Menu

Rabu, 14 Mei 2014

Solo vs Jogja: Mengenal Perbedaan Budaya Dua Pewaris Mataram Islam

Banyak orang mengira bahwa budaya Jawa di Surakarta dan Yogyakarta itu sama saja. Memang keduanya adalah pewaris sah dari Kerajaan Mataram Islam, namun sejak Perjanjian Giyanti tahun 155, keduanya resmi "berpisah" dan mengembangkan ciri khas masing-masing yang unik.

Perbedaan Karakter Gaya Yogyakarta dan Solo

Bagi kita yang sering berkunjung ke kedua kota ini, memahami perbedaannya akan membuat perjalanan kita terasa lebih bermakna. Yuk, kita bedah apa saja sih perbedaan mencolok antara Jawa Surakarta dan Jawa Yogyakarta!

1. Filosofi Busana (Gaya Keris dan Blangkon)

Salah satu perbedaan paling terlihat ada pada busana adatnya.

  • Yogyakarta (Gaya Ngayogyakarta): Cenderung lebih gagah dan tegas. Perhatikan blangkonnya, ada tonjolan di bagian belakang yang disebut mondolan. Kerisnya pun memiliki lekukan yang lebih tajam.

  • Surakarta (Gaya Solo): Cenderung lebih halus dan elegan. Blangkon Solo tidak memiliki mondolan (datar) karena rambut pria zaman dulu sudah dicukur pendek. Keris Solo biasanya memiliki bentuk yang lebih luwes dengan ukiran yang lebih detail.

2. Logat dan Bahasa

Meskipun sama-sama menggunakan bahasa Jawa, "rasa" bahasanya berbeda:

  • Logat Solo: Dikenal sangat halus, mendayu, dan penuh dengan tata krama yang sangat lembut. Penggunaan kromo inggil di Solo terasa sangat kental dalam kehidupan sehari-hari.

  • Logat Jogja: Terasa lebih tegas dan lugas (straightforward). Meskipun tetap sopan, intonasi bicara orang Jogja biasanya lebih bertenaga dibandingkan orang Solo.

3. Cita Rasa Kuliner

Kalau soal perut, keduanya punya jagoan masing-masing:

  • Yogyakarta: Sangat identik dengan rasa manis yang dominan. Contoh paling nyata adalah Gudeg.

  • Surakarta: Rasanya lebih bervariasi, cenderung gurih-manis dengan penggunaan santan yang lebih berani. Coba saja Selat Solo atau Nasi Liwet, Anda akan merasakan perpaduan rasa yang lebih kompleks.

4. Karakter Tari Tradisional

Bahkan dalam gerakan tari pun, kita bisa melihat perbedaan karakternya:

  • Tari Jogja: Gerakannya cenderung lebih lebar, tegas, dan maskulin (untuk tari pria).

  • Tari Solo: Gerakannya lebih sempit, lembut, dan sangat memprioritaskan keluwesan jemari serta tubuh.

5. Arsitektur Bangunan

Jika Anda berkunjung ke Keraton, perhatikan warnanya. Keraton Yogyakarta identik dengan warna-warna tegas seperti putih dan hijau tua. Sementara itu, Keraton Surakarta (Mangkunegaran dan Kasunanan) sering menggunakan warna-warna lembut seperti krem, kuning gading, dan biru langit (biru parikesit).

Perbedaan antara Solo dan Jogja bukan untuk dibanding-bandingkan mana yang lebih baik, melainkan kekayaan budaya yang membuktikan betapa dinamisnya sejarah kita. Keduanya adalah dua sisi dari satu koin emas yang sama: Mataram.

Kalau kalian sendiri, lebih suka suasana Solo yang kalem atau Jogja yang dinamis? Tulis di kolom komentar ya!

Kamis, 08 Mei 2014

Menghijaukan Jalur Lintas Selatan: Jejak Langkah Green Care Volunteer

Menjaga bumi bukan tentang melakukan satu hal besar dalam semalam, melainkan tentang konsistensi yang dilakukan bertahun-tahun. Itulah yang saya pelajari saat bergabung dengan Green Care Volunteer dalam aksi penghijauan di Jalur Lintas Selatan (JLS).

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tanam pohon biasa. Ini adalah kelanjutan dari program penanaman 1500 bibit yang sudah dimulai tiga tahun lalu. Kali ini, fokus kami adalah "menyulami"—sebuah istilah untuk mengganti bibit-bibit yang tidak mampu bertahan hidup. Dari evaluasi kami, ada sekitar 300 bibit yang harus diganti agar visi "Sejuta Pohon" tetap terjaga.

Mengapa Perawatan itu Penting?

Tanaman, layaknya manusia, akan tumbuh dengan baik jika dirawat dengan kasih sayang. Terima kasih kepada Dinas Perhutani yang telah mendukung penyediaan bibit. Namun, bibit hanyalah awal. Tugas sebenarnya ada pada para kader lingkungan yang bersedia meluangkan waktu untuk merawat mereka hingga tumbuh besar.

Pesan untuk Generasi Adiwiyata

Sebagai bagian dari sekolah yang telah mencapai tingkat Adiwiyata Mandiri, kita punya tanggung jawab moral untuk menjadi duta lingkungan. Tidak perlu muluk-muluk, kita bisa mulai dari hal sederhana:

  • Membuang sampah pada tempatnya.

  • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

  • Bijak dalam menggunakan kendaraan bermotor dan energi (SDA).

Mungkin bagi kita sekarang, setetes air atau sejuknya udara pagi terasa biasa saja karena persediaan masih ada. Tapi bayangkan 10 atau 20 tahun ke depan jika kita abai terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Apakah anak cucu kita masih bisa menikmati tanah Jawa yang subur ini?

Mulai dari Diri Sendiri

Perubahan besar dimulai dari diri sendiri. Mari kita tanamkan rasa cinta pada lingkungan di dalam hati dan tularkan semangat itu kepada orang-orang di sekitar. Untuk seluruh kader Green Care dan pejuang lingkungan di mana pun berada: teruslah beraksi di pos masing-masing.

Jangan biarkan udara segar pagi hari menjadi kemewahan yang langka di masa depan. Let’s start keeping our land from global warming and teach the next generation about the value of trees, water, and fresh air.

Go Green!

Ditulis saat saya masih aktif sebagai kader Green Care di bangku SMA, sebuah kenangan yang mengingatkan bahwa tugas menjaga bumi tidak pernah usai.

Berhenti Menghukum, Mulailah Mendorong: Refleksi Pendidikan dari "Excellent" hingga Angka Merah

Pernahkah Anda merasa bahwa sistem pendidikan kita terlalu "pelit" dalam memberikan apresiasi? Tulisan ini berangkat dari sebuah catatan mendalam Prof. Rhenald Kasali yang saya temukan, yang kemudian memicu refleksi dalam diri saya mengenai bagaimana seharusnya seorang pendidik bersikap.

Rahasia Nilai "E" di Amerika

Prof. Rhenald Kasali pernah bercerita tentang protesnya kepada guru di Amerika karena anaknya diberi nilai E (Excellence) untuk karangan bahasa Inggris yang menurutnya masih berantakan. Namun, jawaban sang guru justru di luar dugaan: "Filosofi kami bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju (Encouragement)."

Di sana, guru tidak mengukur prestasi murid dengan standar sang guru yang sudah ahli, melainkan dengan melihat sejauh mana si anak telah berusaha melampaui batas kemampuannya sendiri.

Budaya "Menghakimi" di Indonesia

Sebaliknya, di Indonesia kita sering menemui budaya discouragement. Ujian sering kali terasa seperti medan tempur di mana penguji siap menerkam kesalahan, bukan membantu menemukan solusi. Budaya "balas dendam" dan tekanan nilai merah seolah menjadi senjata utama.

Padahal, kecerdasan manusia itu bukan sesuatu yang statis. Otak bisa tumbuh jika didukung, dan bisa mengerucut jika terus-menerus ditekan oleh ancaman, entah itu berupa nilai merah, kata-kata kasar, atau tekanan mental lainnya.

Melihat dari Sudut Pandang Murid

Sebagai pendidik, kita sering lupa satu hal: Apa yang menurut guru mudah, belum tentu mudah bagi murid.

Setiap anak memiliki kecepatan serap yang berbeda. Menjadikan murid paling pintar sebagai patokan kelas adalah ketidakadilan bagi mereka yang memiliki kapasitas berbeda. Guru sejati bukanlah penilai yang dingin, melainkan fasilitator yang mengulurkan tangan saat murid menemui jalan buntu.

Salah Kaprah Tentang Nilai

Sistem pendidikan yang terlalu mendewakan nilai angka sering kali membuat siswa lupa tujuan utama belajar. Fokusnya bukan lagi "ingin tahu", tapi "bagaimana dapat nilai bagus"—bahkan jika harus ditempuh dengan cara yang salah.

Nilai sempurna di kertas ujian bukan jaminan kesuksesan di masa depan. Sudah saatnya kita mengubah pandangan:

  • Hentikan ancaman.

  • Mulailah memberi dorongan.

  • Hargai proses, bukan hanya hasil.

Mari kita ciptakan ruang kelas yang nyaman, di mana kesalahan tidak dianggap sebagai dosa, melainkan sebagai langkah menuju pemahaman.

Bendera Partai atau Merah Putih: Di Mana Nasionalisme Kita Saat Musim Kampanye?

Bendera Partai atau Bendera Merah Putih?
"Relakah engkau ketika sepanjang jalan di negerimu ini lebih banyak dipenuhi deretan bendera partai daripada bendera dwi warna sang saka merah putih ?”
 
                 Kalimat di atas saya ambil dari sebuah status Facebook yang lewat di beranda saya. Kalimat singkat, tapi cukup menampar. Kalau kita perhatikan sekarang, hampir tidak ada sudut jalan yang bersih dari bendera partai. Dari jalan protokol sampai gang sempit, semuanya jadi sasaran kampanye.

Miris, bukan? Kita seolah lebih sering melihat logo partai daripada Sang Dwi Warna berkibar di langit negeri ini.

Nasionalisme yang "Musiman"?

Rasanya tidak berlebihan jika saya bilang Bendera Merah Putih sekarang seperti barang musiman—hanya ramai dikibarkan menjelang 17 Agustus saja. Bahkan, saat ada kunjungan pejabat pemerintah, yang lebih mendominasi justru umbul-umbul warna-warni, bukan Merah Putih.

Ada satu kejadian yang bikin saya gemas. Saya pernah melewati sebuah kantor yang melabeli diri sebagai "Pusat Bantuan NKRI" milik salah satu partai besar. Tapi anehnya, setelah saya perhatikan dengan seksama, tidak ada satu pun bendera Merah Putih yang menghiasi kantor tersebut. Bagaimana mungkin membawa nama NKRI tapi simbol negaranya sendiri absen?

Kemeriahan yang Salah Alamat

Dulu, setiap kampung merayakan kemerdekaan dengan sangat meriah. Sekarang? Suasananya mulai terasa hambar. Ironisnya, kalau sebuah partai politik yang berulang tahun, perayaannya bisa sangat mewah dan jor-joran. Fenomena ini membuat saya bertanya-tanya: dalam beberapa tahun ke depan, apakah simbol negara kita akan semakin tenggelam oleh kepentingan golongan?

Politik yang "Tidak Berperi-Ketumbuhan-an"

Bagi saya pribadi, masalahnya bukan cuma soal persaingan jumlah bendera. Ada hal lain yang sangat mengusik hati nurani: cara pemasangannya.

Banyak sekali bendera partai dan foto caleg yang dipasang dengan cara dipaku langsung ke pohon-pohon peneduh di pinggir jalan. Ini benar-benar tidak "berperi-ketumbuhan-an"! Bayangkan satu pohon harus menanggung beban puluhan paku dari berbagai gambar caleg.

Jika sebelum jadi anggota legislatif saja mereka sudah tidak peduli pada lingkungan dan menyakiti makhluk hidup (pohon), bagaimana nanti kalau sudah duduk di kursi jabatan?

Penutup

Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Apakah kita memang tidak punya aturan atau undang-undang yang melarang perusakan pohon untuk atribut kampanye? Ataukah kita memang sudah terbiasa menutup mata atas nama "demokrasi"?

Silakan Anda jawab sendiri di dalam hati.

Selasa, 06 Mei 2014

Sulap atau Sains? Cara Membuat Jarum Terapung di Atas Air (Eksperimen Tegangan Permukaan)

Pernah terpikir nggak, gimana caranya jarum yang terbuat dari logam bisa terapung di atas air? Bukannya logam itu berat dan harusnya tenggelam?

Nah, kali ini saya dan rekan saya, Roziatul Khoiriah, mencoba membuktikan sebuah fenomena fisika yang disebut Tegangan Permukaan. Ternyata, air itu punya "kulit" rahasia, lho!

Kenapa Air Bisa Menopang Jarum?

Secara ilmiah, air terdiri dari molekul-molekul yang saling tarik-menarik. Di dalam air, molekul ditarik ke segala arah. Tapi di permukaan, nggak ada molekul di atasnya, jadi mereka saling tarik lebih kuat ke samping dan ke bawah.

Hasilnya? Permukaan air jadi menegang seperti lapisan elastis atau "kulit" tipis. Inilah yang kita sebut Tegangan Permukaan. Rumusnya sederhana:

        

Yuk, Coba Sendiri di Rumah!

Alat dan bahannya gampang banget, pasti ada di dapur kamu:

  1. Gelas berisi air bersih.

  2. Jarum jahit.

  3. Kertas tisu (sebagai alat bantu).

Langkah Kerja:

  1. Siapkan gelas berisi air sampai hampir penuh.

  2. Letakkan sepotong kecil kertas tisu di atas permukaan air.

  3. Letakkan jarum secara perlahan dan mendatar di atas tisu tersebut.

  4. Tunggu beberapa saat. Tisu akan menyerap air dan perlahan tenggelam ke dasar gelas.

  5. Simsalabim! Tisu tenggelam, tapi jarumnya tetap "santuy" terapung di atas permukaan air.



            
Eksperimen jarum terapung di air fisika

Apa yang Terjadi? (Analisis Data)

Kalau kita perhatikan, permukaan air di bawah jarum akan sedikit melengkung ke bawah. Di sinilah terjadi perlawanan. Molekul air di bawah jarum memberikan gaya pemulih ke arah atas untuk menopang berat jarum ($mg$).

Selama kita meletakkan jarumnya pelan-pelan (secara horizontal), gaya tegangan permukaan ini cukup kuat untuk menahan berat jarum agar tidak pecah menembus "kulit" air tersebut.

Kesimpulan

Eksperimen ini membuktikan bahwa air bukan sekadar benda cair biasa, tapi memiliki kekuatan kohesi yang luar biasa di permukaannya. Seru, ya? Fenomena ini juga yang menjelaskan kenapa serangga seperti anggang-anggang bisa lari di atas air tanpa basah kuyup!

Ada yang sudah pernah coba? Atau punya trik lain supaya benda logam bisa terapung? Share di kolom komentar ya!"

Rabu, 19 Maret 2014

Menjadi Pemimpin Ideal: Belajar dari 8 Sifat Dewa (Asta Brata)

Pernah nggak sih kita berpikir, seperti apa sosok pemimpin yang benar-benar "lengkap"? Ternyata, nenek moyang kita sudah punya jawabannya dalam kesusastraan Jawa kuno. Ada 8 sifat kepemimpinan yang diambil dari watak delapan dewa, atau yang sering disebut dengan Asta Brata.

Sifat-sifat ini bukan cuma buat bos atau pejabat, lho. Kita pun bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, kita bedah satu per satu!

1. Batara Endra
 Pemimpin itu harus punya prinsip seperti Batara Endra: Tegas dan tidak pandang bulu. Tujuannya satu, yaitu menjaga kedamaian. Kalau ada yang salah ya harus dihukum sesuai aturan, tanpa melihat siapa orangnya..

2.Batara Surya
 Tenang dan penuh kasih sayang. Pemimpin tipe ini nggak perlu marah-marah untuk bikin orang lain berbuat baik. Aura positif dan kebaikannya sudah cukup jadi teladan bagi orang di sekitarnya.
3.Batara Bayu
 Batara Bayu mengajarkan kita untuk menjadi sosok yang rendah hati dan wajar, tapi punya insting yang kuat. Ia bisa tahu mana pengikutnya yang jujur dan mana yang cuma "main mata" atau berlaku jahat.

4. Batara Kuwera
 Pernah dengar istilah "Nora ngalem nora nutuh"? Itulah sifat Batara Kuwera. Artinya, tidak mudah memuji setinggi langit, tapi juga tidak gampang mencela. Ia penuh kepercayaan baik kepada atasan maupun bawahan.

5.Batara Baruna
 Seorang pemimpin harus selalu update ilmu pengetahuan. Batara Baruna adalah simbol kewaspadaan. Ia siap menghadapi tantangan apa pun karena punya "senjata" berupa ilmu dan kemampuan untuk mengatasi masalah (bisa basuki ing laku).

6. Batara Yama
 Sifatnya adalah "Rumeksa praja" atau menjadi pelindung bagi nusa dan bangsa. Fokusnya adalah memastikan lingkungan sekitarnya bersih dari kejahatan. Kalau ada yang buruk, ya harus diselesaikan (kang ala tinundhung).

7. Batara Candra
 Pemimpin itu harus menyejukkan seperti sinar bulan. Sifatnya "Apura sara naniro", alias pemaaf. Tutur katanya bikin hati tenang, suka tersenyum, dan membawa kegembiraan buat orang banyak.

8. Batara Brama
Terakhir adalah sifat Batara Brama yang sangat peduli. Ia menaruh perhatian besar pada anak-anak muda dan kesejahteraan anggotanya. Ia tahu siapa yang lagi sakit, siapa yang lagi susah, dan selalu hadir untuk memberi solusi.

Menjadi pemimpin memang berat, tapi 8 sifat di atas adalah goals yang luar biasa kalau bisa kita terapkan. Meskipun kita bukan pemimpin organisasi, menerapkan sifat-sifat ini dalam keluarga atau lingkaran pertemanan bakal bikin hidup kita jauh lebih bermakna.

Dari 8 sifat di atas, mana nih yang menurut kalian paling sulit diterapkan di zaman sekarang? Tulis di komentar ya!



Sabtu, 15 Maret 2014

Menelusuri Candi Gedhong Putri: Jejak Sejarah yang Terlupakan di Balik Pasar Candipuro



Foto foto diatas adalah foto yang diambil di Candi Gedhong Putri yang terletak di Desa SumberWuluh kecamatan Candipuro Lumajang Jawa Timur.

"Tragedi." Itu satu kata yang muncul di kepala saya waktu menginjakkan kaki di Desa Sumberwuluh, Candipuro. Padahal, tempat yang saya datangi ini bukan tempat sembarangan. Ini adalah Candi Gedhong Putri, situs yang konon katanya adalah candi pertama yang berdiri di tanah Lumajang.

Sebenarnya, tulisan ini adalah catatan lama saya dari tahun 2014, tapi rasanya masih sangat sesak kalau diingat kembali.Kalau ngobrol soal sejarahnya, ada cerita menarik dari Bapak Mansur Hidayat. Beliau menyebutkan kalau candi ini dulunya adalah hunian atau tempat bagi Putri Nararya Kirana. Beliau bukan orang biasa, melainkan sosok yang diutus menjadi Adipati di daerah yang dulu namanya masih "Lumajang". Keren, kan? Kita punya sejarah pemimpin perempuan hebat di sini.

Tapi sayangnya, kenyataan di lapangan jauh dari kata keren. Saya sedih banget melihat kondisinya yang sudah rusak lebih dari 60%. Baru sekarang-sekarang ini ada upaya perawatan, padahal sudah "telat".

Saya jadi teringat obrolan dengan Pak Gaguk, seorang guru sejarah. Beliau pernah bilang kalau sebuah tempat bersejarah kerusakannya sudah lewat dari 60%, secara teknis itu sudah sangat sulit diselamatkan, bahkan ada istilah "dimusnahkan" karena kehilangan bentuk aslinya.


gambar ini adalah gambar lingga yoni yang terdapat di kompleks candi Gedhong Putri.

Di tengah reruntuhan Candi Gedhong Putri, ada satu hal yang bikin saya terpaku: Lingga Yoni.

Jujur saja, waktu pertama kali melihatnya, saya sempat mikir, "Ini beneran batu kuno atau semen cetakan, sih?" Habisnya, halus banget! Tapi setelah saya amati lagi, ini benar-benar batu alam yang diukir dengan tingkat ketelitian tingkat tinggi. Kata guru sejarah saya, Lingga Yoni di sini termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia karena kehalusan buatannya. Luar biasa, ya, pengrajin zaman dulu?

Nah, bicara soal Lingga, biasanya dia nggak sendirian. Dalam filosofi Hindu, Lingga (simbol kejantanan) seharusnya berpasangan dengan Yoni (simbol kesuburan wanita). Penyatuan mereka itu sakral banget, melambangkan asal-muasal kehidupan.

Tapi sayangnya, pemandangan di Gedhong Putri ini bikin baper sekaligus sedih. Banyak Lingga yang sekarang "ditinggalkan" oleh Yoni-nya. Entah Yoninya tertimbun, hancur, atau (yang paling sedih) hilang dicuri orang. Melihat Lingga yang berdiri sendirian tanpa pasangannya itu seolah mempertegas betapa "malangnya" nasib situs ini. Dia kehilangan kelengkapannya, persis seperti situs ini yang kehilangan kemegahannya.




Gua Maling Aguna Candipuro Lumajang
Ini adalah gambar yang diambil di Gua Maling Aguna

Gak jauh dari Candi Gedhong Putri, masih di area Candipuro, ada satu lagi tempat yang nggak kalah bikin dahi berkerut: Gua Maling Aguna.

Namanya unik, ya? "Maling" biasanya konotasinya negatif, tapi di sini ada cerita kepahlawanan dan kecerdikan di baliknya.

Konon menurut cerita turun-temurun, gua ini punya sejarah yang berkaitan dengan sebuah sayembara unik zaman dulu. Isinya? Siapa pun ksatria yang bisa menculik sang putri tanpa ketahuan, dialah pemenangnya.

Nah, ada seorang ksatria yang cerdik banget. Dia membangun gua ini sebagai strategi untuk "menculik" sang putri dan membawanya lewat jalur bawah tanah. Hasilnya? Dia berhasil memenangkan sayembara itu! Kebayang nggak sih gimana suasana di dalam gua ini waktu itu?

Ada lagi nih info terbaru yang saya dengar (dan bikin merinding sekaligus penasaran), katanya Gua Maling Aguna ini punya lorong rahasia yang menyambung sampai ke Desa Siluman.

Sejujurnya, saya sendiri belum sempat membuktikan langsung apakah lorongnya masih bisa dilewati atau sudah tertutup tanah. Tapi kalau benar, ini bakal jadi penemuan yang luar biasa banget buat sejarah bawah tanah di Lumajang!

Buat kalian yang mau ke sini, siap-siap buat sedikit blusukan. Lokasinya benar-benar hidden gem alias tersembunyi:

  • Lokasi: Tepat di belakang Pasar Candipuro.

  • Akses: Di belakang pasar itu ada sebuah toko. Nah, guanya ini sebenarnya masuk ke area halaman belakang rumah penduduk.

  • Tips: Karena ini area privat, kalian wajib banget minta izin dengan sopan ke pemilik toko atau rumahnya sebelum masuk ke sana.

Ternyata Candipuro nggak cuma soal alam, tapi juga soal rahasia sejarah yang letaknya cuma selangkah dari keramaian pasar.


Note penting: Catatan ini saya perbaharui di tahun 2026, tetap berdasarkan catatan saya di tahun 2014
Tentunya, saya akan menuliskan kembali kisah perjalanan ke sini ppada waktu bertahun kemudian di usia saya yang sudah 'dewasa'.

Biting,Emang Ada Apa?

 

Pertama kali saya mendengar tentang Biting adalah saat masih SD. Sejak saat itu, rasa penasaran saya terhadap Biting terus tumbuh, bahkan semakin menguat saat SMA.
Hari Sabtu, 5 September 2013, dengan modal nekad dan uang seadanya, saya bersama teman saya, Roziatul Khoiriyah, memutuskan untuk pergi ke Biting naik bus. Awalnya, tujuan kami bukan Biting, melainkan Selokambang untuk mengikuti penilaian olahraga. Namun, entah kenapa acara itu dibatalkan. Dengan sisa uang yang ada, kami memutuskan untuk mengunjungi Biting, sekadar memuaskan rasa penasaran tentang sejarah Lumajang.

Kami berdua belum pernah menginjak Biting sebelumnya, dan meski jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, kami hanya bisa berdoa agar perjalanan pulang nanti selamat. Mengandalkan petunjuk yang sempat saya baca di Facebook, saya memberi tahu kernet bus agar berhenti di Biting. Setelah turun, kami masih bingung apakah benar ini jalannya. Untungnya, seorang tukang becak di pinggir jalan dengan ramah memberi konfirmasi bahwa kami berada di jalur yang tepat.

Beberapa meter menyusuri jalan, kami menemukan Musium Situs Biting di sisi jalan. Meski ukurannya sederhana dan kondisi tidak terlalu ideal untuk disebut “museum”, kami tetap masuk untuk menjelajahi koleksi peninggalan sejarah yang ada. Di dalam, saya merasa seperti orang yang baru menemukan harta karun sejarah. Koleksi tersebut menyimpan sisa-sisa kerajaan Lumajang Tigang Juru yang berhasil ditemukan. Saya sempat ingin membeli kaos yang dijual di sana, tetapi harganya Rp50.000, sementara uang saya hanya cukup untuk ongkos pulang.

Setelah puas menjelajah museum, kami melanjutkan perjalanan menuju Petilasan Arya Wiraraja. Sesampainya di sana, makam cukup ramai pengunjung, dan terdapat tata cara khusus untuk memasuki lokasi. Kami mengucapkan salam sebelum masuk, dan berada di depan makam Raja Lumajang Tigang Juru membuat saya teringat pada sejarah Lumajang serta jasa Arya Wiraraja pada Bumi Majapahit dan Syekh Abdur Rahman dalam penyebaran Islam di wilayah itu.

Rencana awal kami adalah melanjutkan perjalanan ke Benteng Biting, namun kami tidak tahu jalannya. Dengan keberanian, saya bertanya pada pengunjung lain, dan mereka menunjukkan jalannya yang berada di belakang makam. Ternyata, jalan menuju benteng ditandai dengan bunga-bunga di sepanjang sisi jalan.

Sepanjang perjalanan, terdengar adzan. Kami sempat mencari mushola, namun hanya menemukan masjid terdekat, yang cukup dekat untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat, kami membeli beberapa makanan sebagai bekal untuk perjalanan ke benteng.
Sampai di situs benteng, ada dua orang pria di lokasi. Saya hendak naik, namun sepatu saya jebol dan memaksa saya berjalan nyeker. Meski lelah, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka tentang sejarah benteng dan sungai yang mengelilingi desa, yang ternyata adalah Sungai Bondoyudo. Dari obrolan itu, saya mendapat informasi bahwa benteng masih dalam proses penggalian dan akan terus dibangun.
Waktu menunjukkan pukul 16.30, dan kami harus segera pulang. Perjalanan pulang cukup menantang karena kaki pegal dan harus menunggu bus antar kota. Kami bahkan sempat menumpang mobil hingga sampai ke Tempeh, baru kemudian pulang ke rumah masing-masing dengan selamat.

Perjalanan ke Situs Biting meninggalkan satu pertanyaan di benak saya: semua batu bata peninggalan di situs tersebut memiliki ukiran. Apakah orang zaman dahulu mengukir batu bata satu per satu? Jika ada yang tahu, saya sangat ingin mendapat jawabannya.

Note: Tulisan ini saya perbarui pada 03 Februari 2026
Dan tulisan ini adalah asal muasal kali pertama saya terjerumus dalam lembah Sejarah Klasik Hindu Buddha Indonesia hingga bisa menghasilkan skripsi yang sedemikian rupa mengangkat sejarah klasik Lumajang.
Tentu saja. Saya sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang saya tuliskan di sini. Akan saya posting di postingan terbaru.