Menu

Friday, 22 February 2019

Eksistensialism dan Kelas Impian

Setiap manusia yang tertarik pada dunia pendidikan akan memiliki suatu impian mengenai bagaimana pendidikan yang seharusnya itu terjadi, baik di dalam kelas, maupun diluar kelas. Pendidikan menurut Ahmad D. Marimba dalam bukunya Pengantar Filsafat Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadiannya yang utama. Tujuan akhir dari pendidikan adalah peserta didik mampu memiliki kepribadian yang utama. Menurut penulis, kepribadian yang utama ini akan tercapai dan terbentuk manakal peserta didik mampu mengenali dan mendapatkan identitas dirinya sendiri. Dengan demikian, dalam perjalanan hidup selanjutnya, peserta didik tidak akan kehilangan arah karena sudah menyadari siapa sebenarnya dirinya dan telah memiliki tujuan dalam hidupnya.

Maka, dalam suatu kelas yang seharusnya mampu menuntun peserta didiknya untuk menemukan jati diri, didalamnya perlu diterapkan pemikiran-pemikiran dari filsafat eksistensialism. Secara singkat Kierkegaard memberikan pengertian eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu demikiran abstrak, tidak logis, atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang ia alami, dan tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak dan spekulatif. Baginya, segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya. Dalam kelas ini, peserta didik dituntun untuk menghargai keunikan setiap individu, keberagaman pendapat dan pandangan, dan bahwa setiap orang memiliki kebebasan akan dirinya sendiri. Dengan menghargai keanekaragaman dalam setiap diri manusia, diharapkan peserta didik mampu menyadari bahwa dirinya sendiri adalah unik dan berbeda dari yang manusia yang lainnya. Setiap individu memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Dari hal inilah diharapkan peserta didik mampu menemukan jati dirinya.

Untuk menunjang hal tersebut, perlu diadakan diskusi-diskusi secara rutin yang memfasilitasi setiap ide dan pemikiran peserta didik terhadap berbagai masalah sosial di sekitar mereka. Kebebasan berpendapat harus dijamin dan tidak akan ada pendapat peserta didik yang dianggap salah karena tidak ada kebenaran mutlak, yang ada hanyalah kebenaran tergantung subjektifitas setiap individu. Dari hal inilah, penulis berharap tujuan dari pendidikan di dalam kelas sebagaimana dalam paragraph kedua bisa tercapai.

No comments:

Post a Comment