Aku adalah anak desa. Hal tersebut tidak lagi diragukan. Aku lahir di desa, besar di desa, dan akhirnya aku harus meninggalkan desa yang ku cintai ini demi sebuah pendidikan. Berat memang... tapi ini adalah sebuah keharusan jika aku ingin mewujudkan mimpi-mimpi ku. Aku yang terbiasa hidup dibawah naungan pohon-pohon hijau yang kini mulai lelah mempertahankan keberadaannya masing-masing, harus bisa beradaptasi dengan bayang-bayang gedung pencakar langit di kota besar.
Aku akan merindukan aroma rerumputan yang dibasahi embun ini. Kaki ini tak akan menjejakkan diri lagi untuk sementara waktu pada lumpur lumpur sawah yang begitu lembut. Juga, tak akan aku jumpai Kerbau-Kerbau yang bersanding dengan burung burung kuntul di samping sungai yang begitu tenang. Jika selama ini yang ku jadikan penenang pikiran adalah mereka semua, lalu dimanakah aku bisa menenangkan jiwaku esok saat aku pergi dari sini?
dan satu lagi.... Di kota besar, langit malam tidak lagi berwarna hitam kelam dengan taburan bintang. Tapi hitam kecoklatan karena snar lampu jalanan. tak ada lagi bintang gemintang yang menemani malam ku. Hanya ada suara bising kendaraan dan riuh manusia yang berjejalan.
No comments:
Post a Comment