Menu

Minggu, 22 Februari 2026

Menyusuri JLS Lumajang ke TPI Paseban: Perjalanan Reflektif di Pesisir Selatan

 Kemarin adalah hari terakhir libur puasa sebelum hari Senin tiba dan aktivitas kembali normal. Di sisa waktu libur ini, aku memilih pulang sejenak ke Lumajang. Salah satu agendanya adalah menjajal hasil servis total mobil tua kesayangan. Syukurlah, perbaikan selesai di hari Sabtu, sehingga pada hari Minggu aku bisa membawa "si tua" menyusuri eksotisme Jalur Lintas Selatan (JLS) Lumajang.

Aku jarang sekali melintasi jalur pesisir ini. Ingatanku tentangnya hanya sebatas memori samar mengenai gumuk pasir dan rawa-rawa teratai yang menyendiri di ujung selatan. Jalur ini memang tidak searah dengan jalan pulang ke rumah. Ia merentang sunyi, menyajikan pemandangan gelombang Laut Selatan dengan hamparan pasir hitamnya yang khas.

Perjalanan kali ini cukup ramai. Mengendarai mobil tua yang baru pulih, kami membawa rombongan keluarga; 7 orang dewasa dan 5 anak kecil. Dari rumah di Grati, perjalanan bermula ke arah Mojosari untuk menjemput saudara dan keponakan, berlanjut ke Tempeh menjemput Ibu, adik, serta seorang tetangga yang kebetulan sedang berkunjung.

Melintasi Ragam Wajah JLS Lumajang

Rute yang kami lewati mengarah ke timur menuju Tempeh Kidul, lalu berbelok ke selatan arah Pandanwangi, membelah kawasan pemukiman TNI, hingga akhirnya roda mobil menyentuh JLS.

Kondisi jalanannya sangat heterogeny, sebuah representasi perjalanan yang sesungguhnya. Dari aspal yang mulus, jalanan bergelombang, berlubang, jalan makadam, hingga JLS yang full cor berhasil kami lalui. Mobil terus melaju lurus ke timur. Awalnya, kukira kami akan tiba di padang sabana Lumajang, namun jalanan membawa kami lebih jauh lagi.

Pemandangan kebun tebu dan pemukiman warga perlahan tergantikan oleh barisan gumuk pasir. Terasa kering dan terasing, apalagi di bawah terik matahari siang. Di antara gumuk-gumuk itu, tersembunyi rawa-rawa tempat orang-orang memancing. Hamparan teratai merah muda mekar dengan latar belakang pasir yang kesepian. Pemandangan ini terasa kontras dan seolah tersesat di antah berantah, namun anehnya, menyisakan perasaan damai yang sulit dijelaskan.

Melaju lurus dengan kaca jendela yang terbuka setengah, angin sepoi-sepoi membawa aroma khas pesisir. Deretan warung ikan bakar tampak tutup, menghormati bulan puasa siang itu. Melewati jembatan, tampak tambak udang modern bertembok putih yang terasa asing di tengah bentang alam sekitarnya.

Tiba di TPI Paseban: Menemukan Sentimentalitas Pesisir

Tak jauh dari sana, kami berbelok memasuki jalan makadam yang bergeronjal di samping sebuah warung. Kanan-kirinya terhampar kebun semangka yang baru ditanam. Jalan ini membawa kami menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paseban.

TPI Pantai Paseban/Dokumentasi Pribadi

TPI Paseban bukanlah tempat megah seperti yang sering seliweran di video YouTube. Tempat ini berdiri dengan bangunan yang sudah cukup berumur, rimbunan pandan laut, deretan perahu nelayan, dan hamparan pasir hitam yang halus. Namun, justru di sanalah letak daya tariknya. Ada perasaan akrab dan sentimental yang tiba-tiba menyergap.

Ombak sedang naik. Perahu-perahu nelayan berjejer di bibir pantai, serupa ibu yang merengkuh kembali anak-anaknya setelah lelah berkelana. Aku menghirup aroma lautnya; perpaduan asin dan amis ikan segar. Ini adalah aroma keringat dan kehidupan, bukti nyata dari sebuah hidup yang layak untuk diperjuangkan.

Perahu Nelayan/Dokumentasi Pribadi

Aku menyentuh pasir hitam legam di TPI Paseban. Kering dan tak tersentuh ombak. Pasir pesisir ini sering diperebutkan sebagai material bangunan berkualitas tinggi. Padahal, sejatinya ia adalah pelindung abadi yang menghadang hantaman angin dan gelombang Laut Selatan. Jika dipindahkan, ancaman abrasi hingga infiltrasi air laut akan menghantui, sebuah kenyataan yang di beberapa titik telah terjadi.

Falsafah Hidup dari Flora Pantai Selatan

Di balik kesunyian gumuk pasir dan terpaan angin laut, pesisir Paseban menyimpan kekayaan flora yang mengajarkan banyak hal tentang ketahanan hidup.

Deretan Pandan Laut/ Dokumentasi Pribadi

Deretan pohon Pandanus tectorius (Pandan Laut) memenuhi sebidang besar pesisir pantai. Buahnya menjuntai, dan ada aroma wangi bunganya yang cukup jarang dijumpai. Harumnya segar sekali. Dipadukan dengan aroma asin angin laut. Ini adalah aroma yang selalu membuatku rindu pada pantai Selatan. Bunga pandan laut, dikatakan orang-orang, sulit untuk ditemui. Dan memang betul. Berkali-kali aku mengunjungi banyak pantai di Selatan Jawa, berkali pula aku bertemu dengan pandan laut, tapi bisa dihitung jari aku berjumpa dengan bunganya. Sehingga, bisa menghirup aromanya saja, sudah membuatku lega.

Tanaman Katang-Katang / Dokumentasi Pribadi

Di atas hamparan pasir yang mulai memanas, ada yang merayap rendah, memberikan contoh nyata bahwa hidup tidak harus selalu menantang angin laut, tetapi merendah dan bersahabat dengannya bisa menjadi pilihan kedua. Daunnya hijau tebal, terbelah seperti tapak kuda kecil yang tertinggal di pasir. Di antara sulur-sulur yang menjalar, bunga-bunga ungu muda itu mekar seperti senyum yang tak perlu diumumkan. Ini adalah katang—katang (lpomoea pes-caprae). Katang-katang atau tapak kuda pantai adalah tanaman merambat yang akarnya memeluk bumi, menahan butir-butir pasir agar tidak mudah hanyut terbawa ombak.

Spinifex / Dokumentasi Pribadi

Selain pandan laut dan katang-katang, ada pula tanaman yang bergerombol dan terlihat begitu semarak. Bukan dengan warnanya yang mencolok, tetapi dengan ujung durinya yang tajam. Di atas gumuk pasir yang tampak sunyi, tumbuh rumpun-rumpun Spinifex- rumput pantai. Daunnya panjang, tipis dan runcing, menyebar seperti serat angin yang tertinggal di bumi. Ia merunduk mengikuti arah hembusan angin laut. Contoh nyata tentang berdamai dengan badai sejak awal kelahirannya. Bunganya membentuk bulatan-bulatan ringgan seperti bola serabut kecil berwarna kecoklatan saat matang. Ketika angin bertiup, bulatan itu bergerak menyebarkan bijinya ke segala arah. Spinifex adalah salah satu unsur penting untuk membangun pantai. Akar-akar halusnya mengikat butiran pasir dan mencegah abrasi.

Diamnya Perahu dan Cerita yang Menunggu

Perahu dan Kayu. Dokumentasi Pribadi

Di tepi pantai, deretan perahu kayu bercadik tampak beristirahat setelah percakapan panjang dengan lautan. Cat yang terkelupas, tali yang tergulung, jaring yang dilipat, serta tiang kayu kering yang menjulang tanpa mesin menyala—semuanya diam dalam posisi menunggu.

Laut di kejauhan berwarna kelabu. Tidak sebiru foto-foto estetis di media sosial, namun warnanya jauh lebih jujur dengan garis cakrawala yang tipis. Memang, batas antara langit dan air tak pernah benar-benar terlihat sama.

Bangunan TPI beratap genteng kecoklatan berdiri menghadap laut, menyimpan jejak cuaca pada lumut dan warna pudar di dindingnya. Di sini, kehidupan tampak keras namun teratur. Laut adalah sumber penghidupan, pasir adalah halaman rumah, dan perahu adalah harapan yang selalu siap didorong kembali menantang ombak.

Si Tua di halaman parkiran TPI/ Dokumentasi Pribadi

Tak lama kami meresapi itu semua, aku mengajak rombongan kembali. Laut kembali sepi. Dan roda mobil tua kami kembali bergulir, membawa pulang cerita dari Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar