Menu

Thursday, 28 March 2019

Candi atau Stupa ? Situs Sumberawan


Pertama kali saya mengunjungi lokasi ini sekitar 3,5 tahun yang lalu, tetapi aroma pohon pinus itu terasa segar dalam ingatan. Berbekal memori indah dan sedikit catatan perjalanan lama dari bertahun lampau, hari ini saya mencoba menuliskan kembali apa yang saya temui di sana.

Dikenal dengan nama Candi Sumberawan, tinggalan arkeologis berupa stupa ini terletak di Desa Toyomarto, Kec. Singosari, Kab. Malang, Jawa Timur. Candi ini bukanlah “candi” utuh sebagaimana yang bisa kita temui pada tinggalan arkeologis lainnya yang berlabel “candi”. Apa yang disebut dengan candi oleh masyarakat sekitar tidak lain adalah sebuah stupa berbahan batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m, dibangun pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki bukit Gunung Arjuna.

Riwayat temuan (dikutip dari wikipedia.id)
Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904. Pada tahun 1935 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala. Pada zaman Hindia Belanda pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat. Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief. Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Karena ada beberapa kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Diduga dulu pada puncaknya tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali. Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya. Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan.
Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya) dapat diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai 15 masehi yaitu pada periode Majapahit. Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.
Kepercayaan Masyarakat Lokal

Toponim Desa Toyomerto seringkali dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat lokal tentang air yang berada di sekitar Candi Sumberawan. Sebagaimana yang telah diketahui, Candi Sumberawan merupakan sebuah stupa yang dibangun di tengah – tengah danau. Kata Toyomerto berasal dari kata toyo ( yang berarti air) dan amerta (yang berarti kehidupan). Air telaga Sumberawan diyakini berkhasiat untuk kesehatan, kecantikan, kejayaan, dan kesejahteraan. Adapun pendirian candi Sumberawan di atas telaga saat itu, ditujukan agar kesucian air telaga tetap terjaga. Hingga kini, banyak orang meyakini bahwa tempat tersebut merupakan tempat turunnya bidadari dari kahyangan, pintu masuk dari dunia manusia ke dunia dewa-dewa. Air telaga pun dipercaya sebagai air kehidupan (air amerta /air panguripan) (Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016).

No comments:

Post a Comment