Menu

Rabu, 19 Maret 2014

Menjadi Pemimpin Ideal: Belajar dari 8 Sifat Dewa (Asta Brata)

Pernah nggak sih kita berpikir, seperti apa sosok pemimpin yang benar-benar "lengkap"? Ternyata, nenek moyang kita sudah punya jawabannya dalam kesusastraan Jawa kuno. Ada 8 sifat kepemimpinan yang diambil dari watak delapan dewa, atau yang sering disebut dengan Asta Brata.

Sifat-sifat ini bukan cuma buat bos atau pejabat, lho. Kita pun bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, kita bedah satu per satu!

1. Batara Endra
 Pemimpin itu harus punya prinsip seperti Batara Endra: Tegas dan tidak pandang bulu. Tujuannya satu, yaitu menjaga kedamaian. Kalau ada yang salah ya harus dihukum sesuai aturan, tanpa melihat siapa orangnya..

2.Batara Surya
 Tenang dan penuh kasih sayang. Pemimpin tipe ini nggak perlu marah-marah untuk bikin orang lain berbuat baik. Aura positif dan kebaikannya sudah cukup jadi teladan bagi orang di sekitarnya.
3.Batara Bayu
 Batara Bayu mengajarkan kita untuk menjadi sosok yang rendah hati dan wajar, tapi punya insting yang kuat. Ia bisa tahu mana pengikutnya yang jujur dan mana yang cuma "main mata" atau berlaku jahat.

4. Batara Kuwera
 Pernah dengar istilah "Nora ngalem nora nutuh"? Itulah sifat Batara Kuwera. Artinya, tidak mudah memuji setinggi langit, tapi juga tidak gampang mencela. Ia penuh kepercayaan baik kepada atasan maupun bawahan.

5.Batara Baruna
 Seorang pemimpin harus selalu update ilmu pengetahuan. Batara Baruna adalah simbol kewaspadaan. Ia siap menghadapi tantangan apa pun karena punya "senjata" berupa ilmu dan kemampuan untuk mengatasi masalah (bisa basuki ing laku).

6. Batara Yama
 Sifatnya adalah "Rumeksa praja" atau menjadi pelindung bagi nusa dan bangsa. Fokusnya adalah memastikan lingkungan sekitarnya bersih dari kejahatan. Kalau ada yang buruk, ya harus diselesaikan (kang ala tinundhung).

7. Batara Candra
 Pemimpin itu harus menyejukkan seperti sinar bulan. Sifatnya "Apura sara naniro", alias pemaaf. Tutur katanya bikin hati tenang, suka tersenyum, dan membawa kegembiraan buat orang banyak.

8. Batara Brama
Terakhir adalah sifat Batara Brama yang sangat peduli. Ia menaruh perhatian besar pada anak-anak muda dan kesejahteraan anggotanya. Ia tahu siapa yang lagi sakit, siapa yang lagi susah, dan selalu hadir untuk memberi solusi.

Menjadi pemimpin memang berat, tapi 8 sifat di atas adalah goals yang luar biasa kalau bisa kita terapkan. Meskipun kita bukan pemimpin organisasi, menerapkan sifat-sifat ini dalam keluarga atau lingkaran pertemanan bakal bikin hidup kita jauh lebih bermakna.

Dari 8 sifat di atas, mana nih yang menurut kalian paling sulit diterapkan di zaman sekarang? Tulis di komentar ya!



Sabtu, 15 Maret 2014

Menelusuri Candi Gedhong Putri: Jejak Sejarah yang Terlupakan di Balik Pasar Candipuro



Foto foto diatas adalah foto yang diambil di Candi Gedhong Putri yang terletak di Desa SumberWuluh kecamatan Candipuro Lumajang Jawa Timur.

"Tragedi." Itu satu kata yang muncul di kepala saya waktu menginjakkan kaki di Desa Sumberwuluh, Candipuro. Padahal, tempat yang saya datangi ini bukan tempat sembarangan. Ini adalah Candi Gedhong Putri, situs yang konon katanya adalah candi pertama yang berdiri di tanah Lumajang.

Sebenarnya, tulisan ini adalah catatan lama saya dari tahun 2014, tapi rasanya masih sangat sesak kalau diingat kembali.Kalau ngobrol soal sejarahnya, ada cerita menarik dari Bapak Mansur Hidayat. Beliau menyebutkan kalau candi ini dulunya adalah hunian atau tempat bagi Putri Nararya Kirana. Beliau bukan orang biasa, melainkan sosok yang diutus menjadi Adipati di daerah yang dulu namanya masih "Lumajang". Keren, kan? Kita punya sejarah pemimpin perempuan hebat di sini.

Tapi sayangnya, kenyataan di lapangan jauh dari kata keren. Saya sedih banget melihat kondisinya yang sudah rusak lebih dari 60%. Baru sekarang-sekarang ini ada upaya perawatan, padahal sudah "telat".

Saya jadi teringat obrolan dengan Pak Gaguk, seorang guru sejarah. Beliau pernah bilang kalau sebuah tempat bersejarah kerusakannya sudah lewat dari 60%, secara teknis itu sudah sangat sulit diselamatkan, bahkan ada istilah "dimusnahkan" karena kehilangan bentuk aslinya.


gambar ini adalah gambar lingga yoni yang terdapat di kompleks candi Gedhong Putri.

Di tengah reruntuhan Candi Gedhong Putri, ada satu hal yang bikin saya terpaku: Lingga Yoni.

Jujur saja, waktu pertama kali melihatnya, saya sempat mikir, "Ini beneran batu kuno atau semen cetakan, sih?" Habisnya, halus banget! Tapi setelah saya amati lagi, ini benar-benar batu alam yang diukir dengan tingkat ketelitian tingkat tinggi. Kata guru sejarah saya, Lingga Yoni di sini termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia karena kehalusan buatannya. Luar biasa, ya, pengrajin zaman dulu?

Nah, bicara soal Lingga, biasanya dia nggak sendirian. Dalam filosofi Hindu, Lingga (simbol kejantanan) seharusnya berpasangan dengan Yoni (simbol kesuburan wanita). Penyatuan mereka itu sakral banget, melambangkan asal-muasal kehidupan.

Tapi sayangnya, pemandangan di Gedhong Putri ini bikin baper sekaligus sedih. Banyak Lingga yang sekarang "ditinggalkan" oleh Yoni-nya. Entah Yoninya tertimbun, hancur, atau (yang paling sedih) hilang dicuri orang. Melihat Lingga yang berdiri sendirian tanpa pasangannya itu seolah mempertegas betapa "malangnya" nasib situs ini. Dia kehilangan kelengkapannya, persis seperti situs ini yang kehilangan kemegahannya.




Gua Maling Aguna Candipuro Lumajang
Ini adalah gambar yang diambil di Gua Maling Aguna

Gak jauh dari Candi Gedhong Putri, masih di area Candipuro, ada satu lagi tempat yang nggak kalah bikin dahi berkerut: Gua Maling Aguna.

Namanya unik, ya? "Maling" biasanya konotasinya negatif, tapi di sini ada cerita kepahlawanan dan kecerdikan di baliknya.

Konon menurut cerita turun-temurun, gua ini punya sejarah yang berkaitan dengan sebuah sayembara unik zaman dulu. Isinya? Siapa pun ksatria yang bisa menculik sang putri tanpa ketahuan, dialah pemenangnya.

Nah, ada seorang ksatria yang cerdik banget. Dia membangun gua ini sebagai strategi untuk "menculik" sang putri dan membawanya lewat jalur bawah tanah. Hasilnya? Dia berhasil memenangkan sayembara itu! Kebayang nggak sih gimana suasana di dalam gua ini waktu itu?

Ada lagi nih info terbaru yang saya dengar (dan bikin merinding sekaligus penasaran), katanya Gua Maling Aguna ini punya lorong rahasia yang menyambung sampai ke Desa Siluman.

Sejujurnya, saya sendiri belum sempat membuktikan langsung apakah lorongnya masih bisa dilewati atau sudah tertutup tanah. Tapi kalau benar, ini bakal jadi penemuan yang luar biasa banget buat sejarah bawah tanah di Lumajang!

Buat kalian yang mau ke sini, siap-siap buat sedikit blusukan. Lokasinya benar-benar hidden gem alias tersembunyi:

  • Lokasi: Tepat di belakang Pasar Candipuro.

  • Akses: Di belakang pasar itu ada sebuah toko. Nah, guanya ini sebenarnya masuk ke area halaman belakang rumah penduduk.

  • Tips: Karena ini area privat, kalian wajib banget minta izin dengan sopan ke pemilik toko atau rumahnya sebelum masuk ke sana.

Ternyata Candipuro nggak cuma soal alam, tapi juga soal rahasia sejarah yang letaknya cuma selangkah dari keramaian pasar.


Note penting: Catatan ini saya perbaharui di tahun 2026, tetap berdasarkan catatan saya di tahun 2014
Tentunya, saya akan menuliskan kembali kisah perjalanan ke sini ppada waktu bertahun kemudian di usia saya yang sudah 'dewasa'.

Biting,Emang Ada Apa?

 

Pertama kali saya mendengar tentang Biting adalah saat masih SD. Sejak saat itu, rasa penasaran saya terhadap Biting terus tumbuh, bahkan semakin menguat saat SMA.
Hari Sabtu, 5 September 2013, dengan modal nekad dan uang seadanya, saya bersama teman saya, Roziatul Khoiriyah, memutuskan untuk pergi ke Biting naik bus. Awalnya, tujuan kami bukan Biting, melainkan Selokambang untuk mengikuti penilaian olahraga. Namun, entah kenapa acara itu dibatalkan. Dengan sisa uang yang ada, kami memutuskan untuk mengunjungi Biting, sekadar memuaskan rasa penasaran tentang sejarah Lumajang.

Kami berdua belum pernah menginjak Biting sebelumnya, dan meski jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, kami hanya bisa berdoa agar perjalanan pulang nanti selamat. Mengandalkan petunjuk yang sempat saya baca di Facebook, saya memberi tahu kernet bus agar berhenti di Biting. Setelah turun, kami masih bingung apakah benar ini jalannya. Untungnya, seorang tukang becak di pinggir jalan dengan ramah memberi konfirmasi bahwa kami berada di jalur yang tepat.

Beberapa meter menyusuri jalan, kami menemukan Musium Situs Biting di sisi jalan. Meski ukurannya sederhana dan kondisi tidak terlalu ideal untuk disebut “museum”, kami tetap masuk untuk menjelajahi koleksi peninggalan sejarah yang ada. Di dalam, saya merasa seperti orang yang baru menemukan harta karun sejarah. Koleksi tersebut menyimpan sisa-sisa kerajaan Lumajang Tigang Juru yang berhasil ditemukan. Saya sempat ingin membeli kaos yang dijual di sana, tetapi harganya Rp50.000, sementara uang saya hanya cukup untuk ongkos pulang.

Setelah puas menjelajah museum, kami melanjutkan perjalanan menuju Petilasan Arya Wiraraja. Sesampainya di sana, makam cukup ramai pengunjung, dan terdapat tata cara khusus untuk memasuki lokasi. Kami mengucapkan salam sebelum masuk, dan berada di depan makam Raja Lumajang Tigang Juru membuat saya teringat pada sejarah Lumajang serta jasa Arya Wiraraja pada Bumi Majapahit dan Syekh Abdur Rahman dalam penyebaran Islam di wilayah itu.

Rencana awal kami adalah melanjutkan perjalanan ke Benteng Biting, namun kami tidak tahu jalannya. Dengan keberanian, saya bertanya pada pengunjung lain, dan mereka menunjukkan jalannya yang berada di belakang makam. Ternyata, jalan menuju benteng ditandai dengan bunga-bunga di sepanjang sisi jalan.

Sepanjang perjalanan, terdengar adzan. Kami sempat mencari mushola, namun hanya menemukan masjid terdekat, yang cukup dekat untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat, kami membeli beberapa makanan sebagai bekal untuk perjalanan ke benteng.
Sampai di situs benteng, ada dua orang pria di lokasi. Saya hendak naik, namun sepatu saya jebol dan memaksa saya berjalan nyeker. Meski lelah, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka tentang sejarah benteng dan sungai yang mengelilingi desa, yang ternyata adalah Sungai Bondoyudo. Dari obrolan itu, saya mendapat informasi bahwa benteng masih dalam proses penggalian dan akan terus dibangun.
Waktu menunjukkan pukul 16.30, dan kami harus segera pulang. Perjalanan pulang cukup menantang karena kaki pegal dan harus menunggu bus antar kota. Kami bahkan sempat menumpang mobil hingga sampai ke Tempeh, baru kemudian pulang ke rumah masing-masing dengan selamat.

Perjalanan ke Situs Biting meninggalkan satu pertanyaan di benak saya: semua batu bata peninggalan di situs tersebut memiliki ukiran. Apakah orang zaman dahulu mengukir batu bata satu per satu? Jika ada yang tahu, saya sangat ingin mendapat jawabannya.

Note: Tulisan ini saya perbarui pada 03 Februari 2026
Dan tulisan ini adalah asal muasal kali pertama saya terjerumus dalam lembah Sejarah Klasik Hindu Buddha Indonesia hingga bisa menghasilkan skripsi yang sedemikian rupa mengangkat sejarah klasik Lumajang.
Tentu saja. Saya sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang saya tuliskan di sini. Akan saya posting di postingan terbaru.

Sungai Mujur, 2012: Ingatan Tentang Tambang Pasir, Sketsa Pagi, dan Bayang Gunung Semeru

Tulisan ini saya publish berdasarkan catatan di tahun 2012


Tulisan ini saya buat kembali dengan membuka ingatan tahun 2012, ketika Sungai Mujur masih saya datangi dengan langkah kaki dan tas sekolah di punggung. Waktu itu, pertanyaan yang muncul di kepala saya sederhana: apakah Sungai Mujur hanya tentang tambang pasir?

Sungai Mujur yang terletak di Desa Lempeni memang lama dikenal sebagai lokasi penambangan pasir, terutama saat musim hujan. Aktivitas itu menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga sekitar. Namun saya penasaran, bagaimana nasib para penambang ketika kemarau datang dan air sungai menyusut?

Pagi itu, setelah salat Subuh, saya berangkat berjalan kaki untuk mengerjakan tugas kesenian—membuat sketsa. Rasa lelah pelan-pelan hilang ketika saya tiba tepat saat matahari mulai naik. Dari tepi Sungai Mujur, saya melihat cahaya pagi menyentuh Gunung Semeru di sebelah barat, menghadirkan pemandangan yang sampai hari ini masih saya ingat dengan jelas. Udara segar, sunyi, dan warna pagi yang sulit digantikan.
Bagi warga sekitar, Sungai Mujur bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang singgah. Di hari Minggu, sungai ini kerap menjadi tempat rekreasi sederhana. Dari atas jembatan, saya sempat menikmati aliran air sebelum turun dan membuka kertas gambar. Sketsa belum benar-benar selesai ketika seseorang menghampiri dan mengajak berbincang. Dengan alasan gambar sudah cukup, saya memilih berpindah mendekati aliran sungai.
Di sanalah saya melihat seorang bapak yang sedang menambang pasir. Dengan gaya sok-sokan seperti wartawan, saya bertanya tentang pekerjaannya. Ia bercerita bahwa menambang pasir di musim kemarau jauh lebih berat, karena mereka harus mengangkat batu-batu besar di dasar sungai agar pasir yang mengendap bisa diambil.

Cerita itu meninggalkan kesan yang cukup dalam. Penambangan pasir sering terlihat menguntungkan dari luar, bahkan menarik perhatian investor. Namun bagi para penambang kecil, pekerjaan ini justru penuh keterbatasan dan ketidakpastian. Sungai Mujur menyimpan ironi: alam yang memberi hidup, sekaligus menuntut tenaga yang tidak sedikit.

Ingatan tentang Sungai Mujur ini mungkin berasal dari tahun 2012, tetapi kisahnya terasa tetap relevan. Sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup, ruang kerja, dan ruang ingatan bagi mereka yang pernah tumbuh di sekitarnya—termasuk saya.