Tembikar adalah alat keramik yang dibuat oleh perajin. Tembikar
dibuat dengan membentuk tanah liat menjadi suatu objek (Wikipedia.id). Tembikar
memiliki perbedaan dengan gerabah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI). Pengertian tembikar menurut KBBI
adalah barang dari tanah liat yang dibakar dan berlapis gilap(pengkilap).
Fungsi tembikar yang utama adalah sebagai aksesoris atau penghias ruangan
karena memiliki nilai estetika yang tinggi. Berbeda dengan tembikar, gerabah
hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan. Jadi, tembikar dan gerabah
hanya memiliki perbedaan dalam fungsinya saja, dan sama secara bahan bakunya.
Tembikar banyak ditemukan di
situs-situs arkeologi di seluruh Indonesia. Soesandireja dalam Wacana yang
dimuat pada tahun 2009 menyebutkan para arkeolog dalam melakukan penggalian
sering kali menemukan pecahan benda yang terbuat dari tanah liat atau tembikar
(kereweng). Arkeolog menggunakan
lapisan tanah tempat ditemukannya pecahan tembikar tersebut untuk
mengidentifikasi dari mana dan pada zaman siapa tembikar-tembikar tersebut
dibuat. Tembikar banyak digunakan
sebagai perkakas rumah tangga maupun keperluan religius seperti upacara dan
penguburan. Dalam keperluan religi, tembikar biasanya digunakan sebagai wadah
kubur, bekal kubur, atau tempat peralatan upacara. Tembikar yang digunakan
sebagai alat keperluan sehari-hari biasanya , tembikar jenis periuk, cawan,
piring, kendi, dan tempayan banyak digunakan sebagai untuk wadah makanan.
Sedangkan untuk alat upacara keagamaan, tembikar yang banyak digunakan adalah
tembikar jenis kendi dan periuk yang digunakan sebagai tempat air suci dan
wadah sesaji lainnya. Berbeda dengan gerabah yang digunakan sebagai alat
keperluan sehari-hari yang cenderung tanpa motif atau polos, tembikar yang digunakan
dalam alat upacara , utamanya upacara keagamaan memiliki pola hiasan yang lebih
rumit. Dari pola hias inilah, para ahli
dapat menelusuri kebudayaan dari jaman pembuatan tembikar.
Menjadi hal yang menarik jika ditelusuri lebih dalam kenapa tembikar
digunakan dalam alat-alat upacara religi? Mengapa yang digunakan sebagai bekal
kubur, atau tempat peralatan upacara harus tembikar dan bukan batu atau kayu
saja? Apakah keistimewaan tembikar? Ada sebuah mitos yang berasal dari sebuah
sungai yang bernama Sungai Daniah, bahwa tembikar dibuat sebagai hukuman
terhadap seorang ibu yang telah kehilangan anaknya akibat meninggalkan anaknya
sendirian di rumah dan lebih memilih mengikuti suaminya ke ladang. Sejak saat
itulah, semua perempuan dilarang ikut ke lading dan harus tinggal di rumah
sembari membuat tembikar. Begitu juga dengan para suami yang dilarang ikut
campur dalam proses pembuatan tembikar karena tugasnya adalah pergi ke sawah. Disini,
tembikar diumpakan sebagai wujud cinta kasih seorang ibu kepada anaknya yang
diwujudkan dalam proses pembuatan tembikar itu sendiri yang penuh dengan
ketekunan dan kehalusan. Hal ini dapat dilihat ketika perajin membuat tembikar,
yaitu dengan membentuk tanah liat dengan cara ditekan-tekan lembut sembari
dielus lembut. Hal ini menandakan kasih sayang ibu terhadap anaknya yang bisa
diterjemahkan sebagai kasih sayang Tuhan Pencipta Alam kepada manusia yang
selalu menjaga manusia dan membentuk manusia menjadi wujud yang sempurna.
Selain itu, kita menelusuri kedudukan tembikar sebagai alat upacara
melalui filsafat, salah satunya filsafat jawa. Tembikar, dalam pembuatannya
hampir sama dengan batu bata. Bahan baku tembikar, adalah tanah liat, pasir,
air, yang kemudian dijemur dibawah sinar matahari, lalu dibakar di suhu sekitar
1000o C. Tembikar bisa saja dianggap mewakili ke empat elemen dasar
dari alam semesta, yaitu air, angin, api, tanah. Sehingga, tembikar dalam alat
upacara bisa menjadi simbolisme alam semesta dan meletakan alat upacara dalam
tembikar, atau menjadikan tembikar sebagai bekal kubur, berarti menyertakan
restu alam semesta terhadap manusia itu sendiri.
No comments:
Post a Comment