Setiap kali saya berdiri di kaki sebuah candi—entah itu Candi Singosari yang kokoh di dekat rumah atau Candi Jago yang eksotis—hal pertama yang saya lakukan bukan mengeluarkan ponsel untuk memotret. Saya memilih untuk menengadah. Melihat bagaimana susunan batu itu mengerucut ke atas, menantang langit, seolah-olah sedang berusaha membisikkan sesuatu yang rahasia kepada awan.
Dalam pelajaran sejarah, kita sering disuruh menghafal bagian-bagian candi: Bhurloka (kaki), Bhuvarloka (tubuh), dan Svarloka (atap). Tapi, bagi saya sebagai seorang pendidik dan pejalan sunyi, candi bukan sekadar tumpukan batu andesit yang dibagi-bagi secara teknis. Candi adalah manifesto spiritual nenek moyang kita tentang sebuah "Gunung Suci" atau Mahameru.
Bagi peradaban klasik Nusantara, gunung bukan hanya gundukan tanah dan lava. Gunung adalah poros dunia (Axis Mundi), tempat bersemayamnya para dewata atau leluhur yang telah suci. Ketika mereka membangun candi, mereka sebenarnya sedang membangun "replika" gunung itu di tengah-tengah pemukiman manusia.
Struktur candi yang meninggi adalah sebuah undangan. Ia mengundang kita untuk bergerak secara vertikal. Kaki candi yang penuh dengan relief tentang kehidupan duniawi mengingatkan kita akan akar kita pada bumi. Tubuh candi adalah proses pendewasaan diri. Dan puncaknya? Itulah simbol pembebasan, tempat di mana urusan duniawi sudah harus luruh.
Masalah besar manusia modern saat ini adalah kita hidup di zaman yang terlalu "datar". Hidup kita dihabiskan dengan gerakan horizontal: mengejar karir, menumpuk materi, memuaskan nafsu konsumsi, dan berputar-putar di media sosial. Kita begitu sibuk bergerak ke samping, sampai lupa bergerak ke atas.
Bahkan saat mengunjungi candi pun, banyak dari kita yang hanya menikmatinya secara horizontal. Kita datang, berpose, lalu pulang tanpa merasakan getaran spiritual dari arsitekturnya. Candi akhirnya hanya menjadi latar belakang foto yang estetik, kehilangan jiwanya sebagai pengingat akan eksistensi Sang Pencipta. Kita memperlakukan "Gunung Suci" ini layaknya benda mati, padahal setiap pahatannya adalah doa yang membatu.
Mengajarkan struktur candi kepada siswa bukan hanya soal menghafal istilah Sanskerta. Saya ingin siswa saya paham bahwa hidup itu punya "tahapan". Bahwa tidak mungkin kita mencapai puncak kesadaran tanpa melewati proses di "kaki" dan "tubuh". Ada nilai sabar, ketelitian, dan pengabdian di balik setiap bongkah batu yang saling mengunci (interlock) tanpa semen.
Humanisme dalam arsitektur candi mengajarkan kita bahwa manusia adalah makhluk transenden. Kita punya potensi untuk mencapai hal-hal mulia jika kita berani "mendaki" kualitas diri kita. Candi adalah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia yang materialistik ini, kita tetap butuh ruang sunyi untuk menoleh ke atas, mencari keseimbangan antara urusan bumi dan langit.
Saat saya mengakhiri kunjungan di sebuah situs, saya sering kali merasa lebih kecil, namun sekaligus lebih utuh. Candi telah melaksanakan tugasnya: mengingatkan saya bahwa di atas segala kekuasaan manusia, ada Puncak Abadi yang tak terjangkau, namun bisa dirasakan kehadirannya melalui keheningan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar