon masalah – masalah seperti tergerusnya nilai – nilai religius, yuridis formal, dan kultural dengan menciptakan pembelajaran yang mampu mengintegrasikan nilai – nilai yang dibutuhkan ke dalam pembelajaran. Khususnya nilai kultural, kecenderungan peserta didik yang lebih mengenal budaya – budaya dari negeri dibandingkan dengan budaya dalam negeri harus menjadi pokok perhatian. Ketidaktahuan peserta terhadap budaya bangsanya sendiri dapat mengakibatkan hal – hal seperti kehilangan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, atau justru mengalami gegar budaya (cultural shock), dimana mereka mengenal budaya asing dan memasukkan nilai – nilai budaya asing tersebut ke dalam kehidupan sehari – hari tetapi di tempat yang salah.

Salah satu upaya yang telah dilakukan dalam merespon tergerusnya nilai – nilai karakter dan moral dalam diri generasi muda bangsa Indonesia adalah dengan mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal atau local wisdom yang juga seringkali disebut dengan local genius, local knowledge adalah sebuah pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman konkret yang wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengetahuan ini bersifat dinamis dan fleksibel, serta dihasilkan melalui proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Kearifan lokal setiap daerah akan berbeda menyesuaikan dengan lingkungan dan kondisi yang ada di setiap daerahnya.

Peserta didik juga memiliki karakter yang beraneka ragam. Di era 4.0, karakter peserta didik bukan hanya dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, dan masyarakat saja, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi mereka dengan teknologi. Interaksi antara peserta didik dengan teknologi ini menghasilkan generasi yang berfikiran terbuka karena kemudahan yang didapatkan untuk mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Dengan karakter yang berbeda – beda inilah sebabnya pendidikan mengintegrasikan nilai – nilai budaya lokal diperlukan. Karena yang dapat mengimbangi perubahan dan perkembangan jaman adalah respon dari  masyarakat itu sendiri yang terekam dalam nilai – nilai kearifan lokal dari generasi terdahulu. Pengaplikasiannya disesuaikan dengan  kebutuhan pada masa sekarang, karena kearifan lokal bersifat dinamis dan fleksibel.

Keberadaan nilai – nilai yang disarikan dari kearifan lokal dalam pembelajaran di era 4.0 ini sangat penting. Nilai – nilai dari kearifan lokal memiliki peranan penting dalam membangun identitas diri peserta didik sebagai masyarakat di daerah asalnya. Karena melalui kearifan lokal inilah kepribadian suatu masyarakat dilestarikan dari generasi terdahuluu ke generasi berikutnya. Tergerusnya kearifan lokal menjadi indikasi tergerusnya kepribadian masyarakat. Setiap masyarakat tradisional, dalam kasus Indonesia, setiap suku bangsa, mempunyai kekhasannya dalam cara-cara pewarisan nilai-nilai
budayanya.
Hal inilah yang nantinya perlu diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah.

Minggu, 25 April 2021

Download Media Pembelajaran IPS Kelas 8: Perubahan Ruang dan Interaksi Antarruang Akibat Faktor Alam dan Manusia.

 Media Pembelajaran IPS Kelas 8 semester 1

KD 3.1 : Memahami perubahan keruangan dan interaksi antarruang di Indonesia dan negara - negara ASEAN yang diakibatkan oleh faktor alam dan manusia (teknologi, ekonomi, pemanfaatan lahan, politik) dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik.

KD 4.1 : Menyajikan hasil telaah tentang perubahan keruangan dan interaksi antarruang di Indonesia dan negara - negara ASEAN yang diakibatkan oleh faktor alam dan manusia (teknologi, ekonomi, pemanfaatan lahan, politik) dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik.

Peta Asia Tenggara. Pelengkap Media.

Materi : Perubahan ruang dan interaksi antarruang akibat faktor alam dan manusia. PPT materi bisa di download disini.