Menu

Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Februari 2026

Menyusuri JLS Lumajang ke TPI Paseban: Perjalanan Reflektif di Pesisir Selatan

 Kemarin adalah hari terakhir libur puasa sebelum hari Senin tiba dan aktivitas kembali normal. Di sisa waktu libur ini, aku memilih pulang sejenak ke Lumajang. Salah satu agendanya adalah menjajal hasil servis total mobil tua kesayangan. Syukurlah, perbaikan selesai di hari Sabtu, sehingga pada hari Minggu aku bisa membawa "si tua" menyusuri eksotisme Jalur Lintas Selatan (JLS) Lumajang.

Aku jarang sekali melintasi jalur pesisir ini. Ingatanku tentangnya hanya sebatas memori samar mengenai gumuk pasir dan rawa-rawa teratai yang menyendiri di ujung selatan. Jalur ini memang tidak searah dengan jalan pulang ke rumah. Ia merentang sunyi, menyajikan pemandangan gelombang Laut Selatan dengan hamparan pasir hitamnya yang khas.

Perjalanan kali ini cukup ramai. Mengendarai mobil tua yang baru pulih, kami membawa rombongan keluarga; 7 orang dewasa dan 5 anak kecil. Dari rumah di Grati, perjalanan bermula ke arah Mojosari untuk menjemput saudara dan keponakan, berlanjut ke Tempeh menjemput Ibu, adik, serta seorang tetangga yang kebetulan sedang berkunjung.

Melintasi Ragam Wajah JLS Lumajang

Rute yang kami lewati mengarah ke timur menuju Tempeh Kidul, lalu berbelok ke selatan arah Pandanwangi, membelah kawasan pemukiman TNI, hingga akhirnya roda mobil menyentuh JLS.

Kondisi jalanannya sangat heterogeny, sebuah representasi perjalanan yang sesungguhnya. Dari aspal yang mulus, jalanan bergelombang, berlubang, jalan makadam, hingga JLS yang full cor berhasil kami lalui. Mobil terus melaju lurus ke timur. Awalnya, kukira kami akan tiba di padang sabana Lumajang, namun jalanan membawa kami lebih jauh lagi.

Pemandangan kebun tebu dan pemukiman warga perlahan tergantikan oleh barisan gumuk pasir. Terasa kering dan terasing, apalagi di bawah terik matahari siang. Di antara gumuk-gumuk itu, tersembunyi rawa-rawa tempat orang-orang memancing. Hamparan teratai merah muda mekar dengan latar belakang pasir yang kesepian. Pemandangan ini terasa kontras dan seolah tersesat di antah berantah, namun anehnya, menyisakan perasaan damai yang sulit dijelaskan.

Melaju lurus dengan kaca jendela yang terbuka setengah, angin sepoi-sepoi membawa aroma khas pesisir. Deretan warung ikan bakar tampak tutup, menghormati bulan puasa siang itu. Melewati jembatan, tampak tambak udang modern bertembok putih yang terasa asing di tengah bentang alam sekitarnya.

Tiba di TPI Paseban: Menemukan Sentimentalitas Pesisir

Tak jauh dari sana, kami berbelok memasuki jalan makadam yang bergeronjal di samping sebuah warung. Kanan-kirinya terhampar kebun semangka yang baru ditanam. Jalan ini membawa kami menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paseban.

TPI Pantai Paseban/Dokumentasi Pribadi

TPI Paseban bukanlah tempat megah seperti yang sering seliweran di video YouTube. Tempat ini berdiri dengan bangunan yang sudah cukup berumur, rimbunan pandan laut, deretan perahu nelayan, dan hamparan pasir hitam yang halus. Namun, justru di sanalah letak daya tariknya. Ada perasaan akrab dan sentimental yang tiba-tiba menyergap.

Ombak sedang naik. Perahu-perahu nelayan berjejer di bibir pantai, serupa ibu yang merengkuh kembali anak-anaknya setelah lelah berkelana. Aku menghirup aroma lautnya; perpaduan asin dan amis ikan segar. Ini adalah aroma keringat dan kehidupan, bukti nyata dari sebuah hidup yang layak untuk diperjuangkan.

Perahu Nelayan/Dokumentasi Pribadi

Aku menyentuh pasir hitam legam di TPI Paseban. Kering dan tak tersentuh ombak. Pasir pesisir ini sering diperebutkan sebagai material bangunan berkualitas tinggi. Padahal, sejatinya ia adalah pelindung abadi yang menghadang hantaman angin dan gelombang Laut Selatan. Jika dipindahkan, ancaman abrasi hingga infiltrasi air laut akan menghantui, sebuah kenyataan yang di beberapa titik telah terjadi.

Falsafah Hidup dari Flora Pantai Selatan

Di balik kesunyian gumuk pasir dan terpaan angin laut, pesisir Paseban menyimpan kekayaan flora yang mengajarkan banyak hal tentang ketahanan hidup.

Deretan Pandan Laut/ Dokumentasi Pribadi

Deretan pohon Pandanus tectorius (Pandan Laut) memenuhi sebidang besar pesisir pantai. Buahnya menjuntai, dan ada aroma wangi bunganya yang cukup jarang dijumpai. Harumnya segar sekali. Dipadukan dengan aroma asin angin laut. Ini adalah aroma yang selalu membuatku rindu pada pantai Selatan. Bunga pandan laut, dikatakan orang-orang, sulit untuk ditemui. Dan memang betul. Berkali-kali aku mengunjungi banyak pantai di Selatan Jawa, berkali pula aku bertemu dengan pandan laut, tapi bisa dihitung jari aku berjumpa dengan bunganya. Sehingga, bisa menghirup aromanya saja, sudah membuatku lega.

Tanaman Katang-Katang / Dokumentasi Pribadi

Di atas hamparan pasir yang mulai memanas, ada yang merayap rendah, memberikan contoh nyata bahwa hidup tidak harus selalu menantang angin laut, tetapi merendah dan bersahabat dengannya bisa menjadi pilihan kedua. Daunnya hijau tebal, terbelah seperti tapak kuda kecil yang tertinggal di pasir. Di antara sulur-sulur yang menjalar, bunga-bunga ungu muda itu mekar seperti senyum yang tak perlu diumumkan. Ini adalah katang—katang (lpomoea pes-caprae). Katang-katang atau tapak kuda pantai adalah tanaman merambat yang akarnya memeluk bumi, menahan butir-butir pasir agar tidak mudah hanyut terbawa ombak.

Spinifex / Dokumentasi Pribadi

Selain pandan laut dan katang-katang, ada pula tanaman yang bergerombol dan terlihat begitu semarak. Bukan dengan warnanya yang mencolok, tetapi dengan ujung durinya yang tajam. Di atas gumuk pasir yang tampak sunyi, tumbuh rumpun-rumpun Spinifex- rumput pantai. Daunnya panjang, tipis dan runcing, menyebar seperti serat angin yang tertinggal di bumi. Ia merunduk mengikuti arah hembusan angin laut. Contoh nyata tentang berdamai dengan badai sejak awal kelahirannya. Bunganya membentuk bulatan-bulatan ringgan seperti bola serabut kecil berwarna kecoklatan saat matang. Ketika angin bertiup, bulatan itu bergerak menyebarkan bijinya ke segala arah. Spinifex adalah salah satu unsur penting untuk membangun pantai. Akar-akar halusnya mengikat butiran pasir dan mencegah abrasi.

Diamnya Perahu dan Cerita yang Menunggu

Perahu dan Kayu. Dokumentasi Pribadi

Di tepi pantai, deretan perahu kayu bercadik tampak beristirahat setelah percakapan panjang dengan lautan. Cat yang terkelupas, tali yang tergulung, jaring yang dilipat, serta tiang kayu kering yang menjulang tanpa mesin menyala—semuanya diam dalam posisi menunggu.

Laut di kejauhan berwarna kelabu. Tidak sebiru foto-foto estetis di media sosial, namun warnanya jauh lebih jujur dengan garis cakrawala yang tipis. Memang, batas antara langit dan air tak pernah benar-benar terlihat sama.

Bangunan TPI beratap genteng kecoklatan berdiri menghadap laut, menyimpan jejak cuaca pada lumut dan warna pudar di dindingnya. Di sini, kehidupan tampak keras namun teratur. Laut adalah sumber penghidupan, pasir adalah halaman rumah, dan perahu adalah harapan yang selalu siap didorong kembali menantang ombak.

Si Tua di halaman parkiran TPI/ Dokumentasi Pribadi

Tak lama kami meresapi itu semua, aku mengajak rombongan kembali. Laut kembali sepi. Dan roda mobil tua kami kembali bergulir, membawa pulang cerita dari Selatan.

Minggu, 08 Februari 2026

Jalur Rempah: Bukan Sekadar Aroma Cengkeh, Tapi Jejak Luka dan Kejayaan yang Kita Lupakan


Beberapa waktu yang lalu, di salah satu jam pelajaran IPS, saya membawa segenggam buah pala kering ke dalam kelas. Saya mengangkatnya tinggi-tinggi di depan papan tulis, lalu bertanya, "Ada yang tahu, buah apa ini?"

Hening. Beberapa anak di barisan belakang berbisik ragu. Ada yang menebak itu kemiri, ada juga yang menggeleng polos. Hati saya mencelos. Sebuah ironi yang pahit sedang terjadi di depan mata saya. Generasi muda kita, anak-anak yang lahir di tanah yang dijuluki "Ibu Rempah", justru asing dengan harta karun yang pernah membuat bangsa-bangsa Eropa rela mati-matian mengarungi samudra ganas hanya untuk menemukannya.

Mereka lebih akrab dengan aroma bumbu instan di mie kemasan atau pedasnya kuah seblak, tanpa menyadari bahwa ratusan tahun lalu, aroma yang saya pegang inilah yang mengubah takdir dunia.

Kita sering lupa—atau mungkin sejarah di buku teks terlalu kaku menyampaikannya—bahwa Nusantara pernah menjadi poros dunia. Sebelum ada istilah "Globalisasi", nenek moyang kita sudah menjadi warga dunia yang kosmopolitan.

Jalur Rempah (Spice Route) bukan sekadar jalur dagang. Ia adalah jalur diplomasi, jalur pertukaran budaya, dan jalur pertemuan agama. Di pelabuhan-pelabuhan seperti Banten, Makassar, hingga Ternate, pedagang dari Arab, Tiongkok, India, dan Eropa duduk bersila, bernegosiasi dalam bahasa Melayu pasar.

Ada kebanggaan yang hilang di sini. Dulu, kita adalah "magnet". Columbus tersesat ke Amerika karena mencari kita. Magellan mati di Filipina dalam upaya menemukan kita. Nusantara adalah gadis cantik yang diperebutkan dunia. Namun hari ini, narasi itu tenggelam. Kita sering kali hanya menempatkan diri sebagai "korban penjajahan" yang pasrah, melupakan fakta bahwa sebelum kapal-kapal asing itu datang dengan meriam, kita adalah tuan rumah yang berdaulat atas lautan.

Masalah yang paling menyedihkan saat ini adalah mentalitas kita yang kian "kontinental" (berorientasi daratan). Kita seolah memunggungi laut.

Lihatlah sekeliling kita. Laut hanya kita anggap sebagai kolam pemisah antarpulau, atau sekadar tempat membuang sampah sungai. Kita lupa bahwa Jalur Rempah tercipta karena nenek moyang kita adalah pelaut ulung yang membaca bintang, bukan bangsa yang takut ombak.

Ketidaktahuan siswa saya terhadap buah pala tadi adalah simtom dari penyakit lupa kolektif ini. Kita kehilangan mentalitas bahari—mentalitas yang terbuka, berani mengambil risiko, dan siap berlayar jauh. Akibatnya? Kita menjadi bangsa konsumen. Kita memiliki tanah yang subur, tapi kedelai kita impor. Kita punya garis pantai terpanjang kedua di dunia, tapi garam pun kita datangkan dari luar. Ini adalah pengkhianatan terhadap takdir geografis kita sendiri.

Mengajarkan Jalur Rempah di kelas IPS bagi saya bukan ajang romantisme masa lalu. Saya tidak ingin siswa saya hanya hafal tahun berapa VOC datang atau apa isi Perjanjian Saragosa.

Saya ingin menanamkan kembali kesadaran bahwa DNA mereka adalah DNA penjelajah. Jalur Rempah harus dimaknai ulang sebagai semangat konektivitas. Di era digital ini, "rempah" kita bisa berupa gagasan, kreativitas, dan karya teknologi.

Ketika saya meletakkan kembali buah pala itu di meja guru, saya berkata pada mereka: "Biji kecil ini pernah lebih mahal dari emas. Dulu, orang mati demi ini. Sekarang, tugas kalian bukan lagi berperang berebut cengkeh, tapi memastikan bahwa bangsa ini tidak lagi hanya jadi penonton di jalur perdagangan dunia modern."

Sejarah bukan untuk diratapi lukanya, tapi untuk diambil apinya.

Sabtu, 07 Februari 2026

Patirtan Ngawonggo: Menemukan Keheningan dan Tangisan Ibu Pertiwi di Balik Rimbun Bambu

Baru beberapa minggu setelah kepindahan saya ke Gondanglegi, rasa bosan mulai menyelinap. Sebagai seseorang yang terbiasa bergerak dan berpikir, diam di rumah bukanlah pilihan yang nyaman. Naluri saya sebagai penikmat sejarah menuntun jari untuk membuka peta digital, mencari jejak masa lalu terdekat. Pilihan itu jatuh pada Patirtan Ngawonggo, sebuah situs yang berjarak hanya sekitar 10 kilometer dari tempat saya berdiri.

Google Maps dengan cerdas, atau mungkin nakal, memilihkan rute "jalan tikus". Saya tidak dibawa melewati jalan raya yang bising, melainkan menyusuri jalanan desa yang sunyi. Kanan kiri saya adalah hamparan sawah dan ladang yang tenang, diselingi pemukiman khas Malang Selatan: rumah-rumah sederhana dengan halaman yang terbentang luas, seolah menyiratkan hati penghuninya yang terbuka.

Sesampainya di lokasi yang terletak di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan ini, kesan pertama yang menyapa bukanlah kemegahan gerbang wisata, melainkan kesederhanaan. Patirtan ini bersembunyi malu-malu di belakang pemukiman penduduk. Area parkir dikelola warga dengan sistem kejujuran: bayar seikhlasnya, masukkan ke dalam kotak terkunci.

Sebelum kaki menapak ke situs utama, jiwa saya "dibasuh" terlebih dahulu oleh suasana Tomboan Ngawonggo. Ini bukan kafe biasa. Di bawah naungan rimbun bambu (barongan) yang meneduhkan, berjajar gazebo-gazebo bambu dengan jalan setapak bebatuan yang ditata rapi.

Di sini, konsep "jual-beli" terasa asing. Tomboan menyajikan makanan vegetarian tanpa pengawet dan penyedap rasa buatan. Tidak ada kasir yang menatap tajam. Kita mengambil makanan, lalu membayar seikhlasnya ke dalam sebuah wadah bernama "Kotak Asih". Rasanya seperti sebuah utopia kecil; tempat istirahat yang pas untuk menenangkan pikiran dari hiruk pikuk dunia yang serba transaksional.

Setelah menyeberangi jembatan bambu dan menyusuri jalan setapak, sampailah saya di jantung situs: Patirtan Ngawonggo.


Situs ini istimewa. Berbeda dengan candi-candi yang disusun dari balok batu andesit (seperti Borobudur atau Singhasari), Patirtan Ngawonggo dipahatkan langsung pada dinding tebing batu cadas di tepi sungai. Ini adalah teknik yang jarang ditemukan di Jawa, menjadikannya permata langka dalam arkeologi kita.



Berdasarkan catatan sejarah, situs ini baru ditemukan kembali sekitar tahun 2017 oleh warga lokal (Pak Yasin) setelah tertimbun akar bambu dan tanah selama berabad-abad. Kompleks ini terbagi menjadi beberapa kolam atau bilik. Di sana, saya menemukan sisa-sisa pahatan arca yang mulai aus dimakan zaman, sebuah Yoni, kepala arca, dan tumpukan bebatuan kuno yang diam membisu. Sistem tata airnya (hidrologi) menunjukkan betapa jeniusnya nenek moyang kita dalam mengelola sumber daya alam.

 

Namun, momen paling magis terjadi ketika saya berdiri di hadapan relief Tapak Dara.

Relief berbentuk tanda tambah (+) atau palang ini sering dimaknai sebagai Puser Bumi atau simbol keseimbangan dan awal penciptaan manusia di era klasik. Ia ada di sana, sendirian di dinding tebing, hening, dan misterius.

Untuk sesaat, saya merasa trance. Waktu seolah berhenti. Suara gemercik air sungai dan gesekan daun bambu memudar, menyisakan saya dan simbol purba itu. Saya terjebak dalam perenungan mendalam tentang keseimbangan. Bagaimana manusia masa lalu memahami alam bukan sebagai objek untuk dikuasai, melainkan sebagai manifestasi kekuasaan Dzat Yang Maha Pencipta. Segala pemanfaatannya selalu dihubungkan dengan rasa syukur dan ketundukan.

Lamunan itu membawa saya pada realitas hari ini. Kontras yang menyakitkan.

Jika leluhur kita memahat tebing dengan doa untuk memuliakan air, kita hari ini justru mengeksploitasi alam dengan serakah. Hutan digunduli, sungai dicemari, dan keseimbangan itu kita hancurkan demi keuntungan sesaat. Kita adalah manusia-manusia yang tidak memegang amanah. Kita telah mengkhianati kepercayaan semesta.

Saya membayangkan Ibu Pertiwi sedang menangis pilu melihat ulah putra-putrinya sendiri. Kerusakan lingkungan yang kita rasakan hari ini—banjir, longsor, panas ekstrem—adalah air mata itu.

Namun, di Ngawonggo, di tengah keheningan itu, saya juga menyadari satu hal: Ibu Pertiwi tetaplah seorang ibu. Meski tersakiti, penerimaannya tetap luas. Upayanya untuk menyeimbangkan dunia kembali (melalui bencana atau pemulihan alami) adalah cara Dia mendidik anak-anaknya agar kembali sadar. Agar kembali pada ketentraman yang sejati.

Perjalanan 10 kilometer dari Gondanglegi ini ternyata bukan sekadar wisata sejarah. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang merenungi peran kita sebagai manusia: apakah kita penjaga bumi, atau justru penghancurnya?

Minggu, 07 April 2019

Mengenal Lingkungan Alam Desa Sumberjo

Pertama kali memasuki desa Sumberjo, kita akan disambut oleh pemandangan perbukitan kapur yang putih memanjang. Bukit ini ditumbuhi oleh tanaman jati, beberapa rumpun bamboo, dan tanaman keras lain. Bukit kapur ini memiliki karakteristik yang beraneka macam. Banyak sekali gua-gua kapur yang terbentuk secara alami dan buatan.

Sabtu, 06 April 2019

Air Terjun Banyu Langse Tuban : Keindahan Dari Dalam Pegunungan Tuban

Air terjun Banyu Langse dari atas batu yang lumayan tinggi
Air Terjun Banyu Langse berlokasi di Desa Boto, Kecamatan Semanding, Kab. Tuban, Jawa Timur. Jauh dari jalan raya utama, tanpa penunjuk jalan. Sulit untuk menemukannya, tapi itulah yang menjadi salah satu keasikannya. Rumah – rumah penduduk yang masih bernuansa pedesaan akan menemani sepanjang perjalanan menuju lokasi ini. Rumah tradisional ini masih menggunakan papan – papan kayu jati dengan atap rendah khas gaya Jawa Timur bagian pesisir. Ditambahkan dengan deretan pohon Rontal, suasana klasik itu semakin mengental.

Selasa, 02 Juni 2015

Tanam Pohon yang Pertumbuhannya Lama, Untuk Siapa????


Pohon, Pepohonan, Hijau. Tiga kata itulah yang seharusnya dan memang harus selalu berada dalam jangkauan mata kita selaku makhluk hidup yang mendiami bumi. Pohon, sebuah pohon adalah ribuan kehidupan. Dalam tubuh sebuah pohon, yang hidup bukan hanya pohon itu sendiri. Makhluk-makhluk lain pun turut serta menikmati keberadaannya sebagai penghargaan terhadap ke-eksisan pohon itu dalam menjalani hidup yang penuh dengan perubahan. Pepohonan, kumpulan dari pohon yang menjadi tumpuan harapan kita untuk mengurangi kandungan CO2 di atmosfer bumi yang kian hari kian menumpuk. Hijau, memang bukan warna merah yang mengandung gairah, tapi warna hijau adalah warna yang mengandung ketentraman, kejernihan, kesejukkan dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa dalam menikmati kesendirian.

Senin, 16 Juni 2014

Contoh Karya Tulis Remaja Dalam Bahasa Inggris. RANU GOLDEN TRIANGEL, LUMAJANG

RANU GOLDEN TRIANGEL, LUMAJANG

Sabtu, 07 Juni 2014

exploring the natural of Tambuh Mountain, Pasirian Lumajang East Java



Petualangan tak terlupakan



                                                                  Pendakian Pertama



                                                                   Pendakian Kedua





hari Libur tiba... pagi itu ditemani dengan sinar Matahari yang mengintip malu dicelah-celah pepohonan kami berangkat.
bagi masyarakat luar daerah Tempeh dan Pasirian, nama Puncak Rangga dan Gunung Tambuh pastilah terdengar asing. Namun, bagi kami, kedua bukit yang menyerupai gunung itu adalah hal yang sangat familiar.
memang, sampai saat ini satwa liar didaerah tersebut masih ada meskipun tidak sebanyak dulu.
Kijang, Monyet, hingga burung-burung langkapun sering dijumpai masyarakat disana.
Kami mengawali perjalanan ini dengan mencari kendaraan yang bisa mengangkut kami sampai ke desa Condro, Pasirian. ada beberapa pilihan untuk kesana. yang pertama naik Angkutan umum atau menumpang truk.
pada perjalanan pertama, kami memilih untuk menumpang mobil PLN. dan pada perjalanan yang kedua kami memilih untuk naik angkutan umum karena banyaknya anak yang ikut.
pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan semua yang turut menikmati perjalanan ini adalah saat dimana kami menempuh jalur yang tidak pernah dilalui pendaki lain. kami harus berjalan merayap di samping tebing batu yang berada di Puncak Rangga, tanpa pengaman. masih jelas dibenak saya saat pertama kali saya mencobanya. yang ada dalam benak saya saat itu, adalah jika saya terjatuh dari tebing ini, saya pasti mati. tapi tentu saya tidak terjatuh. Thanks for mas Tulus yang membantu saya menuruni batu di Puncak Rangga untuk pertama kali dan kepada mas Salis yang membantu saya turun di pendakian ke dua.

Setelah menyelesaikan Puncak Rangga yang memiliki dua puncak itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambu dengan menyeberangi persawahan. di Gunung Tambu inilah fisik kami benar-benar diuji. Dengan manisnya, Bang Karim memutuskan untuk melewati tangga yang menjulang keatas hingga ke bawah pohon beringin diatas gunung Tambu. Jujur saya akui, menaiki tangga dengan mendaki Puncak Rangga jauh lebih melelahkan menaiki tangga. sampai diatas dengan nafas yang tinggal separuh, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. setelah itu, petualangan yang seru dimulai.


tangga menuju puncak Gunung Tambuh

selama ini, anak-anak Tempeh dan Pasirian cenderung meremehkan Gunung Tambu tanpa mereka ketahui hal yang terkandung didalamnya. saya akui jika saya terkejut. betapa tidak... jika didalam pepohonan Gunung Tambu tersembunyi hutan Pinus dan Hutan Pandan yang sangat mempesona. sayang sekali saya tidak sempat mengambil gambarnya. belum lagi pemandangan antara laut, kebun kelapa, rumah penduduk dengan Gunung Gajah Mungkur yang berbaring dengan anggunnya, menambah rasa kagum saya terhadap gunung-gunungan satu ini.

selama perjalanan, anak-anak asik berceloteh ria termasuk juga saya, yang tidak henti-hentinya mengungkapkan rasa kagum kepada pemandangan yang terhampar didepan mata. tak terasa, kami sampai diantara puncak 1 dan Puncak 2 gunung Tambuh. Kejutan didapat. Bang Karim memutuskan untuk memotong jalur dengan melewati jalur ekstrim. pertama kali dalam hidup saya harus menuruni lembah kalu tidak bisa disebut jurang tanpa menggunakan alat apapun. hanya berbekal tekad dan keberanian, saya hanya bisa berpegangan rumput dan tangan kawan didepan saya, yang dengan baiknya sering mengulurkan tangannya saat saya terjatuh. Thank You so much mas Syarif... :). rumputnya pun dengan manisnya kebanyakan memiliki duri. lengkap sudah penderitaan saya. tak ada pegangan yang enak, jalur licin karena habis hujan ditambah medan yang sangat curam. dengan sangat beruntung saya katakan, betapa saya sangat bersyukur karena terpeleset 3 kali tapi masih baik-baik saja kecuali dengan keadaan celana yang sudah bercampur lumpur. sekali lagi, medan tidak menghendaki kami untuk berjalan, tapi menginginkan kami untuk 'mengesot' selangkah demi selangkah. ;(

dan puncak kejutan dari petualangan kami terhampar didepan mata. 4 tebing batu yang semakin lama kemiringannya semakin mendekati 90 derajat dan kami harus menuruninya tanpa bantuan alat sama sekali. hanya mengandalkan bantuan dari teman-teman yang dengan manisnya telah stand by untuk menjaga kami yang berjenis kelamin wanita. Thanks Guys.... :).
 
                                    bersama teman-teman setelah berhasil menuruni bebatuan

bukan hal mudah memang, namun akhirnya kami mampu untuk melewati rintangan-rintangan itu. kunci yang kami dapatkan adalah semangat, pantang menyerah, saling menolong, dan kekompakan. kami terutama saya pribadi mendapat pelajaran berharga yang tak bisa dinilai dengan apapun. hidup ini harus diperjuangkan. hidup ini tidak hanya tentang bagaimna cara menuju sukses dan menjadi kaya, berpangkat, lalu dihormati orang banyak. bukan itu. terkadang kita memang sering lupa jka jiwa kita juga memiliki hak untuk merasakan apa yang disukainya. kita terlalu menjaga image kita di masyarakat hingga kita lupa tentang bagaimana diri kita yang sebenarnya. kita terlalu sering berbuat baik pada orang lain, tapi kita sangat jarang berbuat baik pada diri kita sendiri. kita terlalu sering mengikat diri kita pada aturan agar kita dinilai baik oleh orang lain hingga kita tidak pernah membiarkan diri kita bebas menjalankan apa yang kita mau.

so, jadilah diri sendiri selama itu tidak melanggar agama dan hukum. selama itu baik bagi diri kita dan membuat hidup kita lebih bahagia.... :)

 
      Bersama mas Syarif                                             Bersama mbak Pratiwi


Kamis, 05 Juni 2014

Menjemput Kenangan di Condro: Antara Puncak Rangga, Tambuh, dan Obsesi Pertamaku pada Pandan Laut

Ditulis pada tahun 2026, mengenang perjalanan 2013.

Siang itu, ingatan saya melayang kembali ke masa putih abu-abu. Sekitar tahun 2013 atau 2014, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

Waktu itu, dunia terasa begitu sederhana. Cukup dengan modal nekat dan uang saku pas-pasan, saya bersama enam orang teman berkumpul di depan sekolah tercinta, SMAN Tempeh. Tujuan kami hari itu bukan mall atau kafe, melainkan sebuah petualangan kecil ke selatan Lumajang. Kami menumpang angkot (kami biasa menyebutnya "Kol") berwarna kuning-biru yang legendaris, melaju membelah jalanan menuju Pasirian.

Puncak Rangga: Pemanasan di Musim Kemarau

Sopir angkot menurunkan kami di tepi jalan raya Desa Condro, tepatnya di area yang kami kenal sebagai jalan Puncak Rangga.

Musim kemarau sedang berada di puncaknya. Langit cerah tanpa awan, menyisakan udara kering yang menusuk kulit. Bukit pertama yang kami tuju tidak tampak hijau royo-royo, melainkan didominasi warna kecokelatan khas meranggas.

Dari jalan raya, kami masuk ke gang perkampungan penduduk. Tak jauh, hanya sekitar 200 meter berjalan kaki, kami sudah tiba di kaki bukit.

Bagi pemula yang jarang berolahraga fisik seperti kami, bukit ini sangat ramah. Tidak terlalu tinggi, tanjakannya pun sopan. Namun, hadiah yang diberikan luar biasa. Menjelang puncak, napas kami yang terengah-engah langsung terbayar lunas. Di kejauhan, hamparan sawah hijau membentang luas, berbatasan langsung dengan garis biru Samudera Hindia.

Konon, di bukit ini masih ada hewan liarnya. Tapi siang itu, sepertinya mereka enggan menampakkan diri karena panas yang menyengat. Kami beristirahat sejenak, meluruskan kaki sebelum melanjutkan perjalanan ke bukit tetangga.

Gunung Tambuh: Tangga, Makam, dan Awal Sebuah Obsesi

Perjalanan berlanjut. Kami turun ke sisi balik bukit, menyusuri pematang sawah dan perkebunan warga. Target berikutnya sudah terlihat di depan mata: Gunung Tambuh (atau Bukit Tambu).

Berbeda dengan bukit pertama yang masih alami (tanah setapak), Gunung Tambuh sudah bersolek. Ada deretan anak tangga semen yang siap menuntun kami hingga ke puncak. Kami menapaki tangga demi tangga, melewati sebuah area yang dikeramatkan warga, yakni sebuah makam panjang. Suasananya hening, magis, namun menenangkan.

Begitu anak tangga berakhir, kami memasuki area hutan kecil di puncak bukit. Jalannya setapak namun cukup lebar. Di sinilah, untuk pertama kalinya, mata saya dimanjakan oleh vegetasi khas pesisir selatan yang begitu eksotis. Pohon cemara meliuk ditiup angin, dan tentu saja... Pandan Laut.

Di puncak Tambuh ini, saya berdiri di titik pertemuan dua raksasa:

  • Menghadap ke Utara, Mahameru berdiri gagah menaungi desa-desa di bawahnya.

  • Menghadap ke Selatan, Samudera Hindia membentang tanpa batas dengan ombaknya yang tak pernah tidur.

Di bawah naungan rimbunan pohon Pandan Laut inilah, saya merasa "jatuh cinta". Bentuk akarnya yang kokoh mencengkeram tanah berpasir, daunnya yang berduri namun artistik, serta ketangguhannya menghadapi angin laut. Siapa sangka, momen duduk di bawah pohon itu menjadi awal obsesi saya terhadap Pandan Laut hingga saya dewasa di tahun 2026 ini.



Memotong Kompas: Kenakalan Remaja yang Memacu Adrenalin

Namanya juga anak SMA, kalau tidak ada aksi nekat rasanya kurang lengkap. Tidak lama menikmati puncak, rekan kami yang memimpin rombongan punya ide gila: "Kita potong kompas, yuk! Nggak usah lewat tangga."

Tanpa pikir panjang (dan tanpa memikirkan risiko), kami setuju. Kami menuruni lereng bukit yang tidak memiliki jalur sama sekali. Menerobos semak, berpegangan pada batang pohon, hingga akhirnya kami menemui jalan buntu berupa jalur air alami.

Di hadapan kami ada tebing batu setinggi 2 hingga 3 meter. Mundur? Gengsi dong. Maju? Harus turun tebing.

Dengan semangat solidaritas (dan sedikit kenekatan bodoh), kami saling bantu. Satu per satu turun, saling menjaga pijakan kaki dan tangan rekannya. Jantung berdegup kencang, tapi tawa lepas justru pecah saat kami semua berhasil mendarat di bawah dengan selamat. Sebuah adrenalin rush yang tak terlupakan.






Setelah aksi "turun tebing" itu, kami menemukan jalan setapak yang ternyata tembus ke Jalur Lintas Selatan (JLS), tak jauh dari jalan raya utama.

Dengan baju penuh debu dan keringat, namun dengan hati yang penuh cerita, kami menyetop angkot Kol lagi untuk kembali ke Tempeh. Hari itu bukan sekadar mendaki bukit, tapi sebuah perjalanan menemukan kepingan keindahan Lumajang yang akan terus saya rindukan.

Info Perjalanan (Nostalgia 2013):

  • Lokasi: Desa Condro, Pasirian, Lumajang.

  • Destinasi: Gunung Rengganis & Gunung Tambuh.

  • Transportasi: Angkot (Kol) dari SMAN Tempeh.

  • Tingkat Kesulitan: Mudah (Cocok untuk pemula, asal jangan potong kompas lewat tebing ya!).


Kamis, 08 Mei 2014

Menghijaukan Jalur Lintas Selatan: Jejak Langkah Green Care Volunteer

Menjaga bumi bukan tentang melakukan satu hal besar dalam semalam, melainkan tentang konsistensi yang dilakukan bertahun-tahun. Itulah yang saya pelajari saat bergabung dengan Green Care Volunteer dalam aksi penghijauan di Jalur Lintas Selatan (JLS).

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tanam pohon biasa. Ini adalah kelanjutan dari program penanaman 1500 bibit yang sudah dimulai tiga tahun lalu. Kali ini, fokus kami adalah "menyulami"—sebuah istilah untuk mengganti bibit-bibit yang tidak mampu bertahan hidup. Dari evaluasi kami, ada sekitar 300 bibit yang harus diganti agar visi "Sejuta Pohon" tetap terjaga.

Mengapa Perawatan itu Penting?

Tanaman, layaknya manusia, akan tumbuh dengan baik jika dirawat dengan kasih sayang. Terima kasih kepada Dinas Perhutani yang telah mendukung penyediaan bibit. Namun, bibit hanyalah awal. Tugas sebenarnya ada pada para kader lingkungan yang bersedia meluangkan waktu untuk merawat mereka hingga tumbuh besar.

Pesan untuk Generasi Adiwiyata

Sebagai bagian dari sekolah yang telah mencapai tingkat Adiwiyata Mandiri, kita punya tanggung jawab moral untuk menjadi duta lingkungan. Tidak perlu muluk-muluk, kita bisa mulai dari hal sederhana:

  • Membuang sampah pada tempatnya.

  • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

  • Bijak dalam menggunakan kendaraan bermotor dan energi (SDA).

Mungkin bagi kita sekarang, setetes air atau sejuknya udara pagi terasa biasa saja karena persediaan masih ada. Tapi bayangkan 10 atau 20 tahun ke depan jika kita abai terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Apakah anak cucu kita masih bisa menikmati tanah Jawa yang subur ini?

Mulai dari Diri Sendiri

Perubahan besar dimulai dari diri sendiri. Mari kita tanamkan rasa cinta pada lingkungan di dalam hati dan tularkan semangat itu kepada orang-orang di sekitar. Untuk seluruh kader Green Care dan pejuang lingkungan di mana pun berada: teruslah beraksi di pos masing-masing.

Jangan biarkan udara segar pagi hari menjadi kemewahan yang langka di masa depan. Let’s start keeping our land from global warming and teach the next generation about the value of trees, water, and fresh air.

Go Green!

Ditulis saat saya masih aktif sebagai kader Green Care di bangku SMA, sebuah kenangan yang mengingatkan bahwa tugas menjaga bumi tidak pernah usai.