Menu

Sunday, 7 April 2019

Globalisasi, Antara Modernisasi dan Jati Diri

  1. Apa itu Globalisasi?
Selama ini belum ada definisi khusus mengenai arti kata Globalisasi yang telah disepakati bersama. Masing-masing kelompok mempunyai definisi yang berbeda mengenai globalisasi. Seorang politikus memakai kata globalisasi untuk apa saja yang mereka mau. Seorang artis papan atas menggunakan kata globalisasi untuk menyebut proses modernitas. Bagi kelompok borjuis Perancis dan pemimpin Asia, globalisasi adalah dominasi Amerika. Bahkan bagi kaum skeptis, mereka memandang globalisasi hanyalah mitos (Hirts & Thompson, 1996).


Salah satu ciri penting globalisasi, sebagaimana sering disuarakan oleh kaum globalis adalah bahwa dunia dan pasar-pasar kini terintegrasi dan terkoneksi satu sam lain dalam lingkungan global yang tanpa batas. Akibatnya, gejolak mata uang pada suatu wilayah akan berpengaruh terhadap wilayah lainnya. Globalisasi akan menjadi sebuah peluang menjanjikan kemakmuran, demokrasi, dan keadilan jika dapat dikelola dengan baik. Namun globalisasi bisa menjadi ancaman saat negara-negara mengurangi pajak, tunjangan, dan kontrol lingkungan hidup untuk menarik masuk perusahaan-perusahaan asing yang tidak berakar.

Globalisasi adalah proses yang seringkali brutal dan kacau balau. Daftar mereka yang menderita akibat globalisasi seringkali panjang dan banyak sekali. Dibanyak negara daftar itu meliputi banyak orang miskin, sebagian besar orang tak berpendidikan, dan banyak orang yang bekerja di sektor publik. Globalisasi menjadikan anak-anak harus bekerja untuk membiarkan anak-anak lain belajar. Dengan kata lain salah satu pihak diharuskan menderita untuk memberi kesempatan bagi yang lain.

Globalisasi adalah salah satu penyebab mengapa negeri-negeri Barat kehilangan pekerjaan manufakturing dan menggantikannya dengan pekerjaan jasa. Faktanya, pekerjaan jasa memang memberikan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan manufakturing.

Globalisasi juga merupakan kutukan tak langsung bagi lingkungan hidup di seluruh wilayah bola dunia. Negara-negara berkembang melemahkan kebijakan terhadap lingkungan hanya demi menarik minat investor asing untuk menanamkan modal di negaranya. Pada 1998, Cina dibawah tekanan Bank Dunia mengakui bahwa polusi di Beijing enam kali lipat lebih buruk disbanding dengan Los Angeles. Globalisasi memaksa negeri-negeri, perusahaan-perusahaan, dan orang-orang untuk bersaing dengan yang terbaik di dunia hingga menimbulkan suatu tekanan yang besar.

Ciri lain dari globalisasi adalah bahwa sambil memberikan kebebasan ia pun menekankan tanggung jawab. Tanggung jawab ini bukan hanya dibebankan kepada mereka yang mengikuti proses globalisasi, tapi juga mereka yang berhasil menjadi pemenang dalam proses globalisasi. Menjadi pemenang dan pengikut globalisasi tampaknya menjadi pilihan akhir untuk dapat bertahan di abad ini. bukan saja karena globalisasi telah merambah banyak sector, tapi juga karena globalisasi telah menjadi tuntutan hidup dan kehidupan.

  1. Nasionalisme, jati diri ataukan ideologi?
Nasionalisme sering disebut sebagai suatu sebutan ketika sekat pembeda kesukuan dan kedaerahan telah berhasil dihilangkan. Nasionalisme dimunculkan ketika keragaman yang ada dijadikan satu semangat guna menyelamatkan kepentingan bersama sebagai sebuah bangsa.nasionalisme tidak bisa diartikan sebagai suatu hal dari sebuah sudut pandang kebangsaan saja. Nasionalisme bukan hanya persoalan satu negara, satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Nasionalisme bisa diartikan dengan begitu banyak sudut pandang.

Ernest Gillner menyebutkan Nasionalisme dipahami sebagai suatu prinsip yang beranggapan bahwa unit politik dan identitas nasional terjadi keselarasan dalam praktek. Sedangkan E.J Hobsbawn mengartikan nasionalisme sebagai bangsa dalam suatu kesatuan primer dab tidak mengalami perubahan. Bahkan dalam periode sebelum kemerdekaan, nasionalisme bukanlah suatu hal yang tunggal. Nasionalisme dipahami sebagai penyatuan nasional, budaya bangsa, dan fenomena ideologis yang masing-masing hal merujuk pada hal yang berbeda.

Nasionalisme sebagai penyatuan nasional merujuk pada pembentukan sebuah bangsa yang terdiri dari keberagaman atau kemajukan. Nasionalisme dianggap sebagai wujud pengikatan dari berbagai macam hal yang berada dalam sebuah wilayah yang pada akhirnya disebut dengan negara. Nasionalisme menyatukan mereka yang berkeinginan sama sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Nasionalisme sebagai budaya bangsa dipahami sebagai proses membangun kesadaran nasional untuk menghadapi pengaruh modernisasi internasional. Entah itu paham, ideologi, ataupun nasionalisme dari bangsa lain. Nasionalisme dianggap sebagai suatu kumpulan yang berhasil membedakan satu bangsa dengan bangsa lain. Hal ini kemudian menjadikan nasionalisme sebagai penyaring budaya asing yang masuk ke dalam suatu wilayah.

Nasionalisme sebagai fenomena ideologis sengaja dimunculkan guna memumculkan sebuah perasaan sebagai satu kesatuan yang berbeda dengan bangsa lain. Nasionalisme menjadikan sekumpulan manusia yang berada dalam suatu wilayah menjadi tumbuh rasa memiliki dan keinginan untuk emlindungi wilayah tersebut.

Sampai disini, nasionalisme tidak bisa dipahami sebagai jati diri bangsa yang tidak boleh hilang keberadaannya, melainkan juga sebagai suatu dinding penguat bagi keberadaan suatu bangsa itu sendiri. Nasionalisme bisa saja menjadi ideologi karena rasa memiliki suatu wilayah itu dimiliki oleh sekumpulan orang.  Karena hal yang demikian, maka nasionalisme tidak bisa bersifat kaku. Nasionalisme haruslah fleksibel agar tidak muda patah menghadapi arus globalisasi ataupun modernisasi. Bukan hanya rasa persamaan nasib, tapi juga persamaan tempat tinggal. Begitulah nasionalisme bekerja guna mempertahankan keberadaan nasib suatu bangsa.

Keberadaan nasionalisme sendiri sebagai sebuah kekuatan perlahan diganggu ketika tujuan bersama yang diusung oleh para nasionalis telah tercapai. Di era reformasi ini misalnya, masalah tentang nasionalisme kemudian muncul dalam nama etnosentris, dan etno nasionalis. Pembahasan tentang kedua hal itu akan dibahas di poin selanjutnya.

  1. Etnosentris
Etnosentris muncul ketika etnik diagung-agungkan keberadaannya. Etnosentris muncul ketika sekelompok manusia  terbiasa memandang suatu permasalah hanya dari sudut pandang budayanya sendiri. Dalam istilah modern Etnosentris disebut dengan rasisme. Etnosentris bisa saja muncul ketika rasa kedaerahan muncul dengan sangat kuat. Banyak hal yang bisa memicu munculnya rasa kedaerahan yang berlebihan, diantaranya persaingan antar daerah, daerahnya sering kali mendapat prestasi, hingga keinginan untuk dikenal banyak orang karena daerahnya yang maju.

Etnosentri bisa dikategorikan lawan dari nasionalisme karena ketika nasionalisme merupakan sentimen persatuan dari banyak daerah, maka etno sentrisme merupakan kebalikannya. Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain saling berlawanan yaitu antara lain :
  1. Etnosentrime Fleksibel
Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan    bereaksi terhadap  suatu realitas didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe ini lebih mampu beradaptasi dan menghargai perbedaan yang ada. Mereka tidak serta merta menjudge orang lain yang berbeda budaya dengan mereka sebagai kelompok yang terbelakang atau salah. Mereka belajar memahami budaya lain.
  1. Etnosentrisme Infleksibel
Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe ini cenderung tertutup dan tidak mau menerima pengaruh budaya lain. Golongan ini menganggap dirinya sebagai golongan yang paling baik sehingga tidak perlu menerima pengaruh dari luar budayanya yang tidak lebih baik dari budayanya sendiri. Kelompok ini biasanya tidak mampu menghargai perbedaan budaya yang ada dengan memandang kelompok lain lebih rendah.

Di Indonesia sendiri, masalah etnosentris sudah lama menjadi dalang berbagai kericuhan antar etnik. Mulai dari kasus Sampit di Kalimantan, hingga berbagai kasus tawuran di Ambon dan Poso. Tampaknya, hal yang dahulu telah berhasil memunculkan rasa nasionalisme di Indonesia, kini mulai menjadi boomerang yang memecahbelah rasa satu kesatuan sebagai Bangsa Indonesia. Etnosentrisme bukannya dilarang keberadaannya, karena kebanggaan atas tanah kelahiran adalah hal yang manusiawi. Tapi jadilah manusia yang bijak yang mampu memahami arti dari budaya itu sendiri. Budayamu, budayaku, budaya mereka mungkin berbeda, tapi budaya kita semua sama berharganya. Tidak ada daerah yang budayanya lebih baik dari yang lain, semuanya sama karena kita dalam bingkai Kebhineka Tunggal Ika an. Jangan sampai Sumpah Pemuda yang telah diikrarkan menjadi hancur lebur hanya karena masing-masing pemuda Indonesia gagal memahami sikap yang baik terhadap rasa bangga sebagai putra daerah masing-masing.
  1. Etnonasionalisme
Seperti halnya etnosentrisme, etnonasionalisme juga masalah yang bisa muncul dalam suatu Negara yang multi etnik. Etnonasionalisme dapat menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan kecurigaan dalam kehidupan bersama suatu masyarakat majemuk. Keragaman etnisitas seringkali dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh pihak-pihak untuk kepentingan politik secara terselubung (Chang,2004).

Etnonasionalisme sendiri merupakan suatu nasionalisme yang berbentuk kelompok solidaritas atau rasa komunitas yang berdasarkan etnisitas, merujuk pada perasaan subjektif yang memisahkan satu kelompok tertentu dari kelompok-kelompok yang lain (Zon, 2002). Pada dasarnya, inti dari etnonasionalisme ini dari penonjolan dari kelompok-kelompok etnis. Penonjolan ini dapat mengarah kepada agresivitas atau kebanggaan yang berlebihan terhadap kelompoknya. Hal ini sangat berbahaya bagi kesatuan sebuah Negara.

Di Indonesia sendiri, untuk meminimalisir etnonasionalisme akhirnya dimunculkanlah pa yang kemudian disebut dengan Otonomi Daerah.  Karena etnonasionalisme sering kali muncul sebagai sebuah keinginan menguasai sebuah wilayah geografis dengan penonjolan etnik.
  1. Penggobal vs Tradisionalis
Sebagaimana yang disebutkan diatas, kelompok pengglobal dan kelompok tradisionalis sering kali terlibat bentrok dalam banyak persoalaan. Kelompok pengglobal yang menginginkan dunia ini sesuai dengan tatanan yang mereka inginkan sedangkan kelompok tradisionalis mati-matian mempertahankan kebiasaan mereka selama ini. Permasalahan antar dua kubu ini mencakup dalam segala aspek, mulai dari aspek ekonomi, sosial budaya hingga politik. Dalam hal politik, glonalisasi memaksa para petinggi negeri dengan sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan. Mereka para pengglobal menggerakan kebebasan atas nama Hak Asasi Manusia. Sedangkan para tradisionalis turut serta berjuang menghidupkan kembali kejayaan masa lampau atau bahkan menutup diri dari pengaruh globalisasi dengan mengurung diri didalam rimba-rimba terdalam.

Persaingan ini terutama terlihat dalam hal sosial budaya dan ekonomi. Dalam hal sosial budaya, budaya pop membanjiri seluruh belahan dunia tanpa terkecuali. Lagu-lagu mereka, gaya busana mereka, bahkan hingga gaya hidup sehari-hari menjadi tren kalangan muda masa kini. Hal inilah yang kemudian menjadikan kaum tradisionalis berang. Dibeberapa tempat seperti Indonesia, budaya pop yang masuk benar-benar tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang penuh dengan adat ketimuran. Kalangan pengglobal berpendapat bahwa jaman terus berkembang dan manusia harus mengikuti perkembangan jaman. Caranya adalah dengan mengikuti mode-mode masa kini. Sedangkan kalangan tradisionalis berpendapat, hal-hal yang demikian itu dapat merusak moral apabila diikuti secara membabi buta tanpa melihat dimana kita tinggal. Dalam aspek ekonomi, kaum pengglobal yang sangat menjunjung tinggi ekonomi liberal. Segala macam jenis produk-produk mereka membanjiri ranah pasar di segala penjuru membuat para tradisionalis merasa tergusur. Kaum tradisionalis yang masih kekeuh bertahan dengan ketradisionalan mereka, sebagian besar akhirnya harus menerima nasib tertinggal. Para pengglobal dengan produksi massalnya, dengan sistem penjualan yang luar biasa , dan harga yang jauh lebih murah secara langsung membunuh para ekonom tradisionalis yang gagal beradaptasi dengan pasar.
  1. Masalah Globalisasi Terhadap Nasionalisme
Globalisasi memang ibarat pisau yang bermata dua bisa berefek positif, tapi juga tidak gagal untuk memberikan efek negative terhadap apa saja termasuk rasa nasionalisme. Banyak masyarakat yang tidak bisa memahami arti modernisasi dalam kehidupannya, secara mentah-mentah menerima apa saja yang disuguhkan oleh globalisasi dalam segala aspek kehidupannya. Pandangan bahwa segala sesuatu yang berbau luar negeri adalah sebuah modernitas dan dalam rangka mengikuti arus globalisasi, masyarakat dengan mudahnya mengikuti itu semua tanpa filter bahkan ada yang salah menggunakan filter.

Hal yang demikian juga banyak ditemukan di Indonesia. Dilihat dari sejarahnya, masyarakat Indonesia memang sudah terbiasa menerima pengaruh budaya asing yang hamper selalu sukses mengubah tatanan kehidupan masyarakat sepenuhnya. Namun, setelah era kemerdekaan dimana nasionalisme semakin ramai diperbincangkan, perubahan tatanan kehidupan ini tampaknya mulai dipermasalahkan. Mulai dari protes terhadap Jawasentrisme yang masih juga belum mampu dihilangkan oleh kalangan pemerintah hingga protes terhadap hilangnya nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Masyarakat Indonesia, dengan ribuan suku bangsa yang masing-masing berbeda bahasa di wilayah yang berbeda pula, disatukan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, membaur dalam satu Negara yang bernama Indonesia. Kesepakatan dalam sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dahulu kini mulai kembali mengalami siklusnya. Persaingan antar daerah dalam berbagai bidang, baik ekonomi maupun akademik, telah membuat sentiment kedaerahan menguat. Masing-masing pihak mengutamakan daerahnya terlebih dahulu jika pesaingnya adalah sama-sama daerah di Indonesia. Disamping itu, pemahaman-pemahaman yang keliru tentang modernisasi juga telah membuat Bangsa Indonesia mengalami krisis jati diri. Anggapan-anggapan bahwa budaya asli Indonesia sudah kuno dan ketinggalan jaman semakin menguat ketika pihak-pihak yang berkuasa dan berpengaruh juga tidak turut serta dalam upaya mempromosikan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia yang terkandung dalam setiap seni dan budaya yang ditinggalkan.

Masyarakat Indonesia dengan keinginan yang kuat menjadi Bangsa yang modern, telah gagal menggunakan kemodernannya itu. Bisa kita jumpai dalam berbagai kesempatan mereka yang lebih suka menggunakan bahasa asing daripada bahasa nasional. Mereka yang berpakaian terbuka dengan dalil fashion masa kini telah lupa bahwa bangsa ini menjunjung tinggi adat kesopanan yang mana pada masa sekarang ini tingkat sopan dalam berpakaian telah jauh berbeda dengan jaman Singhasari dulu.


Dalam ilmu sosiologi, faktor yang memperngaruhi interaksi sosial diantaranya adalah imitasi dan identifikasi (artikelsiana: 2014). Artinya perilaku manusia yang suka meniru sesuatu hal yang menarik bagi mereka adalah hal yang wajar. Manusia dapat merasakan tertarik apabila sesuatu hal tersebut merupakan hal yang baru bagi mereka. Dan begitulah yang terjadi dengan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, rasa ingin sama dengan hal baru tersebut, dalam masyarakat Indonesia sudah terlalu melampaui batas hingga mereka melupakan bahwa mereka bukanlah yang mereka tiru. Mereka lupa bahwa setiap manusia tidak bisa sama persis. Banyak remaja yang sangat menyukai Jepang, Korea, Paris, Inggris, hingga mereka melupakan negaranya sendiri. Pada awalnya mereka hanya tertarik dan ingin tahu, begitu tahu mereka menjadi mempelajari seluk beluk Negara tersebut hingga akhirnya muncullah rasa cinta terhadap Negara yang bukan tanah airnya tersebut.

No comments:

Post a Comment