Islam masuk ke
berbagai daerah di Nusantara dalam waktu yang berbeda-beda. Berdasarkan berita
dari Cina zaman Dinasti T’ang, pada sekitar abad ke- 7 dan ke- 8, telah berdiri
pemukiman-pemukiman masyarakat muslim baik di Kanfu (Kanton) maupun di daerah
Sumatera sendiri. Hal ini menunjukkan, jika pada masa tersebut, Selat Malaka
sudah mulai dilalui oleh para pedagang Muslim dalam pelayarannya ke
negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Sumber lain yang juga berbicara
mengenai hubungan perdagangan antara Nusantara sebelah barat dengan wilayah
lain di sekitar Samudera Hindia didapatkan dari teks-teks berbahasa Arab yang
ditulis mulai abad ke-9. Teks-teks berbahasa Arab yang ditulis oleh para pelaut
berulang kali menjebut nama Javaga yang berarti kantor-kantor dagang di Sumatera
dan di Semenanjung yang pada waktu itu dibawah kekuasaan Maharaja Sriwijaya
(Denys Lombard : 1996,22). Dokumen-dokumen arkeologi tentang pengaruh Islam
sendiri di wilayah Nusantara baru muncul pada abad 11, berupa prasasti dalam
bahasa Arab. Batu prasasti ini ditemukan di Leran, Gresik, Jawa Timur.
Bertanggal “ Jumat, 7 Rajab 475 H” atau 2 Desember 1082 M, batu prasasti ini
merupakan batu nisan seorang gadis yang bernama Fatimah Bint Maymun. Prasasti
ini menunjukkan jika pada abad ke-11, diantara pedagang-pedagang asing sudah
terdapat keluarga-keluarga muslim. Pada akhir abad ke-13 dan abad-abad
selanjutnya, bukti-bukti islamisasi data diketahui lebih banyak seperti halnya
keberadaan puluhan nisan kubur di Troloyo, Trowulan, dan Gresik. Selain itu,
berita dari Ma Huan pada tahun 1416 juga menceritakan tentang keberadaan
orang-orang muslim di Gresik. Hal ini membuktikan bahwa proses islamisasi telah
terjadi dan telah terbentuk masyarakat-masyarakat muslim. Demikian juga dengan
berita yang disampaikan oleh Tome Pires (1512-1515) dalam Suma Oriental, bahwa daerah-daerah di bagian pesisir Sumatera Utara
dan timur Selat Malaka,yaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat
masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi kerajaan-kerajaan yang belum
Islam banyak pula, yaitu antara Palembang dan Gamispola, dan di daerah-daerah pedalaman.
Islam di Nusantara sudah mulai dapat dilacak keberadaan sejak abad 7- 8 M dan
mencapai puncak perkembangannya pada sekitar abad 14 - 15.
Nusantara
Dalam Lintas Perdagangan Dunia
Perkembangan
pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di
Asia bagian barat dan timur kemungkinan disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam
dibawah Bani Umayyah di bagian barat dan kerajaan Cina jaman Dinasti T’ang di
Asia Timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara (SNI III:1). Salah satu
pintu gerbang dalam perdagangan dan pelayaran internasional itu adalah Malaka.
Malaka memiliki letak geografis yang sangat menguntungkan dengan menjadi jalan
silang antara Asia Barat dan Asia Timur. Malaka, Jawa, dan Pasai terlibat dalam
suatu hubungan dagang yang kompleks. Jawa dan Pasai sebagai penyedia bahan
pangan dan rempah-rempah yang dijual kepada kapal-kapal dagang asing yang
datang ke Malaka. Hal ini menjadikan Malaka sebagai pusat perdagangan di Asia pada
abad ke-15.
Sementara itu,
perdagangan dengan bangsa Asing sendiri sudah dilakukan oleh masyarakat
nusantara pada abad-abad sebelumnya. Dalam buku Merveilles de l’Inde, salah satu karya roman yang ditulis pada
sekitar abad ke-10, menyebutkan tentang Javaga dan ibu kotanya sebagai tempat
yang terletak dibagian dalam sebuah muara yang lebarnya 50 parasanges, jauh lebih lebar dari Sungai Tigris di Bara,
rumah-rumahnya kebanyakan di atas air, dibangun di atas bongkah-bongkah kayu
yang diikat seperti rakit, untuk mencegah kebakaran. Beberapa bagian dalam buku
ini menjelaskan peranan Sriwijaya dalam perniagaan. Kota Kalah, menurut Relation merupakan bagian dari tanah
milik Maharaja, dan “pasar perdagangan lidah buaya, kamper, cendana, gading,
timah, kayu hitam, kayu brazil, segala rempah dan bumbu”. Melalui buku ini
juga, kita bisa melacak lintasan perdagangan dari Oman, Basra, hingga Khanfu
atau Kanton. Rute itu melewati kepulauan Nikobar, lalu Lamuri (daerah Aceh
sekarang). Dari tempat ini ada kapal-kapal mengambil rute ke Barat untuk
mencapai Fansur dan Nias, tempat yang tidak dibawahi Maharaja, tempat orang
dapat mendapatkan kamper dan membeli budak. Kapal-kapal yang lain mengambil
jalan ke Timur, kearah bandar-bandar Semenanjung Malayu, lalu bandar-bandar
Sriwijaya. Dari sana kapal-kapal itu berangkat lagi menuju Cina.
Tulisan Zhufan
zhi yang disusun pada kira-kira pertengahan abad ke-13 oleh seorang petugas
pabean di Fujian, Zhao Rugua, menggambarkan tentang kekayaan negeri Jawa.
Banyak hasil pertaniannya- seperti beras, jawawut, katun, dan segala macam
buah-buahan-, mutu kain suteranya, melimpahnya rempah-rempah dan barang-barang
eksotik yang terdapat di pelabuhannya, seperti, gading, mutiara, kapur barus,
cendana, cengkeh, sapang, buah pinang, dan terutama lada. Pada naskah yang sama
juga diceritakan jika para pedagang Cina hingga menyelundupkan kepeng tembaga
untuk ditukarkan dengan lada. Tulisan ini didukung oleh bukti arkeologis berupa
Jung yang ditemukan pada tahun 1974 yang oleh para ahli arkologi Cina diperkirakan
berasal dari abad ke-13. Di dalamnya masih dapat ditemukan sebagian dari
muatannya yang berupa buah pinang, kayu yang bernilai tinggi dan lada.
Marcopolo juga
membicarakan mengenai kekuasaan Jawa dalam perjalanan pulangnya pada 1291. Ia
menyebutkan “ Pulau itu kaya sekali. Ada lada, buah pala, sereh, lengkuas,
kemukus, cengkeh dan semua rempah-rempah langka di dunia. Pulau itu didatangi
oleh sejumlah besar kapal dan pedagang, yang membuat laba tinggi di sana. Di
pulau itu terdapat harta kekayaan yang sedemikian banyaknya hingga tak ada
orang di dunia ini yang dapat menghitungnya atau menceritakannya semua. Dan ketahuilah
bahwa Khan Agung tidak dapat memperolehnya, karena jauh dan berbahayanya
perjalanan menuju ke sana. Dari pulau itu, para pedagang dari Zaitun dan
Mangi telah memperoleh harta banyak
sekali dan begitulah setiap harinya.”
Kedatangan para
pedagang Eropa pada sekitar abad ke-16 tidaklah terlalu menimbulkan gejolak.
Dampak ideologi Barat tidak terlalu nampak sedangkan agama Islam terus
berkembang dan meluas. Dominasi Islam tampak pada tingkat sosial dan politik
dalam kemajuan berbagai kesultanan , dari Aceh sampai Ternate dan Kepulauan
Sulu, yang mana hal tersebut menjadi gejala terpenting dalam abad ke-16, ke-17 dan
ke- 18. Pyrard de Laval dalam tulisannya
yang berjudul Voyage ketika singgah di Banten pada tahun 1619,
dalam perjalanannya ke Kepulauan Maluku, menyebutkan : “Kota itu dikunjungi
banyak bangsa, sebab di sana terjadi tukar menukar dan perdagangan oleh segala
macam orang asing, baik yang beragam nasrani dan yang dari India, maupun orang
Arab, Gujarat, Malabar, Bengali, dan Malaka, yang datang terutama untuk
memperoleh lada yang tumbuh berlimpah-limpah di pulau itu dan biasanya hanya
berharga satu sol setiap ponnya. Saya melihat banyak langganan orang Cina, yang
berdagang dengan ramai, dan setiap tahun pada bulan Januari datanglah sembilan
atau sepuluh kapal besar dari Cina, yang bermuatan hasil karya kain sutera,
kain katun, emas, porselin, minyak kasturi, dan seribu macam barang dagangan lain
dari negeri mereka….”
Islam
Masuk Ke Nusantara Melalui Bangsa-Bangsa Asing
George Coedes
menunjukkan bahwa pada abad ke-13 telah terjadi perubahan mendasar dalam sejarah
Semenanjung Indocina. Kekuatan Mongol bangkit diiringi kemunduran-kemunduran
kerajaan-kerajaan yang terkena pengaruh India. Ideologi-ideologi baru masuk dan
berkembang seperti ajaran Buddhisme Theravada yang mulai mengganti Buddhisme
Mahayana, serta ajaran agama Islam yang mencapai kejayaannya di Nusantara. Perkembangan
Islam di daerah Asia Tenggara diawali dengan berkembangnya agama Islam di India
dibawah kepemimpinan Muhammad bin Tughluk (1325-1351). Agama Islam cenderung
menggantikan Hinduisme, utamanya setelah bandar-bandar Malabar telah berpindah
tangan ke masyarakat Mappilla yang telah memeluk agama Islam. Oleh karena hal
tersebut, Samudera Hindia menjadi lautan yang bernuansa Islam. Berkembanglah
jenis negara baru yaitu Kesultanan. Di Nusantara sendiri, struktur politik yang
baru ini baru terasa pertama kali di bagian utara Sumatra, yaitu di Samudera Pasai
(sekitar akhir abad ke-13), lalu di Jawa dan di kebanyakan pulau di Nusantara.
Perkembangan
Islam di bagian barat Nusantara dibuktikan dengan temuan arkeologis diantaranya
makam Sultan Malik As-Salih, tahun 1297 atau Ramadan 696 H, makam penggantinya
Malik Az-Zahir tahun 1326 atau Dhulhija 726 H, dan empat batu prasasti lain
dari abad ke-14. Di
bagian utara pulau Borneo, tempat armada Magellan menemukan sebuah Bandar
pelabuhan yang rami, juga ditemukan sebuah batu makam beraksara Cina dari seorang bernama Pu,
orang muslim, dari Quanzhou, yang meninggal pada tahun 1264. Begitu pula
prasasti-prasasti beraksara arab yang paling tua agaknya berangka tahun 1432.
Lebih ke timur, di Kepulauan Sulu telah ditemukan sebuah prasasti beraksara
Arab yang terletak di makam Tuhan
Maqbalu di atas bukit Bud Dato dengan angka tahun 1310 M atau Rajab 710
H. Makam yang lain adalah makam Sultan Sulu yang pertama (sekitar 1480 M), Sharif
ul-Hashim yang hiasannya dipengaruhi oleh budaya cina. Daerah-daerah inilah
yang kemudian menjadi pelabuhan-pelabuhan baru yang terus menerus mengalami
kehadiran Islam.
Kehadiran Islam
di Nusantara bagian Timur, yaitu ke daerah Maluku tidak bisa dilepaskan dari jalur
perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas pelayaran internasional di
Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14, Islam datang ke daerah
Maluku. Raja Ternate yang keduabelas, Molomateya (1350-1357) bersahabat karib
dengan orang Arab yang memberikannya petunjuk dalam pembuatan kapal-kapal, tapi
agaknya bukan dalam kepercayaan. Raja ternate yang dianggap benar-benar memeluk
agama Islam adalah Zainal Abidin (1486-1500). Di Jawa, Zainal Abidin terkenal
dengan julukan Raja Bulawa yang artinya Raja Cengkeh. Kemungkinan, Zainal
Abidin pada masa itu belajar di Giri, hal ini disesuaikan dengan hikayat tanah
Hitu yang ditulis oleh Rijali, yang mengantar Zainal Abidin ke Giri adalah
Perdana Jamilu dari Hitu. Tome Pires mengatakan bahwa kapal-kapal dagang dari
Gresik adalah milik Pate Cucuf. Raja Ternate yang sudah memeluk agama Islam
bernama Sultan Bem Acorala dan hanya raja Ternate yang disebut sultan sedang
lain-lainnya digelari raja.
Pertumbuhan
masyarakat Muslim di Jawa mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa
akhir kerajaan Majapahit. Pertumbuhan ini erat kaitannya dengan perkembangan
pelayaran dan perdagangan orang-orang muslim yang telah memiliki kekuasaan
ekonomi dan politik di Samudera Pasai dan Malaka. Awal Islam masuk di pulau
Jawa dari pesisir pantai utara dan berhasil mencapai bentuk kekuasaan politik
setelah munculnya Demak yang juga ditunjang oleh kemunduran kerajaan Majapahit.
Berdasarkan berita yang dibawa oleh Tome Pires dan juga babad-babad, Demak
berdiri dengan Pate Rodim atau Raden Patah sebagai rajanya, daerah Jawa Barat
pesisir utara terutama Cirebon telah ada dibawah pengaruh Islam. Kemudian
Adipati Unus menjadi raja Sunda sesuai dengan berita yang ditulis oleh de
Barros. Selain itu, terdapat pula masyarakat muslim di Jawa yang berasal dari
etnis Cina. Seperti yang diberitakan oleh Mingshi
dan Yingyai Shenglan mengenai
masyarakat-masyarakat Cina yang bermukim di Jawa. “ orang-orang Kanton ,
Zhangzhou, dan Quanzhou yang telah meninggalkan Cina dan menetap di
pelabuhan-pelabuhan pesisir sebelah timur. Orang Cina itu telah masuk Islam dan
menaati aturan agama.” . Selain orang Cina yang sudah beragama Islam, disebutkan
juga mengenai “orang muslim yang berasal dari berbagai negeri di Barat, yang
telah datang untuk berdagang ditempat itu…”.
Toleransi
dan Keterbukaan
Dari paparan di atas, kita bisa mengambil beberapa garis
besar mengenai sejarah Islam di Nusantara hingga khususnya abad ke-16. Islam
masuk ke Nusantara pada umumnya dibawa oleh para pedagang muslim. Sebagaimana
teori-teori mengenai masuknya Islam di Nusantara, agama Islam dibawa oleh
pedagang dari Arab, India, Persia dan Cina. Pada awal-awal munculnya Islam atau
sebelum abad ke-13, perkembangan agama Islam di Nusantara memang tidak terlalu
signifikan. Hal ini disebabkan karena kuatnya pengaruh Hinduisme dari India di
berbagai kerajaan-kerajaan di Nusantara. Akan tetapi, meskipun wilayah-wilayah
di Nusantara lebih banyak di pengaruhi oleh Hinduisme, agama Islam tetap
diberikan ijin untuk dikembangkan sebagaimana yang terjadi di Kerajaan
Majapahit yang mengijinkan Demak berdiri dibawah kekuasaan Majapahit meskipun
pada waktu itu Majapahit adalah sebuah Kerajaan Besar dengan agama Hinduisme
yang kuat, sedangkan Demak berdiri dengan agama Islam.
Islam datang dengan cara damai dan menyatu dalam keseharian
masyarakat Nusantara yang sejak lama memang sudah terbiasa bersentuhan dengan
bangsa-bangsa asing. Belajar dari sejarah tiap-tiap agama besar yang berhasil
berkembang di Nusantara, karakteristik masyarakat Nusantara adalah mereka mau
menerima kedatangan bangsa-bangsa asing dari wilayah atau agama manapun serta
menghargai setiap perbedaan antar etnis, bangsa, dan agama. Sebuah ciri khas
yang menarik adalah setiap budaya bangsa asing datang dan berkembang di
nusantara, maka budaya tersebut mengalami perubahan yang sangat besar sehingga
menjadi berbeda dengan budaya aslinya dan menjadi budaya yang khas milik
masyarakat Nusantara. Sejarah perkembangan Islam di Nusantara yang diwarnai
oleh berbagai macam bangsa asing menunjukkan betapa agama Islam mampu menjadi
pemersatu perbedaan tanpa harus dikaitkan dengan suku dan bangsa manapun. Bahkan
diantara masyarakat-masyarakat dengan keyakinan yang berbeda-beda, masyarakat
Islam di Nusantara mampu berbaur menjadi satu dan secara damai serta perlahan
mengajarkan Islam kepada masyarakat-masyarakat yang masih memeluk kepercayaan
lama. Agama Islam menjadi kuat di Nusantara karena masyarakat penganutnya mampu
bersikap terbuka terhadap perubahan dan toleran terhadap sesama masyarakat
dengan etnis, suku, bangsa, bahkan agama yang berbeda..
DAFTAR PUSTAKA
Graff, H.J. De dan TH.
Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di
Jawa: Tinjauan Sejarah Politik abad XV dan XVI. Jakarta : PT. Pustaka Utama
Grafiti.
Hasymy, A. 1993. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di
Indonesia: Kumpulan prasaran ada seminar di Aceh. Banda Aceh : PT. Al
ma’arif.
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah
Terpadu, Bagian II: Jaringan Asia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Poesponegoro, Marwati
Djoened dan Nugroho Noto Susanto. 1990. Sejarah
Nasional Indonesia III. Jakarta : Balai Pustaka.
No comments:
Post a Comment