Menu

Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2019

Begawan Itu Nyata

Begawan Itu Nyata !!!
Ini adalah kisah perjalanan lama. Sebuah perjalanan tanpa rencana. Tiba - tiba kami berkumpul menjadi satu kelompok dan memulai sebuah petualangan. Dipandu oleh seorang lelaki dewasa, kami berangkat.
Aku tidak pernah tau jika di tengah pegunungan kapur akan ada sebuah gunung berapi. 

Minggu, 07 April 2019

Mengenal Lingkungan Alam Desa Sumberjo

Pertama kali memasuki desa Sumberjo, kita akan disambut oleh pemandangan perbukitan kapur yang putih memanjang. Bukit ini ditumbuhi oleh tanaman jati, beberapa rumpun bamboo, dan tanaman keras lain. Bukit kapur ini memiliki karakteristik yang beraneka macam. Banyak sekali gua-gua kapur yang terbentuk secara alami dan buatan.

Sabtu, 06 April 2019

Air Terjun Banyu Langse Tuban : Keindahan Dari Dalam Pegunungan Tuban

Air terjun Banyu Langse dari atas batu yang lumayan tinggi
Air Terjun Banyu Langse berlokasi di Desa Boto, Kecamatan Semanding, Kab. Tuban, Jawa Timur. Jauh dari jalan raya utama, tanpa penunjuk jalan. Sulit untuk menemukannya, tapi itulah yang menjadi salah satu keasikannya. Rumah – rumah penduduk yang masih bernuansa pedesaan akan menemani sepanjang perjalanan menuju lokasi ini. Rumah tradisional ini masih menggunakan papan – papan kayu jati dengan atap rendah khas gaya Jawa Timur bagian pesisir. Ditambahkan dengan deretan pohon Rontal, suasana klasik itu semakin mengental.

Kamis, 28 Maret 2019

Candi atau Stupa ? Situs Sumberawan


Pertama kali saya mengunjungi lokasi ini sekitar 3,5 tahun yang lalu, tetapi aroma pohon pinus itu terasa segar dalam ingatan. Berbekal memori indah dan sedikit catatan perjalanan lama dari bertahun lampau, hari ini saya mencoba menuliskan kembali apa yang saya temui di sana.

Rabu, 19 Agustus 2015

Perjalanan kali ini

Beberapa hari yang lalu, saya melakukan perjalanan ke Tuban, tepatnya di Kec.Rengel dalam rangka acara melayat ke rumah calon mertua yang sedang berduka karena si mbah nya meninggal dunia. Senin malam saya berangkat dan sampai disana sekitar pukul 22.00 WIB. Saya yang waktu itu berada di Surabaya tentu saja melewati Gresik dan Lamongan terlebih dahulu.

Senin, 13 Oktober 2014

Candi Agung

Inventarisasi  Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam di Kab. Lumajang
Nama Situs :  Candi Agung (Candi Gelisah)
Apa potensi menarik dari situs tersebut :
Candi Agung merupakan salah satu peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Lumajang. Situs ini berupa struktur candi yang bisa dibilang paling baik yang pernah ditemukan di Lumajang. Letaknya yang ditengah-tengah persawahan, membuat suasana sekitar sangat menyenangkan untuk tamasya.
Candi ini memiliki sebuah lubang besar di salah satu sisinya. Ada yang mengatakan lubang tersebut diambil oleh pencuri yang mengambil peripih yang memang selalu ada didalam makam-makam raja zaman dahulu. Namun adapula yang mengatakan, bahwa lubang tersebut dibuat saat dulu Pemerintah Belanda memugar candi ini dan mengambil peripihnya.

Kamis, 25 September 2014

Candi Bethari Durga

Inventarisasi  Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam di Kab. Lumajang
Nama Situs :  Candi Betari Durga
Apa potensi menarik dari situs tersebut :
Candi Betari Durga merupakan sebuah Candi yang baru ditemukan beberapa tahun lalu. Letaknya yang berada disekitar persawahan dan lokasi pembuatan batu bata, membuat tempat tersebut sangat menyenangkan untuk dikunjungi. Sebelah barat candi ini adalah kebun jeruk milik warga, dan sebelah selatan adalah tempat pembuatan batu bata jadi, selain mengunjungi candi, kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan batu bata.

Sabtu, 07 Juni 2014

exploring the natural of Tambuh Mountain, Pasirian Lumajang East Java



Petualangan tak terlupakan



                                                                  Pendakian Pertama



                                                                   Pendakian Kedua





hari Libur tiba... pagi itu ditemani dengan sinar Matahari yang mengintip malu dicelah-celah pepohonan kami berangkat.
bagi masyarakat luar daerah Tempeh dan Pasirian, nama Puncak Rangga dan Gunung Tambuh pastilah terdengar asing. Namun, bagi kami, kedua bukit yang menyerupai gunung itu adalah hal yang sangat familiar.
memang, sampai saat ini satwa liar didaerah tersebut masih ada meskipun tidak sebanyak dulu.
Kijang, Monyet, hingga burung-burung langkapun sering dijumpai masyarakat disana.
Kami mengawali perjalanan ini dengan mencari kendaraan yang bisa mengangkut kami sampai ke desa Condro, Pasirian. ada beberapa pilihan untuk kesana. yang pertama naik Angkutan umum atau menumpang truk.
pada perjalanan pertama, kami memilih untuk menumpang mobil PLN. dan pada perjalanan yang kedua kami memilih untuk naik angkutan umum karena banyaknya anak yang ikut.
pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan semua yang turut menikmati perjalanan ini adalah saat dimana kami menempuh jalur yang tidak pernah dilalui pendaki lain. kami harus berjalan merayap di samping tebing batu yang berada di Puncak Rangga, tanpa pengaman. masih jelas dibenak saya saat pertama kali saya mencobanya. yang ada dalam benak saya saat itu, adalah jika saya terjatuh dari tebing ini, saya pasti mati. tapi tentu saya tidak terjatuh. Thanks for mas Tulus yang membantu saya menuruni batu di Puncak Rangga untuk pertama kali dan kepada mas Salis yang membantu saya turun di pendakian ke dua.

Setelah menyelesaikan Puncak Rangga yang memiliki dua puncak itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambu dengan menyeberangi persawahan. di Gunung Tambu inilah fisik kami benar-benar diuji. Dengan manisnya, Bang Karim memutuskan untuk melewati tangga yang menjulang keatas hingga ke bawah pohon beringin diatas gunung Tambu. Jujur saya akui, menaiki tangga dengan mendaki Puncak Rangga jauh lebih melelahkan menaiki tangga. sampai diatas dengan nafas yang tinggal separuh, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. setelah itu, petualangan yang seru dimulai.


tangga menuju puncak Gunung Tambuh

selama ini, anak-anak Tempeh dan Pasirian cenderung meremehkan Gunung Tambu tanpa mereka ketahui hal yang terkandung didalamnya. saya akui jika saya terkejut. betapa tidak... jika didalam pepohonan Gunung Tambu tersembunyi hutan Pinus dan Hutan Pandan yang sangat mempesona. sayang sekali saya tidak sempat mengambil gambarnya. belum lagi pemandangan antara laut, kebun kelapa, rumah penduduk dengan Gunung Gajah Mungkur yang berbaring dengan anggunnya, menambah rasa kagum saya terhadap gunung-gunungan satu ini.

selama perjalanan, anak-anak asik berceloteh ria termasuk juga saya, yang tidak henti-hentinya mengungkapkan rasa kagum kepada pemandangan yang terhampar didepan mata. tak terasa, kami sampai diantara puncak 1 dan Puncak 2 gunung Tambuh. Kejutan didapat. Bang Karim memutuskan untuk memotong jalur dengan melewati jalur ekstrim. pertama kali dalam hidup saya harus menuruni lembah kalu tidak bisa disebut jurang tanpa menggunakan alat apapun. hanya berbekal tekad dan keberanian, saya hanya bisa berpegangan rumput dan tangan kawan didepan saya, yang dengan baiknya sering mengulurkan tangannya saat saya terjatuh. Thank You so much mas Syarif... :). rumputnya pun dengan manisnya kebanyakan memiliki duri. lengkap sudah penderitaan saya. tak ada pegangan yang enak, jalur licin karena habis hujan ditambah medan yang sangat curam. dengan sangat beruntung saya katakan, betapa saya sangat bersyukur karena terpeleset 3 kali tapi masih baik-baik saja kecuali dengan keadaan celana yang sudah bercampur lumpur. sekali lagi, medan tidak menghendaki kami untuk berjalan, tapi menginginkan kami untuk 'mengesot' selangkah demi selangkah. ;(

dan puncak kejutan dari petualangan kami terhampar didepan mata. 4 tebing batu yang semakin lama kemiringannya semakin mendekati 90 derajat dan kami harus menuruninya tanpa bantuan alat sama sekali. hanya mengandalkan bantuan dari teman-teman yang dengan manisnya telah stand by untuk menjaga kami yang berjenis kelamin wanita. Thanks Guys.... :).
 
                                    bersama teman-teman setelah berhasil menuruni bebatuan

bukan hal mudah memang, namun akhirnya kami mampu untuk melewati rintangan-rintangan itu. kunci yang kami dapatkan adalah semangat, pantang menyerah, saling menolong, dan kekompakan. kami terutama saya pribadi mendapat pelajaran berharga yang tak bisa dinilai dengan apapun. hidup ini harus diperjuangkan. hidup ini tidak hanya tentang bagaimna cara menuju sukses dan menjadi kaya, berpangkat, lalu dihormati orang banyak. bukan itu. terkadang kita memang sering lupa jka jiwa kita juga memiliki hak untuk merasakan apa yang disukainya. kita terlalu menjaga image kita di masyarakat hingga kita lupa tentang bagaimana diri kita yang sebenarnya. kita terlalu sering berbuat baik pada orang lain, tapi kita sangat jarang berbuat baik pada diri kita sendiri. kita terlalu sering mengikat diri kita pada aturan agar kita dinilai baik oleh orang lain hingga kita tidak pernah membiarkan diri kita bebas menjalankan apa yang kita mau.

so, jadilah diri sendiri selama itu tidak melanggar agama dan hukum. selama itu baik bagi diri kita dan membuat hidup kita lebih bahagia.... :)

 
      Bersama mas Syarif                                             Bersama mbak Pratiwi


Kamis, 05 Juni 2014

Menjemput Kenangan di Condro: Antara Puncak Rangga, Tambuh, dan Obsesi Pertamaku pada Pandan Laut

Ditulis pada tahun 2026, mengenang perjalanan 2013.

Siang itu, ingatan saya melayang kembali ke masa putih abu-abu. Sekitar tahun 2013 atau 2014, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

Waktu itu, dunia terasa begitu sederhana. Cukup dengan modal nekat dan uang saku pas-pasan, saya bersama enam orang teman berkumpul di depan sekolah tercinta, SMAN Tempeh. Tujuan kami hari itu bukan mall atau kafe, melainkan sebuah petualangan kecil ke selatan Lumajang. Kami menumpang angkot (kami biasa menyebutnya "Kol") berwarna kuning-biru yang legendaris, melaju membelah jalanan menuju Pasirian.

Puncak Rangga: Pemanasan di Musim Kemarau

Sopir angkot menurunkan kami di tepi jalan raya Desa Condro, tepatnya di area yang kami kenal sebagai jalan Puncak Rangga.

Musim kemarau sedang berada di puncaknya. Langit cerah tanpa awan, menyisakan udara kering yang menusuk kulit. Bukit pertama yang kami tuju tidak tampak hijau royo-royo, melainkan didominasi warna kecokelatan khas meranggas.

Dari jalan raya, kami masuk ke gang perkampungan penduduk. Tak jauh, hanya sekitar 200 meter berjalan kaki, kami sudah tiba di kaki bukit.

Bagi pemula yang jarang berolahraga fisik seperti kami, bukit ini sangat ramah. Tidak terlalu tinggi, tanjakannya pun sopan. Namun, hadiah yang diberikan luar biasa. Menjelang puncak, napas kami yang terengah-engah langsung terbayar lunas. Di kejauhan, hamparan sawah hijau membentang luas, berbatasan langsung dengan garis biru Samudera Hindia.

Konon, di bukit ini masih ada hewan liarnya. Tapi siang itu, sepertinya mereka enggan menampakkan diri karena panas yang menyengat. Kami beristirahat sejenak, meluruskan kaki sebelum melanjutkan perjalanan ke bukit tetangga.

Gunung Tambuh: Tangga, Makam, dan Awal Sebuah Obsesi

Perjalanan berlanjut. Kami turun ke sisi balik bukit, menyusuri pematang sawah dan perkebunan warga. Target berikutnya sudah terlihat di depan mata: Gunung Tambuh (atau Bukit Tambu).

Berbeda dengan bukit pertama yang masih alami (tanah setapak), Gunung Tambuh sudah bersolek. Ada deretan anak tangga semen yang siap menuntun kami hingga ke puncak. Kami menapaki tangga demi tangga, melewati sebuah area yang dikeramatkan warga, yakni sebuah makam panjang. Suasananya hening, magis, namun menenangkan.

Begitu anak tangga berakhir, kami memasuki area hutan kecil di puncak bukit. Jalannya setapak namun cukup lebar. Di sinilah, untuk pertama kalinya, mata saya dimanjakan oleh vegetasi khas pesisir selatan yang begitu eksotis. Pohon cemara meliuk ditiup angin, dan tentu saja... Pandan Laut.

Di puncak Tambuh ini, saya berdiri di titik pertemuan dua raksasa:

  • Menghadap ke Utara, Mahameru berdiri gagah menaungi desa-desa di bawahnya.

  • Menghadap ke Selatan, Samudera Hindia membentang tanpa batas dengan ombaknya yang tak pernah tidur.

Di bawah naungan rimbunan pohon Pandan Laut inilah, saya merasa "jatuh cinta". Bentuk akarnya yang kokoh mencengkeram tanah berpasir, daunnya yang berduri namun artistik, serta ketangguhannya menghadapi angin laut. Siapa sangka, momen duduk di bawah pohon itu menjadi awal obsesi saya terhadap Pandan Laut hingga saya dewasa di tahun 2026 ini.



Memotong Kompas: Kenakalan Remaja yang Memacu Adrenalin

Namanya juga anak SMA, kalau tidak ada aksi nekat rasanya kurang lengkap. Tidak lama menikmati puncak, rekan kami yang memimpin rombongan punya ide gila: "Kita potong kompas, yuk! Nggak usah lewat tangga."

Tanpa pikir panjang (dan tanpa memikirkan risiko), kami setuju. Kami menuruni lereng bukit yang tidak memiliki jalur sama sekali. Menerobos semak, berpegangan pada batang pohon, hingga akhirnya kami menemui jalan buntu berupa jalur air alami.

Di hadapan kami ada tebing batu setinggi 2 hingga 3 meter. Mundur? Gengsi dong. Maju? Harus turun tebing.

Dengan semangat solidaritas (dan sedikit kenekatan bodoh), kami saling bantu. Satu per satu turun, saling menjaga pijakan kaki dan tangan rekannya. Jantung berdegup kencang, tapi tawa lepas justru pecah saat kami semua berhasil mendarat di bawah dengan selamat. Sebuah adrenalin rush yang tak terlupakan.






Setelah aksi "turun tebing" itu, kami menemukan jalan setapak yang ternyata tembus ke Jalur Lintas Selatan (JLS), tak jauh dari jalan raya utama.

Dengan baju penuh debu dan keringat, namun dengan hati yang penuh cerita, kami menyetop angkot Kol lagi untuk kembali ke Tempeh. Hari itu bukan sekadar mendaki bukit, tapi sebuah perjalanan menemukan kepingan keindahan Lumajang yang akan terus saya rindukan.

Info Perjalanan (Nostalgia 2013):

  • Lokasi: Desa Condro, Pasirian, Lumajang.

  • Destinasi: Gunung Rengganis & Gunung Tambuh.

  • Transportasi: Angkot (Kol) dari SMAN Tempeh.

  • Tingkat Kesulitan: Mudah (Cocok untuk pemula, asal jangan potong kompas lewat tebing ya!).