Petualangan tak terlupakan
Pendakian Pertama

Pendakian Kedua
hari Libur tiba... pagi itu ditemani dengan sinar Matahari yang mengintip malu dicelah-celah pepohonan kami berangkat.
bagi masyarakat luar daerah Tempeh dan Pasirian, nama Puncak Rangga dan Gunung Tambuh pastilah terdengar asing. Namun, bagi kami, kedua bukit yang menyerupai gunung itu adalah hal yang sangat familiar.
memang, sampai saat ini satwa liar didaerah tersebut masih ada meskipun tidak sebanyak dulu.
Kijang, Monyet, hingga burung-burung langkapun sering dijumpai masyarakat disana.
Kami mengawali perjalanan ini dengan mencari kendaraan yang bisa mengangkut kami sampai ke desa Condro, Pasirian. ada beberapa pilihan untuk kesana. yang pertama naik Angkutan umum atau menumpang truk.
pada perjalanan pertama, kami memilih untuk menumpang mobil PLN. dan pada perjalanan yang kedua kami memilih untuk naik angkutan umum karena banyaknya anak yang ikut.
pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan semua yang turut menikmati perjalanan ini adalah saat dimana kami menempuh jalur yang tidak pernah dilalui pendaki lain. kami harus berjalan merayap di samping tebing batu yang berada di Puncak Rangga, tanpa pengaman. masih jelas dibenak saya saat pertama kali saya mencobanya. yang ada dalam benak saya saat itu, adalah jika saya terjatuh dari tebing ini, saya pasti mati. tapi tentu saya tidak terjatuh. Thanks for mas Tulus yang membantu saya menuruni batu di Puncak Rangga untuk pertama kali dan kepada mas Salis yang membantu saya turun di pendakian ke dua.
Setelah menyelesaikan Puncak Rangga yang memiliki dua puncak itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambu dengan menyeberangi persawahan. di Gunung Tambu inilah fisik kami benar-benar diuji. Dengan manisnya, Bang Karim memutuskan untuk melewati tangga yang menjulang keatas hingga ke bawah pohon beringin diatas gunung Tambu. Jujur saya akui, menaiki tangga dengan mendaki Puncak Rangga jauh lebih melelahkan menaiki tangga. sampai diatas dengan nafas yang tinggal separuh, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. setelah itu, petualangan yang seru dimulai.

tangga menuju puncak Gunung Tambuh
selama ini, anak-anak Tempeh dan Pasirian cenderung meremehkan Gunung Tambu tanpa mereka ketahui hal yang terkandung didalamnya. saya akui jika saya terkejut. betapa tidak... jika didalam pepohonan Gunung Tambu tersembunyi hutan Pinus dan Hutan Pandan yang sangat mempesona. sayang sekali saya tidak sempat mengambil gambarnya. belum lagi pemandangan antara laut, kebun kelapa, rumah penduduk dengan Gunung Gajah Mungkur yang berbaring dengan anggunnya, menambah rasa kagum saya terhadap gunung-gunungan satu ini.
selama perjalanan, anak-anak asik berceloteh ria termasuk juga saya, yang tidak henti-hentinya mengungkapkan rasa kagum kepada pemandangan yang terhampar didepan mata. tak terasa, kami sampai diantara puncak 1 dan Puncak 2 gunung Tambuh. Kejutan didapat. Bang Karim memutuskan untuk memotong jalur dengan melewati jalur ekstrim. pertama kali dalam hidup saya harus menuruni lembah kalu tidak bisa disebut jurang tanpa menggunakan alat apapun. hanya berbekal tekad dan keberanian, saya hanya bisa berpegangan rumput dan tangan kawan didepan saya, yang dengan baiknya sering mengulurkan tangannya saat saya terjatuh. Thank You so much mas Syarif... :). rumputnya pun dengan manisnya kebanyakan memiliki duri. lengkap sudah penderitaan saya. tak ada pegangan yang enak, jalur licin karena habis hujan ditambah medan yang sangat curam. dengan sangat beruntung saya katakan, betapa saya sangat bersyukur karena terpeleset 3 kali tapi masih baik-baik saja kecuali dengan keadaan celana yang sudah bercampur lumpur. sekali lagi, medan tidak menghendaki kami untuk berjalan, tapi menginginkan kami untuk 'mengesot' selangkah demi selangkah. ;(
dan puncak kejutan dari petualangan kami terhampar didepan mata. 4 tebing batu yang semakin lama kemiringannya semakin mendekati 90 derajat dan kami harus menuruninya tanpa bantuan alat sama sekali. hanya mengandalkan bantuan dari teman-teman yang dengan manisnya telah stand by untuk menjaga kami yang berjenis kelamin wanita. Thanks Guys.... :).

bersama teman-teman setelah berhasil menuruni bebatuan
bukan hal mudah memang, namun akhirnya kami mampu untuk melewati rintangan-rintangan itu. kunci yang kami dapatkan adalah semangat, pantang menyerah, saling menolong, dan kekompakan. kami terutama saya pribadi mendapat pelajaran berharga yang tak bisa dinilai dengan apapun. hidup ini harus diperjuangkan. hidup ini tidak hanya tentang bagaimna cara menuju sukses dan menjadi kaya, berpangkat, lalu dihormati orang banyak. bukan itu. terkadang kita memang sering lupa jka jiwa kita juga memiliki hak untuk merasakan apa yang disukainya. kita terlalu menjaga image kita di masyarakat hingga kita lupa tentang bagaimana diri kita yang sebenarnya. kita terlalu sering berbuat baik pada orang lain, tapi kita sangat jarang berbuat baik pada diri kita sendiri. kita terlalu sering mengikat diri kita pada aturan agar kita dinilai baik oleh orang lain hingga kita tidak pernah membiarkan diri kita bebas menjalankan apa yang kita mau.
so, jadilah diri sendiri selama itu tidak melanggar agama dan hukum. selama itu baik bagi diri kita dan membuat hidup kita lebih bahagia.... :)

Bersama mas Syarif Bersama mbak Pratiwi
pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan semua yang turut menikmati perjalanan ini adalah saat dimana kami menempuh jalur yang tidak pernah dilalui pendaki lain. kami harus berjalan merayap di samping tebing batu yang berada di Puncak Rangga, tanpa pengaman. masih jelas dibenak saya saat pertama kali saya mencobanya. yang ada dalam benak saya saat itu, adalah jika saya terjatuh dari tebing ini, saya pasti mati. tapi tentu saya tidak terjatuh. Thanks for mas Tulus yang membantu saya menuruni batu di Puncak Rangga untuk pertama kali dan kepada mas Salis yang membantu saya turun di pendakian ke dua.
Setelah menyelesaikan Puncak Rangga yang memiliki dua puncak itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambu dengan menyeberangi persawahan. di Gunung Tambu inilah fisik kami benar-benar diuji. Dengan manisnya, Bang Karim memutuskan untuk melewati tangga yang menjulang keatas hingga ke bawah pohon beringin diatas gunung Tambu. Jujur saya akui, menaiki tangga dengan mendaki Puncak Rangga jauh lebih melelahkan menaiki tangga. sampai diatas dengan nafas yang tinggal separuh, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. setelah itu, petualangan yang seru dimulai.

tangga menuju puncak Gunung Tambuh
selama ini, anak-anak Tempeh dan Pasirian cenderung meremehkan Gunung Tambu tanpa mereka ketahui hal yang terkandung didalamnya. saya akui jika saya terkejut. betapa tidak... jika didalam pepohonan Gunung Tambu tersembunyi hutan Pinus dan Hutan Pandan yang sangat mempesona. sayang sekali saya tidak sempat mengambil gambarnya. belum lagi pemandangan antara laut, kebun kelapa, rumah penduduk dengan Gunung Gajah Mungkur yang berbaring dengan anggunnya, menambah rasa kagum saya terhadap gunung-gunungan satu ini.
selama perjalanan, anak-anak asik berceloteh ria termasuk juga saya, yang tidak henti-hentinya mengungkapkan rasa kagum kepada pemandangan yang terhampar didepan mata. tak terasa, kami sampai diantara puncak 1 dan Puncak 2 gunung Tambuh. Kejutan didapat. Bang Karim memutuskan untuk memotong jalur dengan melewati jalur ekstrim. pertama kali dalam hidup saya harus menuruni lembah kalu tidak bisa disebut jurang tanpa menggunakan alat apapun. hanya berbekal tekad dan keberanian, saya hanya bisa berpegangan rumput dan tangan kawan didepan saya, yang dengan baiknya sering mengulurkan tangannya saat saya terjatuh. Thank You so much mas Syarif... :). rumputnya pun dengan manisnya kebanyakan memiliki duri. lengkap sudah penderitaan saya. tak ada pegangan yang enak, jalur licin karena habis hujan ditambah medan yang sangat curam. dengan sangat beruntung saya katakan, betapa saya sangat bersyukur karena terpeleset 3 kali tapi masih baik-baik saja kecuali dengan keadaan celana yang sudah bercampur lumpur. sekali lagi, medan tidak menghendaki kami untuk berjalan, tapi menginginkan kami untuk 'mengesot' selangkah demi selangkah. ;(
dan puncak kejutan dari petualangan kami terhampar didepan mata. 4 tebing batu yang semakin lama kemiringannya semakin mendekati 90 derajat dan kami harus menuruninya tanpa bantuan alat sama sekali. hanya mengandalkan bantuan dari teman-teman yang dengan manisnya telah stand by untuk menjaga kami yang berjenis kelamin wanita. Thanks Guys.... :).


bersama teman-teman setelah berhasil menuruni bebatuan
bukan hal mudah memang, namun akhirnya kami mampu untuk melewati rintangan-rintangan itu. kunci yang kami dapatkan adalah semangat, pantang menyerah, saling menolong, dan kekompakan. kami terutama saya pribadi mendapat pelajaran berharga yang tak bisa dinilai dengan apapun. hidup ini harus diperjuangkan. hidup ini tidak hanya tentang bagaimna cara menuju sukses dan menjadi kaya, berpangkat, lalu dihormati orang banyak. bukan itu. terkadang kita memang sering lupa jka jiwa kita juga memiliki hak untuk merasakan apa yang disukainya. kita terlalu menjaga image kita di masyarakat hingga kita lupa tentang bagaimana diri kita yang sebenarnya. kita terlalu sering berbuat baik pada orang lain, tapi kita sangat jarang berbuat baik pada diri kita sendiri. kita terlalu sering mengikat diri kita pada aturan agar kita dinilai baik oleh orang lain hingga kita tidak pernah membiarkan diri kita bebas menjalankan apa yang kita mau.
so, jadilah diri sendiri selama itu tidak melanggar agama dan hukum. selama itu baik bagi diri kita dan membuat hidup kita lebih bahagia.... :)


Bersama mas Syarif Bersama mbak Pratiwi
No comments:
Post a Comment