Menu

Selasa, 10 Maret 2026

Ronda, Kerja Bakti, dan Perubahan Waktu Sosial: Refleksi atas Tradisi dalam Masyarakat yang Berubah

 

Ilustrasi Perubahan Waktu Sosial/Dibuat dengan AI

Di banyak kampung di Indonesia, ronda malam dan kerja bakti sering dipandang sebagai simbol kebersamaan. Tradisi ini dipuji sebagai bukti bahwa masyarakat masih memegang nilai gotong royong. Dalam berbagai narasi budaya dan politik, gotong royong bahkan sering dianggap sebagai ciri khas masyarakat Indonesia. Namun ketika praktik tersebut dilihat lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari, muncul pertanyaan yang lebih kompleks: apakah tradisi ini masih lahir dari kesadaran kolektif masyarakat, atau justru sedang dipertahankan oleh tekanan sosial yang tidak lagi sepenuhnya selaras dengan perubahan struktur kehidupan?

Minggu, 08 Maret 2026

Bank Soal Olimpiade IPS Kelas 7: Potensi Ekonomi Lingkungan (Berbasis Literasi)

Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut pergeseran paradigma dalam sistem evaluasi pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Evaluasi tidak lagi sekadar menguji daya ingat terhadap fakta-fakta statis, melainkan harus mampu menstimulasi kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) serta literasi membaca dan numerasi siswa. Materi Tema 3 Kelas 7 mengenai "Potensi Ekonomi Lingkungan" memberikan ruang lingkup yang luas untuk mengeksplorasi keterkaitan antara aktivitas manusia dengan daya dukung ekologi.

Minggu, 22 Februari 2026

Menyusuri JLS Lumajang ke TPI Paseban: Perjalanan Reflektif di Pesisir Selatan

 Kemarin adalah hari terakhir libur puasa sebelum hari Senin tiba dan aktivitas kembali normal. Di sisa waktu libur ini, aku memilih pulang sejenak ke Lumajang. Salah satu agendanya adalah menjajal hasil servis total mobil tua kesayangan. Syukurlah, perbaikan selesai di hari Sabtu, sehingga pada hari Minggu aku bisa membawa "si tua" menyusuri eksotisme Jalur Lintas Selatan (JLS) Lumajang.

Aku jarang sekali melintasi jalur pesisir ini. Ingatanku tentangnya hanya sebatas memori samar mengenai gumuk pasir dan rawa-rawa teratai yang menyendiri di ujung selatan. Jalur ini memang tidak searah dengan jalan pulang ke rumah. Ia merentang sunyi, menyajikan pemandangan gelombang Laut Selatan dengan hamparan pasir hitamnya yang khas.

Senin, 09 Februari 2026

Membaca Candi: Menemukan Repertoar Gunung Suci di Tengah Dunia yang Kian Datar

Setiap kali saya berdiri di kaki sebuah candi—entah itu Candi Singosari yang kokoh di dekat rumah atau Candi Jago yang eksotis—hal pertama yang saya lakukan bukan mengeluarkan ponsel untuk memotret. Saya memilih untuk menengadah. Melihat bagaimana susunan batu itu mengerucut ke atas, menantang langit, seolah-olah sedang berusaha membisikkan sesuatu yang rahasia kepada awan.

Dalam pelajaran sejarah, kita sering disuruh menghafal bagian-bagian candi: Bhurloka (kaki), Bhuvarloka (tubuh), dan Svarloka (atap). Tapi, bagi saya sebagai seorang pendidik dan pejalan sunyi, candi bukan sekadar tumpukan batu andesit yang dibagi-bagi secara teknis. Candi adalah manifesto spiritual nenek moyang kita tentang sebuah "Gunung Suci" atau Mahameru.

Minggu, 08 Februari 2026

Jalur Rempah: Bukan Sekadar Aroma Cengkeh, Tapi Jejak Luka dan Kejayaan yang Kita Lupakan


Beberapa waktu yang lalu, di salah satu jam pelajaran IPS, saya membawa segenggam buah pala kering ke dalam kelas. Saya mengangkatnya tinggi-tinggi di depan papan tulis, lalu bertanya, "Ada yang tahu, buah apa ini?"

Hening. Beberapa anak di barisan belakang berbisik ragu. Ada yang menebak itu kemiri, ada juga yang menggeleng polos. Hati saya mencelos. Sebuah ironi yang pahit sedang terjadi di depan mata saya. Generasi muda kita, anak-anak yang lahir di tanah yang dijuluki "Ibu Rempah", justru asing dengan harta karun yang pernah membuat bangsa-bangsa Eropa rela mati-matian mengarungi samudra ganas hanya untuk menemukannya.

Sabtu, 07 Februari 2026

Patirtan Ngawonggo: Menemukan Keheningan dan Tangisan Ibu Pertiwi di Balik Rimbun Bambu

Baru beberapa minggu setelah kepindahan saya ke Gondanglegi, rasa bosan mulai menyelinap. Sebagai seseorang yang terbiasa bergerak dan berpikir, diam di rumah bukanlah pilihan yang nyaman. Naluri saya sebagai penikmat sejarah menuntun jari untuk membuka peta digital, mencari jejak masa lalu terdekat. Pilihan itu jatuh pada Patirtan Ngawonggo, sebuah situs yang berjarak hanya sekitar 10 kilometer dari tempat saya berdiri.

Google Maps dengan cerdas, atau mungkin nakal, memilihkan rute "jalan tikus". Saya tidak dibawa melewati jalan raya yang bising, melainkan menyusuri jalanan desa yang sunyi. Kanan kiri saya adalah hamparan sawah dan ladang yang tenang, diselingi pemukiman khas Malang Selatan: rumah-rumah sederhana dengan halaman yang terbentang luas, seolah menyiratkan hati penghuninya yang terbuka.

Jumat, 06 Februari 2026

Ruang Kelas yang Bernapas: Menemukan Kembali Humanisme di Tengah Tekanan Kurikulum


Setiap pagi, sebelum bel masuk berbunyi, saya sering terdiam sejenak di depan pintu kelas. Di tangan kanan saya ada tumpukan perangkat ajar yang harus diselesaikan, dan di tangan kiri ada tuntutan target kurikulum yang harus dicapai. Namun, di dalam kelas, ada tiga puluh lebih pasang mata yang masing-masing membawa beban hidup yang berbeda. Ada yang belum sarapan, ada yang baru saja dimarahi orang tuanya, dan ada yang merasa dirinya "bodoh" hanya karena tidak bisa mengerjakan soal matematika kemarin.

Kamis, 05 Februari 2026

Arkeologi Bukan Sekadar Benda Mati: Menemukan Jiwa Nusantara di Balik Reruntuhan

Bagi sebagian besar orang, arkeologi sering kali dibayangkan sebagai tumpukan batu kusam, debu yang menyesakkan napas, atau sekadar artefak yang terkurung di balik etalase kaca museum yang sunyi. Sebagai seorang pendidik Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), saya sering mendapati pertanyaan retoris dari siswa: "Bu, untuk apa kita mempelajari sisa-sisa bangunan dari ratusan tahun lalu?"

Seorang guru sedang mengamati detail relief candi purbakala di Jawa Timur sebagai media pembelajaran.