Menu

Tampilkan postingan dengan label Budaya Jawa Solo vs Jogja Sejarah Mataram Islam Perjanjian Giyanti Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Jawa Solo vs Jogja Sejarah Mataram Islam Perjanjian Giyanti Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Solo vs Jogja: Mengenal Perbedaan Budaya Dua Pewaris Mataram Islam

Banyak orang mengira bahwa budaya Jawa di Surakarta dan Yogyakarta itu sama saja. Memang keduanya adalah pewaris sah dari Kerajaan Mataram Islam, namun sejak Perjanjian Giyanti tahun 155, keduanya resmi "berpisah" dan mengembangkan ciri khas masing-masing yang unik.

Perbedaan Karakter Gaya Yogyakarta dan Solo

Bagi kita yang sering berkunjung ke kedua kota ini, memahami perbedaannya akan membuat perjalanan kita terasa lebih bermakna. Yuk, kita bedah apa saja sih perbedaan mencolok antara Jawa Surakarta dan Jawa Yogyakarta!

1. Filosofi Busana (Gaya Keris dan Blangkon)

Salah satu perbedaan paling terlihat ada pada busana adatnya.

  • Yogyakarta (Gaya Ngayogyakarta): Cenderung lebih gagah dan tegas. Perhatikan blangkonnya, ada tonjolan di bagian belakang yang disebut mondolan. Kerisnya pun memiliki lekukan yang lebih tajam.

  • Surakarta (Gaya Solo): Cenderung lebih halus dan elegan. Blangkon Solo tidak memiliki mondolan (datar) karena rambut pria zaman dulu sudah dicukur pendek. Keris Solo biasanya memiliki bentuk yang lebih luwes dengan ukiran yang lebih detail.

2. Logat dan Bahasa

Meskipun sama-sama menggunakan bahasa Jawa, "rasa" bahasanya berbeda:

  • Logat Solo: Dikenal sangat halus, mendayu, dan penuh dengan tata krama yang sangat lembut. Penggunaan kromo inggil di Solo terasa sangat kental dalam kehidupan sehari-hari.

  • Logat Jogja: Terasa lebih tegas dan lugas (straightforward). Meskipun tetap sopan, intonasi bicara orang Jogja biasanya lebih bertenaga dibandingkan orang Solo.

3. Cita Rasa Kuliner

Kalau soal perut, keduanya punya jagoan masing-masing:

  • Yogyakarta: Sangat identik dengan rasa manis yang dominan. Contoh paling nyata adalah Gudeg.

  • Surakarta: Rasanya lebih bervariasi, cenderung gurih-manis dengan penggunaan santan yang lebih berani. Coba saja Selat Solo atau Nasi Liwet, Anda akan merasakan perpaduan rasa yang lebih kompleks.

4. Karakter Tari Tradisional

Bahkan dalam gerakan tari pun, kita bisa melihat perbedaan karakternya:

  • Tari Jogja: Gerakannya cenderung lebih lebar, tegas, dan maskulin (untuk tari pria).

  • Tari Solo: Gerakannya lebih sempit, lembut, dan sangat memprioritaskan keluwesan jemari serta tubuh.

5. Arsitektur Bangunan

Jika Anda berkunjung ke Keraton, perhatikan warnanya. Keraton Yogyakarta identik dengan warna-warna tegas seperti putih dan hijau tua. Sementara itu, Keraton Surakarta (Mangkunegaran dan Kasunanan) sering menggunakan warna-warna lembut seperti krem, kuning gading, dan biru langit (biru parikesit).

Perbedaan antara Solo dan Jogja bukan untuk dibanding-bandingkan mana yang lebih baik, melainkan kekayaan budaya yang membuktikan betapa dinamisnya sejarah kita. Keduanya adalah dua sisi dari satu koin emas yang sama: Mataram.

Kalau kalian sendiri, lebih suka suasana Solo yang kalem atau Jogja yang dinamis? Tulis di kolom komentar ya!