Menu

Sunday, 31 March 2019

Tembikar dan Upacara Religi


Tembikar adalah alat keramik yang dibuat oleh perajin. Tembikar dibuat dengan membentuk tanah liat menjadi suatu objek (Wikipedia.id). Tembikar memiliki perbedaan dengan gerabah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).  Pengertian tembikar menurut KBBI adalah barang dari tanah liat yang dibakar dan berlapis gilap(pengkilap). Fungsi tembikar yang utama adalah sebagai aksesoris atau penghias ruangan karena memiliki nilai estetika yang tinggi. Berbeda dengan tembikar, gerabah hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan. Jadi, tembikar dan gerabah hanya memiliki perbedaan dalam fungsinya saja, dan sama secara bahan bakunya.


 Tembikar banyak ditemukan di situs-situs arkeologi di seluruh Indonesia. Soesandireja dalam Wacana yang dimuat pada tahun 2009 menyebutkan para arkeolog dalam melakukan penggalian sering kali menemukan pecahan benda yang terbuat dari tanah liat atau tembikar (kereweng). Arkeolog menggunakan lapisan tanah tempat ditemukannya pecahan tembikar tersebut untuk mengidentifikasi dari mana dan pada zaman siapa tembikar-tembikar tersebut dibuat.  Tembikar banyak digunakan sebagai perkakas rumah tangga maupun keperluan religius seperti upacara dan penguburan. Dalam keperluan religi, tembikar biasanya digunakan sebagai wadah kubur, bekal kubur, atau tempat peralatan upacara. Tembikar yang digunakan sebagai alat keperluan sehari-hari biasanya , tembikar jenis periuk, cawan, piring, kendi, dan tempayan banyak digunakan sebagai untuk wadah makanan. Sedangkan untuk alat upacara keagamaan, tembikar yang banyak digunakan adalah tembikar jenis kendi dan periuk yang digunakan sebagai tempat air suci dan wadah sesaji lainnya. Berbeda dengan gerabah yang digunakan sebagai alat keperluan sehari-hari yang cenderung tanpa motif atau polos, tembikar yang digunakan dalam alat upacara , utamanya upacara keagamaan memiliki pola hiasan yang lebih rumit.  Dari pola hias inilah, para ahli dapat menelusuri kebudayaan dari jaman pembuatan tembikar.

Menjadi hal yang menarik jika ditelusuri lebih dalam kenapa tembikar digunakan dalam alat-alat upacara religi? Mengapa yang digunakan sebagai bekal kubur, atau tempat peralatan upacara harus tembikar dan bukan batu atau kayu saja? Apakah keistimewaan tembikar? Ada sebuah mitos yang berasal dari sebuah sungai yang bernama Sungai Daniah, bahwa tembikar dibuat sebagai hukuman terhadap seorang ibu yang telah kehilangan anaknya akibat meninggalkan anaknya sendirian di rumah dan lebih memilih mengikuti suaminya ke ladang. Sejak saat itulah, semua perempuan dilarang ikut ke lading dan harus tinggal di rumah sembari membuat tembikar. Begitu juga dengan para suami yang dilarang ikut campur dalam proses pembuatan tembikar karena tugasnya adalah pergi ke sawah. Disini, tembikar diumpakan sebagai wujud cinta kasih seorang ibu kepada anaknya yang diwujudkan dalam proses pembuatan tembikar itu sendiri yang penuh dengan ketekunan dan kehalusan. Hal ini dapat dilihat ketika perajin membuat tembikar, yaitu dengan membentuk tanah liat dengan cara ditekan-tekan lembut sembari dielus lembut. Hal ini menandakan kasih sayang ibu terhadap anaknya yang bisa diterjemahkan sebagai kasih sayang Tuhan Pencipta Alam kepada manusia yang selalu menjaga manusia dan membentuk manusia menjadi wujud yang sempurna.

Selain itu, kita menelusuri kedudukan tembikar sebagai alat upacara melalui filsafat, salah satunya filsafat jawa. Tembikar, dalam pembuatannya hampir sama dengan batu bata. Bahan baku tembikar, adalah tanah liat, pasir, air, yang kemudian dijemur dibawah sinar matahari, lalu dibakar di suhu sekitar 1000o C. Tembikar bisa saja dianggap mewakili ke empat elemen dasar dari alam semesta, yaitu air, angin, api, tanah. Sehingga, tembikar dalam alat upacara bisa menjadi simbolisme alam semesta dan meletakan alat upacara dalam tembikar, atau menjadikan tembikar sebagai bekal kubur, berarti menyertakan restu alam semesta terhadap manusia itu sendiri.

No comments:

Post a Comment