Setiap manusia yang tertarik pada dunia pendidikan akan memiliki
suatu impian mengenai bagaimana pendidikan yang seharusnya itu terjadi, baik di
dalam kelas, maupun diluar kelas. Pendidikan menurut Ahmad D. Marimba dalam
bukunya Pengantar Filsafat Pendidikan adalah
bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan
rohani si terdidik menuju kepribadiannya yang utama. Tujuan akhir dari
pendidikan adalah peserta didik mampu memiliki kepribadian yang utama. Menurut
penulis, kepribadian yang utama ini akan tercapai dan terbentuk manakal peserta
didik mampu mengenali dan mendapatkan identitas dirinya sendiri. Dengan
demikian, dalam perjalanan hidup selanjutnya, peserta didik tidak akan
kehilangan arah karena sudah menyadari siapa sebenarnya dirinya dan telah
memiliki tujuan dalam hidupnya.
Maka, dalam suatu kelas yang seharusnya mampu menuntun peserta
didiknya untuk menemukan jati diri, didalamnya perlu diterapkan
pemikiran-pemikiran dari filsafat eksistensialism. Secara singkat Kierkegaard memberikan pengertian
eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu demikiran abstrak, tidak
logis, atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan
rasional. Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki
dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang ia alami, dan tidak mau terikat
oleh hal-hal yang sifatnya abstrak dan spekulatif. Baginya, segala sesuatu
dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan
kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya. Dalam kelas ini, peserta didik dituntun untuk menghargai keunikan
setiap individu, keberagaman pendapat dan pandangan, dan bahwa setiap orang
memiliki kebebasan akan dirinya sendiri. Dengan menghargai keanekaragaman dalam
setiap diri manusia, diharapkan peserta didik mampu menyadari bahwa dirinya
sendiri adalah unik dan berbeda dari yang manusia yang lainnya. Setiap individu
memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Dari hal inilah diharapkan
peserta didik mampu menemukan jati dirinya.
Untuk menunjang hal tersebut, perlu diadakan diskusi-diskusi secara
rutin yang memfasilitasi setiap ide dan pemikiran peserta didik terhadap
berbagai masalah sosial di sekitar mereka. Kebebasan berpendapat harus dijamin
dan tidak akan ada pendapat peserta didik yang dianggap salah karena tidak ada
kebenaran mutlak, yang ada hanyalah kebenaran tergantung subjektifitas setiap individu.
Dari hal inilah, penulis berharap tujuan dari pendidikan di dalam kelas
sebagaimana dalam paragraph kedua bisa tercapai.
No comments:
Post a Comment