Beberapa waktu yang lalu, di salah satu jam pelajaran IPS, saya membawa segenggam buah pala kering ke dalam kelas. Saya mengangkatnya tinggi-tinggi di depan papan tulis, lalu bertanya, "Ada yang tahu, buah apa ini?"
Hening. Beberapa anak di barisan belakang berbisik ragu. Ada yang menebak itu kemiri, ada juga yang menggeleng polos. Hati saya mencelos. Sebuah ironi yang pahit sedang terjadi di depan mata saya. Generasi muda kita, anak-anak yang lahir di tanah yang dijuluki "Ibu Rempah", justru asing dengan harta karun yang pernah membuat bangsa-bangsa Eropa rela mati-matian mengarungi samudra ganas hanya untuk menemukannya.
Mereka lebih akrab dengan aroma bumbu instan di mie kemasan atau pedasnya kuah seblak, tanpa menyadari bahwa ratusan tahun lalu, aroma yang saya pegang inilah yang mengubah takdir dunia.
Kita sering lupa—atau mungkin sejarah di buku teks terlalu kaku menyampaikannya—bahwa Nusantara pernah menjadi poros dunia. Sebelum ada istilah "Globalisasi", nenek moyang kita sudah menjadi warga dunia yang kosmopolitan.
Jalur Rempah (Spice Route) bukan sekadar jalur dagang. Ia adalah jalur diplomasi, jalur pertukaran budaya, dan jalur pertemuan agama. Di pelabuhan-pelabuhan seperti Banten, Makassar, hingga Ternate, pedagang dari Arab, Tiongkok, India, dan Eropa duduk bersila, bernegosiasi dalam bahasa Melayu pasar.
Ada kebanggaan yang hilang di sini. Dulu, kita adalah "magnet". Columbus tersesat ke Amerika karena mencari kita. Magellan mati di Filipina dalam upaya menemukan kita. Nusantara adalah gadis cantik yang diperebutkan dunia. Namun hari ini, narasi itu tenggelam. Kita sering kali hanya menempatkan diri sebagai "korban penjajahan" yang pasrah, melupakan fakta bahwa sebelum kapal-kapal asing itu datang dengan meriam, kita adalah tuan rumah yang berdaulat atas lautan.
Masalah yang paling menyedihkan saat ini adalah mentalitas kita yang kian "kontinental" (berorientasi daratan). Kita seolah memunggungi laut.
Lihatlah sekeliling kita. Laut hanya kita anggap sebagai kolam pemisah antarpulau, atau sekadar tempat membuang sampah sungai. Kita lupa bahwa Jalur Rempah tercipta karena nenek moyang kita adalah pelaut ulung yang membaca bintang, bukan bangsa yang takut ombak.
Ketidaktahuan siswa saya terhadap buah pala tadi adalah simtom dari penyakit lupa kolektif ini. Kita kehilangan mentalitas bahari—mentalitas yang terbuka, berani mengambil risiko, dan siap berlayar jauh. Akibatnya? Kita menjadi bangsa konsumen. Kita memiliki tanah yang subur, tapi kedelai kita impor. Kita punya garis pantai terpanjang kedua di dunia, tapi garam pun kita datangkan dari luar. Ini adalah pengkhianatan terhadap takdir geografis kita sendiri.
Mengajarkan Jalur Rempah di kelas IPS bagi saya bukan ajang romantisme masa lalu. Saya tidak ingin siswa saya hanya hafal tahun berapa VOC datang atau apa isi Perjanjian Saragosa.
Saya ingin menanamkan kembali kesadaran bahwa DNA mereka adalah DNA penjelajah. Jalur Rempah harus dimaknai ulang sebagai semangat konektivitas. Di era digital ini, "rempah" kita bisa berupa gagasan, kreativitas, dan karya teknologi.
Ketika saya meletakkan kembali buah pala itu di meja guru, saya berkata pada mereka: "Biji kecil ini pernah lebih mahal dari emas. Dulu, orang mati demi ini. Sekarang, tugas kalian bukan lagi berperang berebut cengkeh, tapi memastikan bahwa bangsa ini tidak lagi hanya jadi penonton di jalur perdagangan dunia modern."
Sejarah bukan untuk diratapi lukanya, tapi untuk diambil apinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar