Setiap pagi, sebelum bel masuk berbunyi, saya sering terdiam sejenak di depan pintu kelas. Di tangan kanan saya ada tumpukan perangkat ajar yang harus diselesaikan, dan di tangan kiri ada tuntutan target kurikulum yang harus dicapai. Namun, di dalam kelas, ada tiga puluh lebih pasang mata yang masing-masing membawa beban hidup yang berbeda. Ada yang belum sarapan, ada yang baru saja dimarahi orang tuanya, dan ada yang merasa dirinya "bodoh" hanya karena tidak bisa mengerjakan soal matematika kemarin.
Di sinilah sering terjadi benturan. Pendidikan kita belakangan ini terasa sangat mekanistik. Kita terlalu sibuk mengejar Deep Learning, literasi, dan numerasi dalam bentuk angka-angka di atas kertas, hingga sering kali lupa bahwa yang kita hadapi adalah manusia, bukan botol kosong yang siap diisi air sampai tumpah.
Masalah Kontekstual: Skor Tinggi di Atas Kejujuran yang Rapuh
Mari kita bicara jujur. Seringkali kita melihat fenomena di mana sekolah atau guru merasa "berhasil" jika nilai rata-rata ujian siswanya tinggi. Namun, jika nilai itu didapat dengan cara-cara yang manipulatif—seperti memberikan "bocoran" halus atau mengabaikan ketidakjujuran akademik demi nama baik instansi—maka kita sebenarnya sedang mendidik calon koruptor masa depan. Ini adalah masalah kontekstual yang nyata. Kita memaksakan standar kecerdasan intelektual yang tinggi, tapi membiarkan nurani siswa tetap kerdil.
Humanisme dalam pendidikan bukan berarti kita menjadi guru yang lembek atau memanjakan siswa. Humanisme adalah tentang keberanian untuk melihat siswa sebagai subjek yang utuh.
Pendidikan adalah Proses "Ngopeni" Jiwa
Dalam filosofi Jawa, ada istilah ngopeni, merawat dengan penuh ketelatenan. Seorang guru IPS, bagi saya, bukan sekadar penyampai data tentang letak geografis atau sejarah kemerdekaan. Tugas kita adalah membantu siswa menemukan relevansi antara sejarah masa lalu dengan perilaku sosial mereka hari ini.
Misalnya, saat kita membahas tentang kemiskinan dalam pelajaran ekonomi-sosial. Alih-alih hanya menyajikan grafik angka kemiskinan, mengapa kita tidak mengajak siswa keluar kelas? Melihat bagaimana tukang sapu di depan sekolah bekerja, atau berdialog dengan pedagang kecil di pasar terdekat. Di sana, empati akan tumbuh. Humanisme lahir ketika siswa mulai merasakan bahwa "orang lain" adalah bagian dari dirinya.
Menolak Menjadi Robot Pengajar
Saya sering merenung, jangan-jangan kita sendiri sebagai pendidik sudah terperangkap menjadi "robot kurikulum". Kita mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban administratif. Padahal, satu senyuman tulus atau satu kalimat pendukung seperti, "Ibu bangga dengan usahamu hari ini, bukan hanya nilaimu," bisa merubah jalan hidup seorang anak selamanya.
Mari kita kembalikan ruang kelas kita agar bisa "bernapas" lagi. Ruang di mana kesalahan dihargai sebagai proses belajar, dan di mana kejujuran lebih dijunjung tinggi daripada sekadar angka-angka di buku rapor. Karena pada akhirnya, peradaban bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang pintar yang kehilangan hati nurani, melainkan oleh manusia-manusia yang tahu cara memanusiakan sesamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar