Menu

Selasa, 16 Desember 2014

Ironi Tanah Air Kecilku

Lumajang bagi banyak orang mungkin hanyalah sebuah kota kecil yang tak ada artinya. Namun dalam pandangan mataku, Lumajang jauh lebih berarti dari apa yang mereka pikirkan. Aku lahir dan besar di Bumi Lumajang ini, Tanah Air Kecilku yang amat aku cintai. Dari ujung Utara yang tandus hingga ujung selatan yang subur penuh bahan tambang, tak pernah ku lihat hal-hal yang penuh dengan kehijauan selain di Bumi Lumajang ini. Daerah yang pernah menjadi Lumbung padi Jawa Timur ini penuh dengan hamparan hijau permadani padi maupun begitu banyak rumpun pisang.

Kamis, 11 Desember 2014

Logika Mystika ataukah Ilmu Pasti????

sebelumnya, ini hanyalah pemikiran pribadi saya setelah membaca karya Tan Malaka yang berjudul MADILOG ( MATERIALISME, DIALEKTIKA, LOGIKA). meskipun membaca baru sampai pertengahan bab III, tapi otak ini rasanya sudah seperti diperas habis-habisan. yang menarik untuk dibahas sejauh ini adalah pemikiran Tan Malaka tentang Logika Mystika dan Ilmu pasti. sebagai tokoh komunis, saya sudah bisa menduga jika Tan Malaka pasti akan condong terhadap Ilmu Pasti dan memang begitulah adanya.

Senin, 13 Oktober 2014

Candi Agung

Inventarisasi  Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam di Kab. Lumajang
Nama Situs :  Candi Agung (Candi Gelisah)
Apa potensi menarik dari situs tersebut :
Candi Agung merupakan salah satu peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Lumajang. Situs ini berupa struktur candi yang bisa dibilang paling baik yang pernah ditemukan di Lumajang. Letaknya yang ditengah-tengah persawahan, membuat suasana sekitar sangat menyenangkan untuk tamasya.
Candi ini memiliki sebuah lubang besar di salah satu sisinya. Ada yang mengatakan lubang tersebut diambil oleh pencuri yang mengambil peripih yang memang selalu ada didalam makam-makam raja zaman dahulu. Namun adapula yang mengatakan, bahwa lubang tersebut dibuat saat dulu Pemerintah Belanda memugar candi ini dan mengambil peripihnya.

Stasiun Tempeh dan Stasiun Mojoer Satu

apa yang pertama kali ku pikirkan saat ada diskusi menyangkut peninggalan kolonial di Lumajang? tidak ada. Aku tidak pernah berfikir jika stasiun tempeh itu pantas dijadikan cagar budaya, aku tidak pernah mengerti jika gudang pertanian dan gudang tembakau di Lempeni juga merupakan peninggalan Kolonial. dan yang paling membuat ku heran, kenapa runtuhan jembatan Mujur yang kudatangi setiap Minggu, tidak pernah masuk ke kepalaku sebagai tempat yang bersejarah -_-

Kamis, 25 September 2014

Candi Bethari Durga

Inventarisasi  Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam di Kab. Lumajang
Nama Situs :  Candi Betari Durga
Apa potensi menarik dari situs tersebut :
Candi Betari Durga merupakan sebuah Candi yang baru ditemukan beberapa tahun lalu. Letaknya yang berada disekitar persawahan dan lokasi pembuatan batu bata, membuat tempat tersebut sangat menyenangkan untuk dikunjungi. Sebelah barat candi ini adalah kebun jeruk milik warga, dan sebelah selatan adalah tempat pembuatan batu bata jadi, selain mengunjungi candi, kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan batu bata.

Rabu, 16 Juli 2014

Penggalangan Dana Untuk Museum Swadaya Situs Biting

Senin, 14 Juli 2014, beberapa siswa dari SMA/SMK di Kabupaten Lumajang(SMAN TEMPEH, SMKN TEMPEH, SMK MUHAMMADIYAH) melakukan aksi penggalangan dana disekitar tugu Adipura dan Alun Alun kota Lumajang. Penggalangan dana ini sendiri bertujuan untuk membantu Museum Swadaya Masyarakat di situs Biting yang kondisinya sudah sangat parah, bahkan dibeberapa bagian sudah ambrol. 
Karena tidak adanya bantuan dari pemerintah, maka diadakanlah upaya penggalangan dana untuk museum tersebut, salah satunya seperti yang telah dilakukan pada hari Senin sore tersebut.

Rabu, 18 Juni 2014

Menolak Lupa: Satu Tahun Beribu Kisah Bersama XI IPA 2 SMATA (2013-2014)

Ada sebuah pepatah lama yang bilang, "Tak kenal maka tak sayang, kalau sudah sayang sulit untuk dilupakan." Itulah kalimat yang paling menggambarkan perjalanan kami, 23 anak manusia yang dipertemukan di depan Lab Komputer SMATA, Juli 2013 lalu.

Dari yang awalnya sok kenal sampai akhirnya jadi keluarga, inilah sekelumit memori tentang kami, Science Two, yang ditulis oleh sahabat saya, Tri Rahayuni.

Para Pemegang Takhta Kelas

Kelas kami dipimpin oleh Gayuh Fatoni, sosok ketua kelas yang (katanya) punya kedudukan tertinggi di SMATA, meski kami sering menjadikannya "kurir" antar jemput tugas. Ada juga Ruhul Qudus, sang aktivis Green Care yang jago stand-up comedy tapi hobi bolos belajar demi download video YouTube.

Urusan administrasi dipegang oleh Rizky Budi yang tulisannya lebih rapi dari font Times New Roman, serta duet bendahara maut: Siska "Miss Galau" dan Tri Rahayuni (si penulis asli catatan ini).

Kutu Buku, Tukang Galau, dan Para Pejuang Nilai

Di sudut kelas, ada sosok yang paling diingat (dan kebetulan itu adalah saya sendiri, hehe

Wulan alias Gem. Basecamp  kalau bukan perpus ya musholla. Kata teman-teman, saya ini "kutu buku" yang jago debat dan sangat terobsesi dengan sejarah Lumajang.

Lalu ada Riyah (Roziatul) yang alim banget, Ina Minatus yang mungil dan jago jualan online, hingga Hidayatul Aliyah yang wajahnya menggemaskan mirip karakter Pou.

Warna-Warni Persahabatan

Persahabatan kami bukan tanpa bumbu. Ada duo Merinda & Yesi yang hobi berantem tapi tak terpisahkan, juga duo Lorenza & Azizah yang kalau dipanggil "Zah" pasti menengok dua-duanya.

Kelas juga nggak akan ramai tanpa:

  • Salis: Yang selalu sumringah meski sering jadi incaran guru.

  • Ragil: Sang fotografer dengan kamera DSLR dan rambut keriting ikoniknya.

  • Damas: Sosok "Bapak" yang paling susah kalau ditarik uang kas.

  • Naufal Hanif: Sang komandan Paskibra yang lebih sering dapat dispensasi daripada masuk kelas.

Terima Kasih, Bu Samanah

Semua kegilaan kami ini diredam oleh kesabaran Ibu Siti Samanah, S.Pd., wali kelas sekaligus guru Biologi kami yang luar biasa tabah menghadapi murid-murid nyebelin seperti kami.

Suatu Saat Kita Akan Berkumpul Lagi

Pagi-pagi nyontek PR bareng, futsal, lomba takbir, hingga momen classmeeting adalah kepingan puzzle yang membentuk masa remaja kami. Meskipun sekarang (tahun 2026) kita sudah menempuh jalan masing-masing, kenangan di XI IPA 2 akan selalu punya tempat spesial.

“Jarene berubah rekkk...” Jangan pernah lupakan memori manis kita di Science Two!

Senin, 16 Juni 2014

Contoh Karya Tulis Remaja Dalam Bahasa Inggris. RANU GOLDEN TRIANGEL, LUMAJANG

RANU GOLDEN TRIANGEL, LUMAJANG

Sabtu, 07 Juni 2014

exploring the natural of Tambuh Mountain, Pasirian Lumajang East Java



Petualangan tak terlupakan



                                                                  Pendakian Pertama



                                                                   Pendakian Kedua





hari Libur tiba... pagi itu ditemani dengan sinar Matahari yang mengintip malu dicelah-celah pepohonan kami berangkat.
bagi masyarakat luar daerah Tempeh dan Pasirian, nama Puncak Rangga dan Gunung Tambuh pastilah terdengar asing. Namun, bagi kami, kedua bukit yang menyerupai gunung itu adalah hal yang sangat familiar.
memang, sampai saat ini satwa liar didaerah tersebut masih ada meskipun tidak sebanyak dulu.
Kijang, Monyet, hingga burung-burung langkapun sering dijumpai masyarakat disana.
Kami mengawali perjalanan ini dengan mencari kendaraan yang bisa mengangkut kami sampai ke desa Condro, Pasirian. ada beberapa pilihan untuk kesana. yang pertama naik Angkutan umum atau menumpang truk.
pada perjalanan pertama, kami memilih untuk menumpang mobil PLN. dan pada perjalanan yang kedua kami memilih untuk naik angkutan umum karena banyaknya anak yang ikut.
pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan semua yang turut menikmati perjalanan ini adalah saat dimana kami menempuh jalur yang tidak pernah dilalui pendaki lain. kami harus berjalan merayap di samping tebing batu yang berada di Puncak Rangga, tanpa pengaman. masih jelas dibenak saya saat pertama kali saya mencobanya. yang ada dalam benak saya saat itu, adalah jika saya terjatuh dari tebing ini, saya pasti mati. tapi tentu saya tidak terjatuh. Thanks for mas Tulus yang membantu saya menuruni batu di Puncak Rangga untuk pertama kali dan kepada mas Salis yang membantu saya turun di pendakian ke dua.

Setelah menyelesaikan Puncak Rangga yang memiliki dua puncak itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambu dengan menyeberangi persawahan. di Gunung Tambu inilah fisik kami benar-benar diuji. Dengan manisnya, Bang Karim memutuskan untuk melewati tangga yang menjulang keatas hingga ke bawah pohon beringin diatas gunung Tambu. Jujur saya akui, menaiki tangga dengan mendaki Puncak Rangga jauh lebih melelahkan menaiki tangga. sampai diatas dengan nafas yang tinggal separuh, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. setelah itu, petualangan yang seru dimulai.


tangga menuju puncak Gunung Tambuh

selama ini, anak-anak Tempeh dan Pasirian cenderung meremehkan Gunung Tambu tanpa mereka ketahui hal yang terkandung didalamnya. saya akui jika saya terkejut. betapa tidak... jika didalam pepohonan Gunung Tambu tersembunyi hutan Pinus dan Hutan Pandan yang sangat mempesona. sayang sekali saya tidak sempat mengambil gambarnya. belum lagi pemandangan antara laut, kebun kelapa, rumah penduduk dengan Gunung Gajah Mungkur yang berbaring dengan anggunnya, menambah rasa kagum saya terhadap gunung-gunungan satu ini.

selama perjalanan, anak-anak asik berceloteh ria termasuk juga saya, yang tidak henti-hentinya mengungkapkan rasa kagum kepada pemandangan yang terhampar didepan mata. tak terasa, kami sampai diantara puncak 1 dan Puncak 2 gunung Tambuh. Kejutan didapat. Bang Karim memutuskan untuk memotong jalur dengan melewati jalur ekstrim. pertama kali dalam hidup saya harus menuruni lembah kalu tidak bisa disebut jurang tanpa menggunakan alat apapun. hanya berbekal tekad dan keberanian, saya hanya bisa berpegangan rumput dan tangan kawan didepan saya, yang dengan baiknya sering mengulurkan tangannya saat saya terjatuh. Thank You so much mas Syarif... :). rumputnya pun dengan manisnya kebanyakan memiliki duri. lengkap sudah penderitaan saya. tak ada pegangan yang enak, jalur licin karena habis hujan ditambah medan yang sangat curam. dengan sangat beruntung saya katakan, betapa saya sangat bersyukur karena terpeleset 3 kali tapi masih baik-baik saja kecuali dengan keadaan celana yang sudah bercampur lumpur. sekali lagi, medan tidak menghendaki kami untuk berjalan, tapi menginginkan kami untuk 'mengesot' selangkah demi selangkah. ;(

dan puncak kejutan dari petualangan kami terhampar didepan mata. 4 tebing batu yang semakin lama kemiringannya semakin mendekati 90 derajat dan kami harus menuruninya tanpa bantuan alat sama sekali. hanya mengandalkan bantuan dari teman-teman yang dengan manisnya telah stand by untuk menjaga kami yang berjenis kelamin wanita. Thanks Guys.... :).
 
                                    bersama teman-teman setelah berhasil menuruni bebatuan

bukan hal mudah memang, namun akhirnya kami mampu untuk melewati rintangan-rintangan itu. kunci yang kami dapatkan adalah semangat, pantang menyerah, saling menolong, dan kekompakan. kami terutama saya pribadi mendapat pelajaran berharga yang tak bisa dinilai dengan apapun. hidup ini harus diperjuangkan. hidup ini tidak hanya tentang bagaimna cara menuju sukses dan menjadi kaya, berpangkat, lalu dihormati orang banyak. bukan itu. terkadang kita memang sering lupa jka jiwa kita juga memiliki hak untuk merasakan apa yang disukainya. kita terlalu menjaga image kita di masyarakat hingga kita lupa tentang bagaimana diri kita yang sebenarnya. kita terlalu sering berbuat baik pada orang lain, tapi kita sangat jarang berbuat baik pada diri kita sendiri. kita terlalu sering mengikat diri kita pada aturan agar kita dinilai baik oleh orang lain hingga kita tidak pernah membiarkan diri kita bebas menjalankan apa yang kita mau.

so, jadilah diri sendiri selama itu tidak melanggar agama dan hukum. selama itu baik bagi diri kita dan membuat hidup kita lebih bahagia.... :)

 
      Bersama mas Syarif                                             Bersama mbak Pratiwi


Kamis, 05 Juni 2014

Menjemput Kenangan di Condro: Antara Puncak Rangga, Tambuh, dan Obsesi Pertamaku pada Pandan Laut

Ditulis pada tahun 2026, mengenang perjalanan 2013.

Siang itu, ingatan saya melayang kembali ke masa putih abu-abu. Sekitar tahun 2013 atau 2014, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

Waktu itu, dunia terasa begitu sederhana. Cukup dengan modal nekat dan uang saku pas-pasan, saya bersama enam orang teman berkumpul di depan sekolah tercinta, SMAN Tempeh. Tujuan kami hari itu bukan mall atau kafe, melainkan sebuah petualangan kecil ke selatan Lumajang. Kami menumpang angkot (kami biasa menyebutnya "Kol") berwarna kuning-biru yang legendaris, melaju membelah jalanan menuju Pasirian.

Puncak Rangga: Pemanasan di Musim Kemarau

Sopir angkot menurunkan kami di tepi jalan raya Desa Condro, tepatnya di area yang kami kenal sebagai jalan Puncak Rangga.

Musim kemarau sedang berada di puncaknya. Langit cerah tanpa awan, menyisakan udara kering yang menusuk kulit. Bukit pertama yang kami tuju tidak tampak hijau royo-royo, melainkan didominasi warna kecokelatan khas meranggas.

Dari jalan raya, kami masuk ke gang perkampungan penduduk. Tak jauh, hanya sekitar 200 meter berjalan kaki, kami sudah tiba di kaki bukit.

Bagi pemula yang jarang berolahraga fisik seperti kami, bukit ini sangat ramah. Tidak terlalu tinggi, tanjakannya pun sopan. Namun, hadiah yang diberikan luar biasa. Menjelang puncak, napas kami yang terengah-engah langsung terbayar lunas. Di kejauhan, hamparan sawah hijau membentang luas, berbatasan langsung dengan garis biru Samudera Hindia.

Konon, di bukit ini masih ada hewan liarnya. Tapi siang itu, sepertinya mereka enggan menampakkan diri karena panas yang menyengat. Kami beristirahat sejenak, meluruskan kaki sebelum melanjutkan perjalanan ke bukit tetangga.

Gunung Tambuh: Tangga, Makam, dan Awal Sebuah Obsesi

Perjalanan berlanjut. Kami turun ke sisi balik bukit, menyusuri pematang sawah dan perkebunan warga. Target berikutnya sudah terlihat di depan mata: Gunung Tambuh (atau Bukit Tambu).

Berbeda dengan bukit pertama yang masih alami (tanah setapak), Gunung Tambuh sudah bersolek. Ada deretan anak tangga semen yang siap menuntun kami hingga ke puncak. Kami menapaki tangga demi tangga, melewati sebuah area yang dikeramatkan warga, yakni sebuah makam panjang. Suasananya hening, magis, namun menenangkan.

Begitu anak tangga berakhir, kami memasuki area hutan kecil di puncak bukit. Jalannya setapak namun cukup lebar. Di sinilah, untuk pertama kalinya, mata saya dimanjakan oleh vegetasi khas pesisir selatan yang begitu eksotis. Pohon cemara meliuk ditiup angin, dan tentu saja... Pandan Laut.

Di puncak Tambuh ini, saya berdiri di titik pertemuan dua raksasa:

  • Menghadap ke Utara, Mahameru berdiri gagah menaungi desa-desa di bawahnya.

  • Menghadap ke Selatan, Samudera Hindia membentang tanpa batas dengan ombaknya yang tak pernah tidur.

Di bawah naungan rimbunan pohon Pandan Laut inilah, saya merasa "jatuh cinta". Bentuk akarnya yang kokoh mencengkeram tanah berpasir, daunnya yang berduri namun artistik, serta ketangguhannya menghadapi angin laut. Siapa sangka, momen duduk di bawah pohon itu menjadi awal obsesi saya terhadap Pandan Laut hingga saya dewasa di tahun 2026 ini.



Memotong Kompas: Kenakalan Remaja yang Memacu Adrenalin

Namanya juga anak SMA, kalau tidak ada aksi nekat rasanya kurang lengkap. Tidak lama menikmati puncak, rekan kami yang memimpin rombongan punya ide gila: "Kita potong kompas, yuk! Nggak usah lewat tangga."

Tanpa pikir panjang (dan tanpa memikirkan risiko), kami setuju. Kami menuruni lereng bukit yang tidak memiliki jalur sama sekali. Menerobos semak, berpegangan pada batang pohon, hingga akhirnya kami menemui jalan buntu berupa jalur air alami.

Di hadapan kami ada tebing batu setinggi 2 hingga 3 meter. Mundur? Gengsi dong. Maju? Harus turun tebing.

Dengan semangat solidaritas (dan sedikit kenekatan bodoh), kami saling bantu. Satu per satu turun, saling menjaga pijakan kaki dan tangan rekannya. Jantung berdegup kencang, tapi tawa lepas justru pecah saat kami semua berhasil mendarat di bawah dengan selamat. Sebuah adrenalin rush yang tak terlupakan.






Setelah aksi "turun tebing" itu, kami menemukan jalan setapak yang ternyata tembus ke Jalur Lintas Selatan (JLS), tak jauh dari jalan raya utama.

Dengan baju penuh debu dan keringat, namun dengan hati yang penuh cerita, kami menyetop angkot Kol lagi untuk kembali ke Tempeh. Hari itu bukan sekadar mendaki bukit, tapi sebuah perjalanan menemukan kepingan keindahan Lumajang yang akan terus saya rindukan.

Info Perjalanan (Nostalgia 2013):

  • Lokasi: Desa Condro, Pasirian, Lumajang.

  • Destinasi: Gunung Rengganis & Gunung Tambuh.

  • Transportasi: Angkot (Kol) dari SMAN Tempeh.

  • Tingkat Kesulitan: Mudah (Cocok untuk pemula, asal jangan potong kompas lewat tebing ya!).


Rabu, 14 Mei 2014

Solo vs Jogja: Mengenal Perbedaan Budaya Dua Pewaris Mataram Islam

Banyak orang mengira bahwa budaya Jawa di Surakarta dan Yogyakarta itu sama saja. Memang keduanya adalah pewaris sah dari Kerajaan Mataram Islam, namun sejak Perjanjian Giyanti tahun 155, keduanya resmi "berpisah" dan mengembangkan ciri khas masing-masing yang unik.

Perbedaan Karakter Gaya Yogyakarta dan Solo

Bagi kita yang sering berkunjung ke kedua kota ini, memahami perbedaannya akan membuat perjalanan kita terasa lebih bermakna. Yuk, kita bedah apa saja sih perbedaan mencolok antara Jawa Surakarta dan Jawa Yogyakarta!

1. Filosofi Busana (Gaya Keris dan Blangkon)

Salah satu perbedaan paling terlihat ada pada busana adatnya.

  • Yogyakarta (Gaya Ngayogyakarta): Cenderung lebih gagah dan tegas. Perhatikan blangkonnya, ada tonjolan di bagian belakang yang disebut mondolan. Kerisnya pun memiliki lekukan yang lebih tajam.

  • Surakarta (Gaya Solo): Cenderung lebih halus dan elegan. Blangkon Solo tidak memiliki mondolan (datar) karena rambut pria zaman dulu sudah dicukur pendek. Keris Solo biasanya memiliki bentuk yang lebih luwes dengan ukiran yang lebih detail.

2. Logat dan Bahasa

Meskipun sama-sama menggunakan bahasa Jawa, "rasa" bahasanya berbeda:

  • Logat Solo: Dikenal sangat halus, mendayu, dan penuh dengan tata krama yang sangat lembut. Penggunaan kromo inggil di Solo terasa sangat kental dalam kehidupan sehari-hari.

  • Logat Jogja: Terasa lebih tegas dan lugas (straightforward). Meskipun tetap sopan, intonasi bicara orang Jogja biasanya lebih bertenaga dibandingkan orang Solo.

3. Cita Rasa Kuliner

Kalau soal perut, keduanya punya jagoan masing-masing:

  • Yogyakarta: Sangat identik dengan rasa manis yang dominan. Contoh paling nyata adalah Gudeg.

  • Surakarta: Rasanya lebih bervariasi, cenderung gurih-manis dengan penggunaan santan yang lebih berani. Coba saja Selat Solo atau Nasi Liwet, Anda akan merasakan perpaduan rasa yang lebih kompleks.

4. Karakter Tari Tradisional

Bahkan dalam gerakan tari pun, kita bisa melihat perbedaan karakternya:

  • Tari Jogja: Gerakannya cenderung lebih lebar, tegas, dan maskulin (untuk tari pria).

  • Tari Solo: Gerakannya lebih sempit, lembut, dan sangat memprioritaskan keluwesan jemari serta tubuh.

5. Arsitektur Bangunan

Jika Anda berkunjung ke Keraton, perhatikan warnanya. Keraton Yogyakarta identik dengan warna-warna tegas seperti putih dan hijau tua. Sementara itu, Keraton Surakarta (Mangkunegaran dan Kasunanan) sering menggunakan warna-warna lembut seperti krem, kuning gading, dan biru langit (biru parikesit).

Perbedaan antara Solo dan Jogja bukan untuk dibanding-bandingkan mana yang lebih baik, melainkan kekayaan budaya yang membuktikan betapa dinamisnya sejarah kita. Keduanya adalah dua sisi dari satu koin emas yang sama: Mataram.

Kalau kalian sendiri, lebih suka suasana Solo yang kalem atau Jogja yang dinamis? Tulis di kolom komentar ya!

Kamis, 08 Mei 2014

Menghijaukan Jalur Lintas Selatan: Jejak Langkah Green Care Volunteer

Menjaga bumi bukan tentang melakukan satu hal besar dalam semalam, melainkan tentang konsistensi yang dilakukan bertahun-tahun. Itulah yang saya pelajari saat bergabung dengan Green Care Volunteer dalam aksi penghijauan di Jalur Lintas Selatan (JLS).

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tanam pohon biasa. Ini adalah kelanjutan dari program penanaman 1500 bibit yang sudah dimulai tiga tahun lalu. Kali ini, fokus kami adalah "menyulami"—sebuah istilah untuk mengganti bibit-bibit yang tidak mampu bertahan hidup. Dari evaluasi kami, ada sekitar 300 bibit yang harus diganti agar visi "Sejuta Pohon" tetap terjaga.

Mengapa Perawatan itu Penting?

Tanaman, layaknya manusia, akan tumbuh dengan baik jika dirawat dengan kasih sayang. Terima kasih kepada Dinas Perhutani yang telah mendukung penyediaan bibit. Namun, bibit hanyalah awal. Tugas sebenarnya ada pada para kader lingkungan yang bersedia meluangkan waktu untuk merawat mereka hingga tumbuh besar.

Pesan untuk Generasi Adiwiyata

Sebagai bagian dari sekolah yang telah mencapai tingkat Adiwiyata Mandiri, kita punya tanggung jawab moral untuk menjadi duta lingkungan. Tidak perlu muluk-muluk, kita bisa mulai dari hal sederhana:

  • Membuang sampah pada tempatnya.

  • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

  • Bijak dalam menggunakan kendaraan bermotor dan energi (SDA).

Mungkin bagi kita sekarang, setetes air atau sejuknya udara pagi terasa biasa saja karena persediaan masih ada. Tapi bayangkan 10 atau 20 tahun ke depan jika kita abai terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Apakah anak cucu kita masih bisa menikmati tanah Jawa yang subur ini?

Mulai dari Diri Sendiri

Perubahan besar dimulai dari diri sendiri. Mari kita tanamkan rasa cinta pada lingkungan di dalam hati dan tularkan semangat itu kepada orang-orang di sekitar. Untuk seluruh kader Green Care dan pejuang lingkungan di mana pun berada: teruslah beraksi di pos masing-masing.

Jangan biarkan udara segar pagi hari menjadi kemewahan yang langka di masa depan. Let’s start keeping our land from global warming and teach the next generation about the value of trees, water, and fresh air.

Go Green!

Ditulis saat saya masih aktif sebagai kader Green Care di bangku SMA, sebuah kenangan yang mengingatkan bahwa tugas menjaga bumi tidak pernah usai.

Berhenti Menghukum, Mulailah Mendorong: Refleksi Pendidikan dari "Excellent" hingga Angka Merah

Pernahkah Anda merasa bahwa sistem pendidikan kita terlalu "pelit" dalam memberikan apresiasi? Tulisan ini berangkat dari sebuah catatan mendalam Prof. Rhenald Kasali yang saya temukan, yang kemudian memicu refleksi dalam diri saya mengenai bagaimana seharusnya seorang pendidik bersikap.

Rahasia Nilai "E" di Amerika

Prof. Rhenald Kasali pernah bercerita tentang protesnya kepada guru di Amerika karena anaknya diberi nilai E (Excellence) untuk karangan bahasa Inggris yang menurutnya masih berantakan. Namun, jawaban sang guru justru di luar dugaan: "Filosofi kami bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju (Encouragement)."

Di sana, guru tidak mengukur prestasi murid dengan standar sang guru yang sudah ahli, melainkan dengan melihat sejauh mana si anak telah berusaha melampaui batas kemampuannya sendiri.

Budaya "Menghakimi" di Indonesia

Sebaliknya, di Indonesia kita sering menemui budaya discouragement. Ujian sering kali terasa seperti medan tempur di mana penguji siap menerkam kesalahan, bukan membantu menemukan solusi. Budaya "balas dendam" dan tekanan nilai merah seolah menjadi senjata utama.

Padahal, kecerdasan manusia itu bukan sesuatu yang statis. Otak bisa tumbuh jika didukung, dan bisa mengerucut jika terus-menerus ditekan oleh ancaman, entah itu berupa nilai merah, kata-kata kasar, atau tekanan mental lainnya.

Melihat dari Sudut Pandang Murid

Sebagai pendidik, kita sering lupa satu hal: Apa yang menurut guru mudah, belum tentu mudah bagi murid.

Setiap anak memiliki kecepatan serap yang berbeda. Menjadikan murid paling pintar sebagai patokan kelas adalah ketidakadilan bagi mereka yang memiliki kapasitas berbeda. Guru sejati bukanlah penilai yang dingin, melainkan fasilitator yang mengulurkan tangan saat murid menemui jalan buntu.

Salah Kaprah Tentang Nilai

Sistem pendidikan yang terlalu mendewakan nilai angka sering kali membuat siswa lupa tujuan utama belajar. Fokusnya bukan lagi "ingin tahu", tapi "bagaimana dapat nilai bagus"—bahkan jika harus ditempuh dengan cara yang salah.

Nilai sempurna di kertas ujian bukan jaminan kesuksesan di masa depan. Sudah saatnya kita mengubah pandangan:

  • Hentikan ancaman.

  • Mulailah memberi dorongan.

  • Hargai proses, bukan hanya hasil.

Mari kita ciptakan ruang kelas yang nyaman, di mana kesalahan tidak dianggap sebagai dosa, melainkan sebagai langkah menuju pemahaman.

Bendera Partai atau Merah Putih: Di Mana Nasionalisme Kita Saat Musim Kampanye?

Bendera Partai atau Bendera Merah Putih?
"Relakah engkau ketika sepanjang jalan di negerimu ini lebih banyak dipenuhi deretan bendera partai daripada bendera dwi warna sang saka merah putih ?”
 
                 Kalimat di atas saya ambil dari sebuah status Facebook yang lewat di beranda saya. Kalimat singkat, tapi cukup menampar. Kalau kita perhatikan sekarang, hampir tidak ada sudut jalan yang bersih dari bendera partai. Dari jalan protokol sampai gang sempit, semuanya jadi sasaran kampanye.

Miris, bukan? Kita seolah lebih sering melihat logo partai daripada Sang Dwi Warna berkibar di langit negeri ini.

Nasionalisme yang "Musiman"?

Rasanya tidak berlebihan jika saya bilang Bendera Merah Putih sekarang seperti barang musiman—hanya ramai dikibarkan menjelang 17 Agustus saja. Bahkan, saat ada kunjungan pejabat pemerintah, yang lebih mendominasi justru umbul-umbul warna-warni, bukan Merah Putih.

Ada satu kejadian yang bikin saya gemas. Saya pernah melewati sebuah kantor yang melabeli diri sebagai "Pusat Bantuan NKRI" milik salah satu partai besar. Tapi anehnya, setelah saya perhatikan dengan seksama, tidak ada satu pun bendera Merah Putih yang menghiasi kantor tersebut. Bagaimana mungkin membawa nama NKRI tapi simbol negaranya sendiri absen?

Kemeriahan yang Salah Alamat

Dulu, setiap kampung merayakan kemerdekaan dengan sangat meriah. Sekarang? Suasananya mulai terasa hambar. Ironisnya, kalau sebuah partai politik yang berulang tahun, perayaannya bisa sangat mewah dan jor-joran. Fenomena ini membuat saya bertanya-tanya: dalam beberapa tahun ke depan, apakah simbol negara kita akan semakin tenggelam oleh kepentingan golongan?

Politik yang "Tidak Berperi-Ketumbuhan-an"

Bagi saya pribadi, masalahnya bukan cuma soal persaingan jumlah bendera. Ada hal lain yang sangat mengusik hati nurani: cara pemasangannya.

Banyak sekali bendera partai dan foto caleg yang dipasang dengan cara dipaku langsung ke pohon-pohon peneduh di pinggir jalan. Ini benar-benar tidak "berperi-ketumbuhan-an"! Bayangkan satu pohon harus menanggung beban puluhan paku dari berbagai gambar caleg.

Jika sebelum jadi anggota legislatif saja mereka sudah tidak peduli pada lingkungan dan menyakiti makhluk hidup (pohon), bagaimana nanti kalau sudah duduk di kursi jabatan?

Penutup

Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Apakah kita memang tidak punya aturan atau undang-undang yang melarang perusakan pohon untuk atribut kampanye? Ataukah kita memang sudah terbiasa menutup mata atas nama "demokrasi"?

Silakan Anda jawab sendiri di dalam hati.

Selasa, 06 Mei 2014

Sulap atau Sains? Cara Membuat Jarum Terapung di Atas Air (Eksperimen Tegangan Permukaan)

Pernah terpikir nggak, gimana caranya jarum yang terbuat dari logam bisa terapung di atas air? Bukannya logam itu berat dan harusnya tenggelam?

Nah, kali ini saya dan rekan saya, Roziatul Khoiriah, mencoba membuktikan sebuah fenomena fisika yang disebut Tegangan Permukaan. Ternyata, air itu punya "kulit" rahasia, lho!

Kenapa Air Bisa Menopang Jarum?

Secara ilmiah, air terdiri dari molekul-molekul yang saling tarik-menarik. Di dalam air, molekul ditarik ke segala arah. Tapi di permukaan, nggak ada molekul di atasnya, jadi mereka saling tarik lebih kuat ke samping dan ke bawah.

Hasilnya? Permukaan air jadi menegang seperti lapisan elastis atau "kulit" tipis. Inilah yang kita sebut Tegangan Permukaan. Rumusnya sederhana:

        

Yuk, Coba Sendiri di Rumah!

Alat dan bahannya gampang banget, pasti ada di dapur kamu:

  1. Gelas berisi air bersih.

  2. Jarum jahit.

  3. Kertas tisu (sebagai alat bantu).

Langkah Kerja:

  1. Siapkan gelas berisi air sampai hampir penuh.

  2. Letakkan sepotong kecil kertas tisu di atas permukaan air.

  3. Letakkan jarum secara perlahan dan mendatar di atas tisu tersebut.

  4. Tunggu beberapa saat. Tisu akan menyerap air dan perlahan tenggelam ke dasar gelas.

  5. Simsalabim! Tisu tenggelam, tapi jarumnya tetap "santuy" terapung di atas permukaan air.



            
Eksperimen jarum terapung di air fisika

Apa yang Terjadi? (Analisis Data)

Kalau kita perhatikan, permukaan air di bawah jarum akan sedikit melengkung ke bawah. Di sinilah terjadi perlawanan. Molekul air di bawah jarum memberikan gaya pemulih ke arah atas untuk menopang berat jarum ($mg$).

Selama kita meletakkan jarumnya pelan-pelan (secara horizontal), gaya tegangan permukaan ini cukup kuat untuk menahan berat jarum agar tidak pecah menembus "kulit" air tersebut.

Kesimpulan

Eksperimen ini membuktikan bahwa air bukan sekadar benda cair biasa, tapi memiliki kekuatan kohesi yang luar biasa di permukaannya. Seru, ya? Fenomena ini juga yang menjelaskan kenapa serangga seperti anggang-anggang bisa lari di atas air tanpa basah kuyup!

Ada yang sudah pernah coba? Atau punya trik lain supaya benda logam bisa terapung? Share di kolom komentar ya!"

Rabu, 19 Maret 2014

Menjadi Pemimpin Ideal: Belajar dari 8 Sifat Dewa (Asta Brata)

Pernah nggak sih kita berpikir, seperti apa sosok pemimpin yang benar-benar "lengkap"? Ternyata, nenek moyang kita sudah punya jawabannya dalam kesusastraan Jawa kuno. Ada 8 sifat kepemimpinan yang diambil dari watak delapan dewa, atau yang sering disebut dengan Asta Brata.

Sifat-sifat ini bukan cuma buat bos atau pejabat, lho. Kita pun bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, kita bedah satu per satu!

1. Batara Endra
 Pemimpin itu harus punya prinsip seperti Batara Endra: Tegas dan tidak pandang bulu. Tujuannya satu, yaitu menjaga kedamaian. Kalau ada yang salah ya harus dihukum sesuai aturan, tanpa melihat siapa orangnya..

2.Batara Surya
 Tenang dan penuh kasih sayang. Pemimpin tipe ini nggak perlu marah-marah untuk bikin orang lain berbuat baik. Aura positif dan kebaikannya sudah cukup jadi teladan bagi orang di sekitarnya.
3.Batara Bayu
 Batara Bayu mengajarkan kita untuk menjadi sosok yang rendah hati dan wajar, tapi punya insting yang kuat. Ia bisa tahu mana pengikutnya yang jujur dan mana yang cuma "main mata" atau berlaku jahat.

4. Batara Kuwera
 Pernah dengar istilah "Nora ngalem nora nutuh"? Itulah sifat Batara Kuwera. Artinya, tidak mudah memuji setinggi langit, tapi juga tidak gampang mencela. Ia penuh kepercayaan baik kepada atasan maupun bawahan.

5.Batara Baruna
 Seorang pemimpin harus selalu update ilmu pengetahuan. Batara Baruna adalah simbol kewaspadaan. Ia siap menghadapi tantangan apa pun karena punya "senjata" berupa ilmu dan kemampuan untuk mengatasi masalah (bisa basuki ing laku).

6. Batara Yama
 Sifatnya adalah "Rumeksa praja" atau menjadi pelindung bagi nusa dan bangsa. Fokusnya adalah memastikan lingkungan sekitarnya bersih dari kejahatan. Kalau ada yang buruk, ya harus diselesaikan (kang ala tinundhung).

7. Batara Candra
 Pemimpin itu harus menyejukkan seperti sinar bulan. Sifatnya "Apura sara naniro", alias pemaaf. Tutur katanya bikin hati tenang, suka tersenyum, dan membawa kegembiraan buat orang banyak.

8. Batara Brama
Terakhir adalah sifat Batara Brama yang sangat peduli. Ia menaruh perhatian besar pada anak-anak muda dan kesejahteraan anggotanya. Ia tahu siapa yang lagi sakit, siapa yang lagi susah, dan selalu hadir untuk memberi solusi.

Menjadi pemimpin memang berat, tapi 8 sifat di atas adalah goals yang luar biasa kalau bisa kita terapkan. Meskipun kita bukan pemimpin organisasi, menerapkan sifat-sifat ini dalam keluarga atau lingkaran pertemanan bakal bikin hidup kita jauh lebih bermakna.

Dari 8 sifat di atas, mana nih yang menurut kalian paling sulit diterapkan di zaman sekarang? Tulis di komentar ya!



Sabtu, 15 Maret 2014

Menelusuri Candi Gedhong Putri: Jejak Sejarah yang Terlupakan di Balik Pasar Candipuro



Foto foto diatas adalah foto yang diambil di Candi Gedhong Putri yang terletak di Desa SumberWuluh kecamatan Candipuro Lumajang Jawa Timur.

"Tragedi." Itu satu kata yang muncul di kepala saya waktu menginjakkan kaki di Desa Sumberwuluh, Candipuro. Padahal, tempat yang saya datangi ini bukan tempat sembarangan. Ini adalah Candi Gedhong Putri, situs yang konon katanya adalah candi pertama yang berdiri di tanah Lumajang.

Sebenarnya, tulisan ini adalah catatan lama saya dari tahun 2014, tapi rasanya masih sangat sesak kalau diingat kembali.Kalau ngobrol soal sejarahnya, ada cerita menarik dari Bapak Mansur Hidayat. Beliau menyebutkan kalau candi ini dulunya adalah hunian atau tempat bagi Putri Nararya Kirana. Beliau bukan orang biasa, melainkan sosok yang diutus menjadi Adipati di daerah yang dulu namanya masih "Lumajang". Keren, kan? Kita punya sejarah pemimpin perempuan hebat di sini.

Tapi sayangnya, kenyataan di lapangan jauh dari kata keren. Saya sedih banget melihat kondisinya yang sudah rusak lebih dari 60%. Baru sekarang-sekarang ini ada upaya perawatan, padahal sudah "telat".

Saya jadi teringat obrolan dengan Pak Gaguk, seorang guru sejarah. Beliau pernah bilang kalau sebuah tempat bersejarah kerusakannya sudah lewat dari 60%, secara teknis itu sudah sangat sulit diselamatkan, bahkan ada istilah "dimusnahkan" karena kehilangan bentuk aslinya.


gambar ini adalah gambar lingga yoni yang terdapat di kompleks candi Gedhong Putri.

Di tengah reruntuhan Candi Gedhong Putri, ada satu hal yang bikin saya terpaku: Lingga Yoni.

Jujur saja, waktu pertama kali melihatnya, saya sempat mikir, "Ini beneran batu kuno atau semen cetakan, sih?" Habisnya, halus banget! Tapi setelah saya amati lagi, ini benar-benar batu alam yang diukir dengan tingkat ketelitian tingkat tinggi. Kata guru sejarah saya, Lingga Yoni di sini termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia karena kehalusan buatannya. Luar biasa, ya, pengrajin zaman dulu?

Nah, bicara soal Lingga, biasanya dia nggak sendirian. Dalam filosofi Hindu, Lingga (simbol kejantanan) seharusnya berpasangan dengan Yoni (simbol kesuburan wanita). Penyatuan mereka itu sakral banget, melambangkan asal-muasal kehidupan.

Tapi sayangnya, pemandangan di Gedhong Putri ini bikin baper sekaligus sedih. Banyak Lingga yang sekarang "ditinggalkan" oleh Yoni-nya. Entah Yoninya tertimbun, hancur, atau (yang paling sedih) hilang dicuri orang. Melihat Lingga yang berdiri sendirian tanpa pasangannya itu seolah mempertegas betapa "malangnya" nasib situs ini. Dia kehilangan kelengkapannya, persis seperti situs ini yang kehilangan kemegahannya.




Gua Maling Aguna Candipuro Lumajang
Ini adalah gambar yang diambil di Gua Maling Aguna

Gak jauh dari Candi Gedhong Putri, masih di area Candipuro, ada satu lagi tempat yang nggak kalah bikin dahi berkerut: Gua Maling Aguna.

Namanya unik, ya? "Maling" biasanya konotasinya negatif, tapi di sini ada cerita kepahlawanan dan kecerdikan di baliknya.

Konon menurut cerita turun-temurun, gua ini punya sejarah yang berkaitan dengan sebuah sayembara unik zaman dulu. Isinya? Siapa pun ksatria yang bisa menculik sang putri tanpa ketahuan, dialah pemenangnya.

Nah, ada seorang ksatria yang cerdik banget. Dia membangun gua ini sebagai strategi untuk "menculik" sang putri dan membawanya lewat jalur bawah tanah. Hasilnya? Dia berhasil memenangkan sayembara itu! Kebayang nggak sih gimana suasana di dalam gua ini waktu itu?

Ada lagi nih info terbaru yang saya dengar (dan bikin merinding sekaligus penasaran), katanya Gua Maling Aguna ini punya lorong rahasia yang menyambung sampai ke Desa Siluman.

Sejujurnya, saya sendiri belum sempat membuktikan langsung apakah lorongnya masih bisa dilewati atau sudah tertutup tanah. Tapi kalau benar, ini bakal jadi penemuan yang luar biasa banget buat sejarah bawah tanah di Lumajang!

Buat kalian yang mau ke sini, siap-siap buat sedikit blusukan. Lokasinya benar-benar hidden gem alias tersembunyi:

  • Lokasi: Tepat di belakang Pasar Candipuro.

  • Akses: Di belakang pasar itu ada sebuah toko. Nah, guanya ini sebenarnya masuk ke area halaman belakang rumah penduduk.

  • Tips: Karena ini area privat, kalian wajib banget minta izin dengan sopan ke pemilik toko atau rumahnya sebelum masuk ke sana.

Ternyata Candipuro nggak cuma soal alam, tapi juga soal rahasia sejarah yang letaknya cuma selangkah dari keramaian pasar.


Note penting: Catatan ini saya perbaharui di tahun 2026, tetap berdasarkan catatan saya di tahun 2014
Tentunya, saya akan menuliskan kembali kisah perjalanan ke sini ppada waktu bertahun kemudian di usia saya yang sudah 'dewasa'.

Biting,Emang Ada Apa?

 

Pertama kali saya mendengar tentang Biting adalah saat masih SD. Sejak saat itu, rasa penasaran saya terhadap Biting terus tumbuh, bahkan semakin menguat saat SMA.
Hari Sabtu, 5 September 2013, dengan modal nekad dan uang seadanya, saya bersama teman saya, Roziatul Khoiriyah, memutuskan untuk pergi ke Biting naik bus. Awalnya, tujuan kami bukan Biting, melainkan Selokambang untuk mengikuti penilaian olahraga. Namun, entah kenapa acara itu dibatalkan. Dengan sisa uang yang ada, kami memutuskan untuk mengunjungi Biting, sekadar memuaskan rasa penasaran tentang sejarah Lumajang.

Kami berdua belum pernah menginjak Biting sebelumnya, dan meski jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, kami hanya bisa berdoa agar perjalanan pulang nanti selamat. Mengandalkan petunjuk yang sempat saya baca di Facebook, saya memberi tahu kernet bus agar berhenti di Biting. Setelah turun, kami masih bingung apakah benar ini jalannya. Untungnya, seorang tukang becak di pinggir jalan dengan ramah memberi konfirmasi bahwa kami berada di jalur yang tepat.

Beberapa meter menyusuri jalan, kami menemukan Musium Situs Biting di sisi jalan. Meski ukurannya sederhana dan kondisi tidak terlalu ideal untuk disebut “museum”, kami tetap masuk untuk menjelajahi koleksi peninggalan sejarah yang ada. Di dalam, saya merasa seperti orang yang baru menemukan harta karun sejarah. Koleksi tersebut menyimpan sisa-sisa kerajaan Lumajang Tigang Juru yang berhasil ditemukan. Saya sempat ingin membeli kaos yang dijual di sana, tetapi harganya Rp50.000, sementara uang saya hanya cukup untuk ongkos pulang.

Setelah puas menjelajah museum, kami melanjutkan perjalanan menuju Petilasan Arya Wiraraja. Sesampainya di sana, makam cukup ramai pengunjung, dan terdapat tata cara khusus untuk memasuki lokasi. Kami mengucapkan salam sebelum masuk, dan berada di depan makam Raja Lumajang Tigang Juru membuat saya teringat pada sejarah Lumajang serta jasa Arya Wiraraja pada Bumi Majapahit dan Syekh Abdur Rahman dalam penyebaran Islam di wilayah itu.

Rencana awal kami adalah melanjutkan perjalanan ke Benteng Biting, namun kami tidak tahu jalannya. Dengan keberanian, saya bertanya pada pengunjung lain, dan mereka menunjukkan jalannya yang berada di belakang makam. Ternyata, jalan menuju benteng ditandai dengan bunga-bunga di sepanjang sisi jalan.

Sepanjang perjalanan, terdengar adzan. Kami sempat mencari mushola, namun hanya menemukan masjid terdekat, yang cukup dekat untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat, kami membeli beberapa makanan sebagai bekal untuk perjalanan ke benteng.
Sampai di situs benteng, ada dua orang pria di lokasi. Saya hendak naik, namun sepatu saya jebol dan memaksa saya berjalan nyeker. Meski lelah, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka tentang sejarah benteng dan sungai yang mengelilingi desa, yang ternyata adalah Sungai Bondoyudo. Dari obrolan itu, saya mendapat informasi bahwa benteng masih dalam proses penggalian dan akan terus dibangun.
Waktu menunjukkan pukul 16.30, dan kami harus segera pulang. Perjalanan pulang cukup menantang karena kaki pegal dan harus menunggu bus antar kota. Kami bahkan sempat menumpang mobil hingga sampai ke Tempeh, baru kemudian pulang ke rumah masing-masing dengan selamat.

Perjalanan ke Situs Biting meninggalkan satu pertanyaan di benak saya: semua batu bata peninggalan di situs tersebut memiliki ukiran. Apakah orang zaman dahulu mengukir batu bata satu per satu? Jika ada yang tahu, saya sangat ingin mendapat jawabannya.

Note: Tulisan ini saya perbarui pada 03 Februari 2026
Dan tulisan ini adalah asal muasal kali pertama saya terjerumus dalam lembah Sejarah Klasik Hindu Buddha Indonesia hingga bisa menghasilkan skripsi yang sedemikian rupa mengangkat sejarah klasik Lumajang.
Tentu saja. Saya sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang saya tuliskan di sini. Akan saya posting di postingan terbaru.

Sungai Mujur, 2012: Ingatan Tentang Tambang Pasir, Sketsa Pagi, dan Bayang Gunung Semeru

Tulisan ini saya publish berdasarkan catatan di tahun 2012


Tulisan ini saya buat kembali dengan membuka ingatan tahun 2012, ketika Sungai Mujur masih saya datangi dengan langkah kaki dan tas sekolah di punggung. Waktu itu, pertanyaan yang muncul di kepala saya sederhana: apakah Sungai Mujur hanya tentang tambang pasir?

Sungai Mujur yang terletak di Desa Lempeni memang lama dikenal sebagai lokasi penambangan pasir, terutama saat musim hujan. Aktivitas itu menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga sekitar. Namun saya penasaran, bagaimana nasib para penambang ketika kemarau datang dan air sungai menyusut?

Pagi itu, setelah salat Subuh, saya berangkat berjalan kaki untuk mengerjakan tugas kesenian—membuat sketsa. Rasa lelah pelan-pelan hilang ketika saya tiba tepat saat matahari mulai naik. Dari tepi Sungai Mujur, saya melihat cahaya pagi menyentuh Gunung Semeru di sebelah barat, menghadirkan pemandangan yang sampai hari ini masih saya ingat dengan jelas. Udara segar, sunyi, dan warna pagi yang sulit digantikan.
Bagi warga sekitar, Sungai Mujur bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang singgah. Di hari Minggu, sungai ini kerap menjadi tempat rekreasi sederhana. Dari atas jembatan, saya sempat menikmati aliran air sebelum turun dan membuka kertas gambar. Sketsa belum benar-benar selesai ketika seseorang menghampiri dan mengajak berbincang. Dengan alasan gambar sudah cukup, saya memilih berpindah mendekati aliran sungai.
Di sanalah saya melihat seorang bapak yang sedang menambang pasir. Dengan gaya sok-sokan seperti wartawan, saya bertanya tentang pekerjaannya. Ia bercerita bahwa menambang pasir di musim kemarau jauh lebih berat, karena mereka harus mengangkat batu-batu besar di dasar sungai agar pasir yang mengendap bisa diambil.

Cerita itu meninggalkan kesan yang cukup dalam. Penambangan pasir sering terlihat menguntungkan dari luar, bahkan menarik perhatian investor. Namun bagi para penambang kecil, pekerjaan ini justru penuh keterbatasan dan ketidakpastian. Sungai Mujur menyimpan ironi: alam yang memberi hidup, sekaligus menuntut tenaga yang tidak sedikit.

Ingatan tentang Sungai Mujur ini mungkin berasal dari tahun 2012, tetapi kisahnya terasa tetap relevan. Sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup, ruang kerja, dan ruang ingatan bagi mereka yang pernah tumbuh di sekitarnya—termasuk saya.