Menu

Sunday, 31 March 2019

Bangsa Asing Dalam Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Nusantara


Islam masuk ke berbagai daerah di Nusantara dalam waktu yang berbeda-beda. Berdasarkan berita dari Cina zaman Dinasti T’ang, pada sekitar abad ke- 7 dan ke- 8, telah berdiri pemukiman-pemukiman masyarakat muslim baik di Kanfu (Kanton) maupun di daerah Sumatera sendiri. Hal ini menunjukkan, jika pada masa tersebut, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh para pedagang Muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Sumber lain yang juga berbicara mengenai hubungan perdagangan antara Nusantara sebelah barat dengan wilayah lain di sekitar Samudera Hindia didapatkan dari teks-teks berbahasa Arab yang ditulis mulai abad ke-9. Teks-teks berbahasa Arab yang ditulis oleh para pelaut berulang kali menjebut nama Javaga yang berarti kantor-kantor dagang di Sumatera dan di Semenanjung yang pada waktu itu dibawah kekuasaan Maharaja Sriwijaya (Denys Lombard : 1996,22). Dokumen-dokumen arkeologi tentang pengaruh Islam sendiri di wilayah Nusantara baru muncul pada abad 11, berupa prasasti dalam bahasa Arab. Batu prasasti ini ditemukan di Leran, Gresik, Jawa Timur. Bertanggal “ Jumat, 7 Rajab 475 H” atau 2 Desember 1082 M, batu prasasti ini merupakan batu nisan seorang gadis yang bernama Fatimah Bint Maymun. Prasasti ini menunjukkan jika pada abad ke-11, diantara pedagang-pedagang asing sudah terdapat keluarga-keluarga muslim. Pada akhir abad ke-13 dan abad-abad selanjutnya, bukti-bukti islamisasi data diketahui lebih banyak seperti halnya keberadaan puluhan nisan kubur di Troloyo, Trowulan, dan Gresik. Selain itu, berita dari Ma Huan pada tahun 1416 juga menceritakan tentang keberadaan orang-orang muslim di Gresik. Hal ini membuktikan bahwa proses islamisasi telah terjadi dan telah terbentuk masyarakat-masyarakat muslim. Demikian juga dengan berita yang disampaikan oleh Tome Pires (1512-1515) dalam Suma Oriental, bahwa daerah-daerah di bagian pesisir Sumatera Utara dan timur Selat Malaka,yaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi kerajaan-kerajaan yang belum Islam banyak pula, yaitu antara Palembang dan Gamispola, dan di daerah-daerah pedalaman. Islam di Nusantara sudah mulai dapat dilacak keberadaan sejak abad 7- 8 M dan mencapai puncak perkembangannya pada sekitar abad 14 - 15.


Nusantara Dalam Lintas Perdagangan Dunia

Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian barat dan timur kemungkinan disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam dibawah Bani Umayyah di bagian barat dan kerajaan Cina jaman Dinasti T’ang di Asia Timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara (SNI III:1). Salah satu pintu gerbang dalam perdagangan dan pelayaran internasional itu adalah Malaka. Malaka memiliki letak geografis yang sangat menguntungkan dengan menjadi jalan silang antara Asia Barat dan Asia Timur. Malaka, Jawa, dan Pasai terlibat dalam suatu hubungan dagang yang kompleks. Jawa dan Pasai sebagai penyedia bahan pangan dan rempah-rempah yang dijual kepada kapal-kapal dagang asing yang datang ke Malaka. Hal ini menjadikan Malaka sebagai pusat perdagangan di Asia pada abad ke-15.

Sementara itu, perdagangan dengan bangsa Asing sendiri sudah dilakukan oleh masyarakat nusantara pada abad-abad sebelumnya. Dalam buku Merveilles de l’Inde, salah satu karya roman yang ditulis pada sekitar abad ke-10, menyebutkan tentang Javaga dan ibu kotanya sebagai tempat yang terletak dibagian dalam sebuah muara yang lebarnya 50 parasanges, jauh lebih lebar dari Sungai Tigris di Bara, rumah-rumahnya kebanyakan di atas air, dibangun di atas bongkah-bongkah kayu yang diikat seperti rakit, untuk mencegah kebakaran. Beberapa bagian dalam buku ini menjelaskan peranan Sriwijaya dalam perniagaan. Kota Kalah, menurut Relation merupakan bagian dari tanah milik Maharaja, dan “pasar perdagangan lidah buaya, kamper, cendana, gading, timah, kayu hitam, kayu brazil, segala rempah dan bumbu”. Melalui buku ini juga, kita bisa melacak lintasan perdagangan dari Oman, Basra, hingga Khanfu atau Kanton. Rute itu melewati kepulauan Nikobar, lalu Lamuri (daerah Aceh sekarang). Dari tempat ini ada kapal-kapal mengambil rute ke Barat untuk mencapai Fansur dan Nias, tempat yang tidak dibawahi Maharaja, tempat orang dapat mendapatkan kamper dan membeli budak. Kapal-kapal yang lain mengambil jalan ke Timur, kearah bandar-bandar Semenanjung Malayu, lalu bandar-bandar Sriwijaya. Dari sana kapal-kapal itu berangkat lagi menuju Cina.

Tulisan Zhufan zhi yang disusun pada kira-kira pertengahan abad ke-13 oleh seorang petugas pabean di Fujian, Zhao Rugua, menggambarkan tentang kekayaan negeri Jawa. Banyak hasil pertaniannya- seperti beras, jawawut, katun, dan segala macam buah-buahan-, mutu kain suteranya, melimpahnya rempah-rempah dan barang-barang eksotik yang terdapat di pelabuhannya, seperti, gading, mutiara, kapur barus, cendana, cengkeh, sapang, buah pinang, dan terutama lada. Pada naskah yang sama juga diceritakan jika para pedagang Cina hingga menyelundupkan kepeng tembaga untuk ditukarkan dengan lada. Tulisan ini didukung oleh bukti arkeologis berupa Jung yang ditemukan pada tahun 1974 yang oleh para ahli arkologi Cina diperkirakan berasal dari abad ke-13. Di dalamnya masih dapat ditemukan sebagian dari muatannya yang berupa buah pinang, kayu yang bernilai tinggi dan lada.

Marcopolo juga membicarakan mengenai kekuasaan Jawa dalam perjalanan pulangnya pada 1291. Ia menyebutkan “ Pulau itu kaya sekali. Ada lada, buah pala, sereh, lengkuas, kemukus, cengkeh dan semua rempah-rempah langka di dunia. Pulau itu didatangi oleh sejumlah besar kapal dan pedagang, yang membuat laba tinggi di sana. Di pulau itu terdapat harta kekayaan yang sedemikian banyaknya hingga tak ada orang di dunia ini yang dapat menghitungnya atau menceritakannya semua. Dan ketahuilah bahwa Khan Agung tidak dapat memperolehnya, karena jauh dan berbahayanya perjalanan menuju ke sana. Dari pulau itu, para pedagang dari Zaitun dan Mangi  telah memperoleh harta banyak sekali dan begitulah setiap harinya.”

Kedatangan para pedagang Eropa pada sekitar abad ke-16 tidaklah terlalu menimbulkan gejolak. Dampak ideologi Barat tidak terlalu nampak sedangkan agama Islam terus berkembang dan meluas. Dominasi Islam tampak pada tingkat sosial dan politik dalam kemajuan berbagai kesultanan , dari Aceh sampai Ternate dan Kepulauan Sulu, yang mana hal tersebut menjadi gejala terpenting dalam abad ke-16, ke-17 dan ke- 18.  Pyrard de Laval dalam tulisannya yang berjudul Voyage  ketika singgah di Banten pada tahun 1619, dalam perjalanannya ke Kepulauan Maluku, menyebutkan : “Kota itu dikunjungi banyak bangsa, sebab di sana terjadi tukar menukar dan perdagangan oleh segala macam orang asing, baik yang beragam nasrani dan yang dari India, maupun orang Arab, Gujarat, Malabar, Bengali, dan Malaka, yang datang terutama untuk memperoleh lada yang tumbuh berlimpah-limpah di pulau itu dan biasanya hanya berharga satu sol setiap ponnya. Saya melihat banyak langganan orang Cina, yang berdagang dengan ramai, dan setiap tahun pada bulan Januari datanglah sembilan atau sepuluh kapal besar dari Cina, yang bermuatan hasil karya kain sutera, kain katun, emas, porselin, minyak kasturi, dan seribu macam barang dagangan lain dari negeri mereka….”

Islam Masuk Ke Nusantara Melalui Bangsa-Bangsa Asing

George Coedes menunjukkan bahwa pada abad ke-13 telah terjadi perubahan mendasar dalam sejarah Semenanjung Indocina. Kekuatan Mongol bangkit diiringi kemunduran-kemunduran kerajaan-kerajaan yang terkena pengaruh India. Ideologi-ideologi baru masuk dan berkembang seperti ajaran Buddhisme Theravada yang mulai mengganti Buddhisme Mahayana, serta ajaran agama Islam yang mencapai kejayaannya di Nusantara. Perkembangan Islam di daerah Asia Tenggara diawali dengan berkembangnya agama Islam di India dibawah kepemimpinan Muhammad bin Tughluk (1325-1351). Agama Islam cenderung menggantikan Hinduisme, utamanya setelah bandar-bandar Malabar telah berpindah tangan ke masyarakat Mappilla yang telah memeluk agama Islam. Oleh karena hal tersebut, Samudera Hindia menjadi lautan yang bernuansa Islam. Berkembanglah jenis negara baru yaitu Kesultanan. Di Nusantara sendiri, struktur politik yang baru ini baru terasa pertama kali di bagian utara Sumatra, yaitu di Samudera Pasai (sekitar akhir abad ke-13), lalu di Jawa dan di kebanyakan pulau di Nusantara.

Perkembangan Islam di bagian barat Nusantara dibuktikan dengan temuan arkeologis diantaranya makam Sultan Malik As-Salih, tahun 1297 atau Ramadan 696 H, makam penggantinya Malik Az-Zahir tahun 1326 atau Dhulhija 726 H, dan empat batu prasasti lain dari abad ke-14. Di bagian utara pulau Borneo, tempat armada Magellan menemukan sebuah Bandar pelabuhan yang rami, juga ditemukan sebuah batu makam beraksara Cina dari seorang bernama Pu, orang muslim, dari Quanzhou, yang meninggal pada tahun 1264. Begitu pula prasasti-prasasti beraksara arab yang paling tua agaknya berangka tahun 1432. Lebih ke timur, di Kepulauan Sulu telah ditemukan sebuah prasasti beraksara Arab yang terletak di makam Tuhan  Maqbalu di atas bukit Bud Dato dengan angka tahun 1310 M atau Rajab 710 H. Makam yang lain adalah makam Sultan Sulu yang pertama (sekitar 1480 M), Sharif ul-Hashim yang hiasannya dipengaruhi oleh budaya cina. Daerah-daerah inilah yang kemudian menjadi pelabuhan-pelabuhan baru yang terus menerus mengalami kehadiran Islam.

Kehadiran Islam di Nusantara bagian Timur, yaitu ke daerah Maluku tidak bisa dilepaskan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14, Islam datang ke daerah Maluku. Raja Ternate yang keduabelas, Molomateya (1350-1357) bersahabat karib dengan orang Arab yang memberikannya petunjuk dalam pembuatan kapal-kapal, tapi agaknya bukan dalam kepercayaan. Raja ternate yang dianggap benar-benar memeluk agama Islam adalah Zainal Abidin (1486-1500). Di Jawa, Zainal Abidin terkenal dengan julukan Raja Bulawa yang artinya Raja Cengkeh. Kemungkinan, Zainal Abidin pada masa itu belajar di Giri, hal ini disesuaikan dengan hikayat tanah Hitu yang ditulis oleh Rijali, yang mengantar Zainal Abidin ke Giri adalah Perdana Jamilu dari Hitu. Tome Pires mengatakan bahwa kapal-kapal dagang dari Gresik adalah milik Pate Cucuf. Raja Ternate yang sudah memeluk agama Islam bernama Sultan Bem Acorala dan hanya raja Ternate yang disebut sultan sedang lain-lainnya digelari raja.

Pertumbuhan masyarakat Muslim di Jawa mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa akhir kerajaan Majapahit. Pertumbuhan ini erat kaitannya dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan orang-orang muslim yang telah memiliki kekuasaan ekonomi dan politik di Samudera Pasai dan Malaka. Awal Islam masuk di pulau Jawa dari pesisir pantai utara dan berhasil mencapai bentuk kekuasaan politik setelah munculnya Demak yang juga ditunjang oleh kemunduran kerajaan Majapahit. Berdasarkan berita yang dibawa oleh Tome Pires dan juga babad-babad, Demak berdiri dengan Pate Rodim atau Raden Patah sebagai rajanya, daerah Jawa Barat pesisir utara terutama Cirebon telah ada dibawah pengaruh Islam. Kemudian Adipati Unus menjadi raja Sunda sesuai dengan berita yang ditulis oleh de Barros. Selain itu, terdapat pula masyarakat muslim di Jawa yang berasal dari etnis Cina. Seperti yang diberitakan oleh Mingshi dan Yingyai Shenglan mengenai masyarakat-masyarakat Cina yang bermukim di Jawa. “ orang-orang Kanton , Zhangzhou, dan Quanzhou yang telah meninggalkan Cina dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir sebelah timur. Orang Cina itu telah masuk Islam dan menaati aturan agama.” . Selain orang Cina yang sudah beragama Islam, disebutkan juga mengenai “orang muslim yang berasal dari berbagai negeri di Barat, yang telah datang untuk berdagang ditempat itu…”.

Toleransi dan Keterbukaan

            Dari paparan di atas, kita bisa mengambil beberapa garis besar mengenai sejarah Islam di Nusantara hingga khususnya abad ke-16. Islam masuk ke Nusantara pada umumnya dibawa oleh para pedagang muslim. Sebagaimana teori-teori mengenai masuknya Islam di Nusantara, agama Islam dibawa oleh pedagang dari Arab, India, Persia dan Cina. Pada awal-awal munculnya Islam atau sebelum abad ke-13, perkembangan agama Islam di Nusantara memang tidak terlalu signifikan. Hal ini disebabkan karena kuatnya pengaruh Hinduisme dari India di berbagai kerajaan-kerajaan di Nusantara. Akan tetapi, meskipun wilayah-wilayah di Nusantara lebih banyak di pengaruhi oleh Hinduisme, agama Islam tetap diberikan ijin untuk dikembangkan sebagaimana yang terjadi di Kerajaan Majapahit yang mengijinkan Demak berdiri dibawah kekuasaan Majapahit meskipun pada waktu itu Majapahit adalah sebuah Kerajaan Besar dengan agama Hinduisme yang kuat, sedangkan Demak berdiri dengan agama Islam.

            Islam datang dengan cara damai dan menyatu dalam keseharian masyarakat Nusantara yang sejak lama memang sudah terbiasa bersentuhan dengan bangsa-bangsa asing. Belajar dari sejarah tiap-tiap agama besar yang berhasil berkembang di Nusantara, karakteristik masyarakat Nusantara adalah mereka mau menerima kedatangan bangsa-bangsa asing dari wilayah atau agama manapun serta menghargai setiap perbedaan antar etnis, bangsa, dan agama. Sebuah ciri khas yang menarik adalah setiap budaya bangsa asing datang dan berkembang di nusantara, maka budaya tersebut mengalami perubahan yang sangat besar sehingga menjadi berbeda dengan budaya aslinya dan menjadi budaya yang khas milik masyarakat Nusantara. Sejarah perkembangan Islam di Nusantara yang diwarnai oleh berbagai macam bangsa asing menunjukkan betapa agama Islam mampu menjadi pemersatu perbedaan tanpa harus dikaitkan dengan suku dan bangsa manapun. Bahkan diantara masyarakat-masyarakat dengan keyakinan yang berbeda-beda, masyarakat Islam di Nusantara mampu berbaur menjadi satu dan secara damai serta perlahan mengajarkan Islam kepada masyarakat-masyarakat yang masih memeluk kepercayaan lama. Agama Islam menjadi kuat di Nusantara karena masyarakat penganutnya mampu bersikap terbuka terhadap perubahan dan toleran terhadap sesama masyarakat dengan etnis, suku, bangsa, bahkan agama yang berbeda..

DAFTAR PUSTAKA
Graff, H.J. De dan TH. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik abad XV dan XVI. Jakarta : PT. Pustaka Utama Grafiti.
Hasymy, A. 1993. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia: Kumpulan prasaran ada seminar di Aceh. Banda Aceh : PT. Al ma’arif.
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah Terpadu, Bagian II: Jaringan Asia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Noto Susanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta : Balai Pustaka.

No comments:

Post a Comment