Menu

Sunday, 31 March 2019

Arya Wiraraja : Mengenal Aktor Intelektual Dibalik Berdirinya Kerajaan Majapahit


Siapa yang belum pernah mendengar tentang Kerajaan Majapahit ? Kerajaan yang dikatakan sebagai kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara ini berhasil mengukir namanya di seantero dunia persejarahan dengan pencapaian yang luar biasa di jamannya. Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1294 Masehi dengan raja pertama bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Untuk melegitimasi kekuasaannya, Raden Wijaya menikahi emmpat putri raja sebelumnya, Kertanegara yang merupakan raja Kerajaan Singhasari terakhir sebelum akhirnya runtuh akibat serangan “besan” nya sendiri dan pengkhianatan “menantu” tertuanya.


Sejarah dituliskan oleh para pemenang. Dan demikianlah seorang Sri Kertarajasa beserta penerusnya mampu menerbitkan prasasti – prasasti yang mengisahkan kehebatan seorang Raden Wijaya dalam membangun Kerajaan Majapahit. Bukan hanya dalam prasasti yang sejaman, kehebatannya terabadikan dalam kakawin, serat dan kidung yang diciptakan ratusan tahun kemudian. Di dalam karya – karya sastra tersebut, tersebutlah sebuah nama yang dikatakan menjadi sosok yang membantu seorang Sri Kertarajasa dalam membangun kerajaan baru, Kerajaan Majapahit. Dia disebut dengan nama Arya Wiraraja. Seorang tokoh penting yang hanya disebutkan dengan beberapa kalimat dalam buku – buku sejarah sekolah.

Sosok Arya Wiraraja

Serat Pararaton menyebutkan bahwa nama asli Arya Wiraraja adalah Banyak Wide. Kedudukan awalnya adalah seorang babatangan Kerajaan Singhasari. Babatangan banyak diterjemakan oleh para ahli sebagai seorang penasehat. Pada masa pemerintahaan Raja Kertanegara, Arya Wiraraja dipindah posisinya menjadi seorang Adipati di Songenep (Sumenep, Madura sekarang). Perpindahan ini memicu konflik internal dalam pemerintahan kerajaan. Karena pejabat yang mengalami “mutasi” bukan hanya Arya Wiraraja saja, tetapi juga seorang Mpu Raganatha yang dikatakan banyak memberi nasehat kepada raja juga diberhentikan. Artinya, perpindahan Arya Wiraraja keluar dari ibukota kerajaan telah berhasil mengguncang keseimbangan politik yang berhasil dibangun oleh raja sebelumnya, yaitu Wisnuwardhana.

Seorang penasehat mampu mengguncang keseimbangan politik internal? Atau kekacauan yang terjadi pasca mutasi nya adalah sebuah kebetulan? Mari kita simak kisah berikutnya. Pada tahun 1271 Masehi, Kerajaan Singhasari dibawah kepemimpinan Raja Kertanegara telah dihancurkan oleh Raja Jayakatwang yang berasal dari Kerajaan Glang – Glang. Serat Pararaton sekali lagi memberikan bocoran tentang kejadian ini. Dikisahkan bahwa pada waktu serangan terjadi, Kerajaan Singhasari berada dalam posisi “kosong kekuasaan” karena sebagian besar prajurit dikerahkan dalam ekspedisi Pamalayu. Dalam situasi ini, seorang tokoh dengan cerdik memanfaatkan kondisi. Dendam “nenek moyang” antara Kerajaan Daha dengan Kerajaan Singahasari diungkit kembali. Arya Wiraraja berkirim surat dengan Raja Jayakatwang, mengabarkan situasi di Kerajaan Singhasari yang digambarkan sebagai tanah berburu tanpa buaya, tanpa banteng, tanpa ular, dan hanya ada harimau tanpa gigi. Hal ini lah yang kemudian membuat Raja Jayakatwang tanpa ragu menyerang Kerajaan Singhasari dan tanpa diduga, putranya yang bernama Ardharaja, yang merupakan seorang menantu Raja Kertanegara, yang ditugaskan untuk menghadapi serangannya, justru berbelot dan ikut serta menyerang Kerajaan Singhasari.

Situasi kacau dan Kerajaan Singhasari berhasil dijatuhkan. Raden Wijaya beserta 12 pengawalnya mampu menyelamatkan diri dari medan pertempuran dan memilih menuju Sumenep untuk meminta bantuan Arya Wiraraja. Betapa sebuah kebetulan. Sesampainya di Sumenep, Raden Wijaya beserta rombongan disambut dengan sangat baik oleh Arya Wiraraja beserta keluarga. Atas sikap baiknya, Raden Wijaya menjanjikan separuh dari tanah Jawa jika kelak ia berhasil menaiki tahta. Atas janji itulah, dimulai sebuah rencana untuk perebutan kembali kekuasaan dari tangan Raja Jayakatwang. Arya Wiraraja yang sebelumnya menyusun rencana bersama Raja Jayakatwang, kini bergandengan tangan bersama Raden Wijaya guna menurunkan Raja Jayakatwang dari tahta. Sampai sini paham betapa hebatnya tokoh ini?

            Memanfaatkan hubungan baiknya dengan Raja Jayakatwang, Arya Wiraraja memohonkan pengampunan atas Raden Wijaya dan mengirim Raden Wijaya “pulang” untuk “mengabdikan diri” kepada Raja Jayakatwang. Atas saran Arya Wiraraja pula, setelah Raden Wijaya berhasil mendapatkan kepercayaan Raja Jayakatwang, Raden Wijaya meminta ijin membuka Hutan Trik dengan alasan dapat digunakan sebagai lokasi istirahat Raja Jayakatwang ketika berburu. Apakah disetujui? Tentu saja. Bahkan yang membantu dalam pembukaan ini adalah orang – orang Madura yang diperintahkan oleh Arya Wiraraja. Disini saya berfikir, apakah Raja Jayakatwang sangat naif untuk percaya bahwa seseorang yang sebelumnya merupakan seorang keponakan raja yang telah dibunuhnya, seorang ksatria dari kerajaan yang telah dihancurkannya, bisa dengan mudah menyerah dan rela mengabdi kepadanya tanpa misi rahasia apapun? Ataukah kepercayaannya kepada Arya Wiraraja sudah sedemikian penuh hingga tidak mempertimbangkan aspek kemungkinan Raden Wijaya akan menggalang kekuatan untuk berkhianat?

            Apakah peran Arya Wiraraja berhenti sampai di sini? TIDAK. Pernah mendengar tentang pengusiran tentara Tar – Tar dari Pulau Jawa? Tentara Tar – Tar yang dipimpin oleh Kubilai Khan yang terkenal diseantero penjuru dunia itu. Tentara Tar – Tar yang dikenal tidka pernah kalah perang itu. Iya, tentara Tar – Tar yang itu. Sebuah kebetulan yang sangat kebetulan sekali, kedatangan tentara Tar – Tar ini bertepatan dengan selesainya persiapan Raden Wijaya dalam membangun kekuatan yang disiapkan untuk menyerang Jayakatwang. Sejarah Nasional Indonesia menuliskan bahwa ketika Raden Wijaya mendengar hal ini, ia langsung berusaha menghubungi pemimpin pasukan Tar – Tar dan mengajukan sebuah kerja sama untuk menyeret Jayakatwang turun dari tahta. Sebenarnya, apa hubungan penyerangan pasukan Tar – Tar dengan Raja Jayakatwang? TIDAK ADA. Sama sekali tidak ada. Tetapi lidah lebih tajam dibandingkan pedang. Tujuan penyerangan yang sebelumnya adalah untuk membalas penghinaan yang dilakukan oleh Raja Kertanegara, dialihkan menjadi sebuah penyerangan meruntuhkan kekuasaan Raja Jayakatwang dengan dalih bahwa Raja Jayakatwang lah yang telah membunuh Raja Kertanegara. Dalam upaya menjalin kerja sama ini, sejarah menuliskan bahwa Raden Wijaya bahkan menambahkan point bersedia tunduk dan mengakui kekuasaan Kubilai Khan serta akan menyerahkan puteri – puteri Jawa sebagai upeti. Apakah rencana ini berhasil? Sangat berhasil, sukses besar.

            Pasca pertempuran, ditagihlah upeti yang telah dijanjikan sebelumnya. Dengan bermain kata, Raden Wijaya membawa sebagian pasukan Tar – Tar untuk menjemput putri – putri yang dijanjikan dengan tanpa membawa senjata. Alasannya? Puteri – puteri sedang trauma ketika melihat senjata setelah mengalami pertempuran besar. Memasuki wilayah kekuasaannya tanpa senjata, sama seperti mengumpankan nyawa. Pasukan Tar – Tar dibunuh tanpa sisa. Tandu yang disiapkan untuk membawa putri diisi oleh prajurit Raden Wijaya. Begitu pula dengan para dayang yang seharusnya menjadi pengiring. Semua sudah diatur sedemikian rupa hingga ketika memasuki wilayah pelabuhan, pertempuran mendadak tidak bisa dihindarkan. Pulanglah para tentara Tar – Tar yang terkenal itu dengan membawa kekalahan.

            Menurut kalian, siapakah yang menjadi penyusun naskah seluruh kejadian itu? Siapakah yang menyiapkan jalan antara Raden Wijaya dengan pemimpin pasukan Tar – Tar untuk bertemu dan bernegosiasi? Siapakah yang menyiapkan skenario kerja sama dan janji upeti beserta dengan tipu daya dibaliknya? Kalian benar. Tokoh itu tidak lain adalah Arya Wiraraja yang setahun setelah berdirinya Majapahit telah menjadi raja di sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Lamajang Tigang Juru.


No comments:

Post a Comment