Menu

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Februari 2026

Patirtan Ngawonggo: Menemukan Keheningan dan Tangisan Ibu Pertiwi di Balik Rimbun Bambu

Baru beberapa minggu setelah kepindahan saya ke Gondanglegi, rasa bosan mulai menyelinap. Sebagai seseorang yang terbiasa bergerak dan berpikir, diam di rumah bukanlah pilihan yang nyaman. Naluri saya sebagai penikmat sejarah menuntun jari untuk membuka peta digital, mencari jejak masa lalu terdekat. Pilihan itu jatuh pada Patirtan Ngawonggo, sebuah situs yang berjarak hanya sekitar 10 kilometer dari tempat saya berdiri.

Google Maps dengan cerdas, atau mungkin nakal, memilihkan rute "jalan tikus". Saya tidak dibawa melewati jalan raya yang bising, melainkan menyusuri jalanan desa yang sunyi. Kanan kiri saya adalah hamparan sawah dan ladang yang tenang, diselingi pemukiman khas Malang Selatan: rumah-rumah sederhana dengan halaman yang terbentang luas, seolah menyiratkan hati penghuninya yang terbuka.

Sesampainya di lokasi yang terletak di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan ini, kesan pertama yang menyapa bukanlah kemegahan gerbang wisata, melainkan kesederhanaan. Patirtan ini bersembunyi malu-malu di belakang pemukiman penduduk. Area parkir dikelola warga dengan sistem kejujuran: bayar seikhlasnya, masukkan ke dalam kotak terkunci.

Sebelum kaki menapak ke situs utama, jiwa saya "dibasuh" terlebih dahulu oleh suasana Tomboan Ngawonggo. Ini bukan kafe biasa. Di bawah naungan rimbun bambu (barongan) yang meneduhkan, berjajar gazebo-gazebo bambu dengan jalan setapak bebatuan yang ditata rapi.

Di sini, konsep "jual-beli" terasa asing. Tomboan menyajikan makanan vegetarian tanpa pengawet dan penyedap rasa buatan. Tidak ada kasir yang menatap tajam. Kita mengambil makanan, lalu membayar seikhlasnya ke dalam sebuah wadah bernama "Kotak Asih". Rasanya seperti sebuah utopia kecil; tempat istirahat yang pas untuk menenangkan pikiran dari hiruk pikuk dunia yang serba transaksional.

Setelah menyeberangi jembatan bambu dan menyusuri jalan setapak, sampailah saya di jantung situs: Patirtan Ngawonggo.


Situs ini istimewa. Berbeda dengan candi-candi yang disusun dari balok batu andesit (seperti Borobudur atau Singhasari), Patirtan Ngawonggo dipahatkan langsung pada dinding tebing batu cadas di tepi sungai. Ini adalah teknik yang jarang ditemukan di Jawa, menjadikannya permata langka dalam arkeologi kita.



Berdasarkan catatan sejarah, situs ini baru ditemukan kembali sekitar tahun 2017 oleh warga lokal (Pak Yasin) setelah tertimbun akar bambu dan tanah selama berabad-abad. Kompleks ini terbagi menjadi beberapa kolam atau bilik. Di sana, saya menemukan sisa-sisa pahatan arca yang mulai aus dimakan zaman, sebuah Yoni, kepala arca, dan tumpukan bebatuan kuno yang diam membisu. Sistem tata airnya (hidrologi) menunjukkan betapa jeniusnya nenek moyang kita dalam mengelola sumber daya alam.

 

Namun, momen paling magis terjadi ketika saya berdiri di hadapan relief Tapak Dara.

Relief berbentuk tanda tambah (+) atau palang ini sering dimaknai sebagai Puser Bumi atau simbol keseimbangan dan awal penciptaan manusia di era klasik. Ia ada di sana, sendirian di dinding tebing, hening, dan misterius.

Untuk sesaat, saya merasa trance. Waktu seolah berhenti. Suara gemercik air sungai dan gesekan daun bambu memudar, menyisakan saya dan simbol purba itu. Saya terjebak dalam perenungan mendalam tentang keseimbangan. Bagaimana manusia masa lalu memahami alam bukan sebagai objek untuk dikuasai, melainkan sebagai manifestasi kekuasaan Dzat Yang Maha Pencipta. Segala pemanfaatannya selalu dihubungkan dengan rasa syukur dan ketundukan.

Lamunan itu membawa saya pada realitas hari ini. Kontras yang menyakitkan.

Jika leluhur kita memahat tebing dengan doa untuk memuliakan air, kita hari ini justru mengeksploitasi alam dengan serakah. Hutan digunduli, sungai dicemari, dan keseimbangan itu kita hancurkan demi keuntungan sesaat. Kita adalah manusia-manusia yang tidak memegang amanah. Kita telah mengkhianati kepercayaan semesta.

Saya membayangkan Ibu Pertiwi sedang menangis pilu melihat ulah putra-putrinya sendiri. Kerusakan lingkungan yang kita rasakan hari ini—banjir, longsor, panas ekstrem—adalah air mata itu.

Namun, di Ngawonggo, di tengah keheningan itu, saya juga menyadari satu hal: Ibu Pertiwi tetaplah seorang ibu. Meski tersakiti, penerimaannya tetap luas. Upayanya untuk menyeimbangkan dunia kembali (melalui bencana atau pemulihan alami) adalah cara Dia mendidik anak-anaknya agar kembali sadar. Agar kembali pada ketentraman yang sejati.

Perjalanan 10 kilometer dari Gondanglegi ini ternyata bukan sekadar wisata sejarah. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang merenungi peran kita sebagai manusia: apakah kita penjaga bumi, atau justru penghancurnya?

Jumat, 12 Februari 2021

Seni Lukis Hindia Belanda : Sebuah Cuplikan Dari Nusa Jawa Silang Budaya


Het Kasteel van Batavia karya Andries Beeckman

 Menarik untuk diamati betap cepat gairah (tentang seni lukis) itu beralih ke Hindia. Pada tahun 1602, Belanda menghadiahkan kepada raja Kandi (di Srilanka) sebuah lukisan besar yang menggambarkan pertempuran Niieuwpoort, dengan latar depan sosok Pangeran Maurits yang sedang menunggang kuda dalam ukuran sama dengan yang sebenarnya. Pada tahun 1629, pemandangan pelabuhan Amsterdam dihadiahkan pula kepada Sultan Palembang. VOC ternyata tidak hanya memberikan hadiah. Ada kalanya perusahaan ini berusaha menjual juga. C.R. Boxer yang menulis anekdot – anekdot ini menceritakan bagaimana Syah Persia enggan membeli lukisan perang laut karya Heemskerk. Lukisan – lukisan berukuran kecil, di samping cermin dan senjata api, termasuk di antara produk ekspor yang pertama. Dalam daftar warisan bangsawan Prancis Isaac de Saint-Martin, asal Pau, yang meninggal pada tahun 1696 di Batavia, disebutkan 85 buah lukisan besar dan kecil, serta sebuah potret dirinya.

Minggu, 07 Februari 2021

Karakter Moral Masyarakat Jawa : Sebuah Catatan Dalam History of Java

 


Masyarakat Jawa banyak dituliskan dalam berbagai catatan asing, mulai dari Suma Oriental  hingga History of Java. Sebagai seorang Jawa setengah Madura tetapi lebih condong ke bagian Jawa, saya pribadi sangat tertarik dengan tulisan – tulisan tersebut. Seperti kata pepatah, seseorang tidak akan bisa melihat dahinya sendiri. Seperti apa diri kita, orang lain yang bisa melihat dan menilai. Tentu saja, sebelum cermin ditemukan. Dalam coretan singkat ini, saya akan mengajak kalian semua untuk melihat bagaimana karakter Masyarakat Jawa dilihat oleh orang luar, dalam hal ini dilihat oleh seorang Thomas Stamford Raffles.

***

Sabtu, 24 Agustus 2019

Perekonomian Negeri Jawa Dalam Catatan Tome Pires

Negeri Jawa hanya memiliki (barang dagangan) kaum pagan yaitu : empat atau lima jenis beras yang besarnya tak terhitung, beras – beras ini sangat putih dan kualitasnya lebih baik dibandingkan beras dari wilayah manapun. Tempat ini juga menghasilkan sapi jantan, sapi, domba, kambing, kerbau yang tak terhitung banyaknya dan tentu saja babi – di seluruh penjuru pulau dipenuhi oleh binatang ini.

Minggu, 31 Maret 2019

Bangsa Asing Dalam Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Nusantara


Islam masuk ke berbagai daerah di Nusantara dalam waktu yang berbeda-beda. Berdasarkan berita dari Cina zaman Dinasti T’ang, pada sekitar abad ke- 7 dan ke- 8, telah berdiri pemukiman-pemukiman masyarakat muslim baik di Kanfu (Kanton) maupun di daerah Sumatera sendiri. Hal ini menunjukkan, jika pada masa tersebut, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh para pedagang Muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Arya Wiraraja : Mengenal Aktor Intelektual Dibalik Berdirinya Kerajaan Majapahit


Siapa yang belum pernah mendengar tentang Kerajaan Majapahit ? Kerajaan yang dikatakan sebagai kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara ini berhasil mengukir namanya di seantero dunia persejarahan dengan pencapaian yang luar biasa di jamannya. Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1294 Masehi dengan raja pertama bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Untuk melegitimasi kekuasaannya, Raden Wijaya menikahi emmpat putri raja sebelumnya, Kertanegara yang merupakan raja Kerajaan Singhasari terakhir sebelum akhirnya runtuh akibat serangan “besan” nya sendiri dan pengkhianatan “menantu” tertuanya.

Gapura Bajang Ratu Dan Asal Mula Kehidupan


Gapura Bajang Ratu adalah jenis gapura paduraksa yang berasal dari era kerajaan Majapahit. Gapura ini terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Gapura sendiri merupakan pintu gerbang atau pintu masuk sebelum memasuki tempat-tempat yang dianggap lebih suci. dlaam hal ini, gapura bisa dibedakan menjadi dua, yaitu gapura paduraksa dan gapura bentar. gapura paduraksa adalah gapura yang kedua sisi kanan dan kirinya disatukan oleh atap. Sedangkan gapura bentar adalah gapura yang bagian kanan dan kirinya terpisah. 

Manik – Manik Dalam Status Sosial dan Harapan Pasca Kematian


Manik – manik merupakan benda tinggalan hasil kebudayaan manusia yang ditemukan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Manik-manik bisa berbentuk bulat, persegi atau lonjong yang p[ada bagian tengahnya sengaja  diberi lubang agar bisa dirangkai menjadi perhiasan (kalung, gelang, dan lain lain). Bahan pembuatan manik-manik sangat beraneka ragam, tergantung dari jaman pembuatannya. Pada masa awal manusia mengenal manik-manik, mereka membuatnya batu atau tulang yang kecil yang langsung dilubangi begitu saja. Perkembangan berikutnya adalah membuat manik-manik dengan menghaluskan batu menjadi bentuk yang presisi dan kemudian pada sekitar jaman batu baru, manusia menggunakan tanah liat yang dikeringkan dan terkadang diberi ukiran/gambar untuk dijadikan manik – manik.

Komunitas Bersama Masyarakat : Ujung Pilar Pelestarian Melawan Kolektor Artefak Kuno

doc. pribadi

Keberadaan benda-benda peninggalan masa lampau yang tersebar diberbagai daerah memang menjadi masalah tersendiri, khususnya bagi pelestarian sejarah dan budaya. Bagaimana tidak, benda-benda kuno tersebut (artefak) memiliki harga jual yang lumayan tinggi di pasar barang antik. Tingginya permintaan dan rendahnya stok menyebabkan harga artefak cukup mahal untuk kalangan menengah kebawah. Hal tersebut juga memicu maraknya penjarahan diberbagai daerah di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, para penjarah artefak ini menyasar mulai dari desa-desa yang terkenal memiliki artefak kuno, makam-makam lama yang berada di tengah hutan, hingga sungai-sungai besar yang dahulu pernah menjadi jalur transportasi di masanya.

Kamis, 28 Maret 2019

Candi atau Stupa ? Situs Sumberawan


Pertama kali saya mengunjungi lokasi ini sekitar 3,5 tahun yang lalu, tetapi aroma pohon pinus itu terasa segar dalam ingatan. Berbekal memori indah dan sedikit catatan perjalanan lama dari bertahun lampau, hari ini saya mencoba menuliskan kembali apa yang saya temui di sana.

Senin, 13 Oktober 2014

Candi Agung

Inventarisasi  Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam di Kab. Lumajang
Nama Situs :  Candi Agung (Candi Gelisah)
Apa potensi menarik dari situs tersebut :
Candi Agung merupakan salah satu peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Lumajang. Situs ini berupa struktur candi yang bisa dibilang paling baik yang pernah ditemukan di Lumajang. Letaknya yang ditengah-tengah persawahan, membuat suasana sekitar sangat menyenangkan untuk tamasya.
Candi ini memiliki sebuah lubang besar di salah satu sisinya. Ada yang mengatakan lubang tersebut diambil oleh pencuri yang mengambil peripih yang memang selalu ada didalam makam-makam raja zaman dahulu. Namun adapula yang mengatakan, bahwa lubang tersebut dibuat saat dulu Pemerintah Belanda memugar candi ini dan mengambil peripihnya.

Rabu, 19 Maret 2014

Menjadi Pemimpin Ideal: Belajar dari 8 Sifat Dewa (Asta Brata)

Pernah nggak sih kita berpikir, seperti apa sosok pemimpin yang benar-benar "lengkap"? Ternyata, nenek moyang kita sudah punya jawabannya dalam kesusastraan Jawa kuno. Ada 8 sifat kepemimpinan yang diambil dari watak delapan dewa, atau yang sering disebut dengan Asta Brata.

Sifat-sifat ini bukan cuma buat bos atau pejabat, lho. Kita pun bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, kita bedah satu per satu!

1. Batara Endra
 Pemimpin itu harus punya prinsip seperti Batara Endra: Tegas dan tidak pandang bulu. Tujuannya satu, yaitu menjaga kedamaian. Kalau ada yang salah ya harus dihukum sesuai aturan, tanpa melihat siapa orangnya..

2.Batara Surya
 Tenang dan penuh kasih sayang. Pemimpin tipe ini nggak perlu marah-marah untuk bikin orang lain berbuat baik. Aura positif dan kebaikannya sudah cukup jadi teladan bagi orang di sekitarnya.
3.Batara Bayu
 Batara Bayu mengajarkan kita untuk menjadi sosok yang rendah hati dan wajar, tapi punya insting yang kuat. Ia bisa tahu mana pengikutnya yang jujur dan mana yang cuma "main mata" atau berlaku jahat.

4. Batara Kuwera
 Pernah dengar istilah "Nora ngalem nora nutuh"? Itulah sifat Batara Kuwera. Artinya, tidak mudah memuji setinggi langit, tapi juga tidak gampang mencela. Ia penuh kepercayaan baik kepada atasan maupun bawahan.

5.Batara Baruna
 Seorang pemimpin harus selalu update ilmu pengetahuan. Batara Baruna adalah simbol kewaspadaan. Ia siap menghadapi tantangan apa pun karena punya "senjata" berupa ilmu dan kemampuan untuk mengatasi masalah (bisa basuki ing laku).

6. Batara Yama
 Sifatnya adalah "Rumeksa praja" atau menjadi pelindung bagi nusa dan bangsa. Fokusnya adalah memastikan lingkungan sekitarnya bersih dari kejahatan. Kalau ada yang buruk, ya harus diselesaikan (kang ala tinundhung).

7. Batara Candra
 Pemimpin itu harus menyejukkan seperti sinar bulan. Sifatnya "Apura sara naniro", alias pemaaf. Tutur katanya bikin hati tenang, suka tersenyum, dan membawa kegembiraan buat orang banyak.

8. Batara Brama
Terakhir adalah sifat Batara Brama yang sangat peduli. Ia menaruh perhatian besar pada anak-anak muda dan kesejahteraan anggotanya. Ia tahu siapa yang lagi sakit, siapa yang lagi susah, dan selalu hadir untuk memberi solusi.

Menjadi pemimpin memang berat, tapi 8 sifat di atas adalah goals yang luar biasa kalau bisa kita terapkan. Meskipun kita bukan pemimpin organisasi, menerapkan sifat-sifat ini dalam keluarga atau lingkaran pertemanan bakal bikin hidup kita jauh lebih bermakna.

Dari 8 sifat di atas, mana nih yang menurut kalian paling sulit diterapkan di zaman sekarang? Tulis di komentar ya!