Tulisan ini saya publish berdasarkan catatan di tahun 2012
Tulisan ini saya buat kembali dengan membuka ingatan tahun 2012, ketika Sungai Mujur masih saya datangi dengan langkah kaki dan tas sekolah di punggung. Waktu itu, pertanyaan yang muncul di kepala saya sederhana: apakah Sungai Mujur hanya tentang tambang pasir?
Sungai Mujur yang terletak di Desa Lempeni memang lama dikenal sebagai lokasi penambangan pasir, terutama saat musim hujan. Aktivitas itu menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga sekitar. Namun saya penasaran, bagaimana nasib para penambang ketika kemarau datang dan air sungai menyusut?
Pagi itu, setelah salat Subuh, saya berangkat berjalan kaki untuk mengerjakan tugas kesenian—membuat sketsa. Rasa lelah pelan-pelan hilang ketika saya tiba tepat saat matahari mulai naik. Dari tepi Sungai Mujur, saya melihat cahaya pagi menyentuh Gunung Semeru di sebelah barat, menghadirkan pemandangan yang sampai hari ini masih saya ingat dengan jelas. Udara segar, sunyi, dan warna pagi yang sulit digantikan.
Bagi warga sekitar, Sungai Mujur bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang singgah. Di hari Minggu, sungai ini kerap menjadi tempat rekreasi sederhana. Dari atas jembatan, saya sempat menikmati aliran air sebelum turun dan membuka kertas gambar. Sketsa belum benar-benar selesai ketika seseorang menghampiri dan mengajak berbincang. Dengan alasan gambar sudah cukup, saya memilih berpindah mendekati aliran sungai.
Di sanalah saya melihat seorang bapak yang sedang menambang pasir. Dengan gaya sok-sokan seperti wartawan, saya bertanya tentang pekerjaannya. Ia bercerita bahwa menambang pasir di musim kemarau jauh lebih berat, karena mereka harus mengangkat batu-batu besar di dasar sungai agar pasir yang mengendap bisa diambil.
Cerita itu meninggalkan kesan yang cukup dalam. Penambangan pasir sering terlihat menguntungkan dari luar, bahkan menarik perhatian investor. Namun bagi para penambang kecil, pekerjaan ini justru penuh keterbatasan dan ketidakpastian. Sungai Mujur menyimpan ironi: alam yang memberi hidup, sekaligus menuntut tenaga yang tidak sedikit.
Ingatan tentang Sungai Mujur ini mungkin berasal dari tahun 2012, tetapi kisahnya terasa tetap relevan. Sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup, ruang kerja, dan ruang ingatan bagi mereka yang pernah tumbuh di sekitarnya—termasuk saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar