Siapa yang belum pernah
mendengar tentang Kerajaan Majapahit ? Kerajaan yang dikatakan sebagai kerajaan
terbesar yang pernah berdiri di Nusantara ini berhasil mengukir namanya di
seantero dunia persejarahan dengan pencapaian yang luar biasa di jamannya. Kerajaan
Majapahit berdiri pada tahun 1294 Masehi dengan raja pertama bergelar Sri
Kertarajasa Jayawardhana atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Untuk
melegitimasi kekuasaannya, Raden Wijaya menikahi emmpat putri raja sebelumnya,
Kertanegara yang merupakan raja Kerajaan Singhasari terakhir sebelum akhirnya
runtuh akibat serangan “besan” nya sendiri dan pengkhianatan “menantu”
tertuanya.
Sejarah dituliskan oleh
para pemenang. Dan demikianlah seorang Sri Kertarajasa beserta penerusnya mampu
menerbitkan prasasti – prasasti yang mengisahkan kehebatan seorang Raden Wijaya
dalam membangun Kerajaan Majapahit. Bukan hanya dalam prasasti yang sejaman,
kehebatannya terabadikan dalam kakawin, serat dan kidung yang diciptakan
ratusan tahun kemudian. Di dalam karya – karya sastra tersebut, tersebutlah
sebuah nama yang dikatakan menjadi sosok yang membantu seorang Sri Kertarajasa
dalam membangun kerajaan baru, Kerajaan Majapahit. Dia disebut dengan nama Arya
Wiraraja. Seorang tokoh penting yang hanya disebutkan dengan beberapa kalimat
dalam buku – buku sejarah sekolah.
Sosok Arya Wiraraja
Serat Pararaton menyebutkan bahwa nama asli
Arya Wiraraja adalah Banyak Wide. Kedudukan awalnya adalah seorang babatangan Kerajaan Singhasari.
Babatangan banyak diterjemakan oleh para ahli sebagai seorang penasehat. Pada
masa pemerintahaan Raja Kertanegara, Arya Wiraraja dipindah posisinya menjadi
seorang Adipati di Songenep (Sumenep, Madura sekarang). Perpindahan ini memicu
konflik internal dalam pemerintahan kerajaan. Karena pejabat yang mengalami
“mutasi” bukan hanya Arya Wiraraja saja, tetapi juga seorang Mpu Raganatha yang
dikatakan banyak memberi nasehat kepada raja juga diberhentikan. Artinya,
perpindahan Arya Wiraraja keluar dari ibukota kerajaan telah berhasil
mengguncang keseimbangan politik yang berhasil dibangun oleh raja sebelumnya,
yaitu Wisnuwardhana.
Seorang penasehat mampu
mengguncang keseimbangan politik internal? Atau kekacauan yang terjadi pasca
mutasi nya adalah sebuah kebetulan? Mari kita simak kisah berikutnya. Pada
tahun 1271 Masehi, Kerajaan Singhasari dibawah kepemimpinan Raja Kertanegara
telah dihancurkan oleh Raja Jayakatwang yang berasal dari Kerajaan Glang –
Glang. Serat Pararaton sekali lagi
memberikan bocoran tentang kejadian ini. Dikisahkan bahwa pada waktu serangan
terjadi, Kerajaan Singhasari berada dalam posisi “kosong kekuasaan” karena
sebagian besar prajurit dikerahkan dalam ekspedisi Pamalayu. Dalam situasi ini,
seorang tokoh dengan cerdik memanfaatkan kondisi. Dendam “nenek moyang” antara
Kerajaan Daha dengan Kerajaan Singahasari diungkit kembali. Arya Wiraraja
berkirim surat dengan Raja Jayakatwang, mengabarkan situasi di Kerajaan
Singhasari yang digambarkan sebagai tanah berburu tanpa buaya, tanpa banteng,
tanpa ular, dan hanya ada harimau tanpa gigi. Hal ini lah yang kemudian membuat
Raja Jayakatwang tanpa ragu menyerang Kerajaan Singhasari dan tanpa diduga,
putranya yang bernama Ardharaja, yang merupakan seorang menantu Raja
Kertanegara, yang ditugaskan untuk menghadapi serangannya, justru berbelot dan
ikut serta menyerang Kerajaan Singhasari.
Situasi kacau dan
Kerajaan Singhasari berhasil dijatuhkan. Raden Wijaya beserta 12 pengawalnya
mampu menyelamatkan diri dari medan pertempuran dan memilih menuju Sumenep
untuk meminta bantuan Arya Wiraraja. Betapa sebuah kebetulan. Sesampainya di
Sumenep, Raden Wijaya beserta rombongan disambut dengan sangat baik oleh Arya
Wiraraja beserta keluarga. Atas sikap baiknya, Raden Wijaya menjanjikan separuh
dari tanah Jawa jika kelak ia berhasil menaiki tahta. Atas janji itulah,
dimulai sebuah rencana untuk perebutan kembali kekuasaan dari tangan Raja
Jayakatwang. Arya Wiraraja yang sebelumnya menyusun rencana bersama Raja
Jayakatwang, kini bergandengan tangan bersama Raden Wijaya guna menurunkan Raja
Jayakatwang dari tahta. Sampai sini paham betapa hebatnya tokoh ini?
Memanfaatkan
hubungan baiknya dengan Raja Jayakatwang, Arya Wiraraja memohonkan pengampunan
atas Raden Wijaya dan mengirim Raden Wijaya “pulang” untuk “mengabdikan diri”
kepada Raja Jayakatwang. Atas saran Arya Wiraraja pula, setelah Raden Wijaya
berhasil mendapatkan kepercayaan Raja Jayakatwang, Raden Wijaya meminta ijin
membuka Hutan Trik dengan alasan dapat digunakan sebagai lokasi istirahat Raja
Jayakatwang ketika berburu. Apakah disetujui? Tentu saja. Bahkan yang membantu
dalam pembukaan ini adalah orang – orang Madura yang diperintahkan oleh Arya
Wiraraja. Disini saya berfikir, apakah Raja Jayakatwang sangat naif untuk
percaya bahwa seseorang yang sebelumnya merupakan seorang keponakan raja yang telah
dibunuhnya, seorang ksatria dari kerajaan yang telah dihancurkannya, bisa
dengan mudah menyerah dan rela mengabdi kepadanya tanpa misi rahasia apapun?
Ataukah kepercayaannya kepada Arya Wiraraja sudah sedemikian penuh hingga tidak
mempertimbangkan aspek kemungkinan Raden Wijaya akan menggalang kekuatan untuk
berkhianat?
Apakah
peran Arya Wiraraja berhenti sampai di sini? TIDAK. Pernah mendengar tentang
pengusiran tentara Tar – Tar dari Pulau Jawa? Tentara Tar – Tar yang dipimpin
oleh Kubilai Khan yang terkenal diseantero penjuru dunia itu. Tentara Tar – Tar
yang dikenal tidka pernah kalah perang itu. Iya, tentara Tar – Tar yang itu.
Sebuah kebetulan yang sangat kebetulan sekali, kedatangan tentara Tar – Tar ini
bertepatan dengan selesainya persiapan Raden Wijaya dalam membangun kekuatan
yang disiapkan untuk menyerang Jayakatwang. Sejarah Nasional Indonesia
menuliskan bahwa ketika Raden Wijaya mendengar hal ini, ia langsung berusaha
menghubungi pemimpin pasukan Tar – Tar dan mengajukan sebuah kerja sama untuk
menyeret Jayakatwang turun dari tahta. Sebenarnya, apa hubungan penyerangan
pasukan Tar – Tar dengan Raja Jayakatwang? TIDAK ADA. Sama sekali tidak ada.
Tetapi lidah lebih tajam dibandingkan pedang. Tujuan penyerangan yang
sebelumnya adalah untuk membalas penghinaan yang dilakukan oleh Raja
Kertanegara, dialihkan menjadi sebuah penyerangan meruntuhkan kekuasaan Raja
Jayakatwang dengan dalih bahwa Raja Jayakatwang lah yang telah membunuh Raja
Kertanegara. Dalam upaya menjalin kerja sama ini, sejarah menuliskan bahwa
Raden Wijaya bahkan menambahkan point bersedia tunduk dan mengakui kekuasaan
Kubilai Khan serta akan menyerahkan puteri – puteri Jawa sebagai upeti. Apakah
rencana ini berhasil? Sangat berhasil, sukses besar.
Pasca
pertempuran, ditagihlah upeti yang telah dijanjikan sebelumnya. Dengan bermain
kata, Raden Wijaya membawa sebagian pasukan Tar – Tar untuk menjemput putri –
putri yang dijanjikan dengan tanpa membawa senjata. Alasannya? Puteri – puteri
sedang trauma ketika melihat senjata setelah mengalami pertempuran besar.
Memasuki wilayah kekuasaannya tanpa senjata, sama seperti mengumpankan nyawa.
Pasukan Tar – Tar dibunuh tanpa sisa. Tandu yang disiapkan untuk membawa putri
diisi oleh prajurit Raden Wijaya. Begitu pula dengan para dayang yang
seharusnya menjadi pengiring. Semua sudah diatur sedemikian rupa hingga ketika
memasuki wilayah pelabuhan, pertempuran mendadak tidak bisa dihindarkan.
Pulanglah para tentara Tar – Tar yang terkenal itu dengan membawa kekalahan.
Menurut
kalian, siapakah yang menjadi penyusun naskah seluruh kejadian itu? Siapakah
yang menyiapkan jalan antara Raden Wijaya dengan pemimpin pasukan Tar – Tar
untuk bertemu dan bernegosiasi? Siapakah yang menyiapkan skenario kerja sama
dan janji upeti beserta dengan tipu daya dibaliknya? Kalian benar. Tokoh itu
tidak lain adalah Arya Wiraraja yang setahun setelah berdirinya Majapahit telah
menjadi raja di sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Lamajang Tigang Juru.
No comments:
Post a Comment