Menu

Tampilkan postingan dengan label Cagar Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cagar Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2026

Membaca Candi: Menemukan Repertoar Gunung Suci di Tengah Dunia yang Kian Datar

Setiap kali saya berdiri di kaki sebuah candi—entah itu Candi Singosari yang kokoh di dekat rumah atau Candi Jago yang eksotis—hal pertama yang saya lakukan bukan mengeluarkan ponsel untuk memotret. Saya memilih untuk menengadah. Melihat bagaimana susunan batu itu mengerucut ke atas, menantang langit, seolah-olah sedang berusaha membisikkan sesuatu yang rahasia kepada awan.

Dalam pelajaran sejarah, kita sering disuruh menghafal bagian-bagian candi: Bhurloka (kaki), Bhuvarloka (tubuh), dan Svarloka (atap). Tapi, bagi saya sebagai seorang pendidik dan pejalan sunyi, candi bukan sekadar tumpukan batu andesit yang dibagi-bagi secara teknis. Candi adalah manifesto spiritual nenek moyang kita tentang sebuah "Gunung Suci" atau Mahameru.

Bagi peradaban klasik Nusantara, gunung bukan hanya gundukan tanah dan lava. Gunung adalah poros dunia (Axis Mundi), tempat bersemayamnya para dewata atau leluhur yang telah suci. Ketika mereka membangun candi, mereka sebenarnya sedang membangun "replika" gunung itu di tengah-tengah pemukiman manusia.

Struktur candi yang meninggi adalah sebuah undangan. Ia mengundang kita untuk bergerak secara vertikal. Kaki candi yang penuh dengan relief tentang kehidupan duniawi mengingatkan kita akan akar kita pada bumi. Tubuh candi adalah proses pendewasaan diri. Dan puncaknya? Itulah simbol pembebasan, tempat di mana urusan duniawi sudah harus luruh.

Masalah besar manusia modern saat ini adalah kita hidup di zaman yang terlalu "datar". Hidup kita dihabiskan dengan gerakan horizontal: mengejar karir, menumpuk materi, memuaskan nafsu konsumsi, dan berputar-putar di media sosial. Kita begitu sibuk bergerak ke samping, sampai lupa bergerak ke atas.

Bahkan saat mengunjungi candi pun, banyak dari kita yang hanya menikmatinya secara horizontal. Kita datang, berpose, lalu pulang tanpa merasakan getaran spiritual dari arsitekturnya. Candi akhirnya hanya menjadi latar belakang foto yang estetik, kehilangan jiwanya sebagai pengingat akan eksistensi Sang Pencipta. Kita memperlakukan "Gunung Suci" ini layaknya benda mati, padahal setiap pahatannya adalah doa yang membatu.

Mengajarkan struktur candi kepada siswa bukan hanya soal menghafal istilah Sanskerta. Saya ingin siswa saya paham bahwa hidup itu punya "tahapan". Bahwa tidak mungkin kita mencapai puncak kesadaran tanpa melewati proses di "kaki" dan "tubuh". Ada nilai sabar, ketelitian, dan pengabdian di balik setiap bongkah batu yang saling mengunci (interlock) tanpa semen.

Humanisme dalam arsitektur candi mengajarkan kita bahwa manusia adalah makhluk transenden. Kita punya potensi untuk mencapai hal-hal mulia jika kita berani "mendaki" kualitas diri kita. Candi adalah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia yang materialistik ini, kita tetap butuh ruang sunyi untuk menoleh ke atas, mencari keseimbangan antara urusan bumi dan langit.

Saat saya mengakhiri kunjungan di sebuah situs, saya sering kali merasa lebih kecil, namun sekaligus lebih utuh. Candi telah melaksanakan tugasnya: mengingatkan saya bahwa di atas segala kekuasaan manusia, ada Puncak Abadi yang tak terjangkau, namun bisa dirasakan kehadirannya melalui keheningan.

Sabtu, 07 Februari 2026

Patirtan Ngawonggo: Menemukan Keheningan dan Tangisan Ibu Pertiwi di Balik Rimbun Bambu

Baru beberapa minggu setelah kepindahan saya ke Gondanglegi, rasa bosan mulai menyelinap. Sebagai seseorang yang terbiasa bergerak dan berpikir, diam di rumah bukanlah pilihan yang nyaman. Naluri saya sebagai penikmat sejarah menuntun jari untuk membuka peta digital, mencari jejak masa lalu terdekat. Pilihan itu jatuh pada Patirtan Ngawonggo, sebuah situs yang berjarak hanya sekitar 10 kilometer dari tempat saya berdiri.

Google Maps dengan cerdas, atau mungkin nakal, memilihkan rute "jalan tikus". Saya tidak dibawa melewati jalan raya yang bising, melainkan menyusuri jalanan desa yang sunyi. Kanan kiri saya adalah hamparan sawah dan ladang yang tenang, diselingi pemukiman khas Malang Selatan: rumah-rumah sederhana dengan halaman yang terbentang luas, seolah menyiratkan hati penghuninya yang terbuka.

Sesampainya di lokasi yang terletak di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan ini, kesan pertama yang menyapa bukanlah kemegahan gerbang wisata, melainkan kesederhanaan. Patirtan ini bersembunyi malu-malu di belakang pemukiman penduduk. Area parkir dikelola warga dengan sistem kejujuran: bayar seikhlasnya, masukkan ke dalam kotak terkunci.

Sebelum kaki menapak ke situs utama, jiwa saya "dibasuh" terlebih dahulu oleh suasana Tomboan Ngawonggo. Ini bukan kafe biasa. Di bawah naungan rimbun bambu (barongan) yang meneduhkan, berjajar gazebo-gazebo bambu dengan jalan setapak bebatuan yang ditata rapi.

Di sini, konsep "jual-beli" terasa asing. Tomboan menyajikan makanan vegetarian tanpa pengawet dan penyedap rasa buatan. Tidak ada kasir yang menatap tajam. Kita mengambil makanan, lalu membayar seikhlasnya ke dalam sebuah wadah bernama "Kotak Asih". Rasanya seperti sebuah utopia kecil; tempat istirahat yang pas untuk menenangkan pikiran dari hiruk pikuk dunia yang serba transaksional.

Setelah menyeberangi jembatan bambu dan menyusuri jalan setapak, sampailah saya di jantung situs: Patirtan Ngawonggo.


Situs ini istimewa. Berbeda dengan candi-candi yang disusun dari balok batu andesit (seperti Borobudur atau Singhasari), Patirtan Ngawonggo dipahatkan langsung pada dinding tebing batu cadas di tepi sungai. Ini adalah teknik yang jarang ditemukan di Jawa, menjadikannya permata langka dalam arkeologi kita.



Berdasarkan catatan sejarah, situs ini baru ditemukan kembali sekitar tahun 2017 oleh warga lokal (Pak Yasin) setelah tertimbun akar bambu dan tanah selama berabad-abad. Kompleks ini terbagi menjadi beberapa kolam atau bilik. Di sana, saya menemukan sisa-sisa pahatan arca yang mulai aus dimakan zaman, sebuah Yoni, kepala arca, dan tumpukan bebatuan kuno yang diam membisu. Sistem tata airnya (hidrologi) menunjukkan betapa jeniusnya nenek moyang kita dalam mengelola sumber daya alam.

 

Namun, momen paling magis terjadi ketika saya berdiri di hadapan relief Tapak Dara.

Relief berbentuk tanda tambah (+) atau palang ini sering dimaknai sebagai Puser Bumi atau simbol keseimbangan dan awal penciptaan manusia di era klasik. Ia ada di sana, sendirian di dinding tebing, hening, dan misterius.

Untuk sesaat, saya merasa trance. Waktu seolah berhenti. Suara gemercik air sungai dan gesekan daun bambu memudar, menyisakan saya dan simbol purba itu. Saya terjebak dalam perenungan mendalam tentang keseimbangan. Bagaimana manusia masa lalu memahami alam bukan sebagai objek untuk dikuasai, melainkan sebagai manifestasi kekuasaan Dzat Yang Maha Pencipta. Segala pemanfaatannya selalu dihubungkan dengan rasa syukur dan ketundukan.

Lamunan itu membawa saya pada realitas hari ini. Kontras yang menyakitkan.

Jika leluhur kita memahat tebing dengan doa untuk memuliakan air, kita hari ini justru mengeksploitasi alam dengan serakah. Hutan digunduli, sungai dicemari, dan keseimbangan itu kita hancurkan demi keuntungan sesaat. Kita adalah manusia-manusia yang tidak memegang amanah. Kita telah mengkhianati kepercayaan semesta.

Saya membayangkan Ibu Pertiwi sedang menangis pilu melihat ulah putra-putrinya sendiri. Kerusakan lingkungan yang kita rasakan hari ini—banjir, longsor, panas ekstrem—adalah air mata itu.

Namun, di Ngawonggo, di tengah keheningan itu, saya juga menyadari satu hal: Ibu Pertiwi tetaplah seorang ibu. Meski tersakiti, penerimaannya tetap luas. Upayanya untuk menyeimbangkan dunia kembali (melalui bencana atau pemulihan alami) adalah cara Dia mendidik anak-anaknya agar kembali sadar. Agar kembali pada ketentraman yang sejati.

Perjalanan 10 kilometer dari Gondanglegi ini ternyata bukan sekadar wisata sejarah. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang merenungi peran kita sebagai manusia: apakah kita penjaga bumi, atau justru penghancurnya?

Minggu, 31 Maret 2019

Komunitas Bersama Masyarakat : Ujung Pilar Pelestarian Melawan Kolektor Artefak Kuno

doc. pribadi

Keberadaan benda-benda peninggalan masa lampau yang tersebar diberbagai daerah memang menjadi masalah tersendiri, khususnya bagi pelestarian sejarah dan budaya. Bagaimana tidak, benda-benda kuno tersebut (artefak) memiliki harga jual yang lumayan tinggi di pasar barang antik. Tingginya permintaan dan rendahnya stok menyebabkan harga artefak cukup mahal untuk kalangan menengah kebawah. Hal tersebut juga memicu maraknya penjarahan diberbagai daerah di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, para penjarah artefak ini menyasar mulai dari desa-desa yang terkenal memiliki artefak kuno, makam-makam lama yang berada di tengah hutan, hingga sungai-sungai besar yang dahulu pernah menjadi jalur transportasi di masanya.

Senin, 13 Oktober 2014

Candi Agung

Inventarisasi  Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam di Kab. Lumajang
Nama Situs :  Candi Agung (Candi Gelisah)
Apa potensi menarik dari situs tersebut :
Candi Agung merupakan salah satu peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Lumajang. Situs ini berupa struktur candi yang bisa dibilang paling baik yang pernah ditemukan di Lumajang. Letaknya yang ditengah-tengah persawahan, membuat suasana sekitar sangat menyenangkan untuk tamasya.
Candi ini memiliki sebuah lubang besar di salah satu sisinya. Ada yang mengatakan lubang tersebut diambil oleh pencuri yang mengambil peripih yang memang selalu ada didalam makam-makam raja zaman dahulu. Namun adapula yang mengatakan, bahwa lubang tersebut dibuat saat dulu Pemerintah Belanda memugar candi ini dan mengambil peripihnya.

Stasiun Tempeh dan Stasiun Mojoer Satu

apa yang pertama kali ku pikirkan saat ada diskusi menyangkut peninggalan kolonial di Lumajang? tidak ada. Aku tidak pernah berfikir jika stasiun tempeh itu pantas dijadikan cagar budaya, aku tidak pernah mengerti jika gudang pertanian dan gudang tembakau di Lempeni juga merupakan peninggalan Kolonial. dan yang paling membuat ku heran, kenapa runtuhan jembatan Mujur yang kudatangi setiap Minggu, tidak pernah masuk ke kepalaku sebagai tempat yang bersejarah -_-

Kamis, 25 September 2014

Candi Bethari Durga

Inventarisasi  Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam di Kab. Lumajang
Nama Situs :  Candi Betari Durga
Apa potensi menarik dari situs tersebut :
Candi Betari Durga merupakan sebuah Candi yang baru ditemukan beberapa tahun lalu. Letaknya yang berada disekitar persawahan dan lokasi pembuatan batu bata, membuat tempat tersebut sangat menyenangkan untuk dikunjungi. Sebelah barat candi ini adalah kebun jeruk milik warga, dan sebelah selatan adalah tempat pembuatan batu bata jadi, selain mengunjungi candi, kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan batu bata.

Rabu, 16 Juli 2014

Penggalangan Dana Untuk Museum Swadaya Situs Biting

Senin, 14 Juli 2014, beberapa siswa dari SMA/SMK di Kabupaten Lumajang(SMAN TEMPEH, SMKN TEMPEH, SMK MUHAMMADIYAH) melakukan aksi penggalangan dana disekitar tugu Adipura dan Alun Alun kota Lumajang. Penggalangan dana ini sendiri bertujuan untuk membantu Museum Swadaya Masyarakat di situs Biting yang kondisinya sudah sangat parah, bahkan dibeberapa bagian sudah ambrol. 
Karena tidak adanya bantuan dari pemerintah, maka diadakanlah upaya penggalangan dana untuk museum tersebut, salah satunya seperti yang telah dilakukan pada hari Senin sore tersebut.

Sabtu, 15 Maret 2014

Menelusuri Candi Gedhong Putri: Jejak Sejarah yang Terlupakan di Balik Pasar Candipuro



Foto foto diatas adalah foto yang diambil di Candi Gedhong Putri yang terletak di Desa SumberWuluh kecamatan Candipuro Lumajang Jawa Timur.

"Tragedi." Itu satu kata yang muncul di kepala saya waktu menginjakkan kaki di Desa Sumberwuluh, Candipuro. Padahal, tempat yang saya datangi ini bukan tempat sembarangan. Ini adalah Candi Gedhong Putri, situs yang konon katanya adalah candi pertama yang berdiri di tanah Lumajang.

Sebenarnya, tulisan ini adalah catatan lama saya dari tahun 2014, tapi rasanya masih sangat sesak kalau diingat kembali.Kalau ngobrol soal sejarahnya, ada cerita menarik dari Bapak Mansur Hidayat. Beliau menyebutkan kalau candi ini dulunya adalah hunian atau tempat bagi Putri Nararya Kirana. Beliau bukan orang biasa, melainkan sosok yang diutus menjadi Adipati di daerah yang dulu namanya masih "Lumajang". Keren, kan? Kita punya sejarah pemimpin perempuan hebat di sini.

Tapi sayangnya, kenyataan di lapangan jauh dari kata keren. Saya sedih banget melihat kondisinya yang sudah rusak lebih dari 60%. Baru sekarang-sekarang ini ada upaya perawatan, padahal sudah "telat".

Saya jadi teringat obrolan dengan Pak Gaguk, seorang guru sejarah. Beliau pernah bilang kalau sebuah tempat bersejarah kerusakannya sudah lewat dari 60%, secara teknis itu sudah sangat sulit diselamatkan, bahkan ada istilah "dimusnahkan" karena kehilangan bentuk aslinya.


gambar ini adalah gambar lingga yoni yang terdapat di kompleks candi Gedhong Putri.

Di tengah reruntuhan Candi Gedhong Putri, ada satu hal yang bikin saya terpaku: Lingga Yoni.

Jujur saja, waktu pertama kali melihatnya, saya sempat mikir, "Ini beneran batu kuno atau semen cetakan, sih?" Habisnya, halus banget! Tapi setelah saya amati lagi, ini benar-benar batu alam yang diukir dengan tingkat ketelitian tingkat tinggi. Kata guru sejarah saya, Lingga Yoni di sini termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia karena kehalusan buatannya. Luar biasa, ya, pengrajin zaman dulu?

Nah, bicara soal Lingga, biasanya dia nggak sendirian. Dalam filosofi Hindu, Lingga (simbol kejantanan) seharusnya berpasangan dengan Yoni (simbol kesuburan wanita). Penyatuan mereka itu sakral banget, melambangkan asal-muasal kehidupan.

Tapi sayangnya, pemandangan di Gedhong Putri ini bikin baper sekaligus sedih. Banyak Lingga yang sekarang "ditinggalkan" oleh Yoni-nya. Entah Yoninya tertimbun, hancur, atau (yang paling sedih) hilang dicuri orang. Melihat Lingga yang berdiri sendirian tanpa pasangannya itu seolah mempertegas betapa "malangnya" nasib situs ini. Dia kehilangan kelengkapannya, persis seperti situs ini yang kehilangan kemegahannya.




Gua Maling Aguna Candipuro Lumajang
Ini adalah gambar yang diambil di Gua Maling Aguna

Gak jauh dari Candi Gedhong Putri, masih di area Candipuro, ada satu lagi tempat yang nggak kalah bikin dahi berkerut: Gua Maling Aguna.

Namanya unik, ya? "Maling" biasanya konotasinya negatif, tapi di sini ada cerita kepahlawanan dan kecerdikan di baliknya.

Konon menurut cerita turun-temurun, gua ini punya sejarah yang berkaitan dengan sebuah sayembara unik zaman dulu. Isinya? Siapa pun ksatria yang bisa menculik sang putri tanpa ketahuan, dialah pemenangnya.

Nah, ada seorang ksatria yang cerdik banget. Dia membangun gua ini sebagai strategi untuk "menculik" sang putri dan membawanya lewat jalur bawah tanah. Hasilnya? Dia berhasil memenangkan sayembara itu! Kebayang nggak sih gimana suasana di dalam gua ini waktu itu?

Ada lagi nih info terbaru yang saya dengar (dan bikin merinding sekaligus penasaran), katanya Gua Maling Aguna ini punya lorong rahasia yang menyambung sampai ke Desa Siluman.

Sejujurnya, saya sendiri belum sempat membuktikan langsung apakah lorongnya masih bisa dilewati atau sudah tertutup tanah. Tapi kalau benar, ini bakal jadi penemuan yang luar biasa banget buat sejarah bawah tanah di Lumajang!

Buat kalian yang mau ke sini, siap-siap buat sedikit blusukan. Lokasinya benar-benar hidden gem alias tersembunyi:

  • Lokasi: Tepat di belakang Pasar Candipuro.

  • Akses: Di belakang pasar itu ada sebuah toko. Nah, guanya ini sebenarnya masuk ke area halaman belakang rumah penduduk.

  • Tips: Karena ini area privat, kalian wajib banget minta izin dengan sopan ke pemilik toko atau rumahnya sebelum masuk ke sana.

Ternyata Candipuro nggak cuma soal alam, tapi juga soal rahasia sejarah yang letaknya cuma selangkah dari keramaian pasar.


Note penting: Catatan ini saya perbaharui di tahun 2026, tetap berdasarkan catatan saya di tahun 2014
Tentunya, saya akan menuliskan kembali kisah perjalanan ke sini ppada waktu bertahun kemudian di usia saya yang sudah 'dewasa'.