Siapa yang belum pernah
mendengar tentang Kerajaan Majapahit ? Kerajaan yang dikatakan sebagai kerajaan
terbesar yang pernah berdiri di Nusantara ini berhasil mengukir namanya di
seantero dunia persejarahan dengan pencapaian yang luar biasa di jamannya. Kerajaan
Majapahit berdiri pada tahun 1294 Masehi dengan raja pertama bergelar Sri
Kertarajasa Jayawardhana atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Untuk
melegitimasi kekuasaannya, Raden Wijaya menikahi emmpat putri raja sebelumnya,
Kertanegara yang merupakan raja Kerajaan Singhasari terakhir sebelum akhirnya
runtuh akibat serangan “besan” nya sendiri dan pengkhianatan “menantu”
tertuanya.
Blog referensi seputar Sejarah Indonesia, temuan Arkeologi, dan opini Pendidikan. Mengulas materi pembelajaran IPS, pembahasan soal, hingga catatan budaya dan kondisi sosial masyarakat nusantara secara mendalam dan terpercaya.
Menu
Minggu, 31 Maret 2019
Arya Wiraraja : Mengenal Aktor Intelektual Dibalik Berdirinya Kerajaan Majapahit
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Gapura Bajang Ratu Dan Asal Mula Kehidupan
Gapura Bajang Ratu adalah jenis
gapura paduraksa yang berasal dari era kerajaan Majapahit. Gapura ini terletak
di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.
Gapura sendiri merupakan pintu gerbang atau pintu masuk sebelum memasuki
tempat-tempat yang dianggap lebih suci. dlaam hal ini, gapura bisa dibedakan
menjadi dua, yaitu gapura paduraksa dan gapura bentar. gapura paduraksa adalah
gapura yang kedua sisi kanan dan kirinya disatukan oleh atap. Sedangkan gapura
bentar adalah gapura yang bagian kanan dan kirinya terpisah.
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Kritik Terhadap Pemikiran Descrates tentang Substansi dan Hubungan Jiwa dan Tubuh
Rene Descartes adalah
bapak dari aliran filsafat modern. Selain menjadi tokoh rasionalisme, Descartes
juga merupakan seorang filsuf yang ajaran filsafatnya , yaitu tentang kebenaran
mengajarkan
bahwa kebenaran tertinggi berada pada akal dan rasio manusia. Descartes
mengemukaan metode berfikir yang baru yaitu metode keragu-raguan. Jika
seseorang ragu terhadap segala sesuatu, maka dalam keragu-raguan itu jelas ia
sedang berfikir. Maka yang sedang berfikir itu tentu ada dan jelas terang
benderang. Cogito ergo sum. Saya berfikir, maka saya ada. Disini,
eksistensi manusia dinilai dari kemampuannya untuk mempertanyakan kebenaran
dari setiap hal di dunia ini. Termasuk juga menyangsikan kebenaran tentang
sesuatu yang hampir pasti didunia ini. Kalau terdapat yang dapat menahan semua
kesangsian atau keragu-raguan seradikal mungkin, maka kebenaran itu haruslah
menjadi kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan fundamental bagi
seluruh ilmu
pengetahuan.
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Manik – Manik Dalam Status Sosial dan Harapan Pasca Kematian
Manik – manik merupakan benda
tinggalan hasil kebudayaan manusia yang ditemukan secara merata di seluruh
wilayah Indonesia. Manik-manik bisa berbentuk bulat, persegi atau lonjong yang
p[ada bagian tengahnya sengaja diberi
lubang agar bisa dirangkai menjadi perhiasan (kalung, gelang, dan lain lain).
Bahan pembuatan manik-manik sangat beraneka ragam, tergantung dari jaman
pembuatannya. Pada masa awal manusia mengenal manik-manik, mereka membuatnya
batu atau tulang yang kecil yang langsung dilubangi begitu saja. Perkembangan
berikutnya adalah membuat manik-manik dengan menghaluskan batu menjadi bentuk
yang presisi dan kemudian pada sekitar jaman batu baru, manusia menggunakan
tanah liat yang dikeringkan dan terkadang diberi ukiran/gambar untuk dijadikan
manik – manik.
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Komunitas Bersama Masyarakat : Ujung Pilar Pelestarian Melawan Kolektor Artefak Kuno
doc. pribadi
Keberadaan benda-benda
peninggalan masa lampau yang tersebar diberbagai daerah memang menjadi masalah
tersendiri, khususnya bagi pelestarian sejarah dan budaya. Bagaimana tidak,
benda-benda kuno tersebut (artefak) memiliki harga jual yang lumayan tinggi di
pasar barang antik. Tingginya permintaan dan rendahnya stok menyebabkan harga
artefak cukup mahal untuk kalangan menengah kebawah. Hal tersebut juga memicu
maraknya penjarahan diberbagai daerah di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung,
para penjarah artefak ini menyasar mulai dari desa-desa yang terkenal memiliki
artefak kuno, makam-makam lama yang berada di tengah hutan, hingga
sungai-sungai besar yang dahulu pernah menjadi jalur transportasi di masanya.
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Kamis, 28 Maret 2019
Candi atau Stupa ? Situs Sumberawan
Pertama kali saya mengunjungi lokasi ini sekitar 3,5 tahun
yang lalu, tetapi aroma pohon pinus itu terasa segar dalam ingatan. Berbekal memori
indah dan sedikit catatan perjalanan lama dari bertahun lampau, hari ini saya
mencoba menuliskan kembali apa yang saya temui di sana.
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Jumat, 22 Februari 2019
Eksistensialism dan Kelas Impian
Setiap manusia yang tertarik pada dunia pendidikan akan memiliki
suatu impian mengenai bagaimana pendidikan yang seharusnya itu terjadi, baik di
dalam kelas, maupun diluar kelas. Pendidikan menurut Ahmad D. Marimba dalam
bukunya Pengantar Filsafat Pendidikan adalah
bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan
rohani si terdidik menuju kepribadiannya yang utama. Tujuan akhir dari
pendidikan adalah peserta didik mampu memiliki kepribadian yang utama. Menurut
penulis, kepribadian yang utama ini akan tercapai dan terbentuk manakal peserta
didik mampu mengenali dan mendapatkan identitas dirinya sendiri. Dengan
demikian, dalam perjalanan hidup selanjutnya, peserta didik tidak akan
kehilangan arah karena sudah menyadari siapa sebenarnya dirinya dan telah
memiliki tujuan dalam hidupnya.
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Rabu, 20 Februari 2019
Problematika Pendidikan di Indonesia : Sebuah review Diskusi Sore bersama Kompas Ganesha
Sebelumnya postingan ini sudah pernah saya posting di plukme. Karena plukme sampai sekarang masih belum ada kabar, maka saya putuskan untuk posting ulang di sini. Demikian pula dengan konten-konten lainnya. Semoga bermanfaat.
Nama saya Wulan Agustri Ayu. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa belajar tidak hanya terbatas pada dinding sekolah. Ketertarikan mendalam saya pada sejarah nusantara dan jejak arkeologi sering kali membawa saya melangkah ke tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu—mulai dari situs-situs lokal di Malang hingga kerumitan motif batik tulis yang kaya makna. Blog ini adalah perpanjangan tangan dari kecintaan saya terhadap literasi. Selain membagikan materi pembelajaran dan refleksi sosial, saya juga menyelipkan sisi kreatif melalui tulisan-tulisan reflektif. Saya berharap setiap baris kalimat di sini dapat memberikan perspektif baru, baik bagi rekan pendidik, siswa, maupun sesama pecinta budaya Indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)







