- Apa itu Globalisasi?
Selama ini belum ada definisi khusus
mengenai arti kata Globalisasi yang telah disepakati bersama. Masing-masing
kelompok mempunyai definisi yang berbeda mengenai globalisasi. Seorang
politikus memakai kata globalisasi untuk apa saja yang mereka mau. Seorang
artis papan atas menggunakan kata globalisasi untuk menyebut proses modernitas.
Bagi kelompok borjuis Perancis dan pemimpin Asia, globalisasi adalah dominasi
Amerika. Bahkan bagi kaum skeptis, mereka memandang globalisasi hanyalah mitos
(Hirts & Thompson, 1996).
Salah satu ciri penting globalisasi,
sebagaimana sering disuarakan oleh kaum globalis adalah bahwa dunia dan
pasar-pasar kini terintegrasi dan terkoneksi satu sam lain dalam lingkungan
global yang tanpa batas. Akibatnya, gejolak mata uang pada suatu wilayah akan
berpengaruh terhadap wilayah lainnya. Globalisasi akan menjadi sebuah peluang
menjanjikan kemakmuran, demokrasi, dan keadilan jika dapat dikelola dengan
baik. Namun globalisasi bisa menjadi ancaman saat negara-negara mengurangi
pajak, tunjangan, dan kontrol lingkungan hidup untuk menarik masuk
perusahaan-perusahaan asing yang tidak berakar.
Globalisasi
adalah proses yang seringkali brutal dan kacau balau. Daftar mereka yang
menderita akibat globalisasi seringkali panjang dan banyak sekali. Dibanyak
negara daftar itu meliputi banyak orang miskin, sebagian besar orang tak
berpendidikan, dan banyak orang yang bekerja di sektor publik. Globalisasi
menjadikan anak-anak harus bekerja untuk membiarkan anak-anak lain belajar.
Dengan kata lain salah satu pihak diharuskan menderita untuk memberi kesempatan
bagi yang lain.
Globalisasi
adalah salah satu penyebab mengapa negeri-negeri Barat kehilangan pekerjaan
manufakturing dan menggantikannya dengan pekerjaan jasa. Faktanya, pekerjaan
jasa memang memberikan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
pekerjaan manufakturing.
Globalisasi
juga merupakan kutukan tak langsung bagi lingkungan hidup di seluruh wilayah
bola dunia. Negara-negara berkembang melemahkan kebijakan terhadap lingkungan
hanya demi menarik minat investor asing untuk menanamkan modal di negaranya.
Pada 1998, Cina dibawah tekanan Bank Dunia mengakui bahwa polusi di Beijing
enam kali lipat lebih buruk disbanding dengan Los Angeles. Globalisasi memaksa
negeri-negeri, perusahaan-perusahaan, dan orang-orang untuk bersaing dengan
yang terbaik di dunia hingga menimbulkan suatu tekanan yang besar.
Ciri
lain dari globalisasi adalah bahwa sambil memberikan kebebasan ia pun
menekankan tanggung jawab. Tanggung jawab ini bukan hanya dibebankan kepada
mereka yang mengikuti proses globalisasi, tapi juga mereka yang berhasil
menjadi pemenang dalam proses globalisasi. Menjadi pemenang dan pengikut
globalisasi tampaknya menjadi pilihan akhir untuk dapat bertahan di abad ini. bukan
saja karena globalisasi telah merambah banyak sector, tapi juga karena
globalisasi telah menjadi tuntutan hidup dan kehidupan.
- Nasionalisme, jati diri
ataukan ideologi?
Nasionalisme
sering disebut sebagai suatu sebutan ketika sekat pembeda kesukuan dan
kedaerahan telah berhasil dihilangkan. Nasionalisme dimunculkan ketika
keragaman yang ada dijadikan satu semangat guna menyelamatkan kepentingan
bersama sebagai sebuah bangsa.nasionalisme tidak bisa diartikan sebagai suatu
hal dari sebuah sudut pandang kebangsaan saja. Nasionalisme bukan hanya
persoalan satu negara, satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa.
Nasionalisme bisa diartikan dengan begitu banyak sudut pandang.
Ernest
Gillner menyebutkan Nasionalisme dipahami sebagai suatu prinsip yang beranggapan
bahwa unit politik dan identitas nasional terjadi keselarasan dalam praktek.
Sedangkan E.J Hobsbawn mengartikan nasionalisme sebagai bangsa dalam suatu
kesatuan primer dab tidak mengalami perubahan. Bahkan dalam periode sebelum
kemerdekaan, nasionalisme bukanlah suatu hal yang tunggal. Nasionalisme
dipahami sebagai penyatuan nasional, budaya bangsa, dan fenomena ideologis yang
masing-masing hal merujuk pada hal yang berbeda.
Nasionalisme
sebagai penyatuan nasional merujuk pada pembentukan sebuah bangsa yang terdiri
dari keberagaman atau kemajukan. Nasionalisme dianggap sebagai wujud pengikatan
dari berbagai macam hal yang berada dalam sebuah wilayah yang pada akhirnya
disebut dengan negara. Nasionalisme menyatukan mereka yang berkeinginan sama
sebagai sebuah bangsa yang merdeka.
Nasionalisme
sebagai budaya bangsa dipahami sebagai proses membangun kesadaran nasional
untuk menghadapi pengaruh modernisasi internasional. Entah itu paham, ideologi,
ataupun nasionalisme dari bangsa lain. Nasionalisme dianggap sebagai suatu
kumpulan yang berhasil membedakan satu bangsa dengan bangsa lain. Hal ini
kemudian menjadikan nasionalisme sebagai penyaring budaya asing yang masuk ke
dalam suatu wilayah.
Nasionalisme
sebagai fenomena ideologis sengaja dimunculkan guna memumculkan sebuah perasaan
sebagai satu kesatuan yang berbeda dengan bangsa lain. Nasionalisme menjadikan
sekumpulan manusia yang berada dalam suatu wilayah menjadi tumbuh rasa memiliki
dan keinginan untuk emlindungi wilayah tersebut.
Sampai
disini, nasionalisme tidak bisa dipahami sebagai jati diri bangsa yang tidak
boleh hilang keberadaannya, melainkan juga sebagai suatu dinding penguat bagi
keberadaan suatu bangsa itu sendiri. Nasionalisme bisa saja menjadi ideologi
karena rasa memiliki suatu wilayah itu dimiliki oleh sekumpulan orang. Karena hal yang demikian, maka nasionalisme
tidak bisa bersifat kaku. Nasionalisme haruslah fleksibel agar tidak muda patah
menghadapi arus globalisasi ataupun modernisasi. Bukan hanya rasa persamaan
nasib, tapi juga persamaan tempat tinggal. Begitulah nasionalisme bekerja guna
mempertahankan keberadaan nasib suatu bangsa.
Keberadaan
nasionalisme sendiri sebagai sebuah kekuatan perlahan diganggu ketika tujuan
bersama yang diusung oleh para nasionalis telah tercapai. Di era reformasi ini
misalnya, masalah tentang nasionalisme kemudian muncul dalam nama etnosentris,
dan etno nasionalis. Pembahasan tentang kedua hal itu akan dibahas di poin
selanjutnya.
- Etnosentris
Etnosentris
muncul ketika etnik diagung-agungkan keberadaannya. Etnosentris muncul ketika
sekelompok manusia terbiasa memandang
suatu permasalah hanya dari sudut pandang budayanya sendiri. Dalam istilah
modern Etnosentris disebut dengan rasisme. Etnosentris bisa saja muncul ketika
rasa kedaerahan muncul dengan sangat kuat. Banyak hal yang bisa memicu
munculnya rasa kedaerahan yang berlebihan, diantaranya persaingan antar daerah,
daerahnya sering kali mendapat prestasi, hingga keinginan untuk dikenal banyak
orang karena daerahnya yang maju.
Etnosentri bisa dikategorikan lawan dari nasionalisme karena ketika
nasionalisme merupakan sentimen persatuan dari banyak daerah, maka etno
sentrisme merupakan kebalikannya. Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain
saling berlawanan yaitu antara lain :
- Etnosentrime
Fleksibel
Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini
dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara
tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan pada
cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan
latar belakang budayanya. Tipe ini lebih mampu beradaptasi dan menghargai
perbedaan yang ada. Mereka tidak serta merta menjudge orang lain yang berbeda
budaya dengan mereka sebagai kelompok yang terbelakang atau salah. Mereka
belajar memahami budaya lain.
- Etnosentrisme
Infleksibel
Etnosentrisme ini dicirikan dengan
ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa
memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami
perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe ini cenderung
tertutup dan tidak mau menerima pengaruh budaya lain. Golongan ini menganggap
dirinya sebagai golongan yang paling baik sehingga tidak perlu menerima
pengaruh dari luar budayanya yang tidak lebih baik dari budayanya sendiri.
Kelompok ini biasanya tidak mampu menghargai perbedaan budaya yang ada dengan
memandang kelompok lain lebih rendah.
Di Indonesia sendiri, masalah etnosentris
sudah lama menjadi dalang berbagai kericuhan antar etnik. Mulai dari kasus
Sampit di Kalimantan, hingga berbagai kasus tawuran di Ambon dan Poso. Tampaknya,
hal yang dahulu telah berhasil memunculkan rasa nasionalisme di Indonesia, kini
mulai menjadi boomerang yang memecahbelah rasa satu kesatuan sebagai Bangsa
Indonesia. Etnosentrisme bukannya dilarang keberadaannya, karena kebanggaan
atas tanah kelahiran adalah hal yang manusiawi. Tapi jadilah manusia yang bijak
yang mampu memahami arti dari budaya itu sendiri. Budayamu, budayaku, budaya
mereka mungkin berbeda, tapi budaya kita semua sama berharganya. Tidak ada
daerah yang budayanya lebih baik dari yang lain, semuanya sama karena kita
dalam bingkai Kebhineka Tunggal Ika an. Jangan sampai Sumpah Pemuda yang telah
diikrarkan menjadi hancur lebur hanya karena masing-masing pemuda Indonesia
gagal memahami sikap yang baik terhadap rasa bangga sebagai putra daerah
masing-masing.
- Etnonasionalisme
Seperti halnya etnosentrisme,
etnonasionalisme juga masalah yang bisa muncul dalam suatu Negara yang multi
etnik. Etnonasionalisme dapat menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan kecurigaan
dalam kehidupan bersama suatu masyarakat majemuk. Keragaman etnisitas
seringkali dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh pihak-pihak untuk kepentingan
politik secara terselubung (Chang,2004).
Etnonasionalisme sendiri merupakan suatu nasionalisme
yang berbentuk kelompok solidaritas atau rasa komunitas yang berdasarkan
etnisitas, merujuk pada perasaan subjektif yang memisahkan satu kelompok
tertentu dari kelompok-kelompok yang lain (Zon, 2002). Pada dasarnya, inti dari
etnonasionalisme ini dari penonjolan dari kelompok-kelompok etnis. Penonjolan
ini dapat mengarah kepada agresivitas atau kebanggaan yang berlebihan terhadap
kelompoknya. Hal ini sangat berbahaya bagi kesatuan sebuah Negara.
Di Indonesia sendiri, untuk meminimalisir
etnonasionalisme akhirnya dimunculkanlah pa yang kemudian disebut dengan
Otonomi Daerah. Karena etnonasionalisme
sering kali muncul sebagai sebuah keinginan menguasai sebuah wilayah geografis
dengan penonjolan etnik.
- Penggobal vs Tradisionalis
Sebagaimana yang disebutkan diatas,
kelompok pengglobal dan kelompok tradisionalis sering kali terlibat bentrok
dalam banyak persoalaan. Kelompok pengglobal yang menginginkan dunia ini sesuai
dengan tatanan yang mereka inginkan sedangkan kelompok tradisionalis
mati-matian mempertahankan kebiasaan mereka selama ini. Permasalahan antar dua
kubu ini mencakup dalam segala aspek, mulai dari aspek ekonomi, sosial budaya
hingga politik. Dalam hal politik, glonalisasi memaksa para petinggi negeri
dengan sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan. Mereka para
pengglobal menggerakan kebebasan atas nama Hak Asasi Manusia. Sedangkan para
tradisionalis turut serta berjuang menghidupkan kembali kejayaan masa lampau
atau bahkan menutup diri dari pengaruh globalisasi dengan mengurung diri
didalam rimba-rimba terdalam.
Persaingan ini terutama terlihat dalam hal
sosial budaya dan ekonomi. Dalam hal sosial budaya, budaya pop membanjiri
seluruh belahan dunia tanpa terkecuali. Lagu-lagu mereka, gaya busana mereka,
bahkan hingga gaya hidup sehari-hari menjadi tren kalangan muda masa kini. Hal
inilah yang kemudian menjadikan kaum tradisionalis berang. Dibeberapa tempat
seperti Indonesia, budaya pop yang masuk benar-benar tidak sesuai dengan budaya
Indonesia yang penuh dengan adat ketimuran. Kalangan pengglobal berpendapat
bahwa jaman terus berkembang dan manusia harus mengikuti perkembangan jaman.
Caranya adalah dengan mengikuti mode-mode masa kini. Sedangkan kalangan
tradisionalis berpendapat, hal-hal yang demikian itu dapat merusak moral apabila
diikuti secara membabi buta tanpa melihat dimana kita tinggal. Dalam aspek
ekonomi, kaum pengglobal yang sangat menjunjung tinggi ekonomi liberal. Segala
macam jenis produk-produk mereka membanjiri ranah pasar di segala penjuru
membuat para tradisionalis merasa tergusur. Kaum tradisionalis yang masih
kekeuh bertahan dengan ketradisionalan mereka, sebagian besar akhirnya harus
menerima nasib tertinggal. Para pengglobal dengan produksi massalnya, dengan
sistem penjualan yang luar biasa , dan harga yang jauh lebih murah secara
langsung membunuh para ekonom tradisionalis yang gagal beradaptasi dengan
pasar.
- Masalah Globalisasi Terhadap Nasionalisme
Globalisasi memang ibarat pisau yang
bermata dua bisa berefek positif, tapi juga tidak gagal untuk memberikan efek
negative terhadap apa saja termasuk rasa nasionalisme. Banyak masyarakat yang
tidak bisa memahami arti modernisasi dalam kehidupannya, secara mentah-mentah
menerima apa saja yang disuguhkan oleh globalisasi dalam segala aspek
kehidupannya. Pandangan bahwa segala sesuatu yang berbau luar negeri adalah
sebuah modernitas dan dalam rangka mengikuti arus globalisasi, masyarakat
dengan mudahnya mengikuti itu semua tanpa filter bahkan ada yang salah
menggunakan filter.
Hal yang demikian juga banyak ditemukan di
Indonesia. Dilihat dari sejarahnya, masyarakat Indonesia memang sudah terbiasa
menerima pengaruh budaya asing yang hamper selalu sukses mengubah tatanan
kehidupan masyarakat sepenuhnya. Namun, setelah era kemerdekaan dimana
nasionalisme semakin ramai diperbincangkan, perubahan tatanan kehidupan ini
tampaknya mulai dipermasalahkan. Mulai dari protes terhadap Jawasentrisme yang
masih juga belum mampu dihilangkan oleh kalangan pemerintah hingga protes
terhadap hilangnya nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat Indonesia. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Masyarakat Indonesia, dengan ribuan suku
bangsa yang masing-masing berbeda bahasa di wilayah yang berbeda pula,
disatukan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, membaur dalam satu Negara yang
bernama Indonesia. Kesepakatan dalam sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928
dahulu kini mulai kembali mengalami siklusnya. Persaingan antar daerah dalam
berbagai bidang, baik ekonomi maupun akademik, telah membuat sentiment
kedaerahan menguat. Masing-masing pihak mengutamakan daerahnya terlebih dahulu
jika pesaingnya adalah sama-sama daerah di Indonesia. Disamping itu,
pemahaman-pemahaman yang keliru tentang modernisasi juga telah membuat Bangsa
Indonesia mengalami krisis jati diri. Anggapan-anggapan bahwa budaya asli
Indonesia sudah kuno dan ketinggalan jaman semakin menguat ketika pihak-pihak
yang berkuasa dan berpengaruh juga tidak turut serta dalam upaya mempromosikan
nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia yang terkandung dalam setiap seni dan budaya
yang ditinggalkan.
Masyarakat Indonesia dengan keinginan yang
kuat menjadi Bangsa yang modern, telah gagal menggunakan kemodernannya itu.
Bisa kita jumpai dalam berbagai kesempatan mereka yang lebih suka menggunakan
bahasa asing daripada bahasa nasional. Mereka yang berpakaian terbuka dengan
dalil fashion masa kini telah lupa bahwa bangsa ini menjunjung tinggi adat
kesopanan yang mana pada masa sekarang ini tingkat sopan dalam berpakaian telah
jauh berbeda dengan jaman Singhasari dulu.
Dalam ilmu sosiologi, faktor yang
memperngaruhi interaksi sosial diantaranya adalah imitasi dan identifikasi
(artikelsiana: 2014). Artinya perilaku manusia yang suka meniru sesuatu hal
yang menarik bagi mereka adalah hal yang wajar. Manusia dapat merasakan
tertarik apabila sesuatu hal tersebut merupakan hal yang baru bagi mereka. Dan
begitulah yang terjadi dengan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, rasa ingin
sama dengan hal baru tersebut, dalam masyarakat Indonesia sudah terlalu
melampaui batas hingga mereka melupakan bahwa mereka bukanlah yang mereka tiru.
Mereka lupa bahwa setiap manusia tidak bisa sama persis. Banyak remaja yang
sangat menyukai Jepang, Korea, Paris, Inggris, hingga mereka melupakan
negaranya sendiri. Pada awalnya mereka hanya tertarik dan ingin tahu, begitu
tahu mereka menjadi mempelajari seluk beluk Negara tersebut hingga akhirnya
muncullah rasa cinta terhadap Negara yang bukan tanah airnya tersebut.
No comments:
Post a Comment