Pertama kali saya mengunjungi lokasi ini sekitar 3,5 tahun
yang lalu, tetapi aroma pohon pinus itu terasa segar dalam ingatan. Berbekal memori
indah dan sedikit catatan perjalanan lama dari bertahun lampau, hari ini saya
mencoba menuliskan kembali apa yang saya temui di sana.
Dikenal dengan nama Candi Sumberawan, tinggalan arkeologis
berupa stupa ini terletak di Desa Toyomarto, Kec. Singosari, Kab. Malang, Jawa
Timur. Candi ini bukanlah “candi” utuh sebagaimana yang bisa kita temui pada
tinggalan arkeologis lainnya yang berlabel “candi”. Apa yang disebut dengan
candi oleh masyarakat sekitar tidak lain adalah sebuah stupa berbahan batu
andesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi
5,23 m, dibangun pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki bukit Gunung Arjuna.
Riwayat temuan (dikutip
dari wikipedia.id)
Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904. Pada tahun 1935
diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala. Pada zaman Hindia
Belanda pada tahun
1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya
direkonstruksi secara darurat. Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Batur
candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief.
Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi
yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat
sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur
sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas
berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Karena ada beberapa
kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka
terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Diduga dulu pada puncaknya
tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya
tidak ditemukan sama sekali. Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik
ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi,
hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti
lazimnya stupa yang sesungguhnya. Diperkirakan candi ini dahulu memang
didirikannya untuk pemujaan.
Para ahli
purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang
terkenal dalam kitab Negarakertagama.
Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan
perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan
dagoba (stupanya) dapat diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan
sekitar abad 14 sampai 15 masehi yaitu pada periode Majapahit.
Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan
yang bersifat Buddhisme.
Kepercayaan Masyarakat Lokal
Toponim Desa Toyomerto seringkali dikaitkan dengan
kepercayaan masyarakat lokal tentang air yang berada di sekitar Candi
Sumberawan. Sebagaimana yang telah diketahui, Candi Sumberawan merupakan sebuah
stupa yang dibangun di tengah – tengah danau. Kata Toyomerto berasal dari kata toyo ( yang berarti air) dan amerta (yang berarti kehidupan). Air
telaga Sumberawan diyakini berkhasiat untuk kesehatan, kecantikan, kejayaan,
dan kesejahteraan. Adapun pendirian candi Sumberawan di atas telaga saat itu,
ditujukan agar kesucian air telaga tetap terjaga. Hingga kini, banyak orang
meyakini bahwa tempat tersebut merupakan tempat turunnya bidadari dari
kahyangan, pintu masuk dari dunia manusia ke dunia dewa-dewa. Air telaga pun
dipercaya sebagai air kehidupan (air amerta /air panguripan) (Prosiding Temu
Ilmiah IPLBI 2016).
No comments:
Post a Comment