Gapura Bajang Ratu adalah jenis
gapura paduraksa yang berasal dari era kerajaan Majapahit. Gapura ini terletak
di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.
Gapura sendiri merupakan pintu gerbang atau pintu masuk sebelum memasuki
tempat-tempat yang dianggap lebih suci. dlaam hal ini, gapura bisa dibedakan
menjadi dua, yaitu gapura paduraksa dan gapura bentar. gapura paduraksa adalah
gapura yang kedua sisi kanan dan kirinya disatukan oleh atap. Sedangkan gapura
bentar adalah gapura yang bagian kanan dan kirinya terpisah.
Gapura Bajang Ratu
sebagai jenis gapura paduraksa, memiliki ornamen Kala di keempat sisi nya.
Ornamen kala yang terdapat di Gapura Bajang Ratu ini tergolong unik karena
tidak menunjukkan wajah yang menyeramkan, melainkan menunjukkan ekspresi sedang
tersenyum. Berdasarkan hasiil penelitian Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)
Mojokerto, Gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunnan suci untuk
memperingati wafatnya raja Jayanegara. Tahun wafatnya Jayanegara sendiri
tertulis dalam Negarakrtagama dalam kalimat "kembali ke dunia Wisnu"
tahun 1250 Saka atau sekitar 1328 Masehi. Dugaan fungsi gapura ini dikuatkan
dengan keberadaan relief Sri Tanjung yang menceritakan tentang perjalanan
setelah penglepasan di dunia arwah. Oleh karena itu, gapura ini juga diduga
difungsikan sebagai pintu belakang karena salah satu kebiasaan yang masih
bertahan di masyarakat sekitar gapura hingga sekarang adalah kebiasaan melewati
pintu belakang saat melayat di rumah seseorang yang meninggal dunia.
Penamaan gapura ini dengan nama
Bajang Ratu tidak terlepas dengan legenda yang berkembang di masyarakat sekitar
Trowulan. Bajang dalam masyarakat Jawa sering digunakan untuk menyebut
janin/calon bayi yang tidak berhasil lahir dengan selamat atau sempurna (Bayi
Bajang). Ratu diartikan sebagai pemimpin atau raja. Dalam cerita sejarah
kerajaan Majapahit, terdapat seorang raja yang menduduki tahta pada usia masih
belia dan juga wafat pada usia muda.
Selain itu, raja ini juga dikenal memiliki sifat buruk seperti suka menggoda
istri orang. Dikisahkan, jika Sri Jayanegara meninggal akibat dibunuh oleh Ra
Tanca yang merupakan tabib kerajaan waktu hendak melakukan pengobatan
mengangkat bisul. Karena sifat buruk dan kematiannya yang tragis, beberapa
sejarahwan mengakitkan nama Bajang Ratu dengan Sri Jayanegara yang dimaknai
sebagai " Seorang Ratu yang gagal lahir dengan baik (Bajang)". Dugaan
ini dikuatkan dengan catatan dalam Nagara Krtagama yang menyebutkan " Sira
ta dhinarumeng Kapopongan, bhiseka ring crnggapura pratista ring
antawulan". Inti dari kalimat tersebut adalah setelah wafatnya raja yang
diduga Jayanegara didharmakan di Kapopogan dan dikukuhkan di Antawulan
(sekarang dikenal sebagai Trowulan). Gapura Bajang Ratu sendiri diduga merupakan
pintu bangunan suci tempat Jayanegara dikukuhkan.
Gapura dalam filosofi masyarakat
Jawa memiliki makna yang mendalam. Keberadaan gapura (baik jenis bentar maupun
paduraksa) banyak ditemui pada pintu masuk ke bangunan-bangunan sucil Dari
aspek kesuciannya, Gapura Bentar terletak pada bagian halaman terluar. Setelah
Gapura Bentar, baru terdapat Gapura Paduraksa yang merupakan pintu masuk ke
dalam bangunan suci. Keberadaan relief Sri Tanjung pada Gapura Bajang Ratu
menunjukkan jika gapura ini mengandung makna kehidupan yang mendalam, yaitu
Gapura sebagai pintu masuk ke dalam suatu bangunan suci yang dapat dimaknai
sebagai alam kelanggengan. Keberadaan dua jenis gapura sebelum memasuki
bangunan suci, bermakna terdapat dua alam yang harus manusia lewati untuk
mencapai alam kelanggengan. Alam pertama yang disimbolkan dengan Gapura Bentar
adalah alam dalam rahim ibu atau alam kandungan. Dalam beberapa sumber, bentuk
Gapura Bentar disamakan dengan relief kelahiran yang terdapat di Candi Sukuh.
Gapura Bentar sebagai jalan lahir manusia untuk bisa melihat alam dunia atau
dalammasyarakat Jawa biasa disebut alam kasunyatan. Sesudah melewati Gapura
Bentar, manusia akan masuk pada fase kehidupan kedu yaitu kehidupan di alam
dunia. Disini manusia hidup, tumbuh dan berkembang hingga akhirnya meninggal
dunia ( dalam bahasa Jawa secara kasar disebut Mati yang kadang sering dianggap
sebagai kepanjangan dari "Nikmat e Ganti". Maksud dari ungkapan
tersebut adaah ketika manusia memasuki alam kelanggengan, maka kenikmatan yang
bisa dirasakan akan menjadi berbeda dengan yang dirasakan di dunia kasunyatan.
Jika di alam dunia nikmat bisa dirasakan melalui makanan, minuman, jalan-jalan
maupun hubungan badaniah, maka ketika memasuki alam kelanggengan nikmatnya
berganti dengan hubungan pribadi antara manusia dan Sang Pencipta.
Keberadaan Relief
Sri Tanjung yang mengisahkan perjalanan roh selepas meninggalkan alam dunia
menjadi pelajaran bagi menusia untuk mempersiapkan dirinya masing-masing
sebelum memasuki alam kelanggengan. Detail dari perjalanan Sri Tanjung ini akan
dibahas dilain tulisan karena akan memakan jumlah halaman yang tidak sedikit.
Tulisan ini diharapkan memberikan sedikit penjelasan tentang objek-objek
bersejarah, bukan hanya mengenai kisahnya di masa lalu, tetapi juga pemaknannya
agar penghargaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam objek terebut tidak
hilang dan beralih fungsi (misal, nilai objek bersejarah yang hanya difungsikan
sebagai kawasan wisata tanpa memperhatikan fungsi nilainya di masa lalu).
No comments:
Post a Comment