Negeri Jawa hanya memiliki
(barang dagangan) kaum pagan yaitu : empat atau lima jenis beras yang besarnya
tak terhitung, beras – beras ini sangat putih dan kualitasnya lebih baik
dibandingkan beras dari wilayah manapun. Tempat ini juga menghasilkan sapi
jantan, sapi, domba, kambing, kerbau yang tak terhitung banyaknya dan tentu
saja babi – di seluruh penjuru pulau dipenuhi oleh binatang ini.
Blog referensi seputar Sejarah Indonesia, temuan Arkeologi, dan opini Pendidikan. Mengulas materi pembelajaran IPS, pembahasan soal, hingga catatan budaya dan kondisi sosial masyarakat nusantara secara mendalam dan terpercaya.
Menu
Sabtu, 24 Agustus 2019
Perekonomian Negeri Jawa Dalam Catatan Tome Pires
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Sampai Kapan Pelajaran Sejarah Terasa Tidak Penting?
Dari kalian semua, saya sangat yakin, ada banyak sekali yang
setuju atau paling tidak pernah setuju dengan judul di atas. Pelajaran sejarah
adalah elajaran yang membosankan, tidak jelas, dan tidak penting juga. Kita
hidup hari ini dan masa depan, kenapa harus selalu mengulik peristiwa di masa
lalu. Orang bijak pernah berkata, untuk menghadapi masa depan, manusia harus
belajar dari kesalahan masa lalu, dari pengalaman. Seharusnya demikian, tetapi
pelajaran sejarah di negeri ini belum mampu menyentuh ke ranah yang sedemikian
tinggi nya itu. Jangankan membuat manusia belajar dari kesalahan, membuat
manusia mengerti apa kesalahannya saja masih belum sepenuhnya berhasil. Sudah
bertahun lama nya saya memendam pemikiran ini, tetapi baru menemukan jawabannya
setelah perbincangan singkat dengan seorang guru SD pada pameran foto candi
bersama komunitas beberapa waktu yang lalu.
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)