Ditulis pada tahun 2026, mengenang perjalanan 2013.
Siang itu, ingatan saya melayang kembali ke masa putih abu-abu. Sekitar tahun 2013 atau 2014, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA.
Waktu itu, dunia terasa begitu sederhana. Cukup dengan modal nekat dan uang saku pas-pasan, saya bersama enam orang teman berkumpul di depan sekolah tercinta, SMAN Tempeh. Tujuan kami hari itu bukan mall atau kafe, melainkan sebuah petualangan kecil ke selatan Lumajang. Kami menumpang angkot (kami biasa menyebutnya "Kol") berwarna kuning-biru yang legendaris, melaju membelah jalanan menuju Pasirian.
Puncak Rangga: Pemanasan di Musim Kemarau
Sopir angkot menurunkan kami di tepi jalan raya Desa Condro, tepatnya di area yang kami kenal sebagai jalan Puncak Rangga.
Musim kemarau sedang berada di puncaknya. Langit cerah tanpa awan, menyisakan udara kering yang menusuk kulit. Bukit pertama yang kami tuju tidak tampak hijau royo-royo, melainkan didominasi warna kecokelatan khas meranggas.
Dari jalan raya, kami masuk ke gang perkampungan penduduk. Tak jauh, hanya sekitar 200 meter berjalan kaki, kami sudah tiba di kaki bukit.
Bagi pemula yang jarang berolahraga fisik seperti kami, bukit ini sangat ramah. Tidak terlalu tinggi, tanjakannya pun sopan. Namun, hadiah yang diberikan luar biasa. Menjelang puncak, napas kami yang terengah-engah langsung terbayar lunas. Di kejauhan, hamparan sawah hijau membentang luas, berbatasan langsung dengan garis biru Samudera Hindia.
Konon, di bukit ini masih ada hewan liarnya. Tapi siang itu, sepertinya mereka enggan menampakkan diri karena panas yang menyengat. Kami beristirahat sejenak, meluruskan kaki sebelum melanjutkan perjalanan ke bukit tetangga.
Gunung Tambuh: Tangga, Makam, dan Awal Sebuah Obsesi
Perjalanan berlanjut. Kami turun ke sisi balik bukit, menyusuri pematang sawah dan perkebunan warga. Target berikutnya sudah terlihat di depan mata: Gunung Tambuh (atau Bukit Tambu).
Berbeda dengan bukit pertama yang masih alami (tanah setapak), Gunung Tambuh sudah bersolek. Ada deretan anak tangga semen yang siap menuntun kami hingga ke puncak. Kami menapaki tangga demi tangga, melewati sebuah area yang dikeramatkan warga, yakni sebuah makam panjang. Suasananya hening, magis, namun menenangkan.
Begitu anak tangga berakhir, kami memasuki area hutan kecil di puncak bukit. Jalannya setapak namun cukup lebar. Di sinilah, untuk pertama kalinya, mata saya dimanjakan oleh vegetasi khas pesisir selatan yang begitu eksotis. Pohon cemara meliuk ditiup angin, dan tentu saja... Pandan Laut.
Di puncak Tambuh ini, saya berdiri di titik pertemuan dua raksasa:
Menghadap ke Utara, Mahameru berdiri gagah menaungi desa-desa di bawahnya.
Menghadap ke Selatan, Samudera Hindia membentang tanpa batas dengan ombaknya yang tak pernah tidur.
Di bawah naungan rimbunan pohon Pandan Laut inilah, saya merasa "jatuh cinta". Bentuk akarnya yang kokoh mencengkeram tanah berpasir, daunnya yang berduri namun artistik, serta ketangguhannya menghadapi angin laut. Siapa sangka, momen duduk di bawah pohon itu menjadi awal obsesi saya terhadap Pandan Laut hingga saya dewasa di tahun 2026 ini.
Memotong Kompas: Kenakalan Remaja yang Memacu Adrenalin
Namanya juga anak SMA, kalau tidak ada aksi nekat rasanya kurang lengkap. Tidak lama menikmati puncak, rekan kami yang memimpin rombongan punya ide gila: "Kita potong kompas, yuk! Nggak usah lewat tangga."
Tanpa pikir panjang (dan tanpa memikirkan risiko), kami setuju. Kami menuruni lereng bukit yang tidak memiliki jalur sama sekali. Menerobos semak, berpegangan pada batang pohon, hingga akhirnya kami menemui jalan buntu berupa jalur air alami.
Di hadapan kami ada tebing batu setinggi 2 hingga 3 meter. Mundur? Gengsi dong. Maju? Harus turun tebing.
Dengan semangat solidaritas (dan sedikit kenekatan bodoh), kami saling bantu. Satu per satu turun, saling menjaga pijakan kaki dan tangan rekannya. Jantung berdegup kencang, tapi tawa lepas justru pecah saat kami semua berhasil mendarat di bawah dengan selamat. Sebuah adrenalin rush yang tak terlupakan.
Setelah aksi "turun tebing" itu, kami menemukan jalan setapak yang ternyata tembus ke Jalur Lintas Selatan (JLS), tak jauh dari jalan raya utama.
Dengan baju penuh debu dan keringat, namun dengan hati yang penuh cerita, kami menyetop angkot Kol lagi untuk kembali ke Tempeh. Hari itu bukan sekadar mendaki bukit, tapi sebuah perjalanan menemukan kepingan keindahan Lumajang yang akan terus saya rindukan.
Info Perjalanan (Nostalgia 2013):
Lokasi: Desa Condro, Pasirian, Lumajang.
Destinasi: Gunung Rengganis & Gunung Tambuh.
Transportasi: Angkot (Kol) dari SMAN Tempeh.
Tingkat Kesulitan: Mudah (Cocok untuk pemula, asal jangan potong kompas lewat tebing ya!).








Tidak ada komentar:
Posting Komentar